
“Biarkan aku masuk, atau aku bunyikan alarm pemadam kebakaran!” suara ricuh di luar kamar.
Terdengar suara Kanon yang memaksa masuk sedangkan kedua penjaga yang berdiri di depan pintu kamar melarang dan mencegahnya.
Kawaki yang menindihku mendengarnya, lalu beranjak bangun melepaskan tubuhku. Dikenakannya celana denim yang berada di lantai, lantas mengambil sebuah tali lalu mengikat kedua tanganku ke belakang dengan tali tersebut.
“Lepaskan aku!!!” teriakku.
“Diam!” bentaknya.
Lalu dia menghampiri pintu dan membukanya, berhadapan dengan adik tirinya.
“Apa maumu, menggangguku sekarang” tegur Kawaki dengan wajah dinginnya.
“Aku…aku hanya ingin mengajak kalian makan malam” jawab Kanon mencari alasan.
“Haruskah mengajakku makan malam, ini sudah larut malam. Kamu bisa memesan makanan sendiri, jangan mencoba mencari alasan konyol untuk mengganggu aktivitas malamku” tegas Kawaki.
“Aku hanya ingin makan bersama kalian, bukankah ini malam terakhir kita di Hokkaido” kata Kanon mulai merengek.
“Sejak kapan sikapmu seperti bayi, ajak saja yang lain ada Jiro dan lainnya di kamar sebrang” Kawaki mulai merasa Kanon mengada – ada.
“Biarkan aku bersama kalian hanya untuk malam ini” Kanon mengulur waktu dengan menunjukkan sikap manjanya yang tak pernah dia lakukan.
“Jaga batasanmu, apa aku perlu memberimu pelajaran untuk tahu diri dimana posisimu. Pergilah” Kawaki mulai memberi ancaman.
Kanon sudah kehabisan akal untuk memancing kakak tirinya, akhirnya dia memilih meninggalkan pintu kamarku.
Kawaki pun masuk kembali, wajah dingin dengan sorot mata marah karena gangguan yang di timbulkan oleh Kanon. Dia mengambil sebungkus rokok dari saku jaketnya yang terdampar di lantai.
Duduk di kursi dekat jendela sambil merokok dan menatapku di ranjang sedang terikat.
“Apa yang kamu lakukan dengan Kanon, hingga dia berusaha menolongmu. Sejak dulu dia belajar tidak peduli kepada orang lain, namun dia begitu peduli kepadamu” gumam Kawaki.
“Lepaskan aku!” kataku dengan nada tinggi.
“Sepertinya kamu sudah sangat sehat hingga bisa bersuara selantang itu, tapi aku sudah tak mood untuk melakukannya. Diamlah, nikmati mala mini tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhmu. Ini hukuman ringan atas sikap tak tahu dirimu itu” kata Kawaki.
Hingga matahari mulai menunjukkan sinarnya, malam berganti pagi. Kawaki sedari malam terduduk di kursi tertidur. Ketika dia bangun, mengerjap – ngerjapkan matanya dan menatapku tengah di ranjang menutup mata. Lantas memanggul tubuhku ke kamar mandi, memasukkanku ke dalam bathtub.
Kedua kalinya dalam posisi yang sama kami terbaring di bathtub tanpa busana, seakan mandi bersama. Kawaki yang duduk di belakangku melepaskan tali yang mengikat tanganku kebelakang. Kedua tangannya mendekapku, dia mulai mencumbuku.
“Kawaki hentikan” keluhku merasa sangat jijik dengan perlakuannya.
“Aku menyukai tubuh ini, meski ku rusak seperti apapun tetap aku menyukainya” akunya.
Aku mencoba melepaskan diriku seperti biasa tenagaku tak selevel dengan kekuatannya.
“Bukankah tubuh ini yang kamu bilang pasaran, jadi kali ini kamu mengakui hasratmu kepadaku? Menjilat ludahmu sendiri, menjijikkan” sindirku.
“Kamu mencoba memancingku, kamu suka ku siksa agar sensasi sentuhanku lebih menarik. Bukankah begitu, pikirkan kenapa aku masih belum menjamahmu hingga saat ini. Akan ku lakukan saat kamu yang mau, dan itu akan terjadi” katanya membuatku bergidik ngeri.
Hasrat yang dipendamnya adalah sebuah penyakit jiwa itu yang ada dalam pandanganku.
Setelah dia menyudahi kegiatan yang tidak senonoh itu, kami beranjak berkemas untuk meninggalkan hotel. Kanon menunggu kami di luar kamar, saat bertemu dengan kami dia tersenyum menatap kami berdua.
“Apakah kamu baik – baik saja?” tanya Kanon.
Kawaki menggandengku dengan tatapan dingin, Jiro dan yang lain pun menunggu kami di depan lift.
Kanon memperhatikan sekujur tubuhku, membuat Kawaki tak suka.
“Singkirkan matamu, untuk apa kamu menscreening diri orang lain” tegur Kawaki.
Kanon terdiam mendengarnya, dia tahu bahwa aku bukan dalam keadaan yang baik – baik saja.
Saat di bandara, nampak Hiroshi menanti kami dengan senyuman.
“Hari ini kita semua akan kembali ke Tokyo” katanya memulai pembicaraan.
“Senang bisa bertemu denganmu, apakah kamu naik pesawat yang sama?” tanya Kanon penuh kepura – puraan.
“Iya, aku membeli tiket satu maskapai dengan kalian. Kita kan calon keluarga, jadi harus melakukan pendekatan dan mengakrabkan diri” kata Hiroshi.
“Pasti ini ulah kalian berdua untuk bisa satu pesawat, selamat atas rencana pertunangan kalian” celetuk Uta.
“Wah sebentar lagi klan Endo akan mengadakan pesta pertunangan, selamat ya” tambah Enju.
“Pasti banyak makanan enak tersaji” sahut Jiro.
“Jiro…bisakah tidak hanya makanan yang kamu bahas” gerutu Enju.
Jiro hanya bisa meringis membalasnya “Hihihihi…”.
Kawaki mengalungkan tangan kirinya ke bahuku sembari berkata, “Cobalah dekatkan diri kalian berdua agar lebih akrab”.
“Pastinya, semoga calon kakak ipar memberikan celah untuk kami dapat memiliki waktu bersama” jawab Hiroshi.
“Kanon banyak waktu luang untuk dapat kamu ajak melakukan apapun, lakukan sesukamu” tambah Kawaki.
“Kalau begitu, aku akan sering mengunjunginya” ucap Hiroshi sembari tersenyum sinis.
Keduanya melempar tatapan penuh keangkuhan dan ketegangan.
“Aku akan menunggumu” ceplos Kanon.
Setibanya di Tokyo, Kawaki berjalan lebih dahulu menarikku untuk bergegas keluar bandara dan memasuki mobil. Bersikap sembrono Hiroshi asa nyelonong masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Kawaki yang duduk di kursi belakang bersamaku.
Hiroshi yang duduk mengapitku dengan tersenyum menjawab “Aku butuh tumpangan kakak ipar, oh maaf kakak ipar”.
Kanon yang duduk di depan bersama seorang supir tersenyum licik menatap kaca spion tengah.
“Mari kita antar Hiroshi ke rumahnya terlebih dahulu” kata Kanon.
“Terimakasih Kanon” sahut Hiroshi.
Kawaki nampak kesal mendapati Kanon mulai bermain di belakangnya, dia tahu keduanya merencanakan sesuatu. Mengendus ketidakberesan keduanya dan memancing emosi Kawaki dengan demikian ia merangkulku semakin erat.
Sesekali mencium pelipis dan pipiku, membuatku sangat risih terlebih Hiroshi duduk di sampingku. Wajah Hiroshi tampak tenang, tapi kepalan tangannya menjelaskan emosinya yang saat itu duduk disampingku. Melihatku di sentuh tanpa bisa protes akan perlakuannya kepadaku.
XXXXXXXXX