LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 69 : PENYERANGAN KELOMPOK BERTOPENG



Kawaki membawaku dengan mobil pribadinya, dia melaju sangat kencang dengan wajah dingin. Sepanjang perjalanan situasi di mobil sangat hening, aku yang masih lemah hanya bisa menatap jalan dengan lesu.


Memasuki kawasan perfektur Ishikawa tak jauh dari gunung Oizuru, ada sebuah perumahan yang sepi dan kami pun berhenti di salah satu rumah bergaya modern dengan bangunan dua lantai. Kawasan yang sunyi dan sangat asri, bahkan jarang sekali aku mendapati orang berlalu lalang di sekitar rumah.


Kawaki menggendongku memasuki rumah berpagar abu – abu itu, aku yang lemah hanya bisa pasrah digendongnya. Sebuah kamar di lantai dua terdapat ranjang ukurang king size serta kursi panjang kayu berukiran bunga Sakura. Ada pintu kaca besar memisahkan balkon dan kamar, toilet yang berada di dalam kamar.


Dibaringkannya tubuhku yang masih mengenakan seragam pasien rumah sakit, di ranjang berbalut sprei berwarna merah maroon berbahan satin.


Dia melepaskan jaket kulit yang dikenakannya, nampak dadanya yang bidang tanpa sehelai kain pun. Mengambil rokok di saku jaketnya lantas membuka pintu kaca dengan di geser, dan berdiri di balkon memunggungiku sambil merokok. Matahari menyorot punggungnya yang bertattoo naga itu.


“BIB…BIB…BIB” suara nada dering ponselnya yang berbunyi.


Kawaki mengambil ponselnya dari saku jaketnya, dan kembali ke balkon lalu mengangkat telepon.


“Oi…Ryota, ada apa kamu menelponku?” tanya Kawaki.


“Besok Hiroshi memintaku mengantarkannya ke kediaman Endo untuk mengambil Chiyo, dia akan menagih janjimu” kata kak Ryota.


“Dia sangat tidak sabaran, padahal dia sudah bermalam dengan adikku. Katakan kepadanya, aku akan mengembalikan Chiyo kepada keluarganya langsung ke Osaka. Tidak perlu dia menjemputnya, tapi tunggu tubuhnya pulih. Dia sudah seperti bayi sekarang” kata Kawaki lalu menoleh dengan tersenyum licik ke arahku yang terbaring di ranjang.


“Baiklah kalau begitu, selamat bersenang – senang bersamanya. Sebelum dia dibebaskan” kata kak Ryota.


Lalu Kawaki mengetik sebuah pesan dan mengirimnya entah kepada siapa, sambil merokok dengan wajah yang serius. Setelah selesai dia membuang puntung rokok ke bawah lantas meletakkan ponselnya di atas nakas. Terbaring di sambilku sambil memelukku dengan erat.


Menciumi leherku dan menggerayangi dadaku sesukanya.


“Kawaki jangan begini, aku benar – benar butuh istirahat” kataku memohon.


“Tidurlah, aku hanya merindukan tubuhmu. Baiklah…aku tak akan mengganggumu, sepertinya aku juga butuh tidur siang” katanya menghentikan tingkahnya.


Lantas mencium bibirku lalu memejamkan mata dan tidur dengan memeluk tubuhku. Dengus nafasnya terdengar jelas, entah kapan aku bisa menghentikan nafasnya. Ingin sekali aku membunuhnya setelah apa yang dia lakukan kepadaku.


Malam…


Kawaki turun ke bawah, sedangkan aku mencoba mencari pakaian setelah menyegarkan tubuhku. Sebuah ruangan kecil sebagai pemisah antara kamar tidur dan toilet nampak beberapa t-shirt, trouser serta pakaian pria lainnya tertata dengan rapi. Bahkan ada beberapa sepatu sport dan sneakers tertata di bawah rak pakaian.


Aku mengambil sebuah t-shirt dan celana panjang yang masih sesuai dengan tubuhku yang kurus ini. Saat aku sedang berganti pakaian, Kawaki tiba – tiba nyelonong masuk. Dia menatapku, mengamati tubuhku yang kurus dan penuh bekas luka.


“Apa yang kamu lihat?” tanyaku.


“Tubuhmu yang rusak itu masih nampak menggiurkan entah kenapa, bagaimana kalau nanti kita buat tattoo untuk menghiasnya agar lebih indah” kata Kawaki.


Aku tak menanggapinya dan keluar setelah berganti pakaian, dia pun membuntutiku.


“Aku lapar, turunlah…buatkan aku ramen, ada beberapa mie instant di dapur” ujarnya lalu pergi ke lantai bawah.


Aku pun turun ke bawah, memasakkannya mie instant. Dia seperti anak yang sedang kelaparan, matanya berbinar menatap semangkuk ramen. Aku kini memandanginya makan dengan lahap, aku makan pisang di depannya.


“Kamu tidak makan ramen?” tanyanya.


“Aku tidak mood makan ramen” jawabku sambil mengunyah pisah di mulutku.


“Memang makan ramen butuh mood?” dia bertanya seperti anak kecil yang polos.


“Apakah aku perlu menjawab pertanyaan konyolmu” ujarku kesal.


“Intinya aku sedang tidak ingin makan ramen, itu saja” jawabku.


“Oh..baiklah, makan saja buah di lemari es kalau kamu suka” tambahnya.


Terkadang aku merasa dia seperti anak kecil yang polos dan butuh kasih sayang, tapi sikapnya seperti ini hanya sementara. Aslinya dia monster yang tak terkendali dan sadis.


Saat di tengah malam kami tertidur, ponselnya terus berdering. Dia bangun lalu mengangkat telepon.


“Ada apa Hatori?” tanya Kawaki dengan wajah setengah sadar.


“Ada penyerangan di kawasan Haneda, gudang kita di bakar saat ini aku di lokasi bersama Hotaru. Mereka sepertinya orang bayaran, semua wajah mereka di tutupi dengan topeng” kata Hatori panik.


“Tunggu disana… aku akan segera kesana” kata Kawaki langsung menutup teleponnya dan bergegas mengenakan jaket kulitnya.


Dia tak mengatakan apapun dan langsung pergi begitu saja, aku yang pura – pura tertidur lalu bergegas mencari jalan keluar untuk kabur. Aku mengambil salah satu hoodie polos berwarna hitam dan sepatu meski ukurannya kebesaran. Aku mengganjal sepatu itu dengan kain biar tak mudah lepas. Tak lupa aku mengambil sebuah topi hitam.


“Aku tak akan terperangkap dengan permainannya, dia bisa saja menipu Hiroshi namun aku tak bisa tertipu. Sudah saatnya aku melarikan diri, malam ini adalah waktu yang pas” kataku sambil menuruni tangga.


Pintunya di kunci dari luar, aku pun keluar lewat jendela. Lantas mencoba memanjat tembok samping, karena di pintu gerbang ada CCTV menyala. Ku jatuhkan diriku ke jalan, sedikit berguling karena turun tidak stabil. Aku tidak paham kawasan ini, malam yang sunyi aku terus berjalan cepat menuju jalan besar.


Kanan kiri hanyalah lampu jalan pepohonan rimbun, angin malam begitu dingin menginjak desember. Ada sebuah truk pick up lewat dan tiba – tiba berhenti di ujung jalan. Aku terus berjalan hingga akhirnya seorang pria berusia 50an menawarkan tumpangan.


“Nona…kamu mau kemana tengah malam dingin begini, aku menuju Tokyo kamu mau ikut?” dia bertanya.


“Boleh” kataku.


Lalu masuk ke jok depan tepat di sampingnya aku duduk, terdengar dia memutar lagu girl band jepang yang popular. Sungguh unik si paman, setua dia menyukai lagu anak muda.


“Kamu mau kemana?” tanya si kakek.


“Tokyo” jawabku.


“Baguslah kita searah, malam ini akan sangat dingin. Di kawasan ini banyak pohon jadi udara pagi nanti terasa sangat menyejukkan. Kamu tinggal dimana, kenapa pergi malam – malam begini ke Tokyo. Kenapa tidak besok pagi saja” si paman bertubuh gempal itu penasaran denganku.


“Aku ada urusan mendesak jadi buru – buru pergi sebisaku, terimakasih memberiku tumpangan” kataku agak sedikit takut dengannya.


“Bersyukurlah nak, kita berjumpa. Di sepanjang jalan ini sangat sepi, jarang ada yang lewat” kata si paman.


Baru saja dia mengatakan itu, sebuah mobil off road berwarna hitam menyalip dan menghadang kami. Dua orang berpakaian serba hitam dengan menggunakan topeng keluar dari mobil menodongkan senjata api dan menembaki mobil kami.


“DOOOR….DOOOR….DOORR…” peluru menghujani mobil yang aku tumpangi.


Paman itu terkena peluru tepat di dahinya, dimana peluru itu dari luar menembus kaca depan dan mendarat ke dahinya. Seketika dia meninggal, aku menatapnya sangat syok dengan tangan bergetar aku membuka pintu mobil mencoba melarikan diri.


Salah satu dari mereka langsung menghampiriku, seketika aku langsung melesat menuju pepohonan rindang yang gelap di pinggir jalan.


“Hoi! Dia mencoba melarikan diri!” teriak salah satu dari mereka.


“Kita harus mendapatkannya, tangkap dia!” sahut temannya.


Di kegelapan malam aku terus berusaha berlari menaiki bukit di sisi kanan jalan. Suara tembakan terus menderu, mereka mencoba mengejarku. Siapa mereka dan apa yang mereka mau dariku?.


XXXXXXXXXXXX