LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 37 : TERSEKAP DI BANGSAL BAWAH TANAH



Menjelang 02.00 dini hari, Kawaki membawaku masuk ke sebuah rumah yang megah dengan desain tradisional Jepang. Kawaki menyumpal mulutku menggunakan tali kain. Setibanya di garasi bawah tanah, kami berdua menyusuri lorong panjang yang gelap dengan lampu agak redup berwarna kuning menempel di dinding sepanjang lorong. Sedangkan Enju dan Jiro pergi keluar untuk merokok serta berjaga.


Aku di dorong masuk ke dalam bangsal terdapat sebuah tempat tidur terbuat dari besi, dan kasur berseprai putih ukuran single. Tak ada jendela, udara sangat pengap hanya ada kipas angin gantung berputar di langit – langit. Ada sebuah sofa panjang berwarna coklat nampak lusuh. Lemari stainless berukuran sedang dan dan toilet tanpa pintu.


“Nikmatilah hari – harimu disini, kamu tak akan bisa kabur lagi. Bahkan keluarga konglomerat Hokkaido itu pun tak berani mengambilmu disini” katanya sembari melemparku ker ranjang.


Aku melirik pintu bangsal yang terbuat dari baja yang tertutup rapat. Aku mencba memberontak, namun tanganku terborgol bahkan mulutku tak bisa bicara.


Kawaki membuka tali yang melilit mulutku serta borgol yang melingkar di kedua pergelangan tanganku, nafasku memburu setumpuk kemarahan memenuhi kepalaku.


“Kenapa kamu harus membunuh Azura! Kamu benar – benar tidak punya hati nurani” luapan kemarahanku kepadanya.


“Dia mencoba menghalangiku, maka sudah sepantasnya dia mati. Pengganggu harus segera dibinasakan sebelum dia terus – menerus menjadi penghalang” ujarnya sembari duduk di sofa yang ada di kiri tempat tidur menghadap ke ranjang.


“Banyak nyawa yang tak bersalah kamu bunuh, Tuhan tidak akan mengampunimu” kutukku.


“Kamu percaya dengan adanya Tuhan, maka mintalah keselematanmu sendiri. Kenapa kamu terlalu memperdulikan dia, apakah dia mengencanimu selama ini? Setelah tak bersama anak konglomerat Hokkaido itu, kamu beralih dengannya begitukah?” dia pun memberikan asumi kotornya.


“Bukan hakmu untuk bertanya kepadaku tentang siapa yang aku kencani saat ini. Apa pun yang aku lakukan semua tak ada hubungannya denganmu. Tahukah kamu, hidupmu sangat menyedihkan mencari kesenangan diatas penderitaan orang lain” aku pun mulai tak terkendali.


“Kamu mencoba memancing emosiku, kenapa? Kalau aku menyedihkan, bagaimana denganmu? Pikirkan saja bagaimana membuatku senang, agak aku bisa meringankan siksaanmu” ungkapnya dengan santai.


“Cih…aku tak sudi menyenangkanmu, lebih baik kamu membunuhku” tolakku lantang.


“HAHAHAAHAHHAA….” Dia tertawa.


Aku benci suara tertawanya, aku benci ekspresinya itu. Dia menghampiriku dan mendekapku paksa. Aku meringkuk di pelukannya, tubuh kami terbaring di ranjang. Pelukannya semakin erat, hingga aku tak bisa bergerak. Pelan – pelan dia membelai rambutku dan berbisik ketelingaku “Setelah aku puas denganmu, mungkin itu adalah akhir dari hidupmu. Nyawamu hanya aku yang berhak mengakhirinya, maka tunggulah”.


Kemudian dia menjilat telingaku dan menciumiku melintas ke leher hingga bahuku dan menggigitnya.


“AARRGGGHHH!” teriakku kesakitan. Bak drakula dia benar – benar menggigitku hingga bekas giginya membekas di bahuku.


“Ini adalah tanda ucapan selamat datang di neraka” katanya sambil tersenyum sinis lalu meninggalkanku. Terdengar engsel pintu di kunci olehnya, serta gemma suara langkah kakinya pergi meninggalkan bangsal.


Aku memegangi bahuku yang terasa perih dan masih ada ada darah menempel, “Luka ini tak seberapa dengan kematian Azura”.


Aku menangis semalaman, meringkuk di ranjang mengenang kebersamaanku bersama Azura. Pria baik itu selalu tersenyum dan banyak bicara, rasa bersalahku teramat dalam. Hingga membuat dadaku sesak.


Keesokan harinya….


Kawaki duduk di salah satu zabuton di depan meja makan bersama Ayah, adik tirinya Kanon perempuan berusia 16 tahun, ibu tirinya serta pamannya Isogai berusia 45 tahun. Seperti biasa mereka makan ala tradisional jepang, duduk mengelilingi meja dan menggelar zabuton (bantal duduk ala jepang).


Pagi yang selalu hening di meja makan, tanpa ada satu pun yang bersuara atau menyapa satu sama lain. Mereka fokus untuk makan begitulah tradisi keluarga Endo.


Setelah semua selesai makan, Ayah Kawaki meminta anak laki – lakinya itu tak beranjak pergi.


“Tadi malam kamu membunuh orang lagi untuk wanita itu?” tanya Ayahnya.


“Dia menghalangiku membawa mainanku yang susah payah ku temukan, itu membuatku marah” aku Kawaki.


“Aku menyukainya karena aku terlalu membenci keangkuhannya, penolakannya, keberaniannya padahal dia hanyalah wanita jal@ng yang lemah. Itu membuatku semakin ingin memilikinya dan menyiksanya” jelas Kawaki.


“Jangan melakukan kesalahan yang sama sepertiku, ayahmu ini merasakan yang sama kepada ibumu. Semakin menarik dia, semakin dia sulit dikendalikan. Nyatanya hal yang dipaksakan akan tetap tak bisa kita miliki seutuhnya” tambah ayah Kawaki.


“Perasaan ini hanyalah sesaat, aku akan mengatasinya sendiri. Setelah aku puas dengannya, aku pun akan membuangnya segera” kata Kawaki dengan tenang.


Dia tahu betapa sakitnya di tinggal ibunya saat masih kecil, menjadi anak yang tak pernah dicintai dan di harapkan oleh ibu kandungnya sendiri. Membuat Kawaki tumbuh dengan dark side terbentuk dari luka masa kecilnya.


Kawaki kemudian bertemu dengan Asahi di dalam kamar, Asahi memberikan koperku kepada Kawaki.


“Tuan muda, ini adalah koper nona Chiyo. Dimana saya harus letakkan, atau saya berikan kepadanya?” tanya Asahi.


“Biarkan saja disini, aku yang akan memberikannya” jawab Kawaki.


Kawaki pun lantas membuka koperku mengacak – ngacak isinya berupa beberapa pakaian, make up, telepon serta dompet yang terdapat tanda pengenal dan beberapa uang cash.


Dia menemuiku di bangsal lalu menaruh koperku di sudut ruangan.


“Mandilah, hari ini kita perlu bersenang – senang” katanya dengan berdiri bersandar di tembok dekat pintu.


Aku mengacuhkannya dan tetap meringkuk di ranjang.


“Haruskah aku membantu menelanjangimu?” tanyanya sembari memperhatikanku.


Aku masih tak menghiraukannya dan tetap pada posisiku.


Lantas dengan kasar dia menggendong tubuhku, aku pun mencoba melepaskan diri.


“Lepaskan aku, apa yang mau kamu lakukan!!!” teriakku.


Di putarnya kran shower dan di sobeknya t-shirt yang aku kenakan begitu dengan bra yang menutupi dadaku kaitnya di paksa di buka. Aku terus berteriak di bawah guyuran air shower dari atas kepalaku. Aku membekap dadaku dengan kedua tanganku, untuk pertama kalinya aku setengah telanj@ng dan di lihat orang lain.


“Kenapa harus malu, jangan memunggungiku… lihat ke arahku. Bukankah ini yang mau kamu tunjukkan, jal@ng!” katanya tidak senonoh.


Aku menghadap tembok tetap berdiri memunggunginya. Di belakang dia mengamati punggungku yang basah tanpa busana. Dia menyentuh bekas luka bakar sundutan rokok yang pernah dia torehkan kepadaku.


“Kamu benar – benar Chiyo, ada tanda yang indah di punggungmu. Atau kamu mau berperan lagi menjadi Yoshiko, ciumanmu waktu itu cukup enak. Pilihlah mana saja, aku akan tetap merasa terhibur” katanya membuatku semakin jijik.


“Dasar breng$ek!” umpatku menatapnya tajam.


Dia lalu mencengkeram rambutku mendorongku hingga tersungkur ke lantai. Dia berdiri di atas tubuhku lalu menendangiku berkali – kali. Aku hanya bisa meringkuk di lantai menutupi dadaku. Setelah dia puas, dia pun keluar dari kamar mandi dan pergi meninggalkanku di bangsal sendirian. Tanpa kata – kata dia sudah memulai aksinya untuk menyiksaku.


Ini adalah awal dari penindasan yang aku terima, entah sampai kapan aku akan di sekap disini. Aku hanya bisa menangis dalam diam.


XXXXXXXXXXXXX