
“AH! SIAL! Kita tidak mungkin mencarinya di tengah malam seperti ini” keluh salah satu dari kelompok bertopeng yang terdengar menggema.
Aku berusaha terus mendaki bukit, sepatu kebesaran yang aku kenakan sangat menggangguku. Entah apa motif mereka menargetkanku, aku hanya bisa mengerahkan sisa – sisa tenagaku agar tetap selamat.
Disisi lain…
Kawaki sampai di lokasi gudang klan Endo dimana digunakan untuk penyimpanan senjata api illegal dari penyelundupan. Hatori dan Hotaru yang terluka menghampiri Kawaki.
“Sepertinya dia menargetkan klan Endo, bisa jadi mereka memancingmu. Serangan mobil waktu lalu mungkin ada hubungannya dengan kejadian malam ini” kata Hatori.
“Berani sekali mereka berurusan denganku, Asahi masih dalam penyelidikan. Kita harus tetap siaga, mereka akan melakukan penyerangan dan terror” kata Kawaki menatap gudangnya yang terbakar di depan mata.
“Nemon tadi menghubungiku dari markas, katanya alarm salah satu kediam klan Endo di kawasan Ishigawa menunjukkan pembobolan. Tertangkap rekaman CCTV kelompok bertopeng menyambanginya dan menghancurkan CCTV. Kenapa mereka juga menyasar kesana?” kata Hotaru membuat Kawaki sadar targetnya adalah aku.
“Dia menargetkan Chiyo, aku pergi kesana bersamanya. Dasar breng$ek, berarti mereka memata – mataiku. Dia mencari kelemahanku, dan Chiyo sebagai sasarannya untuk memancingku. Sial!” Kawaki seketika meradang.
Lantas Kawaki bergegas masuk ke dalam mobil dan melesat menuju Ishigawa.
Menjelang pagi…
Dedaunan hijau mulai terlihat jelas, tubuhku melemah aku terus melanjutkan berjalan. Tak lagi terdengar suara orang berbicara, atau berjalan serta senapan. Hanya ada kicauan burung dan hembusan angin menyibak dedaunan.
Aku yang buta arah hanya tahu terus berjalan tanpa tahu mau kemana, udara dingin membuat langkahku semakin berat. Aku berusaha untuk tetap kuat menapaki jalan di tengah – tengah hutan dengan pepohonan rimbun.
Kawaki menghentikan mobilnya setelah menemukan police line dan beberapa polisi di jalan, dimana si paman pemilik truk pick up di evakuasi oleh kepolisian wilayah setempat. Dia mengamati sekitar, dia menyadari ada beberapa langkah kaki ke atas bukit di kanan jalan.
Polisi pun mulai menelusuri bukit begitu pun Kawaki, aku yang mulai lelah mencoba bersembunyi di balik pohon besar di tengah semak – semak. Mengatur ritme nafasku agar tak terdengar, saking lelahnya aku tertidur.
Aku terbangun sore hari, mulailah terdengar suara langkah kaki orang berkeliaran di sekitarku.
“Sepertinya memang masih ada orang di sekitar sini, ini ada robekan kain di dahan” suara seseorang menggema.
Aku baru menyadari hoodie bagian lengan kiriku robek tersangkut dahan ranting pohon. Aku yang tak menyadari bahwa itu polisi, mencoba diam dalam persembunyian. Karena penasaran, aku mencoba berdiri dan menengok ke arah belakang, namun tiba – tiba ada seseorang membekap mulutku dari belakang.
Mataku terbelalak seseorang bertopeng berada di hadapanku lalu menyuntik leherku dengan obat bius. Aku pun tak sadarkan diri.
Aku terbangun di sebuah ruangan yang penuh dengan box kayu, tangan dan kakiku di ikat serta mulutku di lakban. Aku yang terduduk di lantai bersandar di tembok menatap seseorang mengenakan topeng dan pakaian serba hitam.
“Selamat datang tuan putri” katanya menyapaku, terdengar seperti suara perempuan.
Dilihat dari postur tubuhnya dan dadanya yang menonjol serta rambut panjangnya yang terikat rapi, aku yakin dia adalah wanita.
Mendengar kata – katanya, tidak salah lagi sesuai dengan cerita Kawaki ayahku adalah mantan klan Aihara berarti ini yang dimaksudkan. Mereka adalah sisa klan Aihara yang ingin membalas dendam kepada Kawaki yang telah melakukan pembantaian kepada kelompok mereka.
……………
Kawaki yang duduk sofa sedang meminum teh bunga krisan buatan Asahi tengah mendengarkan penjelasan Asahi.
“Tuan muda, penyerangan yang menimpa anda dan nona Chiyo adalah ulah para anggota klan Aihara yang masih tersisa. Di pastikan mereka menargetkan nona Chiyo untuk memancing anda”.
“Aku sudah menebaknya sejak awal dan kini terkonfirmasi. Pastikan kita mulai berburu sisa – sisa klan Aihara, aku yakin Kumi dibalik ini semua. Dia satu – satunya yang masih hidup, dia lolos dalam pembantaian malam itu” kata Kawaki dengan tatapan tajam.
“Tuan muda ada pesan masuk di ponsel anda” kata Asahi lalu menyodorkan ponsel kepada Kawaki.
Kawaki yang melihat videoku yang direkam sadar bahwa itu adalah sebuah isyarat mereka menabuh genderang perang.
Sebuah panggilan telepon masuk, lalu dengan tenang Kawaki mengangkat telepon.
“Apa kabar keponakanku, lama tak berjumpa. Aku bersama wanitamu saat ini, datanglah kemari agar aku dapat merestui kalian berdua” kata wanita itu.
“Hei…wanita tua, hentikan ocehanmu. Seharusnya aku membunuhmu di malam itu, sayang sekali kamu sangat lihai melarikan diri. Tenanglah aku akan datang untuk mengambil wanitaku” jawab Kawaki.
“HAHAHAHAHAHAHA….!!!” Suara tawa wanita itu terdengar nyaring.
“Datanglah sendiri, mari kita bernostalgia bersama. Aku akan menceritakan hal menarik serta sebuah pertunjukkan untuk menyambutmu. Anak nakal…aku tak mungkin mati semudah itu di tanganmu, kini saatnya aku mengajarimu untuk menjadi anak baik…HAHAHAHAHAHA” kata wanita itu, lalu menutup telepon.
Kawaki meletakkan teleponnya…
“Dia masih saja seperti dulu, terlalu banyak bicara. Aku pastikan akan menggorok lehernya hingga pita suaranya terputus, aku sangat tidak menyukai suaranya. Huft menyebalkan” kata Kawaki lalu menikmati tehnya kembali.
Asahi yang mendengarnya lalu memberi saran.
“Tidakkah sebaiknya kita membawa bala bantuan tuan muda, jangan pergi sendirian ini adalah jebakan”.
“Tenanglah, aku bisa menghabisinya sendiri. Persiapkan saja anak buah kalau satu jam aku tak keluar dari tempat itu, kita harus memusnahkan para kecoak yang masih saja hidup. Dia pikir dengan menyandera Chiyo aku akan dengan bodoh menyodorkan nyawaku, pemikiran yang sangat konyol”.
Kawaki tersenyum licik, dia pun sudah mulai mengatur strategi penyerangan di dalam otaknya.
XXXXXXXXXXXXXXX