
Asahi masuk menemui Kawaki yang tengah merokok sambil duduk di sofa. Asahi duduk di depan Kawaki sembari memberikan sebuah amplop berwarna coklat berukuran A4.
“Tuan Muda ini adalah data dari nona Yoshiko Kobayashi”.
“Kamu melihatnya, dia sangat mirip dengan Chiyo. Apakah mereka berdua adalah orang yang sama atau berbeda?”.
“Sejujurnya dari data yang saya dapatkan, Yoshiko Kobayashi adalah wanita yang berbeda. Dia adalah adik dari Naoko Kobayashi, mereka di besarkan di sebuah panti asuhan. Ibu mereka adalah seorang pel@cur yang berpindah – pindah. Tahun 1999 ada sebuah kebakaran besar di panti asuhan tersebut, sejak saat itu kedua saudara itu berpisah. Nona Yoshiko Kobayashi tidak diketemukan saat itu. Entah sejak kapan mereka hidup kembali bersama”.
“Jadi benarkah Yoshiko Kobayashi memiliki wajah yang sama dengan Chiyo tanpa hubungan apapun?”.
“Nona Chiyo merupakan anak semata wayang dari keluarga Sanjo. Mereka tidak memilki anak lain, itu sudah dipastikan”.
“Selidiki Naoko Kobayashi, kita harus menemukan benang merahnya”.
“Baik Tuan Muda…”
“Oh ya, pastikan café dimana si wanita itu bekerja tetap diamati. Jangan berikan celah untuk mereka menutupi kebenaran yang seharusnya kita ketahui”.
“Saya sudah meminta anak buah kita berjaga disana, untuk memantau gerak – gerik target”.
“Kita harus mendapatkan kelinci yang hilang, bagaimana pun caranya”.
Disisi lain, setibanya aku di appartement terduduk lemas di dalam kamarku. Seakan semua energiku tertumpahkan untuk melakukan penyamaran ini.
Aku melepaskan semua pakaian dari tubuhku, aku langsung masuk dalam bathtub yang terisi air penuh. Ku gosok seluruh tubuhku, namun perasaan jijik itu tak hilang. Aku menangis diringi suara air yang mengalir dari kran. “Chiyo…ini hanyalah awal permulaan, tenanglah. Kamu harus tetap waras demi keberlangsungan hidupmu” kataku dalam hati seakan mengerutuki diriku sendiri.
Keesokan harinya…
Aku bangun pagi untuk membuatkan sarapan dan bekal untuk Naoko, ini pertama kalinya aku melakukannya.
“Selamat pagi Yoshiko” sapanya sambil duduk di kursi dan mengambil sumpit d meja makan.
“Selamat pagi kakakku tersayang, bagaimana dengan tidurmu tadi malam?” sahutku sembari duduk dan menyodorkan semangkuk nasi untukku.
“Sangat baik, nampaknya pekerjaanku semakin menggila. Huft tapi aku masih bisa menghandlenya” akunya.
“Baguslah, aku senang mendengarnya” tambahku.
“Hari ini kamu tidak berangkat bekerja?” tanyanya.
“Aku sudah meminta izin untuk bolos, aku ingin pergi berkencan” jawabku dengan kebohongan.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu, kenalkan dia kepadaku. Aku harus lihat pria macam apa yang mengencani adikku tersayang ini” katanya penuh semangat.
“Maybe next time, kami masih permulaan jadi masih malu – malu” aku ku.
Setelah Naoko berangkat bekerja, aku langsung merapikan rumah dan bersiap untuk pergi.
Aku mencari di beberapa distrik di Tokyo, menemui beberapa real estate agency. Aku pergi ke daerah pinggiran Shitamachi – Tokyo, menemukan sebuah bangunan dengan 4 lantai yang sederhana. Seorang staff real estate agency mengantarkanku untuk melihat ruangan.
Ruangannya cukup kecil, hanya sebuah kamar dengan toilet dan dapur tapi sudah ada furniturenya. Jadi aku tak perlu membawa apapun, hanya membawa pakaian saja. Ada sebuah jendela mengarah ke jalan dimana di ujung jalan ada sebuah sungai yang bersih. Lingkungannya cukup asri, dia pun menunjukkan lantai 5 dimana sebuah atap di gunakan sebagai bercocok tanaman sayuran hidroponik.
Ada seorang pria berkulit sawo matang sedang mengambil tomat dan daun selada, mengenakan celemek berwarna coklat. Usianya sekitar 40an, rambutnya panjang hingga di bawah bahu. Dari belakang nampak seperti perempuan.
“Oi…Azura!” sapa si staff itu kepadanya.
“Oi…kamu membawa calon penyewa?” tanyanya sembari menghampiri kami yang berdiri di ujung tangga.
“Benar, dia akan menyewa disini di lantai 3 kamar 33” jawab staff agency itu.
“Baguslah, hanya itu sisa kamar kosong disini. Nona kamu beruntung sekali mendapatkannya, disini mayoritas perempuan. Lantai 1 khusus laki – laki sedangkan sisanya semua wanita” katanya kepadaku.
“Tenang saja, ada sebuah kedai milik bibi Sachi di ujung jalan sana. Sebuah kedai yang menjual bento, dia membutuhkan wanita muda sepertimu untuk membantunya. Oh ya siapa namamu?” tanyanya.
“Namaku Yoshiko Kobayashi, terimakasih atas informasinya” jawabku.
“Ya…panggil aku Azura, aku pemilik bangunan ini. Kalau ada apa – apa panggil saja aku” tambahnya.
Dilihat dari sikapnya sebenarnya dia ramah dan baik, namun cara bicaranya agak dingin dan cuek.
Aku merasa akan cocok tinggal disini, aku pun mulai mengemasi semua pakaianku. Setelah itu aku menyiapkan makan malam untuk Naoko, aku menulis sebuah surat pendek yang ku selipkan di meja riasnya.
Aku sudah membeli nomor baru, agar bisa ku gunakan setelah pergi meninggalkan Naoko. Aku tidak mau nomorku dilacak oleh komplotan Kawaki, aku yakin dia sudah mulai bergerak memata – mataiku.
Naoko pun pulang sekitar 21.00 malam, kami pun makan malam bersama. Dia mengeluarkan wine yang di simpannya di lemari gantung di atas kompor. Kami duduk d atas karpet bulu di ruang tengah, sambil menikmati wine yang dia simpan itu.
“Naoko…”
“Hmmm…”
“Apakah benar kamu memiliki adik?”.
“Ya, dia bernama Yoshiko Kobayashi. Kami tumbuh di sebuah panti asuhan, setelah ibuku menelantarkan kami. Namun tahun 1999 panti asuhan dimana kami tinggal terbakar, banyak korban jiwa saat itu. Yoshiko tidak di temukan, sejak saat itu tak pernah melihatnya”.
“Maafkan aku menanyakan ini, membuatmu mengenang kesedihan itu”.
“Tidak apa, aku senang kamu bertanya. Setidaknya masih ada yang ingin dengar cerita sedihku. Hihihi…”.
Aku pun memeluknya, dalam hatiku untuk pertama kalinya aku memiliki kakak dan sedih harus berpisah darinya. Tapi ini lebih baik, daripada dia terseret masuk ke dalam pusaran hidupku yang penuh tragedi.
Menjelang fajar, aku membuka kamarnya menatapnya tertidur lelap. Aku memandanginya dalam diam, lalu berjalan pelan menyelinap keluar. Aku sadar tetap terus bersamaku akan menambah kesialan baginya, selama Kawaki masih menghantuiku. Meski langkahku begitu berat, tapi inilah jalan yang harus aku lewati.
Selamat tinggal Naoko, meski kebersamaan kita singkat aku bersyukur menjadi adikmu. Aku sangat menyayangimu.
Ternyata Naoko sadar akan kepergianku, dia menangis di balik selimut.
Flash On
Malam itu, saat Naoko ingin tidur dirinya duduk di depan meja riasnya. Seperti biasa dia mengenakan cream wajah dan leher serta tangan dan kakinya. Dia melihat ada secarik kertas putih terselip di tumpukan sample masker wajah. Lalu dia mengambilnya dan membacanya.
“Naoko…
Aku meminta maaf tak bisa menjadi adik yang baik karena harus meninggalkanmu. Aku tahu hidupku akan menjadi lebih rumit dan tak bisa kamu atasi. Aku memilih pergi untuk menjalani hidupku sendiri, aku bertemu pria baik yang menolongku. Tolong jangan cemaskan aku, keadaanku sangat baik dalam mengambil keputusan ini.
Sampaikan maafku kepada Hayami, karena tak berpamitan secara langsung. Aku berharap kalian segera menikah dan selalu bahagia. Terimakasih telah menerimaku dengan keputusasaan dalam hidupku. Aku mencintai kalian, jangan hubungi aku.
Selamat tinggal…
Dari adik tersayangmu,
Yoshiko”.
Seketika air mata Naoko menetes dalam diam, dia melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam sebuah kotak make up di lapisan paling bawah. Di tengah malam, Naoko menghampiriku dalam tidurku. Mencium keningku sambil menyimpan tangisnya.
Flash Off
Air mataku berlinang di sepanjang jalan, aku terduduk di salah satu kursi di gerbong kereta. Ku tutupi wajahku dengan topi biru dan wajah menunduk ke bawah. Ku pegangi erat koper yang ku bawa, serta ransel yang ada diatas pangkuanku.
...xxxxxxxxxxxxxxxxxx...