
Kawaki memaksaku masuk mobil lalu memasangkan sabuk pengaman setelah aku duduk. Aku mencoba memukuli dirinya dengan kedua tanganku, melampiaskan amarahku yang tak terbendung.
“Beraninya kamu menyakitinya, dasar binatang! Tak puas kamu menyiksaku, kenapa kamu menyeretnya juga! Dasar breng$sek! Gila!” teriakku histeris sembari memukulinya.
Dia pun menangkis kedua tanganku dan menatapku tajam dengan wajah dinginnya “Diam! Jangan berisik!”.
Dia mendorongku hingga kepalaku terbentur pintu kaca mobil yang ada di samping “BUUUKKK!”.
“Aku tidak membunuhnya waktu itu karena kakaknya memintaku, kini aku pun tak membunuhnya karenamu. Jadi diamlah, saatnya kamu membayar atas permintaanmu. Jangan merajuk seperti anak kecil, memuakkan” katanya dengan kesal kepadanya.
Lalu dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, nampak darah yang ada di kepalanya masih sedikit menetes. Aku hanya bisa diam dan menghadap ke depan. Kami pergi ke arah subprefektur Oshima tepatnya sebuah gudang tersembunyi di kawasan Hakodate, Hokkaido.
Berjajar kontainer dengan penerangan yang minim dan sangat sepi, Kawaki menyeretku ke salah satu kontainer dimana di dalamnya seperti sebuah kamar yang luas dengan satu ranjang besi ukurang single, satu sofa bed, toilet serta mini kitchen bahkan di dekat ranjang ada samsak untuk latihan tinju. Ada sebuah jendela kecil di atas dapur, serta AC di atas ranjang.
Pintunya terbuat dari besi baja dengan password otomatis menggunakan finger print. Nampaknya ini gudang kedap suara, meski berteriak sekencang apapun aku tak mungkin di temukan orang lain.
Tubuhku di lempar ke atas ranjang dan diikat kedua tanganku dengan sebuah tali.
“Diamlah” katanya lalu pergi ke dapur mengambil kotak P3K.
Kawaki duduk di sofa dan mengambil sebuah cermin, mengobati lukanya sendiri yang ada di kepalanya. Setelah lukanya di bersihkan diberikan obat lalu dia mengambil sebuah suntikan dan suntikkan dengan paksa ke leherku.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku yang mulai kabur pandangan mataku.
“Ini adalah bius, kamu akan tertidur hingga pagi. Aku tidak punya tenaga untuk menanganimu malam ini. Selamat bermimpi indah” katanya.
Lalu aku tak sadarkan diri…
“BYUUUURRRR….” Terdengar suara air membangunkanku.
DHEG..DHEG!
Aku terkejut dengan tubuhku tanpa busana yang sudah ada di bathtub dengan genangan air penuh busa sabun.
“Hah…sedang apa aku disini?” tanyaku memandangi tubuhku yang di selimuti busa sabun.
Saat aku menatap sekelilingku aku melihat Kawaki tak mengenakan busana duduk di hadapanku. Kami telanj@ng saling berhadapan terbaring di satu bathtub warna putih, dengan genangan air sabun penuh busa berwarna putih.
“Sedang apa kamu disini?” tanyaku menatap dirinya yang tengah menatapku tajam sembari merokok.
Di buangnya asap rokok dari mulutnya ke arah wajahku.
“Menurutmu kita sedang melakukan apa?” dia bertanya enteng tanpa menjawab pertanyaanku.
“Apa kamu menelanj@ngiku dan menceburkan tubuhku kesini, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan hingga melakukan tindakan seperti ini?!” protesku tak terima atas perlakuannya yang semena – mena.
“Bukankah ini bukan pertama kalinya, kenapa responsemu mudah di tebak. Membosankan, bisakah kamu menggunakan respons lainnya” dia malah memberikan nyinyiran.
Aku mengamati sekitar, melihat apakah ada pakaianku atau handuk, namun nihil tak ada apapun yang bisa membalut tubuhku.
“Dimana pakaianku?” tanyaku kepadanya.
“Kenapa, kamu ingin menyelesaikan mandimu?” tanyanya membuatku kesal.
“Haruskah aku menjawabnya, tidak ada kewajiban aku menjawab pertanyaanmu” sahutnya membuatku kesal.
Aku memberanikan diri beranjak bangun dari bathtub, tapi Kawaki mengcegahku dengan menarik tubuhku ke dalam dekapannya “SYUUUUUTTT…BYURRRR”.
Memelukku dari belakang, aku terduduk di tengah kedua kakinya. Dia melancarkan tabiat busuknya dengan menyentuh seluruh tubuhku secara perlahan dari atas hingga ke tengah lubang muara inti milikku.
“Hentikan” tegasku menahan jemarinya yang akan memasuki lubang muara inti milikku.
“Kamu tak menyukainya, atau kamu belum pernah mencobanya. Kamu lebih suka senjataku yang sekarang mulai menegang masuk kesana?” tanyanya membuatku merasa jijik.
“Bukankah tubuh ini tidak kamu minati, bukankah kamu bilang tak akan meniduriku karena aku hanyalah gadis jal@ng yang pasaran” aku mencoba menyindir dan mengingatkan pernyataannya sebelumnya.
“Memang benar, tapi bukankah kamu sudah menawarkannya tadi malam. Memberikan apapun agar aku tidak membunuh anak konglomerat itu. Sekarang saatnya kamu puaskan aku dengan tubuhmu, karena tak ada yang bisa kamu berikan kepadaku” jelasnya.
DHEG!!!...
Lantas aku menatap ke arahnya lalu dia menjambak rambutku dan mencengkeram rahangku, menciumku dengan brutal.
“KECIPAK KECIPUK…!!!” suara riyak air yang menggenang di bathtub.
Aku berasa dengan keras untuk melepaskan bibir dan tubuhku tapi tenaganya sangat kuat. Lalu tangannya merayap ke dadaku dan meremasnya dengan keras.
“ARGH…!!!” erangku
Lalu saat bibirku terbuka, lidahnya masuk tanpa permisi dan mengaduk – aduk mulutku. Dia menciumku semakin brutal membuatku kehabisan nafas. Entah berapa lama, setelah puas dia mendorong tubuhku menjauh darinya. Hingga bagian tubuhku terbentur pada bagian pinggir bathtub “DUUUGH!”.
Saat aku meratapi bagian tubuhku yang terbentur dengan menatap lenganku yang memerah dan agak sakit, dia sudah bangkit dari bathtub dan keluar kamar mandi. Aku hanya bisa melihat tubuh bagian belakangnya yang utuh tanpa sehelai kain pun menutupi.
Aku hanya bisa menunggunya membawakanku handuk atau apapun untukku agar aku dapat segera keluar dari bathtub. Beberapa menit kemudian dia masuk dan menaruh sebuah oversize t-shirt berwarna hitam di atas wastafel.
“Pakailah dan keluarlah” katanya lalu berlalu dengan wajah datar, tubuhnya sudah berbalut pakaian.
Aku pun mengenakannya setelah membilas tubuhku dengan shower, meski aku tak memiliki pakaian dalam. Tapi aku tak peduli, aku tetap memakainya. Aku keluar dari kamar mandi, menatapnya sedang menerima sebuah box pizza ukuran large dari seorang kurir. Dengan cepat dia menutup pintunya, mencegah kurir itu melihatku.
“Duduklah dan makanlah” katanya sembari duduk di sofa dan membuka box pizza.
Aku duduk di sebelah menatapnya makan, aku tak ada nafsu makan setelah apa yang dia lakukan padaku.
“Kenapa tidak makan? Apa kamu diet hah! Masih baik aku memberimu makan, kamu memilih makan atau aku akan memperkosamu sekarang” ancamnya.
“Tidak ada jaminan kamu tidak melakukannya kepadaku, setelah apa yang tadi kamu lakukan kepadaku membuktikan tubuhku memanglah sasaran empuk bagimu melampiaskan hasratmu itu” ungkapku dengan dingin.
Dia menghentikan makan lantas menatapku tajam, “Hasrat…hasrat seperti apa yang kamu pikirkan, $ex? Aku tidur dengan banyak perempuan yang lebih cantik dan berpengalaman. Kalau hanya menikmati tubuhmu yang biasa itu, aku bisa lakukan sejak awal kalau aku mau”.
“Lantas kenapa kamu terus melecehkanku, melakukan tindakan tidak senonoh kepadaku. Kalau bukan demi hasrat bej@tmu itu” geramku.
“Tubuhmu seperti candu bagiku, sorot matamu seperti menyihirku. Aku tahu kamu melebihi narkob@ level tinggi yang addicted. Aku tak tahu kenapa hanya kepadamu aku begini. Itu membuatku menginginkanmu dan membencimu. Kalau aku tidur denganmu, bisa jadi aku tak akan pernah lepas darimu” aku nya membuatku bingung harus merespon apa.
Ini seperti sebuah pengakuan cinta tapi tidak… bukan seperti ini, aku sadar dia terobsesi kepadaku sangat dalam dan itu mengerikan.
XXXXXXXXXX