LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 65 : H-1 MENUJU HARI PERTUNANGAN



Soma berada di salah satu hotel bintang lima kawasan Tokyo, dimana seluruh keluarganya berkumpul untuk mempersiapkan hari pertunangan adik tirinya Hiroshi besok.


Ibu tirinya menatap tak suka atas kedatangan Soma yang di sambut Hiroshi di salah satu restoran dalam hotel tersebut.


“Kak Soma…senang bisa melihatmu kembali” ucap Hiroshi sambil memeluk Soma.


“Hiroshi, kamu tumbuh menjadi pria tampan. Senang sekali adikku yang akan menjadi dokter ini tumbuh dengan sehat” kata Soma menyambut pelukan Hiroshi.


Keduanya lalu duduk berdampingan berhadapan dengan paman Fukoda berserta istri dan Ryota.


“Hei Ryota bagaimana kabarmu?” tanya Soma.


“Baik, seperti yang kamu lihat” ketus Ryota.


“Dimana istrimu? Aku bahkan tak datang di acara pernikahanmu, jadi aku tak pernah melihat langsung wajah kakak iparku” kata Soma berbasa – basi.


“Dia sibuk mengurus project charitynya, nanti malam dia akan terbang ke sini” jawab Ryota.


Soma tak pernah memanggil sapaan kakak kepada Ryota, karena sejak kecil mereka tak akur. Ryota tidak suka keberadaan Soma yang mengusiknya, kasih sayang ayahnya yang di limpahkan kepada Soma tak sebanding dengan apa yang diberikan ayahnya kepadanya. Itulah pemikiran dari Ryota, hingga dia tak sudi di panggil kakak oleh Soma. Dirinya selalu merasa menjadi rival untuk Soma.


“Hmmm…sayang sekali, tak sabar rasanya melihat paras cantik kakak iparku” canda Soma.


Beberapa hidangan mewah datang memenuhi meja makan yang mereka kelilingi, para pelayan menyajikannya dengan sangat ramah dan rapi. Sebuah restoran dengan ruangan private yang berornament kayu dan ukiran khas jepang menyajikan banyak makanan tradisional Jepang.


“Nak…ini adalah kepiting kualitas premium kesukaanmu, senang bisa melihatmu kembali makan bersama kami” kata paman Fukoda, selaku ayah yang sangat menyayangi putramu.


“Wah…terimakasih ayah, jamuan ini akan ku ingat sepanjang masa. HIHIHI…mari semua kita nikmati makanannya” kata Soma dengan tersenyum ramah.


“Memangnya di Filipina tidak ada kepiting kualitas premium” ketus ibu Hiroshi.


“Ayolah bu, pasti kepiting disana memiliki keunikan sendiri dan texture yang berbeda. Disana pun akan disajikan secara berbeda” sahut Hiroshi.


“Wah pak dokter ini sangat pintar hihihi” puji Soma sambil meringis dan mulai melahap kepiting yang sudah di poteknya.


Ibu Hiroshi menatap tak suka akan sikap Hiroshi yang berpihak kepada anak tirinya itu. Bagi ibu Hiroshi, Soma merupakan anak hasil perselingkuhan suaminya. Sehingga sulit baginya menerima keberadaan Soma, dan dia pun sangat membenci Soma yang wajahnya mirip dengan ibu kandungnya.


“Kak… bagaimana dengan bisnismu di sana?” tanya Hiroshi dengan penuh antusias.


“Sangat baik dan berjalan lancar. Harusnya aku yang bertanya banyak kepadamu selaku calon mempelai pria yang akan bertunangan dengan putri Yakuza sang penguasa Kanto. Bagaimana perasaanmu sekarang?” Soma mulai mencari tahu.


“Tidak terlalu baik, tapi aku akan berusaha menerimanya demi gadis yang aku cintai” aku Hiroshi wajahnya berubah sedih.


“Kamu mencintai calon tunanganmu, itu sudah semestinya kan. Semangatlah, klan Endo tak semengerikan yang kamu bayangkan” Soma pun mencoba menghibur adiknya.


Hiroshi mendengarnya hanya bisa tersenyum getir dan yang lain terdiam membeku.


Soma sadar masih ada sesuatu yang dia tidak tahu mengenai pertunangan adik tirinya itu. Sehingga suasana makan bersama itu menjadi hening, membuat Soma semakin penasaran.


………………


Malamnya Soma menghampiri Hiroshi di kamar hotel dimana mereka menginap, dia sengaja berbicara empat mata untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Minumlah… besok adalah hari penting bagimu, turunkan sejenak stressmu” kata Soma yang duduk sofa kulit depan tempat tidur.


Hiroshi yang terduduk di lantai menyandarkan punggungnya di pinggir ranjang menerima minuman kaleng yang dibawa kakaknya itu.


“Ceritakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuatmu bisa bertunangan dengan putri dari klan Endo” tembak Soma tanpa basa – basi.


“Sebenarnya pertunanganku adalah sebuah kesepakatan yang terpaksa aku buat untuk melepaskan gadis yang aku cintai” aku Hiroshi.


“Gadis yang kamu cintai berarti calon tunanganmu?” tanya Soma memastikan.


“Bukan, dia adalah Chiyo mantan calon tunanganku sebelumnya. Pertunanganku kala itu di gagalkan oleh ulah Kawaki, seorang laki – laki gila yang terobsesi kepada Chiyo. Dia menikamku dan melarikan Chiyo dari pesta pertunangan kami” ungkap Hiroshi.


Lalu dia berdiri menghampiri Soma, tepat di depannya di tunjukkan bekas jahitan yang ada di perutnya akibat tikaman yang dia terima dari Kawaki. Soma tercengang menatapnya, dan hanya terdiam membeku. Kemudian Hiroshi duduk di sebelah kakaknya, dan masih memegang sekaleng bir lantas meneguknya.


“Semenjak saat itu aku kehilangan Chiyo, kakak tahu kan sudah sejak lama aku menyukainya. Aku suka dengan sikapnya yang selalu ceria dan berani, serta berterus terang apa adanya. Dia gadis kecil yang selalu ingin aku lindungi meski aku tahu kekuatanku tak sebanding dengannya” ungkap Hiroshi dengan wajah sedih.


“Berarti Chiyo kini bersama laki – laki yang bernama Kawaki itu?” tanya Soma.


“Benar, dia di sekap di dalam kediaman klan Endo. Membuatku miris adalah aku hanya menjadi pecundang saat melihatnya di siksa dan di lecehkan, tanpa bisa melindunginya. Aku bahkan merasa frustasi karena begitu lemah dan tak mampu melakukan apapun untuk membebaskannya dari genggaman Kawaki. Maka dengan pertunangan inilah, aku membuat kesepakatan kepada Kawaki dimana Chiyo akan dilepaskan setelah pertunangan ini di gelar” cerita Hiroshi menyayat hati kecil Soma.


Dia sadar adiknya yang lembut dan penuh ketulusan itu, sangat terluka akan hal ini. Dia merangkul pundak adiknya yang ada di sampingnya menatapnya dengan penuh keprihatinan mendalam.


…………………


Disisi lain paman Fukoda dan istrinya sedang di atas ranjang, paman Fukoda sibuk membaca buku sedangkan istrinya meletakkan cermin bulat di tangannya ke atas meja samping ranjang. Lalu bibi membaringkan tumbuhnya memunggungi paman Fukoda yang sedang membaca.


“Apa kamu bahagia melihat anak harammu datang?” sindir istrinya dengan wajah kesal memunggungi paman.


“Bisakah kamu tak mengatakan sefrontal itu, dia tetap putraku dan menjadi bagian dari keluarga kita” kata paman Fukoda dengan tenang.


“Hingga saat ini aku tetap membencinya, menatap wajahnya saja membuatku teringat akan wajah ibunya yang jal@ng itu. Aku tak akan sudi menerima dia sebagai anakku, kalau tidak karena terpaksa mempertahankan rumah tangga kita” aku istrinya.


Paman Fukoda seketika menutup bukunya lalu mengalihkan pandangannya ke punggung istrinya.


“Panggil namanya Kumiko bukan wanita jal@ng, dia memiliki nama dan tak perlu sekasar itu kamu menyebutnya” paman Fukoda meradang.


“Mendengar namanya saja membuat darahku mendidih, apakah kamu tahu aku merasa terluka” bibi lalu bangkit dari tidurnya dan menatap ke suaminya.


Kedua saling melempar tatapan penuh emosi.


“Kenapa kamu meributkan ini setelah sekian tahun kita bertahan dalam hubungan ini. Tidakkah kamu cukup puas melihat Soma yang telah terasingkan di Filipina 10 tahun lamanya, dimana hati nuranimu. Kamu pun memiliki anak kandung yang perlu dilindungi. Sedangkan dia sejak bayi di tinggal oleh ibunya” kata paman mencoba menahan amarahnya.


“Wanita mana yang diselingkuhi masih berbaik hati menerima anak hasil selingkuhan suaminya. Bahkan harus merawatnya hingga tumbuh dewasa. Apakah kamu pikir pengorbananku belum cukup!” ibu Hiroshi mulai histeris membuat paman Fukoda tak tahan.


Dia pun bangkit dari duduknya dan berdiri beranjak meninggalkan istrinya.


“Mau kemana, kita belum selesai bicara” tanya istrinya sembari menatapnya kesal.


“Kalau kamu hanya membuat drama di malam hari, lebih baik kita sudahi pembicaraan ini. Aku lelah, besok adalah hari pertunangan anakku. Aku harus mempersiapkan energiku untuk besok” kata paman Fukoda lalu melangkah keluar kamar.


Ibu Hiroshi hanya bisa menatap kesal atas kepergian suaminya.


“Semua ini karena kehadiran Soma, harusnya kamu lenyap di Filipina” gerutu ibu Hiroshi penuh kebencian.


 


XXXXXXXXXX