
Hiroshi berada di mobil bersama Ryota, seorang supir duduk di bangku depan sedangkan keduanya duduk berdampingan di bangku belakang. Sebuah mobil sedan keluaran luar negeri yang mewah melaju dengan dengan kecepatan sedang menyusuri jalan Sapporo di malam hari.
Ryota mengenakan pakaian rapi seperti biasa, satu style jas, celana bahan dengan kemeja serta sepatu vantofel yang mewah. Begitu dengan Hiroshi, t-shirt putihnya di balut dengan jas berwarna biru navi serta celana bahan dengan warna sama, sepatu kets berwarna putih.
Keduanya menatap ke arah depan, Ryota menatap layar ponselnya dia sedang berkirim pesan dengan ibunya. Hiroshi memulai pembicaraan menatap kakaknya yang tengah sibuk mengirim pesan.
“Memangnya malam ini ada acara apa?”.
“Sebuah acara pertemuan keluarga”.
“Keluarga siapa?”.
“Nanti kamu juga tahu”.
Setibanya di hotel, tepatnya sebuah restoran yang tertutup di dalam hotel. Meja kotak dengan kapasitas zabuton untuk 6 orang, ruangan yang dimana kayu mendominasi desain ruang tersebut. Sebuah ruangan yang kental dengan corak kebudayaan jepang.
Paman Fukoda duduk berdampingan dengan kedua anaknya Ryota dan Hiroshi, berhadapan dengan Kawaki dan ayahnya. Hiroshi mencoba untuk tenang menyembunyikan amarahnya kepada Kawaki.
“Sudah cukup lama, kita tidak berjumpa Fukoda” kata ayah Kawaki memulai pembicaraan.
“Kita bertemu di pemakaman Kumiko, itu adalah pertemuan terakhir kita” jawab paman Fukoda (ayah Hiroshi).
“Benar sekali, aku menyayangkan kita tak lagi bertemu semenjak itu. Meskipun demikian, hubungan kita masih tetap berjalan dalam mencapai sebuah keuntungan. Meski sebelumnya asmara membuat retak hubungan kita” ujar ayah Kawaki.
“Sepertinya sejarah antara kita berulang ke anak kita, aku harap ini tidak memperburuk hubungan kita dalam bisnis” paman Fukoda mulai menuju topik inti.
“Maka dari itu, aku terima tawaran putramu untuk bertunangan dengan putri bungsuku” jawab ayah Kawaki.
“Siapa yang akan bertunangan? Kak Ryota sudah menikah, kak Soma masih ada di Filipina.” tanya Hiroshi bingung.
“Kanon putri bungsu dari klan Endo akan bertunangan denganmu” jawab Ryota dengan tenang.
“Apa! Bagaimana bisa tanpa persetujuanku, kalian merencanakan semua ini. Aku tidak setuju atas pertunangan ini!” kata Hiroshi yang kesal atas sikap keluarganya.
“Tenangkan dirimu, Hiroshi” tegur Ryota dengan pelan.
“Bagaimana aku bisa tenang, jelas kalian tahu calon tunanganku diambil dariku tahun lalu. Kini tiba – tiba aku ditunangkan oleh adik dari orang yang telah menikamku serta menculik calon tunanganku. Apakah ini adil bagiku?!” Hiroshi meluapkan emosinya sembari beranjak berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu yang merebut mainanku, aku hanya mengambilnya kembali. Jangan merengek seperti anak kecil, itu hanya perkelahian pria dewasa. Kini aku menggantinya dengan adik tiriku, bukankah harusnya kamu senang?” kata Kawaki dengan tenang sembari menatap datar wajah Hiroshi yang ada di hadapannya.
“Mengganti katamu, menurutmu itu lucu. Chiyo sejak kecil tumbuh bersamaku, dia hidup dan mengenalku lebih awal. Kamu merusak hidupnya, bahkan dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya hanya untuk melarikan diri darimu. Orang macam apa kalian semua disini, menutupi kasusnya dari polisi. Merelakan satu kehidupan gadis tidak berdosa hanya untuk dijadikan mainan pria gila ini!” emosi Hiroshi menjadikan kata – katanya menggebu – gebu.
“Bagaimana aku bisa tenang, gadis yang aku cintai di siksa oleh pria yang ada di hadapanku. Sedangkan kalian hanya tenang saja menikmati kehidupan kalian meski kalian tahu apa yang terjadi. Apakah hubungan bisnis ini hanya demi keuntungan patut di pertahankan? Karena keuntungan kalian menutup mata atas sikap tak manusiawi pria gila ini!” kata Hiroshi histeris dengan mata penuh kebencian menatap Kawaki.
Dia pun kembali terduduk dengan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarahnya yang memuncak.
“Menurutmu aku gila, bukankah yang gila karena cinta adalah dirimu. Merengek meminta gadis itu kembali kepadamu, padahal dia saat ini tengah menungguku diatas ranjang. Apakah menurutmu dia mencintaimu…cih itu hanya khayalanmu yang kamu paksakan kepadanya” Kawaki memprovokasi Hiroshi.
“Dasar pria menjijikkan, kamu pasti menyekapnya dan melecehkannya. Dasar binatang!” Hiroshi tersulut emosi kembali.
“Cukup” kata paman Fukoda menengahi.
“Sepertinya aku bisa merasakan nostalgia masa muda kita, Fukoda” sindir ayah Kawaki.
“Semoga Chiyo tak bernasib sama dengan Kumiko” kata paman Fukoda menatap ayah Kawaki dengan dalam.
Kedua keluarga memutuskan untuk mempertimbangkan rencana tersebut, hingga Hiroshi reda atas kemarahannya dan bisa berpikir dengan normal saat mengambil keputusan. Kawaki dan ayahnya pergi lebih dahulu meninggalkan ruangan tersebut.
“Pertunangan ini akan membantu kita dalam mengikat klan Endo, sehingga mereka tak akan berpaling kepada kita. Berani sekali kamu merusaknya!” kata Ryota kesal kepada adiknya.
“Dia yang merusak hidupku lebih dulu, dan kini kakak menumbalkanku untuk memperlancar rencana kakak? Tega sekali!” Hiroshi pun ikut meninggikan suara.
“Menolak pertunangan ini pun, Chiyo tidak akan kembali kepadamu. Gadis itu akan selalu dalam bayangan Kawaki. Berpikirlah dengan kepala dingin” Ryota menasehati adiknya yang sedang tersulut emosi.
Akhirnya Ryota dengan kesal meninggalkan ruangan. Kini tinggal paman Fukoda dan Hiroshi yang duduk berhadapan.
“Nak…aku tahu perasaanmu, tapi apa yang dikatakan Ryota adalah benar. Seberapa berusahanya dirimu melepaskan Chiyo dari anak itu, Chiyo hanya ada pilihan hidup bersama atau mati meninggalkannya” kata paman Fukoda kepada anaknya yang penuh kekecewaan.
“Ayah… kita bisa minta bantuan polisi, atau kita bisa melarikan Chiyo ke luar negeri yang jauh dari jangkauan pria bang$at itu. Masih banyak cara untuk membebaskan Chiyo” kata Hiroshi.
“Membebaskan Chiyo sama saja merenggut kehidupan keluarganya, menurutmu anak itu akan diam saja dengan kedua orang tuanya. Kamu tahu kenapa dia belum membunuh seluruh keluarga Chiyo hingga saat ini, itu karena permintaan ayah kepada klan Endo. Mereka saja bisa membinasakan klan Aihara, untuk menghabisi keluarga Chiyo itu hal yang sangat mudah bagi mereka. Pikirkanlah dengan kepala dingin, pertunangan ini bisa mendekatkanmu dengan Chiyo. Masuk ke keluarganya, setidaknya kamu bisa menjaganya dari jarak dekat” jelas paman Fukoda sembari menempuk – nepuk bahu putra bungsunya itu.
Hiroshi pun mulai berpikir mengenai apa yang di katakan ayahnya, menjaga Chiyo dari jarak dekat.
“Apakah ini cara tepat untuk aku bisa menjaga Chiyo?” tanya Hiroshi dari dalam hati. Kini Hiroshi pun mulai bimbang dengan langkah yang harus di lakukannya. Perasaannya campur aduk, bagi Hiroshi keselamatan Chiyo adalah paling utama. Dia pun terpaksa mempertimbangkan pertunangan yang telah di rencanakan Ryota untuknya.
xxxxxxxxxxxxx