
Aku menelpon ayah, dengan nada cukup tenang aku berbohong.
“Hallo…ayah, ini aku Chiyo”.
“Oi…Chiyo… bagaimana dengan liburan kalian?”.
“Sangat menyenangkan, aku akan pulang hari ini”.
“Baiklah nak, hati – hati di jalan”.
“Iya ayah, terimakasih”.
“KLEK…” aku menyudahi telepon. Lantas ku berikan ponsel ke kak Ryota.
“Kalau begitu, aku permisi…selamat menikmati hari yang indah ini” kata kak Ryota sembari berpamitan dan kemudian pergi meninggalkan kamar.
Tatapan Kawaki dan aku saling beradu, dua pandangan saling melempar rasa kebencian.
“PLAAKKKK!!!” aku menampar Kawaki.
“Sebenarnya apa salahku kepadamu?! Kenapa kamu harus melakukan ini kepadaku!!” teriakku histeris dengan menahan airmataku.
“Kenapa, bukankah ini kegiatan menyenangkan dari sekian permainan kita” katanya tersenyum beranjak berdiri mengambil sebuah goodie bag milikku yang berisi baju baru yang ku beli kemarin.
“Kenapa kamu menyeret Hiroshi dalam hal ini, kamu keterlaluan” marahku.
Dia melempar goodie bag itu, lalu mengambil rokok di meja dan menyulutnya kemudian merokok di depanku.
“Aku tidak mengundangnya, dia sendiri yang datang. Kenapa, kamu merasa terganggu? Semenarik itukah dia, hingga kecupan dariku membuatmu marah. Sedangkan kamu menerima kecupan darinya terlihat bahagia” jelasnya.
DEGH…
Aku terkejut, dia saat itu mengantarkanku ke stasiun melihat Hiroshi mengecup keningku. Raut wajahnya jelas marah, apakah dia cemburu?.
“Aku membencimu” kataku dengan segenap amarahku.
Aku bergegas berganti pakaian ke toilet, menahan air mata yang sedari tadi menggenang di kelopak mataku bagian bawah.
Aku keluar, Kawaki masih berdiri merokok menatap ke arah pintu toilet.
“Aku akan mengantarkanmu pulang” katanya datar.
“Aku tidak butuh diantar” tolakku.
“Kamu nggak akan bisa keluar dari kamar ini, selain bersamaku” tambahnya.
“Dasar breng$ek!!!” teriakku geram.
Setibanya di depan rumahku, dia mencengkeram tengkuk leherku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Aku membencimu” kataku lirih.
“Aku tak peduli, kamu tetap milikku. Jangan pernah mencoba bermain dengan yang lain, jal@ng” ancamnya.
Lalu dia mencium bibirku dengan kasar, kemudian melepaskanku dalam diam.
Aku keluar dari mobil, tanpa menatapnya lagi. Serasa hariku sangat hancur, aku masih mengingat tatapan Hiroshi.
Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang, menatap langit – langit mencoba menenangkan diri dengan segala carut marut isi kepalaku.
Keesokannya Hiroshi mendatangi rumahku dan mengajakku untuk berbicara di taman dekat rumah.
Kami duduk di pinggir taman menatap ke depan, terasa laki – laki di sebelahku sangat asing.
“Maaf kan aku” katanya memulai pembicaraan.
“Aku yang seharusnya minta maaf tak bisa datang kemarin” ucapku.
“Aku merasa sangat marah dan benci tak bisa melakukan apapun untukmu” tambahnya.
“Tak ada yang harus dilakukan” sahutku.
“Kak Ryota bercerita tentang dirimu di karaoke, hingga di resort kemarin. Dia menjelaskan kepadaku bahwa dirimu berkencan dengan Kawaki. Aku masih tak percaya, karena aku tahu kamu bukan gadis yang seperti itu”.
“Aku bingung harus mengatakan apa, sejujurnya aku berterimakasih kalau kamu bisa percaya kepadaku. Tapi aku merasa hubungan kita tak akan baik – baik saja selama aku masih terjerat oleh si breng$ek itu”.
“Chiyo… saat aku tak bisa menghubungimu, aku merasa sangat resah. Aku tak tahu harus bagaimana tanpamu, aku merasa hidupku hampa. Bersamamu aku bisa jadi diriku sendiri, aku menyukaimu sejak dulu. Apapun dan siapapun dirimu”.
“Tapi Hiroshi, aku takut…”.
“Mari kita bertunangan, aku sudah memutuskan untuk melindungimu. Tadi malam, aku sudah meminta izin kepada ayah”.
Aku terkejut akan perkataan Hiroshi…
“Tapi ini tak akan menyelesaikan apapun, aku tak mau kamu terseret atas kemalanganku. Keluargamu belum tentu menerimaku dengan kondisiku seperti ini”.
“Percayalah Chiyo… selama kamu memiliki status resmi, keluargaku akan melindungimu. Ku mohon jangan tolak aku, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk kita”.
Hiroshi langsung memelukku dengan erat, seakan ada kelegaan dengan adanya solusi dari rentetan terror yang aku alami. Namun ini tak akan mudah, aku semakin takut Hiroshi dalam bahaya…
...XXXXXXXXXXX...