
Sebuah pertemuan antar dua keluarga di adakan hari ini di kediaman Endo. Sebelum acara Kawaki yang mengenakan Yutaka (baju kimono untuk laki – laki jepang) berwarna navi datang menghampiriku ke bangsal bawah tanah.
Wajahnya yang dingin dan datar seperti biasa menyapaku, “Chiyo aku datang untuk memuaskanmu”.
Kata – kata yang terlontar itu seakan merayapi seluruh tubuhku, aku tahu dia akan menjamahku seperti terakhir kali kami bertemu.
Ku pecahkan mangkuk yang berada di meja, sisa makananku “PYARRRR!!!”.
“Jangan mendekat, atau aku akan membunuh diriku sendiri” ancamku dengan sorot mata tajam menatap Kawaki yang berdiri di hadapannya.
“Kamu ingin mati, lakukanlah. Aku ingin lihat bagaimana raungan kedua orang tuamu melihat mayatmu” dia mulai mencoba mengendalikanku.
Tanganku bergetar mendengar perkataannya dan perasaanku sedikit goyah, namun aku membulatkan keberanianku dan ku gores leherku perlahan hingga darah mulai menetes.
“Menurutmu aku mudah untuk kamu kendalikan? Kamu hancurkan hidupku, menyiksaku, menyekapku hingga menodaiku. Kini menurutmu kesedihan mana lagi yang akan kamu torehkan kepada kedua orang tuaku? Mayatku? Mungkin mereka akan sedih beberapa hari tapi sejujurnya mereka telah hancur sejak aku berpisah dari mereka” ungkapku dengan sinis.
“Begitu ya, jadi kini kamu ingin menunjukkan pertunjukan bunuh diri kepadaku. Bagaimana dengan Hiroshi yang hari ini datang kemari, melihat mayatmu akan membuat dia gila. Aku yakin dia tak akan bangkit setelah kematianmu di depan matanya” Kawaki mempengaruhiku dan membuatku lengah.
Seketika melihat ada celah untuk mendekatiku, dia langsung bergegas merebut pecahan mangkuk yang aku genggam di samping leherku.
“PLAAAAKKKK!!!” tamparan keras mendarat ke wajahku.
“Meskipun kamu kehilangan kewarasanmu, tetaplah hidup karena nyawa dan tubuhmu milikku” katanya sembari mengangkat tubuhku dan dipanggulnya ke bahu kanannya.
“Lepaskan aku biarkan aku mati! Dasar binatang!” teriakku menggema sepanjang lorong bawah tanah.
Kawaki membawaku ke kamarnya, melintasi seorang pria tua yang mengenakan Yutaka yang sama. Dialah ayah Kawaki untuk pertama kalinya bisa melihat wajahnya.
Kawaki menundukkan kepalanya memberi hormat lalu berlalu, aku menatapnya dari punggung Kawaki. Dia menoleh ke arahku yang tengah menangis.
“Tolong aku!” teriakku meminta tolong, sorot matanya sama persis dengan Kawaki menatapku.
Lalu dalam diam dia memalingkan wajahnya meninggalkanku, wajah datar tanpa ekspresi itu menyadarkan bahwa keduanya sama saja tak punya hati.
Memasuki kamar, dia melempar tubuhku ke atas tempat tidur. Dengan darah yang menetes dari luka di leherku, aku hanya membekapnya dengan tanganku.
“Diamlah, aku akan mengobatimu” katanya membawa kotak P3K.
Ku tepis tangannya yang meraih leherku, lalu dia mengikat kedua tanganku ke belakang. Menjambak rambutku hingga aku mendongak ke atas, lalu di bersihkannya Lukaku dan diobati.
“Ini hanya luka gores, sayatannya tidak dalam. Kalau mau menggertakku lakukan dengan totalitas, goreslah sangat dalam hingga lehermu hampir putus” sindirnya.
Setelah mengobatiku, lalu dia melempar kimono berwarna senada yang dia kenakan ke arahku.
Melepaskan kedua tanganku, dan aku langsung mencoba menamparnya namun terhenti. Dengan mudah dia membaca gerakanku, mendekapku lalu mencium bibirku dengan kasar.
“Levelmu di bawahku, gerakanmu cukup mudah terbaca. Kalau ingin mengalahkanku maka naikkan levelmu, kecepatan gerakan adalah salah satu power yang harus di miliki petarung” katanya lalu melepaskan tubuhku.
“Bersiaplah, kenakan itu dan bantu para pelayan untuk mempersiapkan perjamuan. Keluarga Ryota akan datang hari ini untuk menentukan tanggal pernikahan” perintah Kawaki.
“Apa motifmu memintamu melakukannya?” tembakku.
“Aku hanya menunjukkan kalau kamu tidak ada artinya untukku, kamu hanyalah jal@ng yang melayaniku. Jangan banyak bicara, lakukan saja perintahku. Setelah pertunangan itu berlangsung, aku akan mengembalikan kepada orang tuamu” kata Kawaki lalu meninggalkanku.
Setelah aku mengenakan kimono, seorang pelayan masuk menghampiriku.
“Nona anda di minta ke kamar nona Kanon untuk menyajikan teh” kata pelayan itu kepadaku.
Aku mengikuti pelayan itu menuju kamar Kanon. Aku masuk ke kamar yang sama luasnya seperti kamar Kawaki, namun lebih feminim design interiornya.
Nampak Kanon sudah mengenakan kimono bermotif bunga Sakura, sangat cantik.
Aku memberanikan diri menghampirinya menatapnya dari belakang lalu menyapanya.
“Hai…lama kita tak bertemu?” sapaku.
“Apakah kamu baik – baik saja?” dia menjawab sapaanku sembari menoleh ke arahku dengan wajah dingin.
“Cukup baik” kataku berbohong.
“Aku benci kamu menatapku seperti itu, aku tak perlu di kasihani dan ini hari penting bagiku harusnya kamu menyambutnya dengan senyuman” katanya kepadaku.
Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku atas dirinya, aku menghampirinya lalu memeluknya.
“Maafkan aku tak bisa menjagamu malam itu” kataku penuh penyesalan.
“Apakah karena itu kamu melihatku dengan iba? Selama dia tak membakarku hidup – hidup itu lebih baik” ucap Kanon membuat hatiku makin miris.
Dia tak menyambut pelukanku, aku melepaskannya mencoba untuk menutupi kesedihanku. Aku tahu perasaannya semakin terluka akan belas kasihan yang ku berikan.
“Kakakku telah melakukannya kepadamu pastinya itu lebih menyakitkan bagimu” ketusnya.
Aku terdiam tak bisa menjawab perkataannya seakan lidahku kelu tenggorokanku tercekat, dia tahu aku pun mengalami hal yang sama buruknya dengan nasibnya.
“Kakakku pasti tak menggunakan pengaman saat melakukannya” katanya sontak membuatku terkejut dia tahu.
“Karena dia tak rela melepaskanmu setelah pertunanganku di gelar, maka dia melakukannya untuk menarikmu kembali. Dia akan berusaha memberikan benih ke dalam rahimmu penerus klan Endo” ungkap Kanon menyadarkanku.
Aku terduduk lemas di lantai, betapa bodohnya aku tak berpikir sejauh itu.
“Berusahalah untuk menyelamatkan dirimu sendiri, aku tak memiliki kuasa untuk menyelamatkanmu kalau kondisinya serumit itu” kata Kanon memperingatkanku.
“Apa yang harus aku lakukan, kalau itu terjadi? Aku tak ingin mengandung benih si binatang itu” aku pun meratapi diriku yang malang.
“Selama itu tak terjadi, jangan pikirkan. Cobalah sebisamu menjaga jarak dengan Kawaki” saran Kanon.
Tiba – tiba terdengar suara langkah kami memasuki kamar, Kawaki menghampiri kami.
“Kalian sedang berdiskusi apa?” tanya dia sinis.
“Tidak ada” jawab Kanon.
“Keluarga pihak pria telah datang di ruang pertemuan, lekaslah pergi kesana” kata Kawaki yang menatap Kanon tak suka.
Kanon beranjak bangun dari duduknya dan berjalan menuju ruangan yang di maksud oleh kakaknya. Sedangkan Kawaki menarikku untuk bangkit dari lantai, dan menggiringku mengikuti Kanon.
Saat aku melintasi seorang pelayan yang membawa makanan seafood, entah kenapa aku merasa mual.
“Kawaki lepaskan tanganku… aku ingin muntah” kataku melepaskan genggaman tangannya.
“UEKKKK…UEEEEKKKK” akhirnya aku muntah di sudut lorong.
“Kamu kenapa? Kamu tak suka bau seafood mentah?” tanya Kawaki yang berdiri menatapku sedang muntah.
“Entahlah…baunya membuatku mual” kataku dengan lemas, seakan seluruh isi perutku keluar semua.
“Atau kamu sedang berpura – pura untuk menghindari pertemuan ini” celetuk Kawaki menatapku sinis.
“Bagaimana bisa aku…” kataku terpotong, pandanganku gelap dan aku pun kehilangan kesadaran.
XXXXXXXXX