
Di perjalanan menuju ke rumah, seperti biasa Asahi terdiam fokus mengendarai mobil yang kami tumpangi. Aku memberanikan diri untuk mulai mengorek motif di balik sikap Kawaki yang melunak meski sangat mencurigakan.
“Apakah kamu tahu mengenai rencana Kawaki mempertemukan aku dan keluargaku hari ini?” tanyaku terus terang tanpa basa – basi.
“Hmmm… nanti akan kita bahas saat bertemu dengan kedua orang tua nona, bersabarlah” jawabnya.
“Apa maksudmu, apakah ada sesuatu hal yang sangat penting?” tanyaku semakin penasaran.
“Bisa di bilang ini menyangkut nyawa kedua orang tua nona Chiyo” tambah Asahi membuatku terperangah.
DHEG!
Kami pun tiba di rumah, aku memasuki rumah bersama Asahi. Tak seperti pertemuan sebelumnya, Jiro menungguku di mobil. Kali ini Asahi sepertinya memiliki misi tersendiri datang dan memasuki rumahku.
“Ibu…ibu….Ayah…ayah!” panggilku sembari melihat sekeliling rumah yang sepi.
Akhirnya aku menemukan ibu berada di dapur sedang mengupas buah.
“Ibu…” panggilku seakan jantungku berdetak lebih kencang menatap wajahnya.
Ibu menghentikan mengupas buah apel, dia terpaku menatapku yang ada di hadapannya.
“Chiyo…apa benar ini dirimu?” dia memastikan bahwa aku bukanlah imajinasinya saja.
Ibu lantas berlari dan memelukku penuh haru, kami saling berpelukan dan menahan tangis satu sama lain. Mencoba untuk tegar dan penuh suka cita, sedangkan Asahi menatap kami dengan datar.
Kami duduk bertiga mengelilingi meja makan, sembari menikmati jus apel yang di buat oleh ibu.
Ibu menatapku lekat – lekat, mengoreksi semua yang ada pada diriku. Lalu dia menutup mulutnya dengan wajah nampak syok.
“Bu kenapa?” tanyaku yang ada di sampingnya.
Ibu terdiam dan menggenggam tanganku, tatapan matanya sangat sedih dan prihatin akan kondisiku. Namun dia tak mengatakan apapun, karena tak ingin aku sedih dan meratapi nasibku. Aku tahu ibu mengajarkanku untuk selalu kuat menghadapi kehidupan seburuk apapun.
Ibu lantas mengalihkan pandangannya kepada Asahi.
“Apakah kamu termasuk anak buah pria gila yang menyakiti putriku?” tanya ibu geram.
Asahi menganggukkan kepalanya menjelaskan bahwa itu adalah benar.
“Kenapa dia menargetkan putriku hanya untuk hasrat gilanya semata, apakah majikanmu bukan manusia menyiksanya hingga penuh luka di tubuh putriku. Kenapa dia tidak muncul disini, untuk bertemu denganku selaku ibu korban dari tingkah bej@tnya itu” kata ibu meluapkan amarahnya.
“Mohon maaf, tuan muda sedang mengurus hal penting saat ini jadi tidak bisa ikut bersama kami. Akan saya sampaikan kepada beliau untuk menemui anda saat pertemuan selanjutnya” jawab Asahi dengan sopan.
“Urusan penting, ya benar putriku tidak penting untuknya hingga dia memperlakukannya secara tidak manusiawi. Apakah dia tidak memiliki orang tua yang mendidiknya, hingga semena – mena kepada orang lain. Putriku manusia, dia merenggut kehidupannya hanya untuk dijadikan mainan. Menjijikkan…” ibu makin marah.
“Bu…tenanglah, aku tahu ini berat bagi kita. Ku pastikan aku akan bertahan dan baik – baik saja” kataku sambil menenangkan ibu.
“Baik – baik saja darimana, lihat lehermu. Aku tak perlu memeriksa seluruh tubuhmu, aku tahu pasti aka nada bekas luka lebih banyak lagi disana. Hati ibu mana yang sanggup melihat putri semata wayangnya di siksa seperti itu. Apa yang sebenarnya dia mau dari putriku?! Aku rela menukar nyawaku demi putriku dapat hidup normal, ku mohon lepaskan dia!” ibu mulai berkata dengan histeris sembari menatap tajam kepada Asahi.
Asahi hanya bisa menundukkan kepala tak mengatakan apapun atau merespons apapun.
Setelah ibu di rasa tenang, akhirnya Asahi menyodorkan dua lembar tiket pesawat ke Tokyo. Ibu menatapnya kedua lembar tiket itu yang ada di atas meja tepat di hadapannya dengan mengernyitkan keningnya tak mengerti.
“Apa ini?” tanya ibu.
“Nanti malam ada bocoran bahwa sisa dari Klan Aihara akan menargetkan keluarga ini untuk memulai aksi balas dendam kepada tuan muda. Saya di minta untuk mengevakuasi anda beserta suami anda sekarang” ungkap Asahi.
Sontak membuatku serta ibu tercengang mendengarnya.
“Asahi.. apakah yang kamu maksud dengan rencana Kawaki adalah ini?” tanyaku memastikan.
“Benar, keluarga ini tidaklah aman saat ini. Sudah ada beberapa mata – mata yang saya lihat di area ini” tambah Asahi meyakinkanku.
“Apa…tapi kenapa harus keluargaku, apa salah mereka?” tanyaku semakin bingung.
“Anda adalah orang yang ikut bersama tuan muda di bandara waktu lalu. Dua tahun lalu tuan muda melakukan misi pembantaian masal klan Aihara, anda adalah satu – satunya orang yang berada disisi tuan muda bukan dari klan Endo. Bisa di bilang sasaran paling lemah yang bisa mereka targetkan” jelas Asahi.
“Jadi kami akan di targetkan untuk balas dendam dari musuh kalian? Hah! Bencana apalagi yang kalian berikan kepada keluarga kami!” ibu naik pitam.
“Tenanglah bu, segera telepon ayah sekarang. Aku tahu kondisinya saat ini sangat mendesak, kalau ibu tidak percaya dengan mereka maka hubungi paman Fukoda. Minta pertolongan kepadanya, dia pasti menolong ayah saat ini” kataku mencoba mengambil tindakan cepat dan membujuk ibu untuk bekerjasama.
“Aku tidak akan pergi kemana pun, sudah cukup putriku di siksa lantas kini dia bikin drama baru untuk mengusirku dari rumahku. Aku akan lapor kepada kepolisian” jawab ibu dengan angkuh.
“Bu…dengarkan aku, tidak akan ada polisi yang membantu kita. Tak ada bukti ancaman itu ada, tapi aku yakin Asahi tak akan berbuat buruk kepada kita” aku pun terus membujuk ibu.
“Apa kamu sadar, dia dengan kesetiaannya kepada majikannya telah diam saat kamu disiksa. Kamu percaya kepadanya, dia sama – sama binatang. Jangan percaya kepada omongannya” ibu menampik semua bujukanku.
“Ku mohon nyonya, disini saya untuk membantu keluarga ini. Mengenai nona Chiyo saya tidak bisa berkata banyak, tuan muda sangat tertarik kepada nona karena mengingatkannya kepada ibunya yang telah meninggalkannya sejak kecil. Obsesinya semakin tumbuh tanpa terkendali, mungkin ini salah namun saya pastikan tuan muda tidak ada niatan menghancurkan keluarga ini” jelas Asahi dengan tenang.
Ayah datang di tengah perbincangan kami, aku pun langsung menghampirinya.
“Ada apa ini?” tanyanya yang berdiri sembari menatap kami bertiga.
“Ayah” sapaku seraya melangkah dan memeluknya penuh haru.
“Chiyo…kamu datang lagi nak, ayah senang bisa melihatmu” kata ayah sambil memelukku erat.
Kami pun duduk berempat dan berdiskusi dengan pelik, ayah dan ibu akhirnya menerima saran dari Asahi setelah di bujuk terus menerus. Aku membantu ayah dan ibu berkemas dengan begitu cepat.
Asahi mengantar ayah dan ibu ke hotel tempat aku menginap, dimana keduanya memutuskan bertemu terlebih dahulu dengan paman Fukoda di salah satu ruangan. Ibu, ayah, Asahi dan paman Fukoda melakukan pertemuan tertutup tanpa diriku. Aku hanya bisa kembali ke kamarku di kawal oleh Jiro.
Sebelum aku memasuki kamar aku menahan Jiro.
“Ku mohon bantu aku, pastikan keluargaku aman. Aku tak akan bisa hidup tanpa kedua orang tuaku, pasti kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku” aku pun memohon kepada Jiro.
“Tenanglah, Kawaki telah mengurus semuanya. Percayalah kepadanya untuk saat ini, aku tahu dia bersikap buruk kepadamu tapi dia akan memegang janjinya melindungi kedua orang tuamu” jawab Jiro membuatku sedikit tenang.
Sore ini ayah dan ibu akan terbang ke Tokyo untuk di evakuasi, sejujurnya entah apakah ini langkah yang benar buatku percaya kepada Kawaki. Tapi aku tidak punya pilihan lain disaat seperti ini.
XXXXXXX