LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 64 : KEDATANGAN SOMA



Sepeninggalnya kedua orang tuaku hanya ada ayah Kawaki dan ibu tirinya duduk bersebelahan di ruang pertemuan. Ayah Kawaki dengan wajah geram mencengkeram cangkir tehnya, lantas ibu tirinya menuangkan kembali teh dari dalam poci keramik.


“Aku tahu Kumiko masih ada dalam hatimu”.


“Kenapa harus membahasnya lagi”.


“Kamu masih mencintainya kan, meski aku hidup denganmu cukup lama tapi aku tak bisa menggesernya dalam hatimu”.


“Sudahlah lupakan saja orang yang sudah lama mati”.


“Tapi kamu tak dapat melupakannya, aku tahu meski kamu tak pernah membahasnya. Kemarahanmu tadi menjelaskan betapa dia masih ada di dalam hatimu. Tragedi kematiannya menorehkan luka yang teramat dalam di hatimu dan Kawaki, benarkan?”.


“Bagiku dia hanyalah masa lalu, tidak puaskah aku bersamamu hingga kini?”.


“Aku menjadi istrimu, memilikimu tapi tidak dengan hatimu. Kalau gadis itu melakukan hal yang sama dengan Kumiko yakni mengakhiri hidupnya, maka Kawaki akan hancur secara mental. Melihat kematian ibunya sudah membuatnya tumbuh menjadi anak yang tak memiliki hati, bagaimana kalau dia mengalami hal serupa kedua kalinya. Aku mohon pikirkanlah baik – baik”.


“Aku mendidiknya sangat keras hingga dia menjadi anak yang kuat. Aku yakin dia akan baik – baik saja dan semua akan berjalan sesuai yang diharapkan”.


“Sekuat apa dirinya mendapati orang yang dia cintai menyudahi hidupnya sendiri karena tersiksa dengan hubungan pernikahan yang tak diharapkannya itu. Aku melihat gadis itu, sorot matanya sudah jelas dia mengalami stress berat. Itu tak akan baik untuk kehamilannya”.


Ayah Kawaki terdiam mencoba merenungkan apa yang dijelaskan istrinya, dia sadar dia pun merasa khawatir dengan Kawaki. Namun tak mudah baginya meminta Kawaki mengikhlaskanku dan menyudahi perasaannya. Dia tahu hatinya masih untuk Kumiko, ibu dari Kawaki.


Kemudian…


Ibu dan ayah menghampiriku di dalam kamar, menatapku yang kurus dengan wajah sedih.


“Aku tak tega harus melihatmu seperti ini putriku” kata ayah sembari memelukku.


“Ingin sekali aku bisa membawa pergi dari sini dan membunuh si pemuda binatang itu” kata ibu meradang.


“Ayah ibu…aku baik – baik saja, jangan cemas” aku mencoba menutupi semua.


“Kenapa lehermu?” tanya ayah menatap perban di leherku.


“Aku mencoba menyayat leherku, saat Kawaki melecehkanku” aku ku.


Ayah meneteskan air mata, tak sanggup dia mendengarnya. Ayah hanya bisa mengelus kepalaku dengan lembut sambil mengusap air matanya.


“Tunggulah nak, ayah akan mencari bantuan untuk dapat membebaskanmu” kata ayah kepadaku mencoba menahan tangisnya.


“Setidaknya aku senang ayah dan ibu sehat, Kawaki berjanji untuk tak menyentuh kalian. Waktu terror klan Aihara di Hokkaido rumah kita terbakar habis. Aku bersyukur ayah dan ibu telah mengungsi ke Osaka” kataku.


“Ibu sedang berusaha mencari bantuan, bertahanlah sebentar lagi” kata ibu menyabarkanku.


“Aku akan bertahan bu, aku akan hidup untuk kalian” katanya lirih.


“Kamu mengandung anak pria itu, kita akan membesarkannya jauh dari sini” kata ayah mengelus perutku.


“Ayah… maafkan aku, aku tidak bisa menjaga kesucianku” kataku penuh penyesalan.


“Ini bukan salahmu Chiyo, dia memang binatang gila yang memiliki hati dan akal. Melihatmu masih hidup saja kami sudah sangat bersyukur” kata ibu membuatku menumpahkan air mataku.


Sebuah pertemuan yang menyayat hati itu di saksikan oleh Kanon, yang membawa kedua orang tuaku bertemu denganku atas izin ayahnya.


“Paman…bibi…Kakakku telah berjanji akan mengembalikan Chiyo kepada kalian, setelah pesta pertunanganku di gelar. Bersabarlah sebentar lagi acara pertunanganku akan di laksanakan” kata Kanon mencoba menghibur keluargaku.


“Benarkah itu?” tanya ayah memastikan.


“Hiroshi adalah pria yang baik, meskipun pertunangan ini adalah sebuah kesepakatan. Kamu beruntung mendapatkannya, dia memiliki hati yang lembut dan tulus. Nak terimakasih, telah membantu putri kami” kata ibu menggenggam tangan Kanon.


“Aku tak berbuat apa – apa” jawab Kanon.


………………………


FILIPINA


“Bib…bib…bib…” dering ponsel di meja casino.


Nampak seorang pria tampan mengenakan kemeja bunga – bunga, rambut coklat cepak dengan tindikan tiga di bagian telinga kanannya. Terduduk di depan meja judi bersama seorang wanita, di depannya ada seorang bandar cantik sedang belajar mengocok kartu.


Tertulis ayah memanggil di layar ponselnya, lalu akhirnya dia berjalan meninggalkan meja judi. Duduklah dia sebuah ruangan dengan sofa kulit nan megah, dan mengangkat telepon.


“Halo ayah, sudah lama tak menelpon” kata Soma.


“Nak aku ingin kamu pulang minggu depan, ada yang harus kamu tolong” kata paman Fukoda melalui telepon.


“Apa maksud ayah, sepenting apa mengharuskanku untuk pulang dan menolongnya” Soma merasa aneh mendengar permintaan ayahnya.


“Seorang gadis yang disiksa oleh adik tirimu, aku tak mau dia bernasib sama seperti ibumu” kata paman Fukoda.


“Jadi ayah memintaku berurusan dengan adik tiri yang tak pernah aku temui itu, menarik” kata Soma tersenyum penuh arti.


Akhirnya hari pun telah tiba…


Soma keluar dari bandara Narita, dia di sambut langsung ayahnya yakni paman Fukoda (ayah Hiroshi).


Soma adalah kakak tiri Hiroshi, dimana dia terlahir setelah Ryota jadi dia merupakan kakak kedua dari Hiroshi. Dia memeluk ayahnya dengan erat setelah 10 tahun lamanya dia diungsikan ke Filipina, ibu tirinya sangat membencinya karena dia adalah anak dari simpanan paman Fukoda yakni ibu Kawaki.


“Kamu semakin tampan nak, bagaimana kabarmu disana?” tanya paman Fukoda menyambut pelukan anaknya.


“Kabarku sangat baik ayah, bisnisku berjalan cukup baik disana” aku Soma.


Kedua berjalan menuju mobil yang telah menunggu mereka di depan bandara, nampak keduanya sangat bahagia setelah sekian lama terpisah.


“Bagaimana kabar ibu, Ryota dan Hiroshi?” tanya Soma yang duduk di jok belakang bersama ayahnya.


“Baik, sebentar lagi Hiroshi akan bertunangan dengan klan Endo. Anak perempuan dari ayah tirimu bernama Kanon menjadi calon pasangannya” kata paman Fukoda.


“Apakah pertunangan ini adalah sebuah kesepakatan?” tanya Soma menebak.


“Benar, demi melindungi keluarga kita dari serangan klan Endo. Serta ada misi yang harus lakukan untuk menyelamatkan seorang gadis dari teman ayah” kata paman Fukoda.


“Siapa? Chiyo?” tebak Soma.


“Chiyo kini ditahan menjadi mainan oleh adik tirimu Kawaki” aku paman Fukoda.


“Jadi namanya Kawaki, aku akan sangat senang bertemu dengannya. Aku akan berusaha membantumu ayah” jawab Soma tersenyum.


Sebuah misi rahasia yang akan menyelamatkan hidupku dari bayangan kekuasaan Kawaki. Akankah aku terlepas dari jerat derita yang ditorehkan oleh Kawaki?.


XXXXXXXXXXXX