LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 67 : PENGAKUAN KANON



Asahi datang menghampiri Kawaki dan Kak Soma yang sedang menatap saling tegang.


“Tuan muda, sebentar lagi acara pertunangan akan segera selesai. Mohon maaf, saya datang terlambat” kata Asahi mendekati majikannya yang sedang marah itu.


“Siapa kamu!” tanya Kawaki dengan nada tinggi.


“Bukankah kita bakal calon keluarga, perkenalkan namaku Soma Fukoda. Aku adalah kakak kedua dari Hiroshi yang tengah bertunangan dengan adikmu sekarang” kata Soma membuat Kawaki terpaku.


DHEG!


“Soma…ini dia saudara tiriku yang disebut si kakek tua, dia adalah anak yang paling di sayangi ibu” kata Kawaki dalam hati.


“Asahi…kita berangkat sekarang, bawa Chiyo” perintah Kawaki langsung memalingkan wajahnya menuju pintu keluar.


“Baik” jawab Asahi lalu menghampiriku.


“Biarkan Chiyo di rumah sakit, dia baru saja melakukan operasi pengangkatan janin. Dia tak mungkin bisa kemana – mana” kata kak Soma.


Membuat Kawaki yang di ambang pintu menghentikan langkahnya dan menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Asahi…ayo kita pergi, tinggalkan mereka” kata Kawaki kemudian berlalu.


Asahi pun berpamitan dan mengikuti majikannya, kak Soma duduk di sebelah ranjang tempat aku berbaring.


“Aku akan menjagamu, tidurlah” kata Kak Soma.


Lantas aku menutup mataku perlahan, menahan rasa sedihku yang teramat dalam.


Disisi lain…


Di dalam ballroom nampak banyak kolega dari dua keluarga berkumpul dan sangat ramai. Kanon dan Hiroshi berkeliling sambil mengucapkan terimakasih kepada tamu yang hadir. Keduanya begitu tampan dan cantik di balut kimono tradisional berwarna biru tua yang bermotif menjadikan keduanya anggun.


Saat tiba di hadapan Uta dan para anggota inti geng Kawaki, dengan sinis mengucapkan terimakasih.


“Kanon…kalau kamu butuh belajar, aku bisa membantumu lagi” ujar Uta membuat Kanon menatap Uta penuh kebencian.


“Apa maksudmu?” tanya Enju yang duduk di samping Uta.


“Hanya aku dan dia yang tahu, kalian tidak perlu tahu” kata Uta mengisyaratkan sebuah rahasia.


“Sok main rahasia sekarang, ah sial aku jadi penasaran” gerutu Enju.


“Sudahlah… jangan banyak tanya, mari nikmati saja makanannya” celetuk Jiro.


“Di kepalamu hanya ada makanan, kecilku tubuhmu yang sudah segempal ini” tegur Hatori.


Semuanya yang duduk mengelilingi meja bulat itu tertawa “HAHAHHAHAAHA….”.


“Dimana kakakku?” tanya Kanon.


“Entahlah…daritadi kami tidak bisa menghubunginya, padahal dia berangkat tadi siang. Ini sudah jam 20.00 malam belum juga datang” kata Hotaru.


Tiba – tiba dari pintu masuk Kawaki datang dengan Asahi, semua tamu menyorot ke arah mereka, begitu pun dengan Hiroshi yang berdiri di samping Kanon. Dengan santai Kawaki berlenggang bebas berjalan di tengah – tengah tamu undangan dengan penuh ramah tamah.


Meski tak ada senyum dan wajah yang datar dia menyapa para tamu sambil berkeliling. Kanon dan Hiroshi menunggu kakaknya di meja geng Kawaki berkumpul.


Kawaki datang menghampiri adiknya yang duduk bersama teman – temannya beserta Hiroshi.


“Apa yang terjadi dengan kepalamu Kawaki?” tanya Uta yang sudah tidak sabar sedari tadi menatap Kawaki dari jauh.


“Aku dan Chiyo mengalami kecelakaan karena ada yang menyerang kami, aku sudah meminta Asahi untuk menyelidiki mobil yang berusaha menyerang kami” aku Kawaki.


“Dimana Chiyo, bagaimana keadaannya?” tanya Hiroshi mulai panik.


“Kak Soma…bagaimana bisa” Hiroshi bingung.


“Aku menabrak mobilnya untuk menghindari sebuah truk towing, aku menabrak mobil miliknya. Dia yang keluar dari toko bunga langsung menolong kami saat itu” ungkap Kawaki.


“Siapa yang berani menyerang kita di wilayah kekuasaan kita” gerutu Enju.


“Kita pasti menemukannya dan motif di balik penyerangan ini segera” ucap Hatori menenangkan teman – temannya yang mulai geram.


Hiroshi menjadi tidak tenang setelah mendengar kecelakaan yang aku alami, dia pun bergegas menelpon kak Soma.


Terdengar nada dering ponsel kak Soma, membuatku terbangun dari tidurku. Kak Soma seketika mengangkat telepon dari adiknya, dan mengobrol di luar kamar.


“Hallo kak Soma bagaimana kondisi Chiyo?” tanya Hiroshi tanpa basa – basi.


“Dia baik – baik saja namun janin yang di kandungnya meninggal” jawab Soma.


Hiroshi yang menelpon di depan pintu ballroom, terduduk di lantai saking lemasnya. Dia baru tahu bahwa aku tengah hamil anak dari Kawaki. Air matanya menetes, Kanon yang melihatnya langsung menyodorkan sapu tangan.


“Ada apa?” tanya Kanon.


Hiroshi mematikan ponselnya dan hanya terdiam, Kanon terus menatapnya penuh prihatin. Jangan duduk disini, ayo berdiri mari kita tinggalkan tempat ini.


Kanon membawa Hiroshi ke dalam kamarnya, mendudukkannya di sofa. Hiroshi dengan wajah yang syok menatap Kanon dengan penuh kebencian.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Kanon.


“Apa kamu tahu, kakakmu memperkos@ Chiyo hingga hamil. Karenanya juga saat ini Chiyo kehilangan janin yang di kandungnya” ucap Hiroshi dengan memendam amarah yang teramat sangat.


“Apa?! Chiyo keguguran?” tanya Kanon balik dengan wajah tercengang.


“Jadi kamu tahu dia hamil, tapi tidak mengatakan apapun kepadaku. Aku tahu kakakmu memang binatang, entah bagaimana perasaan Chiyo yang hancur karena semua ini. Hatiku pun sakit mendengarnya” aku Hiroshi menghapus air matanya.


“Aku berencana memberi tahumu setelah ini, sungguh percayalah kepadaku. Tapi semua itu kini menjadi percuma, aku tak bisa mengatakan apapun mengenai kakakku” Kanon berusaha untuk jujur.


“Aku akan membalasnya, melakukan apa yang dia harapkan kepadaku” kata Hiroshi gelap mata.


Hiroshi yang penuh emosi dengan amarah yang memuncak langsung menarik tubuh Kanon ke atas ranjang, menciumnya secara paksa. Melepaskan tautan obi kimono yang di kenakan Kanon. Di saat itu Kanon panik dengan sikap Hiroshi yang tak terduga.


“Hentikan…Hiroshi! Sadarlah dengan apa yang kamu lakukan ini adalah salah” kata Kanon mencoba mempertahankan dirinya dari serangan Hiroshi.


Namun Hiroshi yang gelap mata itu dengan kobaran api kemurkaan, telah melucuti kimono yang di kenakan Kanon. Menciumi tubuh Kanon dengan penuh rasa amarah. Kanon berusaha melepaskan diri, namun Hiroshi terus mencumbu dan mengungkung tubuhnya di bawah tubuh Hiroshi.


Kanon dengan sangat terkejut mendapat sentuhan lidah Hiroshi di telinganya hingga basah. Kanon memberontak saat malam dimana dia terbayang bercinta di mobil bersama Uta akibat pengaruh alcohol dan obat perangsang.


“PLAAAKKKK!!!!” tamparan keras mendarat ke wajah Hiroshi yang membuat Hiroshi menghentikan tindakannya dan terdiam menatap wajah Kanon yang menangis.


Hiroshi bangkit dan terduduk di pinggir ranjang memunggungi Kanon yang terbangun tanpa busana. Air mata Kanon mengalir deras, perasaan yang sangat jijik merayapi tubuhnya. Sedangkan Hiroshi masih terdiam syok dengan apa yang dia lakukan kepada Kanon.


Kanon bangkit dengan sengaja menunjukkan sekujur tubuhnya tanpa busana. Dengan riasan yang rusak akibat air mata serta tatanan rambut yang berantakan dia memunggungi Hiroshi yang duduk di belakangnya.


“Lihatlah tubuhku, maka kamu tahu betapa menderitanya aku sebagai adik dari Kawaki” kata Kanon.


Hiroshi lalu menatap punggung Kanon yang nampak bekas luka bakar yang besar dari bahu ke atas pinggang bagian kiri. Dia terkejut melihat luka bakar itu, dia memalingkan wajahnya karena merasa bodoh menambah derita Kanon dengan melecehkannya.


“Kakakku menorehkan luka ini di saat aku kecil, dia melakukannya untuk menunjukkan seberapa kuatnya dia dan aku harus tahu dimana batasanku hidup bersamanya. Kalau kamu puas melampiaskan amarahmu kepadanya dengan menyetub*hiku, maka lakukanlah” kata Kanon membalikkan tubuhnya ke hadapan Hiroshi.


Seketika Hiroshi mengambil kimono Kanon yang berada di ranjang lalu menutupi tubuh Kanon, dan memeluknya.


“Maafkan aku Kanon. Aku salah, aku gelap mata melampiaskan amarahku kepada orang yang salah” aku Hiroshi membuat Kanon menangis tersedu – sedu.


XXXXXXXXXX