
Aku dan Naoko duduk sarapan bersama sebelum berangkat kerja.
“Mengenai meninggalnya Kenji, jangan terlalu dipikiran. Aku melihatmu gelisah sejak kemarin, semua bukanlah salahmu”.
“Naoko… seandainya ke depannya menjadi lebih buruk, maka aku akan pindah ke kota lain”.
“Apa maksudmu, bukankah kita ini keluarga? Kita bisa menghadapinya berdua”.
“Aku tak mau kamu menjadi korban selanjutnya, ini akan lebih baik”.
“Korban, jelaskan sebenarnya apa kaitannya kamu dan pembunuhan Kenji?”.
“Aku melarikan diri dari seorang Yakuza, tunanganku di tusuk dan ayahku terkena serangan jantung. Serta seorang biksu meninggal karena membantuku melarikan diri. Itu kejadian terakhir saat aku memutuskan untuk kesini melanjutkan hidupku yang baru. Maaf kan aku tak mengatakan apapun, dan kini kamu perlu tahu untuk mengantisipasi keadaanku menyeretmu”.
“Yoshiko…apapun dirimu, aku sudah menerimamu sebagai adikku. Apapun masa lalumu maka itu tak akan menjadi masa depan. Anggaplah kematian Kenji hanyalah sebuah kesialan dan itu bukanlah karenamu. Jangan menyalahkan diri sendiri, bebanmu adalah bebanku. Mari kita hadapi bersama”.
Naoko memelukku dengan penuh kehangatan, belaian lembutnya membuatku sedikit merasa tenang.
Aku membuka café sendiri, karena hari ini Hayami pergi melayat ke pemakaman Kenji. Satu per satu aku kerjakan dari membersihkan seisi café, mempersiapkan kebutuhan bar dan aneka produk yang akan kami jual. Tepat pukul 10.00 tag OPEN di pintu sudah terpasang sempurna.
Beberapa pelanggan sudah mulai masuk dan memesan beberapa menu, aku sibuk melayani semua pelanggan sendiri. Setelah jam makan siang sekitar pukul 15.00 café mulai nampak sepi. Aku duduk di dalam bar sembari mengistirahatkan kakiku.
Tiba – tiba ada suara lonceng di atas pintu masuk berbunyi, menunjukkan ada pelanggan yang datang. Seorang pria mengenakan hoodie hitam dan topi berwarna hitam begitu pun dengan celana dan sepatu. Cara berpakaiannya, cara jalannya, tinggi badannya hingga aroma tubuhnya. Aku sadar yang datang adalah orang yang paling aku benci….KAWAKI.
Dia duduk di salah satu kursi, mengangkat tangannya untuk memesan. Aku mencoba mengendalikan diriku dari rasa ketakutan, kemarahan dan kebencianku kepadanya. Aku harus nampak senatural mungkin menjadi diriku yang baru. Yoshiko Kobayashi…wanita yang tak pernah mengenalnya.
Aku berjalan dengan tersenyum menghampirinya.
“Hai kak…selamat sore, apakah anda datang sendiri. Ingin memesan minuman dingin atau panas, kami pun punya beberapa cake dan roti sebagai pelengkap” sapaku.
Dia menatapku tajam, seakan suasana café menjadi hening dan beku.
“Haruskah aku membawa teman – temanku kemari?” tanyanya tersenyum sinis.
“Boleh saja, bukankah jadi lebih banyak pelanggan kami. Saya akan berikan diskon kalau kakak bawa banyak teman” jawabku.
“Lantas boleh aku memesanmu?” tanyanya memancing.
“Maksud anda?” tanyaku tetap ramah.
“Aku ingin memesanmu untuk bermain denganku” katanya dengan tatapan tajam.
“Maaf sepertinya saya tidak bisa” jawabku.
“Baiklah, kalau begitu aku memesan ice coffee tanpa gula” tambahnya.
“Baik, akan saya buatkan” sahutku.
Saat aku beranjak berjalan ingin meninggalkan Kawaki menuju bar, dia langsung menarik tanganku seketika tubuhku tertahan di pangkuannya. Aku yang duduk diatas pangkuannya, aku terkejut mendapati tangannya langsung mendekapku.
“Apakah kamu tidak mengenalku?”.
“Tidak, saya tidak mengenal anda”.
“Kenapa kamu berbicara formal, bukankah kita seumuran?”.
“Bersikaplah sebagaimana pria dan wanita dewasa, atau usiamu masih belum dewasa. Riasanmu cukup memikatku”.
“Tolong bersikap sopan, kalau tidak aku akan berteriak” ancamku.
Dia pun melepaskanku, aku pun bergegas berdiri dan segera membuat pesanannya. Mengantarkan pesanan tanpa menatapnya. Dia menelpon teman – temannya untuk berkumpul di café. Aku mulai panik, karena tak ada pelanggan regular.
Kemudian satu per satu anggota kelompoknya datang dan duduk berpencar di café. Untung Hayami datang dengan jas hitam habis melayat.
“Yoshiko…cukup banyak pelanggan sore ini, syukurlah aku datang di waktu yang tepat” sapa Hayami sambil melepaskan jasnya dan mengenakan celemek.
“Huft…tanpamu mungkin aku akan buka hingga tengah malam nanti sendirian” gerutuku.
“He..he…he…” Hayami hanya bisa cengengesan.
Satu per satu wajah mereka nampak memandangiku, Uta pun menghampiriku ke bar.
“Hei…kamu wanita di karaoke itu kan?” sapa Uta.
“Memangnya kita saling kenal” ketusku sembari menyiapkan pesanan mereka.
“Mana pacarmu?” tanya nya pura – pura tidak tahu kematian Kenji.
“Kenapa memangnya, kamu mencarinya. Jangan coba cari – cari masalah” sahutku kesal meredam kemarahan.
“Siapa pacarmu?” Hayami ikut nimbrung.
“Hayami… lebih baik jangan hiraukan dia, ini kopi antar ke meja mereka” tanggapku sembari menyodorkan semua minuman yang sudah siap di nampan.
"Aku kan bos disini, kenapa aku yang harus di suruh. Huhuhu... " gerutu Hayami sembari membawa nampan penuh dengan gelas berisi minuman.
Uta masih berdiri di depan bar.
“Kemana pacarmu tidak membantumu, apakah dia sibuk mencari tangannya?” pancing Uta.
Membuat tanganku bergetar, aku tahu Uta memancingku. Dengan menahan ritme nafasku, aku mencoba meresponsenya dengan tenang.
“Aku tidak mengerti maksudmu, dan jangan mencoba menggangguku. Duduklah di tempat duduk mu, aku sibuk” kataku.
“Yoshiko….itu namamu kan, pergilah bersama kami untuk bersenang – senang” ajak Uta.
“Aku bisa lapor polisi, kalau kamu mencoba menggangu ku” tambahku.
“Coba saja, kamu akan mendapati tangan pria itu ada di depan café ini besok pagi” ancam Uta sambil menatap CCTV diatas bar lalu dia melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Apa maumu?” tanyaku to the point.
Uta memberikan secarik kertas yang tertulis sebuah nama club malam di Tokyo.
“Datanglah jam 11 malam, sebut namaku nanti kamu akan diantarkan ke ruangan kami” tambah Uta.
Dia memberikan beberapa lembar uang cash untuk membayar pesanan mereka. Setelah itu Uta dan yang lainnya pergi, begitu pun Kawaki. Aku tahu ini adalah keputusan bodoh untuk datang ke undangan mereka, namun aku tak ingin Hayami menjadi korban selanjutnya.
...XXXXXXXXX...