
Aku mengganti pakaianku, lalu menyelimuti tubuhku tertidur di ranjang. Entah berapa lama aku tertidur, Kawaki sudah duduk di sofa sembari merokok memandangiku yang terbaring di ranjang. Aku terkejut lantas buru – buru duduk di atas ranjang.
“Dadamu cukup kecil kenapa menutupinya dariku?” tanyanya polos.
“Apakah di otakmu hanya ada pikiran kotor mengenaiku?” tanyaku balik dengan marah.
“Dengan siapa saja kamu pernah tidur?” dia malah melempar pertanyaan tak senonoh.
“Dengan bantal” jawabku kesal.
“Kamu belum pernah melakukannya? Jangan berbohong, wanita jal@ng sepertimu pasti sering melakukannya” katanya membuatku semakin marah.
“Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu ingin tahu mengenai hal itu, apakah kamu menyukai tubuhku? Sehingga sejak awal kamu menargetkanku?” aku pun memastikan keinginannya, hingga motif menyekapku.
“Apa…menyukai tubuhmu, cih… Banyak wanita di luar sana lebih cantik darimu dan lebih jago dalam hal ranjang. Jangan terlalu percaya diri, menurutmu aku tergila – gila kepadamu begitu? Jangan bermimpi, aku hanya menyukai menyiksamu. Bagaimana kalau kamu memuaskan teman – temanku, sepertinya mereka akan senang” aku nya membuatku makin jijik.
Dia menarikku keluar dengan paksa, aku pun berusaha memberontak. Lalu dia memborgol tanganku dan memanggulku di pundaknya. Di hempasnya tubuhku ke dalam mobil di bangku belakang. Ada Enju di depan sedang handle setir.
“Lepas aku, dasar binatang!!” maki ku sambil meronta.
Kawaki merangkulku dengan erat di kursi belakang sambil menghisap rokok. Aku pun terus berusaha untuk melepaskan diri. Lantas puntung rokok yang menyala di tangannya mendarat ke area atas dadaku. Seketika aku berteriak kesakitan “AAAAAARRRRGHHH!!!”.
“Kamu memang suka disiksa, maka aku pun senang hati memberi hadiah untukmu” katanya sembari tersenyum kepadaku.
Enju menatapku dari spion tengah, dia pun tersenyum. Mereka sama – sama binatang, tidak punya perasaan.
Saat di gerbang menuju keluar, nampak seorang gadis mengenakan seragam SMA masuk berjalan kaki. Dia adalah Kanon adik tiri dari Kawaki, di dalam mobil meski Kawaki melihatnya tapi sikapnya acuh. Sepertinya hubungan mereka tidaklah akur.
Kami tiba di sebuah gedung tua yang kumuh, seperti lama tak dihuni. Namun saat kami masuk ke dalam, benar – benar kontras. Sebuah casino dengan dekorasi yang mewah dengan banyak para penjudi kelas atas sedang mengadu nasib mereka. Perempuan dengan pakaian terbuka serta paras yang cantik mondar – mandir menghampiri para penjudi.
Kawaki menggiringku ke lantai basement, seperti kantor bandar dan pusat prostitusi. Wanita berusia 40an menghampiri kami, dengan riasan yang tebal serta pakaian yang terbuka dia menyapa sangat ramah.
“Tuan muda, lama tak berjumpa. Kami sangat merindukan tuan, semenjak tugas tuan ke Hokkaido tak pernah lagi berkunjung” sapanya dengan lembut kepada Kawaki.
“Aku sibuk, owh ya aku membawa satu pel@cur yang bisa di pekerjakan disini” katanya seraya mendorongku ke arah wanita itu.
“Apa! Maksudmu aku, tidak …aku tidak mau” protesku.
Tanganku yang terborgol memegang erat baju Kawaki, namun dia menepis tanganku.
“Hias dia seperti yang lainnya, dia perlu di trial” kata Kawaki sembari berlalu dengan Enju meninggalkan aku. Wanita itu dengan dua bodyguard yang berpakain serba hitam menyeretku.
Aku terdampar di sebuah ruangan penuh dengan pakaian dan beberapa meja rias. Beberapa wanita mengerumuniku.
“Siapa dia?” tanya seorang wanita berambut panjang berwarna merah.
“Dia adalah produk baru kita, bantu dia untuk menjadi layak di jual. Tuan muda Kawaki yang membawanya” jawab wanita yang membawaku.
“Wah…pasti dapat bayaran tinggi, tuan muda membawanya langsung. Berarti salah satu kesayangannya, ayo kita buat jadi next idol” sahut wanita kurus berpantat besar.
“Ku mohon, bantu aku melarikan diri. Aku tidak mau di jual” mintaku dengan memelas.
“Tenanglah, disini kerjanya juga enakku. Selama pelanggan puas kita pun akan dapat bonus, apalagi yang bawa tuan muda. Pasti kamu akan melayani kelas – kelas VVIP” kata wanita bermata sipit.
Mereka langsung mengeroyokku, borgol di tanagnku di buka. Lalu mereka menelanjangiku, sontak mereka kaget melihat tubuhku penuh luka lebam biru. Dimana bekas tendangan Kawaki dan sundutan rokok.
“Astaga tubuhnya penuh luka, dia belum siap di jual” kata wanita kurus berpantat lebar.
“Siapa yang menyiksamu seperti ini?” tanya wanita lainnya berbaju kuning.
“Apakah tuan muda suka bermain BDSM denganmu?” tanya wanita berambut merah.
“Jangan berisik, kalian malah menghujani dia dengan pertanyaan. Kapan selesainya, sudah lakukan saja yang di perintahkan tuan muda. Kalian tahu kan, tuan muda punya temperamen yang buruk” tegur wanita yang tadi membawaku.
Aku di sulap menjadi wanita dewasa yang cantik dan mempesona, baju yang ku kenakan cukup ketat dan pendek. Membuat bentuk tubuhku terlihat, riasan tebal menghiasi wajahku. Meski demikian untuk menutupi luka bagian punggung, tangan dan dadaku tertutup gaun.
Sebelum aku pergi ke ruangan Kawaki, aku sengaja meminta di semprotkan parfum yang paling mencolok aromanya. Aku tahu dia sangat membenci bau parfum yang pekat.
Perutku tiba – tiba berbunyi saat perjalanan menuju ruang VVIP.
“KRUKKKKK…..” aku malu lantas menutupi perutku.
“Kamu lapar, wajahmu pucat. Sejak kapan kamu belum makan?” tanya wanita berusia 40an itu kepadaku.
“Sejak kemarin” jawabku jujur.
Wanita itu lantas mampir ke bagian bar dan mengambil sepotong roti untukku.
“Terimakasih” jawabku lalu menerimanya.
Setelah memakan roti, aku masuk ke dalam ruang VVIP di lantai 5. Nampak banyak pria dewasa sedang mengitari meja berisi beberapa koper uang dan beberapa jenis n@rkoba.
“Apakah ini barang baru untuk kami?” tanya salah satu pria berdasi dengan wajah bulat.
“Tentu saja” kata wanita yang membawaku.
Pria itu menarikku duduk di sampingnya, lalu meraba pahaku yang terbuka karena dress yang ku kenakan sangat pendek. Kawaki yang duduk di seberang kami, menatap tajam ke arah pria itu.
“Siapa namamu?” tanya pria itu.
Aku hanya terdiam dan melepaskan tangannya dari pahaku.
“Kenapa kamu jutek sekali, kami adalah pelanggan VVIP lho. Aku akan memberikan bonus, kalau kamu bisa memuaskanku” tambahnya lalu merangkulku.
Kawaki memberikan tatapan super tajam, cara duduknya sudah tak sesantai tadi. Aku melihat dia cukup marah. Tapi…bukankah dia yang menjualku, kenapa dia marah?.
“Lepaskan dia, wanita itu milikku” kata Kawaki dengan mata ingin membunuh.
Pria yang ada di sebelahku mendengar suara Kawaki langsung berkeringat dingin.
“Maafkan aku, ku kira dia untuk kami” katanya lantas mempersilahkan aku pindah ke kursi Kawaki.
Seketika Kawaki menjambakku dan menghempaskan tubuhku ke sofa yang sedari tadi dia duduki. Wanita yang membawaku tadi melihat kejadian ini, nampak ketakutan.
“Hana…aku bilang mentrialnya bukan untuk di jual ke siapapun. Dia milikku jadi tunggu aku bosan bermain dengannya baru boleh di jual” tegas Kawaki.
“Ba…baik tuan muda” jawab wanita itu lalu pergi meninggalkan kami.
Suasana dalam ruangan nampak tegang, Enju pun mulai mencairkan suasana dengan memulai berbincang. Mereka pun alhasil melakukan transaksi dengan lancar dan mendapatkan kesepakatan. Saat para tamu akan pulang, Kawaki menghadang pria berwajah bulat itu.
“Tunggu, aku punya hadiah untukmu” kata Kawaki.
“Benarkah, apa itu?” tanya pria itu dengan polos.
“Ulurkan tanganmu, ini sebuah kenang – kenangan yang selamanya tak akan kamu lupakan” kata Kawaki dengan wajah datar.
“Oh ya, baiklah” jawab pria itu seraya mengulurkan tangan kanannya untuk menerima hadiah.
Dengan cepat Kawaki mengambil pisau di saku jaket yang dia kenakan lalu memotong jari telunjuk pria itu.
“AAAARRRRRGHHHH!” Teriak pria itu kesakitan sembari memegangi tangannya yang berlumur darah.
“Terimakasih telah bekerjasama, namun aku paling tidak suka ada yang menyentuh milikku. Sebagai konpensasi aku meminta jarimu sebagai ganti rugi” kata Kawaki.
Lalu jari itu di berikan kepada Enju untuk di simpan, dia pun tersenyum mengantar kepulangan para tamu. Pria berwajah bulat itu terus merintih kesakitan, dan digiring teman – temannya untuk keluar ruangan.
Aku yang menyaksikan secara langsung hanya bisa diam mematung, tubuhku bergidik ngeri melihat raut wajah Kawaki. Dia mencuci tangannya lalu duduk bersandar di bahuku.
“Kamu menyukainya, bagaimana sentuhannya?” tanya Kawaki seraya menatap pahaku.
Aku yang merasa risih menutupinya dengan bantal yang ada di sebelahku.
“Kenapa kamu tutupi, bukankah kamu mencoba menggoda pria dengan tubuhmu?” tanyanya membuatku risih mendengarnya.
Lantas Kawaki membuang bantal yang ku pegang untuk menutupi pahaku. Dia mengucurkan sebotol alcohol ke pahaku, “CURRRRRRRR”.
“Apa maumu?” tanyaku kesal dengan mengelap pahaku yang basah.
“Aku hanya mencoba mencucinya agar sidik jarinya tak menempel” Kawaki memberi jawaban yang membuatku tak habis pikir.
“Kamu cemburu?” tanyaku tajam.
“Aku…cemburu, menurutmu kamu siapa?” dia mengelak.
“Lantas kenapa kamu melakukan ini, bahkan kamu memutus jari pria itu” aku pun ingin memastikan atas sikapnya kepadaku.
“Karena kamu milikku, dan yang berhak menyentuhmu hanyalah aku” katanya dengan suara tinggi.
Sorot matanya penuh kemarahan, sejujurnya aku merasa dia sedang merasakan api cemburu. Dia tidak sadar dengan apa yang dia rasakan. Itu membuatku semakin takut kepadanya, karena sikapnya sangatlah brutal.
XXXXXXXXXX