
Aku mandi dan mengenakan pakaian dari Kanon, sebuah midi dress berwarna abu – abu polos. Luka lebam dan sundutan rokok Kawaki terlihat jelas. Aku hanya menatap tubuhku dengan sedih tanpa tahu kapan semua akan berakhir.
Seorang assistant rumah tangga membawa satu nampan penuh makanan masuk ke dalam kamar bersama Kawaki.
“Duduklah dan makanlah” perintah Kawaki.
Aku duduk di hadapannya lalu perlahan memakan semua makanan yang ada di atas meja.
“Kamu rakus sekali, apakah kamu sangat lapar?” sindir Kawaki yang memperhatikan aku makan.
Aku tak memperdulikan ocehannya dan tetap mengunyah makananku.
Tiba – tiba tangannya mengarah ke kepalaku, aku langsung reflek menghindar.
“Dekatkan kepalamu ke tanganku” perintahnya.
Dengan rasa takut aku melakukan yang dia minta, seperti Kanon setidaknya aku harus bertahan hidup di sampingnya.
Aku kaget mendapati dia mengelus kepalaku dengan lembut, tangan yang selalu menjambak rambutku melakukan hal lain diluar dugaan. Apakah dia salah minum obat?.
“Kamu ingin ke Hokkaido bersamaku?” tanyanya sembari berhenti mengelus rambutku.
“Apakah ini jebakan?” tanyaku balik dengan mata menyelidik.
“Tidakkah kamu rindu keluargamu, aku akan mengajakmu menemui mereka” katanya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Kamu yakin, kenapa kamu sebaik itu melakukannya?” tanyaku tak percaya.
“Kenapa, kamu tidak mau? Kamu memilih tinggal di bangsal dan melupakan keluargamu?” pertanyaannya seakan menyiratkan sesuatu.
“Apa yang kamu rencanakan sebenarnya?” aku makin takut dengan tawaran baiknya.
“Tidak ada, aku hanya sedang berbaik hati kepadamu” jawabnya sambil tersenyum licik.
“Aku tak percaya kepadamu, pasti kamu merencanakan sesuatu. Jangan ganggu orang tuaku” tegasku.
“Aku tidak akan melukai mereka, aku hanya butuh anak perempuan mereka. Sekarang aku sudah memilikinya. Bersiaplah malam ini kita pergi kesana…ke Hokkaido” katanya dengan senyuman.
Menjelang malam…
Kawaki membawaku menaiki mobil off road berwarna hitam beserta Enju dan Jiro menuju Hokkaido. Sesekali Jiro curi – curi pandang ke arahku melalui kaca spion tengah. Sejujurnya aku ingin meluapkan amarahku kepadanya, tapi aku tak sempat melakukannya.
Kami memasuki bandara Narita, Kawaki menyiapkan semua dokumen atas nama Yoshiko Kobayashi yang diambil dari koperku. Kami berempat terbang sekitar 1,5 jam hingga tiba di bandara Chitose, Hokkaido.
Aku tak menyangka Kawaki mengajakku ke hotel keluarga Hiroshi, tempat pertunanganku yang gagal waktu itu. Sepanjang jalan menuju kamar, aku mengenang kejadian buruk itu.
Kawaki sekamar denganku, di depan kamar kami Enju dan Jiro menginap.
Sebuah ranjang king size dengan seprai putih seakan menertawakan nasibku. Kawaki memelukku dari belakang dan berbisik “Kamu mengingat kejadian malam itu, malam pertunangan yang telah gagal. Tepat di kamar ini, mantan calon tunanganmu ku tikam. Menarik sekali, malam ini kita bernostalgia merayakannya”.
Aku membeku mendengarnya, air mataku menetes tanpa ku sadari. Hatiku penuh luka dan memori yang kelam, Hiroshi maafkan aku.
Kawaki mendorongku ke ranjang, aku terbaring dan ditindih olehnya. Melihat air mataku, wajah datarnya seakan berubah marah.
“Aku benci air mata munafikmu itu, aku muak melihatnya” katanya lalu duduk diatas perutku.
“PLAKKKK!!!” tamparan keras mendarat ke wajahku.
Diamku membuatnya bangkit dari tubuhku dan pergi ke kamar mandi, suara kucuran air shower terdengar dari balik pintu. Si breng$ek itu sedang mandi, aku berpikir untuk menyelinap keluar kamar. Aku pun berhasil keluar dan naik lift menuju lobby, tapi aku tak beruntung bertemu kak Ryota.
“Lepaskan aku, aku mau pergi keluar mencari udara segar” jawabku asal sambil melepaskan tangannya.
“Semua CCTV memantaumu, jangan buat keributan dengan mencoba untuk melarikan diri dari tamu VVIP kami” katanya seraya memberi kode kepada dua security untuk menyeretku naik lift.
“Lepaskan aku…tolong! Ku mohon… siapapun tolong aku!” teriakku ditengah sepinya hotel, namun ada beberapa tamu yang lalu lalang menatapku.
“Mohon maaf, dia terkena depresi berat. Dia sedang bersama keluarganya di atas, kami sedang berusaha mengembalikannya kepada keluarganya” kata kak Ryota kepada beberapa tamu yang menyaksikan aku di seret paksa.
“Itu bohong… mereka menculikku, ku mohon percayalah!!!” teriakku dengan memberontak.
Nihil… tak ada satu pun yang percaya, kami kembali ke kamar. Kawaki duduk di sebuah kursi dekat jendela menghadap ke pintu, dia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang hingga lututnya. Begitu santainya sembari meminum wine menatapku di masukkan paksa.
“Mohon maaf, aku membawa kembali mainanmu. Dia membuat ke gaduhan di lobby hotel kami” kata kak Ryota.
“Tak apa, terimakasih sudah mengantarnya kepadaku. Biar aku yang memberi pelajaran kepada dirinya, maafkan aku telah merepotkanmu” Kawaki menanggapi.
Aku memegang kaki kak Ryota sambil memelas, “Ku mohon, bantu aku lepas darinya”.
Tapi kak Ryota hanya tersenyum sinis, lalu menepis tanganku dari kakinya. Pintu pun di tutup, aku menggedor – gedornya namun tak ada satu pun yang membantuku.
“Hai…kemarilah, untuk apa kamu mengemis kepada pria lain. Hanya aku yang bisa membantumu hidup” kata Kawaki dengan angkuh.
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, “Dasar breng$ek, aku hidup bukan untukmu. Sebenarnya apa alasanmu melakukan ini semua kepadaku! Apa kamu menyukaiku? Sampai kamu tak ingin kehilanganku?”.
“Kamu mulai hilang akal, menurutmu kamu begitu penting bagiku? Jangan mengoceh sembarangan, gunakan otakmu. Pel@cur sepertimu banyak aku dapatkan di Jepang, sudah ku bilang kamu hanyalah mainanku” elaknya.
“Cih…kamu seperti anak kecil menginginkan mainan, apakah ibumu tak pernah membelikanmu mainan. Sangat malang nasibmu” sindirku.
“PYARRRRR!!!” suara hantaman gelas ke pintu yang mengarah kepadaku.
Setidaknya aku bisa menghindar, sorot matanya berubah seakan dia siap membunuhku. Dia mengambil gagang telepon dan menatapku, “Kemarilah”.
“Aku tidak mau” jawabku.
Dia menghampiriku dan menangkapku dengan cepat, melilitkan kabel telepon ke leherku.
“Le…paskan…aku” kataku tertatih dengan menahan kabel telepon yang menjerat leherku.
“Kamu tahu apa soal ibuku, mulut sampahmu perlu diberi pelajaran” katanya dengan tatapan marah.
Hampir saja aku kehilangan nafasku, saat dia tahu aku sudah mulai melemah akhirnya dia melepaskanku. Aku terkulai di lantai sembari mengatur nafasku yang hampir habis.
“UHUKKK…UHUKKKK…”
“Benarkan kamu menyukaiku, kenapa kamu tak membunuhku sekarang. Itu karena kamu menyukaiku terlalu dalam, terobsesi kepadaku hingga melakukan ini semua. Tunjukkan kalau ini salah dan hanya argumentku saja dengan membunuhku sekarang” tantangku.
“Kamu memang benar – benar ingin mati di tanganku ya, bahkan kamu mencoba memanipulasiku untuk membunuhmu. Kamu sudah putus asa untuk hidup, tapi menyiksamu lebih menarik ketimbang melihat dirimu mati begitu saja” jawabnya lalu mengambil rokok dan menyulutnya.
Sejenak dia menatap kearah luar jendela, berdiri sambil merokok memunggungiku.
“Ibuku juga putus asa, hingga dia memilih mati ketimbang hidup bersamaku” aku nya.
Aku tertegun mendengarnya, aku baru tahu kalau ibunya meninggalkannya dan memilih mengakhiri hidupnya. Pria sadis dan brutal di hadapanku hanyalah anak tanpa kasih sayang. Haruskah aku mengasihinya terlepas dari semua siksaan yang dia lakukan kepadaku?.
XXXXXXXXXXXX