LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 51 : PERTEMUAN RAHASIA



Sebuah pertemuan antara kedua orang tuaku, Asahi dan paman Fukoda sedang berlangsung. Ibu dan ayah duduk berhadapan dengan paman Fukoda dan Asahi. Mereka membahas mengenai situasi yang sedang terjadi.


“Apakah kamu tahu mengenai klan Aihara yang akan menargetkan kami kali ini?” tanya ibuku dengan dingin.


“Benar, aku di beri tahu oleh klan Endo mengenai ini” jawab paman Fukoda.


“Sudah 23 tahun aku berhenti dari klan Aihara, lantas kenapa mereka menargetkan para alumni” kata ayah bingung dengan situasi ini.


“Itu karena kamu dianggap berkhiyanat kepada mereka, putrimu bersama Kawaki saat proses pembantaian itu di mulai. Jadi bagi mereka kamu ikut merencanakan proses pembantaian itu bersama klan Endo” jelas paman Fukoda.


“Bagaimana bisa mereka berpikir sejauh itu, padahal sudah lama aku melepaskan diriku dari dunia yakuza. Kini putriku, di sandera oleh klan Endo karena tabiat buruk pewaris klan Endo. Tanpa aku bisa melakukan apapun” kata ayah menguak masa lalunya dan kekecewaannya.


“Aku turut prihatin mengenai itu, aku ingin menawarkan negosiasi untuk masalah ini kepadamu. Ini adalah jalan satu – satunya untuk keluargamu bisa bertahan” kata paman Fukoda.


“Katakanlah” ayah ku mencoba membuka diri.


“Mengatasi penyerangan dari sisa – sisa klan Aihara, aku sarankan bergabunglah dengan klan Endo. Nikahkan putrimu dengan pewaris generasi mereka. Klan Endo akan memastikan keluarga kalian tidak akan tersentuh dari klan manapun” kata paman Fukoda yang memicu kemarahan ibuku.


“BRAK!!!” suara gebrakan meja oleh ibuku.


“Bagaimana bisa kamu meminta kami menggadaikan putri semata wayang kami. Apakah kamu buta bagaimana dia memperlakukan putriku tak manusiawi, kalau bisa ingin sekali aku membunuhnya!” ibuku dengan emosi meninggikan suaranya.


Ayah memegang tangan ibu untuk menenangkannya.


“Ini adalah solusi yang bisa aku berikan, aku pun melakukan hal yang sama. Hiroshi akan menikah dengan putri dari klan Endo” kata paman Fukoda menjelaskan kondisinya.


“Itu karena kamu memiliki kepentingan sendiri, tidakkah cukup bisnis raksasamu di Hokkaido hingga menjual putramu. Pantas saja Soma kamu asingkan ke Filipina, karena kamu ingin menyelamatkannya. Begitu cintanya dirimu kepada Kumiko hingga putranya kamu sembunyikan dengan rapat dari ayah tirinya” sindir ibu dengan luapan emosi.


“Hentikan… tidak sepantasnya kita membahas itu disini. Mengenai saranmu akan aku pertimbangkan, untuk saat ini kami akan putuskan pergi ke Osaka untuk mengungsi bukan ke Tokyo. Aku tidak ingin kedatanganku ke Tokyo menjadi jalan klan Endo membujukku menerima tawarannya” kata ayah dengan tenang.


“Baiklah aku tidak memaksa, maaf aku tidak bisa memberikan jalan keluar yang lebih baik” kata paman Fukoda.


“Aku tahu posisimu sulit, tapi memberikan putriku hanya untuk keselamatan kami sangatlah melukai harga diriku. Aku harus memikirkannya dengan sangat matang, terlebih penyiksaan yang diterima Chiyo tidak dapat aku terima” tambah ayahku.


Asahi yang mendengar pembicaraan ini hanya dapat diam tak ikut andil bersuara, dia hanya sebagai saksi mewakili klan Endo.


Setelah keluarnya ibu dan ayah, paman Fukoda mengajak keduanya untuk pergi mengunjungiku di kamar hotel dimana aku di sekap.


Aku mendapati keduanya masuk kedalam kamar, langsung memeluk keduanya dengan penuh kesedihan.


“Nak… kami putuskan ke Osaka, ingatlah ayah dan ibu hanya akan pergi sementara waktu. Aku tahu kamu tidak bisa melarikan diri, tapi percayalah akan ada moment kita bersama kembali. Ayah akan mencari jalan yang terbaik untuk kita hidup bersama lagi” kata ayah menahan kesedihannya.


“Aku akan bertahan meski apapun yang terjadi, aku akan berjuang hidup disini. Ku mohon jangan pikirkan aku, anakmu ini akan baik – baik saja” kataku mencoba menenangkan kedua orang tuaku yang nampak cemas dan sedih atas nasibku.


“Ibu akan menjemputmu, ibu akan mengeluarkanmu dari cengkraman anak gila itu. Ibu berjanji kepadamu, jaga dirimu baik – baik” tambah ibu.


Perpisahan kami penuh kesedihan, paman Fukoda mengantar ibu dan ayah ke bandara. Ketiganya pamit pergi, aku pun kembali meringkuk di kamar sambil menangis. Entah sampai kapan nasib burukku akan berakhir.


Di sisi lain…


Kawaki dan Enju sedang melakukan pertemuan tertutup dengan para mantan tetua klan Aihara yang telah bergabung dengan klan Endo di kediaman peninggalan klan Aihara.


“Bagaimana bisa masih ada sisa – sisa klan Aihara masih yang membelot dan mulai merencanakan penyerangan kepadaku. Telah ku dapati beberapa mata – mata rahasia yang dapat kami ringkus dan binasakan” Kawaki mulai menggaungkan suaranya dengan tatapan tajam kepada semua tamu yang hadir.


“Itu di luar dari kendali kami, tapi kami pastikan yang hadir disini telah bersekutu dan masuk ke kubu klan Endo” jawab salah satu tamu yang hadir.


“Mulai lakukan penyisiran di semua kawasan Hokkaido dan tangkap semua pembangkang. Aku tidak mau ada yang tersisa satu pun, semua harus bersih selama aku berada disini. Aku berikan waktu tiga hari untuk melaksanakannya” perintah Kawaki dalam wajah dingin dan tenang.


“Kami akan melakukan yang terbaik, tenanglah ini hanyalah urusan mudah. Jangan cemas, karena penyerangan itu pun belum menjadi nyata” kata Watanabe Gyomai dengan sikap khasnya yang selalu meremehkan dan menyulut ketegangan.


“Bukankah kita perlu bertindak sebelum penyerangan itu terjadi, jangan anggap semua musuh adalah seekor lalat. Bisa saja dia memberikan bakteri mematikan ke dalam tubuh klan kita. Aku ingin semua bekerjasama dalam hal ini, binasakan semua pembangkang yang akan menetaskan telur – telur generasi baru” tambah Kawaki dengan penuh penekanan.


Watanabe hanya tersenyum remeh mendengar yang diucapkan oleh Kawaki.


Kawaki keluar dengan penuh kekesalan menghadapi Watanabe, dia masuk mobil dengan membanting pintu mobil.


“Tenanglah, pria tua itu memang sudah beradu mulut” kata Enju yang menghandle setir mobil.


“Dia selalu menyulut emosiku, kalau bukan organisasi yang di ketuainya adalah paling terkuat di Aihara mungkin aku sudah ikut mengikutkannya dalam pembantaian. Tapi dia adalah organisasi yang menyerah pertama dan ikut dalam klan Endo. Sial… ingin sekali aku membinasakannya” gerutu Kawaki penuh kekesalan.


“Dia memiliki anggota yang sangat berbakat di bidangnya, pembunuh bayaran nomor satu di Hokkaido. Beberapa pembunuhan besar pun telah mencapai track record yang sempurna, tak bisa di endus oleh pihak kepolisian” kata Enju malah memuji Watanabe Gyomai.


“Yami No Senshi (Prajurit Kegelapan) itulah organisasinya, aku harus bisa menaklukkannya. Bagaimana pun caranya” kata Kawaki dengan tatapan mata yang tajam sembari mengepalkan tangannya.


XXXXXXXXXXXX