LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 63 : PERTEMUAN DUA KELUARGA



OSAKA


Asahi datang mengunjungi kedua orang tuaku di salah satu kediaman kerabat ibuku. Sementara ibu dan ayah tinggal bersama bibiku di kediaman milik keluarga ibuku.


“Apa yang membawamu kemari?” tanya ayah dengan tenang.


“Saya datang untuk mengajak anda ke Tokyo, klan Endo mengundang anda untuk bertemu” jawab Asahi.


“Pertemuan apa?” tanya Ibuku.


“Pertemuan untuk mendiskusikan hubungan antara tuan muda Kawaki dan nona Chiyo” jawab Asahi.


“Bukankah kami tidak setuju tentang perjodohan mereka, aku tidak sudi anakku harus menikah dengan binatang seperti dia” Ibuku mulai meradang.


“Pertemuan ini lebih serius nyonya, saya harap anda mau diajak kerjasama” aku Asahi.


“Apakah nyawa putriku terancam?” tanya ayah curiga.


“Kami tidak mungkin membahayakan nyawa nona Chiyo” tambah Asahi.


Akhirnya ibu dan ayah berunding kemudian menerima undangan klan Endo untuk bertemu.


………………….


TOKYO


Kawaki semenjak mengetahui kehamilanku, dia memutuskan untuk menempatkanku di kamarnya. Tinggal satu kamar dengannya membuatku sangat depresi. Terlebih mengandung anaknya, sesekali aku menangis dalam diam meratapi hidupku yang benar – benar menuju neraka.


“TAP…TAP…TAP” langkah kaki Kawaki memasuki kamar.


Menyergapku di depan jendela, memelukku dari belakang sembari menatap keluar jendela. Dia menyibak rambutku yang terurai dan menjilat daun telingaku hingga basah, sangat menjijikkan.


“Apakah kamu tahu sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya untuk klan Endo, selamat” bisiknya di telingaku.


“Aku tak mengharapkannya, tak perlu kamu memberiku selamat” ketusku.


“Seorang anak yang menyerupaiku akan lahir dari dalam sini, lucu bukan” katanya narsis sembari meraba perutku.


“Itu kan yang kamu rencanakan sejak awal, agar aku dapat kamu kurung dalam status klan Endo” kataku sinis.


“Benar… kamu sangat pintar sekarang. Bahkan keluargamu pasti akan menyerahkanmu kepadaku seutuhnya, melihat akulah ayah dari cucunya” akunya membuatku semakin sesak mendengarnya.


“Apakah kamu puas telah menghancurkan hidupku berkeping – keping, sudah tak ada lagi yang tersisa dalam hidupku” kataku yang begitu mengutuknya.


“Mulai sekarang aku tak akan menyiksamu, selama bayi itu ada di rahimmu maka tubuhmu menjadi ratu untuk klan Endo. Jangan meratapi hidupmu yang akan menjadi ratu” ucapnya lalu menarik obi kimonoku.


DHEG!


“Bukankah tubuhku ratu, aku tengah hamil. Jangan lakukan ini kepadaku” kataku tak sudi di gerayanginya.


“Cairanku akan membantunya tetap tumbuh, tenanglah aku akan bermain dengan lembut. Tak perlu cemas” katanya seraya melepaskan kimono yang aku kenakan.


Di bawah jendela di lantai yang dingin, dia menindihku menjilati tubuhku bak permen yang manis. Betapa menjijikkannya dirinya, meremas dadaku sembari mengesap tengah pangkal pahaku. Tubuhku meliuk – meliuk seakan ada setruman listrik yang menyengat tubuhku.


“Hmmmmppphhh….hentikan, ku mohon ahhhhhhh” ku gigit bibir bawahku merasakan sensasi yang diakibatkan esapan dan jilatan Kawaki di bawah sana.


“Aku sudah melakukannya dengan lembut, nikmat bukan? Cairanmu cukup enak” katanya semakin membuatku semakin jijik.


Dia melepas Yutaka yang dikenakannya lalu menutupi pinggang ke bawah dengan Yutaka, saat senjatanya menusukku dengan ritme yang berbeda dari sebelumnya aku merasa dia melakukannya tak sekasar waktu lalu.


“TOK…TOK…TOK…” suara ketukan pintu dari luar.


“Masuklah” kata Kawaki yang tengah menjamahku.


“Dasar gila, apa yang kamu lakukan?” kataku terkejut Kawaki memperbolehkan orang masuk dalam posisi dia sedang melakukannya.


“Dasar binatang” makiku.


“TAP…TAP…TAP” langkah kaki memasuki kamar nampak kaki seorang wanita datang menghampiri kami.


Ku tatapnya dari bawah, dimana tubuhku terbaring di lantai dengan Kawaki diatas tubuhku sedang menusukku.


“Kanon” kataku lirih, seakan rasa maluku membuncah.


Kanon menatap kami dengan tercengang dan menutupi rasa kagetnya di balik wajah beku.


“Sepertinya aku salah memilih waktu, aku tak akan mengganggu kalian” kata Kanon memalingkan wajahnya.


“Tak perlu sungkan, aku akan memberimu contoh melakukannya. Kemarilah kalau kamu ingin menontonnya” kata Kawaki tanpa malu dan menatap Kanon yang berbalik.


“Tidak perlu, aku akan kembali setelah kalian selesai melakukannya” sahut Kanon lalu dengan cepat melesat menuju pintu dan keluar meninggalkan kami.


Betapa jijiknya diriku seakan tubuhku tak ada harganya, seperti pel@cur yang di pertontonkan oleh siapa saja. Aku benar – benar merasa frustasi menanggapi sikap Kawaki yang jauh dari kata manusiawi. Dia memang benar – benar binatang yang menjijikkan.


“AAAARRGHHHH” terdengar suara erangannya setelah dia mencapai titik puncak dari hasratnya telah tersalurkan. Seperti biasa dia meninggalkanku begitu saja, pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya dan keluar dari kamar.


Aku yang masih ada di lantai yang dingin di bawah jendela, hanya bisa menangis dan mengenakan kimonoku kembali. Merengkuh kedua kakiku, membenamkan wajahku dan menyandarkan punggungku di tembok persis di bawah jendela. Menangis tanpa suara seperti yang sudah – sudah aku lakukan.


Kawaki bertemu dengan Asahi di luar, mereka berdua berdiri di pekarangan rumah sembari merokok.


“Tuan muda, besok kedua orang tua nona Chiyo akan datang” kata Asahi.


“Bagus, sebentar lagi mereka berdua akan memberikan anak semata wayangnya itu kepadaku” kata Kawaki.


“Tapi sepertinya ibu dari nona Chiyo tidak setuju” kata Asahi.


“Aku tidak peduli, karena dia akan menerimaku meski terpaksa. Aku adalah calon ayah dari cucu yang dikandung anaknya” ucap Kawaki angkuh.


…………………


Akhirnya ayah dan ibu tiri Kawaki bertemu dengan kedua orang tuaku di kediaman klan Endo.


“Senang bisa bertemu dengan kalian, kami ingin menjalin hubungan keluarga. Melihat anakku Kawaki menyukai putri kalian berdua” ayah Kawaki angkat bicara.


“Aku tidak setuju berkeluarga dengan klan Endo, maaf setelah apa yang di lakukan putramu kepada putriku hingga kini aku menolaknya” jawab ibuku dengan tegas.


“Sangat disayangkan langkah putraku yang masih muda itu terlalu extreme untuk mendekati putrimu. Walau pun demikian selamat karena putrimu tengah hamil anak dari Kawaki, generasi penerus klan Endo selanjutnya” ungkap ayah Kawaki dengan santai.


“Apa! Sudah cukup hidup anakku hancur dan kini dengan bangganya kamu memberi selamat atas apa yang dilakukan putramu yang binatang itu! Bagaimana bisa kamu pun tak punya hati, melihatku putri di siksa, di lecehkan hingga hamil. HAH! Menjijikkan” ibuku meradang.


Ayah Kawaki tersenyum lalu meminum tehnya.


“Aku tahu putraku bersalah mengenai hal ini, namun apa daya hasrat muda yang tak terbendung itu membuahkan benih. Sebaiknya kita sebagai orang tua harus memberikan jalan, agar benih itu mempunya keluarga yang utuh” kata ayah Kawaki dengan tenang.


“Generasi demi generasi, klan Endo melakukan yang sama. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, putramu sama persis denganmu. Kenapa harus putriku yang menjadi object obsesi putramu. Aku tak ingin hidup putriku seperti nona Kumiko dulu. Maaf kan kami, berikan putri kami dan tinggalkan keluarga kami. Biarkan putri kami hidup damai” kata ayahku dengan tenang.


“Mana mungkin putrimu akan hidup seperti Kumiko, kehidupan mereka berbeda” ketus ayah Kawaki.


“Tak ada yang bisa menjamin putriku tak menjadi Kumiko selanjutnya, menjalani hidup dengan pria yang terus memaksanya. Aku tak akan membuang putriku seperti tuanku sebelumnya dari klan Aihara. Aku pun tak akan membuang cucuku, biarkan cucuku tumbuh bersama kami. Aku tak ingin sama binatangnya seperti ayahnya” kata Ayahku menohok.


Wajah ayah Kawaki mulai menegang dengan rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. Menunjukkan dia sedang menahan amarahnya dalam diam.


“Bukankah Kumiko mengakhiri hidupnya karenamu, tak tahan menerima kondisinya hingga depresi dan memutuskan meninggalkan putranya yang masih kecil. Apakah kamu ingin melihat cucumu mengalami hal yang sama, hidup di bawah bayang – bayang kelam kematian ibunya” tambah ibuku menyulut emosi ayah Kawaki.


“Jaga bicaramu, aku mencintai dan mempertahankannya disisiku. Pilihannya untuk mengakhiri hidupnya seperti itu” bantah ayah Kawaki.


Akhirnya pertemuan itu menjadi menegangkan dan tak mendapatkan keputusan apapun.


XXXXXXXXXXXX