LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 34 : BERTEMU HIROSHI



Setelah kematian kakek, Jiro kembali meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan klan Endo. Aku, bibi dan nenek yang kini menjalankan kedai, meski tanpa kakek hari – hari kami mulai pulih dari kesedihan.


Bulan September dimana Jepang memasuki musim gugur, beberapa menu bento kami pun menyesuaikan salah satunya ada tambahan ikan Sanma. Banyak pelanggan yang menyukainya, kami pun cukup sibuk melayani pelanggan yang selalu antri.


Di sore hari, saat kedai sudah di tutup bibi mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Dimana rumahnya tak jauh dari kedai, sekitar 1 km. Kami berjalan bersama nenek menikmati sore yang cukup ramai hari itu.


Setibanya di rumah bibi Sanchi, aku di suguhkan beberapa jenis kue basah tradisional jepang. Seketika mataku berkaca – kaca menatap dan memakan kue itu. Aku mengingat ayah, ibu dan semua pekerja di Momo Michi.


“Nak ada apa?” tanya bibi.


“Tidak, aku hanya teringat keluargaku saat makan kue ini” jawabku seraya menghapus air mata yang menetes di pipiku.


“Dimana keluargamu tinggal, sudah lama aku ingin bertanya ini. Tapi sepertinya kamu sangat tertutup mengenai kehidupan pribadimu. Maka aku mengurungkan niatku” aku bibi Sanchi.


“Keluargaku jauh dari Tokyo, mereka berjualan kue tradisional. Kami sudah lama tidak bertemu” kataku jujur.


“Kenapa kamu tak mengunjungi mereka, pasti mereka juga merindukanmu” kata bibi.


“Iya, mungkin karena aku sibuk untuk bertahan hidup di Tokyo sehingga tak bisa bertemu mereka. Tapi aku sudah cukup bahagia bertemu kalian” kataku.


“Temuilah mereka saat kamu senggang, meski Jiro meninggalkan kami tapi dalam setahun dia pulang beberapa kali untuk mengunjungi kami. Nak, waktu tak bisa terulang. Begitulah kakek berpesan” kata nenek sembari menggenggam tanganku.


Sore itu kami bercengkrama untuk pertama kalinya setelah kematian kakek.


Pertengahan bulan September, dedaunan yang menguning mulai terlihat berguguran. Bibi mendapatkan orderan untuk 200 box bento untuk Universitas Tokyo. Awalnya aku ragu untuk mengantarkannya. Aku tahu Hiroshi ada disana, meski demikian aku terpaksa membantu Azura.


Azura meminjam mobil dari saudaranya untuk mengirim bento.


Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Universitas paling bergengsi di Jepang itu, aku baru sadar pesanan bento untuk fakultas kedokteran. Ternyata ada sebuah seminar di aula yang di selenggarakan oleh fakultas kedokteran.


“Yoshiko…aku berjalanlah yang cepat, lelet sekali kamu hari ini” tegur Azura kepadaku.


“Iya…sabar dong, ini aku bawanya juga banyak sekali” keluhku yang berjalan menyusuri koridor menuju aula.


Sesampainya di depan aula, pintunya tertutup dan ada seorang mahasiswa mengenakan name tag panitia menemui kami.


“Terimakasih telah datang tepat waktu” katanya sambil mengambil satu ikat tumpukan bento.


Dia mengantarkan kami ke ruangan sebelah aula, dimana para panitia berkumpul.


“Silahkan taruh meja di ujung sana” kata salah seorang wanita berambut pendek sebahu kepadaku.


Aku dan Azura menaruh bento yang kami bawa ke atas meja, wanita itu mulai membagikan ke para panitia.


“Fumi…aku ambil sisanya yang ada di mobil, kamu disini bantu membagikan bento” kata Azura.


“Baiklah” kataku meski aku agak was – was harus ada di ruangan itu.


Seorang mahasiswa pria dengan wajah menggoda, mendekatiku “Kamu cantik juga, gadis secantik dirimu yakin bisa buat bento?”.


Aku hanya diam saja sembari membagikan bento ke yang lain.


“Sombong sekali, mentang – mentang cantik ya. Kurir ini tapi sombong sekali” sindirnya.


“Taki..jangan coba menggodanya, lebih baik bantu kami membawa bento ke aula!” bentak wanita yang sedari tadi membantuku.


Di belakang stage, kami menaruh bento untuk para pembicara dan crew.


Jantungku berdetak dengan kencang saat melihat pria yang berjalan ke arahku adalah Hiroshi. Pria yang sudah lama aku menantikannya, merindukan senyumnya dan kehangatannya. Aku pun langsung memalingkan wajahku.


“Hiroshi…kamu sangat keren saat di atas panggung sebagai pembicara” puji wanita itu.


“Terimakasih, semua juga berkat kalian yang membuat acara ini. Jadi aku mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kesuksesan acara ini” kata Hikaru.


“Ini bento untukmu, makanlah dan beristirahatlah” kata gadis itu menyodorkan bento.


Wanita itu menghampiriku “Nona…dimana temanmu masih belum datang?”.


“Kalau begitu aku telepon sebentar” kataku yang berdiri memunggungi Hiroshi.


Aku menelpon Azura, “Kamu dimana, ini semua sudah terbagi tinggal sisa bento yang kamu ambil”.


“Baiklah, cepatlah kesini” kataku terpotong dengan pergelangan tanganku di tarik dari belakang.


Hiroshi menarik tanganku dan kami saling beradu pandang.


“Chiyo” panggilnya.


“Maaf anda salah orang” kataku sopan.


“Matamu tak bisa menipuku, sejak kecil aku hidup denganmu tak mungkin aku salah mengenali orang” ungkapnya.


“Maaf aku bukan orang yang anda sebutkan” kataku seraya melepaskan pergelangan tanganku.


“Jangan berbohong, sorot matamu tak bisa melakukannya” kekeh Hiroshi.


Aku berjalan keluar saat Azura masuk membawa bento, Hiroshi membuntutiku keluar.


Di koridor dia berlari mengejarku kemudian menarikku kedalam pelukannya.


“Aku merindukanmu, Chiyo”.


“Lepaskan aku tuan, aku bukan Chiyo”.


“Kenapa kamu harus berbohong kepadaku”.


“Saya tidak membohongi anda”.


“Aku terus mencarimu, aku benar – benar merasa gila tanpamu. Jangan takut aku akan melindungimu”.


“Lepaskan aku tuan!”.


Aku pun mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai.


“Jangan mengganggu saya, atau anda saya laporkan ke kantor polisi. Saya bukan orang yang anda maksudkan. Tolong hentikan fantasi anda kepada saya” elakku kemudian berjalan cepat menuju parkiran mobil.


Aku berjongkok di samping mobil sembari menahan tangis, rasanya hatiku sakit tak bisa mengatakan sejujurnya. Ingin sekali aku menyentuh wajahnya, menanyakan kabarnya namun semua itu pupus.


Azura mendapatiku berjongkok sembari menahan tangis, telingaku langsung di tarik.


“Untuk apa kamu malah main drama dengan semut disitu, aku mencarimu sejak tadi” protesnya.


“AAAAAUUUU!!!!” teriakku kesakitan.


“Kenapa kamu menarik telingaku?” tanyaku kesal.


“Kamu bukannya bantu bagi bento, malah bikin drama sadness dengan semut – semut itu. Jangan pura – pura sedih karena lari dari tugas, ayo pulang” omelnya.


Aku tahu dia mencoba mengubah suasana hatiku, setidaknya dia menyadarkanku bahwa kesedihan hanya sia – sia untuk saat ini. Aku harus berhasil melanjutkan hidup menjadi Yoshiko Kobayashi.


Di sisi lain…


Hiroshi menghampiri teman wanitanya yang menjadi panitia.


“Akane…bolehkah aku meminta nomor telepon penjual bento yang kamu bagikan tadi”.


“Oh…kamu suka dengan rasa bentonya, hingga ingin memesannya lagi?”.


“Rasanya enak, aku ingin membelinya untuk acara keluargaku”.


“Wah anak konglomerat, masih suka bento sederhana ini. Luar biasa, baiklah kalau begitu. Ini nomornya, kedainya terpencil kalau kamu mau kesana”.


“Terimakasih banyak informasinya, kapan – kapan aku traktir makan bento”.


“Jangan bento, daging panggang boleh”.


“Baiklah”.


Hiroshi merasa Tuhan telah memberinya jalan untuk menemukan Chiyo. Dia pun menyimpan nomor telepon kedai bibi Sanchi. Dalam hatinya dia bertekad untuk menyelamatkan Chiyo dalam pelarian.


...XXXXXXXXXXX...