
Jiro menurunkanku di seberang rumahku, aku keluar dan membuka pintu gerbang dengan kode nomor sandi yang aku tahu. Aku masuk dan berjalan menyusuri rumah, suasana yang sangat aku rindukan. Namun aku tak mendapati siapapun, aku masuk ke dalam kamarku. Masih tertata seperti sebelum aku pergi meninggalkannya. Menatap photo – photo kebersamaan aku, ayah dan ibu.
Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Jiro dan mengajaknya ke toko kue kami.
“Hei Jiro, kedua orang tuaku tidak ada di rumah. Ayo kita ke toko Momo Michi, di ujung jalan sana. Jalan kaki saja, hanya 200 meter dari sini” ajakku.
Jiro pun menggunakan topinya lantas turun dari mobil dan mengikutiku.
“Kamu punya toko kue?” tanya Jiro sembari jalan di belakangku.
“Toko kue milik ayahku” jawabku.
Sesampainya di depan toko, aku melihat Miyaki yang ada di toko dengan mata berkaca – kaca.
“Miyaki…” panggilku.
Miyaki menoleh ke arahku, sejenak Miyaki mengamati wajahku lalu tak disadarinya air matanya menetes.
“Chiyo…!!!” teriaknya membuat pengunjung yang ada disana menatapku.
Seketika dia berlari menghampiriku dan memelukku dengan erat sambil menangis, air mata kami saling tumpah dan menetes tanpa terkendali.
“Aku sangat merindukanmu, aku benar – benar cemas memikirkanmu. Tahukah kamu, kami disini sangat kehilanganmu” katanya dengan mempererat pelukannya.
“Aku pun merindukan kalian semua” sahutku.
Miyaki menyuruhku duduk dan Jiro, lalu dia pergi ke belakang memanggil ayahku.
Ayah melihatku sambil menciumiku dengan penuh haru, kemudian dia memelukku dengan erat.
“Nak…ayah sangat merindukanmu, akhirnya ayah bisa melihatmu juga” kata Ayah.
“Aku juga rindu ayah dan ibu, aku sangat sangat merindukan kalian berdua” ungkapku.
Sebuah pertemuan penuh haru dan air mata setelah setahun lebih aku melakukan penyamaran.
Ayah mengajakku duduk dan berbincang, sedangkan Jiro duduk di kursi lain dan menikmati kue yang di hidangkan oleh Miyaki.
“Kenapa kamu pulang, bagaimana kalau kamu tertangkap?” tanya ayah sambil menggenggam tanganku.
“Aku sudah tertangkap” jawabku.
“Apa, bagaimana bisa?” tanya ayah resah.
“Panjang ceritanya, banyak orang menderita dan terbunuh dalam pelarianku” jawabku dengan nada lirih.
Ayah melirik bekas luka di leherku, tangannya menyentuh leher sembari menangis. Aku tahu hatinya pasti hancur mendapati bekas siksaan di tubuh anaknya.
“Manusia mancam apa yang membuatmu seperti ini, aku tidak sanggup memberikanmu kepadanya. Larilah nak” kata Ayah.
Ku hapus air mata yang menetes di pipinya, aku tak tahan melihat air matanya.
“Ayah…dengarkan aku, tenanglah. Semua baik – baik saja, percayalah” kataku mencoba menenangkan ayah.
“Tidak…aku akan melapor ke polisi, ini sudah kewajibanku sebagai ayah menjaga anaknya” ayah beranjak berdiri dan pergi mengambil ponselnya di dalam.
“Ku mohon, ayah…ayah…ayah dengarkan aku. Jangan lakukan itu, nyawamu akan terancam. Ini tak sesederhana yang ayah pikirkan. Mereka adalah organisasi yang besar dan tak terkalahkan, meski pun hari ini aku selamat, tapi besok mereka dengan mudah membunuh kita semua” jelasku sembari memeluk ayah dari belakang.
Jiro mulai menatap tajam ke arah ayah, aku tahu posisi kami tidaklah aman.
Aku berunding dengan ayah di dalam, sedangkan Jiro duduk di luar dengan Miyaki yang mencoba mengecohnya.
“Dimana ibu?”.
“Ibumu sedang ikut festival musim gugur ke Osaka, dia akan kembali lusa. Tetaplah disini, dia pasti merindukanmu. Setelah membawamu ke pelabuhan, dia terus menangis sepanjang malam. Hatinya hancur merelakan putrinya”.
“Aku tidak tahu akan berapa lama aku disini, dia mengizinkanku menemui kalian hanya hari ini saja. Tapi aku berjanji akan kembali meski aku tak tahu entah kapan. Percayalah, aku akan bertahan hidup demi kembali bersama kalian”.
“Berjanjilah untuk tetap hidup nak, demi ayah dan ibumu ini. Ayah akan mencari cara membebaskanmu, ayah merasa hancur tanpamu”.
Ayah memelukku sekali lagi, aku pun menahan tangisku.
Saat keluar aku terkejut Miyaki membungkus banyak kue untuk Jiro.
“Untuk apa semua ini?” tanyaku kepada Miyaki.
“Dia memborongnya, katanya kue kita enak. Pantas badannya gempal ternyata dia memang doyan makan” jawab Miyaki kepadaku.
Jiro tersenyum sembari mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya.
“Memangnya kamu bisa makan semua ini?” tanyaku heran.
“Tenang saja, ini akan ku bagikan dengan Enju” jawab Jiro dengan menenteng bungkusan di kedua tangannya.
“Aku lihat Enju tidak begitu suka makan, dia sarapan saja sangat sedikit” ungkapku.
“Masih ada aku yang siap membantunya menghabiskan” tambahnya.
“Huft…” aku hanya bisa menghela nafas.
Setibanya kami di hotel, aku berpapasan dengan kak Ryota di lorong menuju kamar.
“Hai…Chiyo bagaimana dengan malammu di hotel kami?” tanya kak Ryota sembari tersenyum licik.
“Menurut kakak bagaimana?” tanyaku kesal menatapnya.
“Sepertinya malam cukup indah” dia menatap bekas luka lilitan kabel di leherku.
“Kenapa kakak tidak menolongku?” tanyaku.
“Untuk apa aku menolongmu, bukankah kamu menikmatinya. Menolongmu hanya akan mendatangkan bencana bagi keluarga kami, cukup sekali aku menolongku karena ayah memintaku. Lihatlah Naoko saja menjadi cacat hanya karena menampungmu” jelasnya.
DEGH…
“Cacat, apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Kamu tidak tahu, hmm…aku tidak punya cukup waktu untuk berbincang denganmu. Aku harus bersiap mengurus pertunangan adikku segera” ujarnya.
“Pertunangan…siapa? Hiroshi?” aku semakin terkejut dibuatnya.
“Nanti kamu pun akan segera tahu, aku permisi” katanya lalu pergi meninggalkanku.
Aku menatap Jiro dengan tajam lalu menariknya ke tangga darurat.
“Apakah kamu tahu mengenai Naoko?” tanyaku menyelidik.
“Itu…semua terjadi karenamu, Kawaki membuatnya cacat beserta kekasihnya” jawab Jiro.
“Apa!!!! Betapa bej@tnya kalian memperlakukan manusia seperti itu, kenapa bisa kalian merusak hidup orang yang tidak berdosa terhadap kalian!” murkaku, seketika diriku sangat emosional mendengar nasib Naoko dan Hayami yang malang.
“Aku sudah bilangkan, semua orang yang berhubungan denganmu akan terkena imbasnya. Maka bertahanlah di samping Kawaki, itu jalan satu – satunya untuk menyelamatkan nasib orang yang ada disekitarmu” Jiro pun menasehatiku.
“Sebenarnya kenapa harus aku yang dipilih oleh Kawaki sebagai mainannya? Apa salahku kepadanya? Kenapa dia membuat hidupku sulit dan hancur seperti ini?” aku pun meluapkan perasaanku kepada Jiro.
“Aku tidak tahu pastinya, tapi dia benar – benar terobsesi kepadamu. Ini pertama kalinya aku melihat Kawaki menjadi sangat brutal di luar pertarungan dengan musuh kami. Sesungguhnya dia pria yang baik, dia selalu membantu anggota yang sedang kesusahan. Orang yang menjadi anak buahnya itu karena kesadaran sendiri, bukan paksaan” ungkap Jiro.
“Manusia gila yang tidak punya hati itu menurutmu baik, bagiku dia adalah iblis yang menghancurkan hidupku” kataku dengan sangat emosional.
Jiro hanya bisa terdiam menatapku nanar, aku mencoba untuk tak menangis dan bertahan sekuat tenaga dari rasa sesak di dadaku.
XXXXXX