
Kawaki keluar dari toilet dengan handuk putih yang membalut pinggang menutupi hingga lututnya. Dia sedang memilah pakaian di lemarinya, lantas mengenakannya. Mengambil cream untuk mengoleskannya ke leher dan tangannya. Nampak Asahi duduk di salah satu sudut ruang tengah dari kamar Kawaki yang tersekat oleh ornament kayu berukiran relief samurai.
Kawaki berjalan menghampiri Asahi tanpa alas kaki, tubuhnya yang kekar dan atletis itu nampak segar dengan yutaka yang dikenakan. Wajah dinginnya yang khas dengan tatapan tajam menyambut Asahi.
“Tuan Muda selamat pagi” sapa Asahi sembari menyeduh teh bunga krisan.
“Selamat pagi Asahi” sapa Kawaki sembari duduk bersila di sebuah zabuton yang tergelar di atas lantai berwarna hitam.
“Besok akan diadakan rekonstruksi organisasi untuk pecahan klan Aihara yang tersisa di Hokkaido, anda diminta untuk datang sebagai penerus klan Endo” kata Asahi seraya menyajikan teh bunga krisan kepada majikannya itu.
“Huft… sepertinya aku akan bernostagia kesana, jadwalkan pertemuanku dengan Ryota. Ada hal yang menarik ingin ku bahas bersamanya” perintah Kawaki kemudian dia meneguk teh tersaji di depannya.
“Baik tuan muda” sahut Asahi sambil menundukkan kepala.
Sebuah acara tertutup pun digelar, tepat di kediaman klan Aihara yang kini menjadi milik klan Endo terletak di kawasan bagian utara Hokkaido. Beberapa mantan petinggi klan tersebut berkumpul kisaran 20 orang duduk diatas zabuton. Sebuah ruangan berornament kayu yang khas dengan lukisan besar bunga Sakura terpajang di belakang Kawaki yang tengah duduk memimpin acara tersebut.
Sikap dinginnya Kawaki membuat keheningan yang mencekam di ruangan itu. Asahi yang duduk di belakang Asahi memberikan kode kepada tuannya untuk memulai acaranya. Kawaki pun memberikan sebuah sambutan kepada para calon anak buahnya itu, dimana usia mereka jauh diatas Kawaki.
Di tengah – tengah perbincangan mereka, seorang pria dengan rambut berwarna putih tersisir rapi serta begitu anggun dengan yutaka biru navi yang dikenakannya mulai angkat bicara.
“Sudah seharusnya anda menjadi penerus klan Aihara, bukankah anda merupakan cucu dari keluarga ini. Kenapa harus merebut kekuasaan dengan melakukan kudeta? Apakah karena anda tidak terima di buang oleh kakek anda?” celetuknya sinis.
“Ehemmm…” suara salah seorang anggota berdehem.
Kawaki tersenyum sembari menikmati secangkir teh hijau yang tersaji di depannya.
“Kini klan Aihara telah punah, berubah menjadi klan Endo. Tapi sebenarnya klan Aihara masih bertengger hingga sekarang karena anda merupakan pewaris yang sesungguhnya. Sangat di sayangkan pembantain kala itu harus dilakukan” tambahnya menyulut ketegangan.
“Aku terlahir dan dibesarkan di klan Endo, wanita yang melahirkanku hanyalah alat untuk menumbuhkan sebuah benih. Tak sepantasnya aku menyebutnya sebagai ibu, sedangkan klan Aihara memang sudah sejak dulu membangkang dibawah ke pemimpinan klan Endo. Maka harus dibinasakan, begitu dengan sekarang. Siapapun yang menjadi cacing pita dalam tubuh klan Endo harus dihabisi” tanggap Kawaki seakan memberikan sebuah penekanan ancaman.
Pria itu hanya tersenyum sinis menatap Kawaki.
Selesainya pertemuan itu, Kawaki berjalan kesal menuju taman kecil di belakang rumah besar itu. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku yutakanya, lantas menyulutnya dan menghisapnya. Asahi menghampiri majikannya yang sedang kesal itu.
“Siapa pria tua sombong itu?” tanya Kawaki yang berdiri memunggungi Asahi.
“Beliau adalah Watanabe Gyomai, merupakan ketua dari organisasi pembunuh bayaran terhandal di Hokkaido bernama Yami No Senshi (Prajurit Kegelapan). Sepak terjang organisasi ini sudah terkenal hingga ke kawasan Kanto. Mereka terkenal dengan kerapiannya dalam menangani semua kasus pembunuhan” jelas Asahi.
“Aku tidak menyukainya, kita harus berhati – hati dengannya. Dia bukanlah orang yang mudah dikendalikan” tambah Kawaki.
“Baik tuan muda” Asahi.
Siang berganti malam, terangnya daratan mulai pudar dihempas kegelapan malam.
Kawaki mendatangi sebuah kamar hotel yang terletak di Sapporo, salah satu hotel milik keluarga Hiroshi. Sebuah hotel bintang 5 yang memberikan kesan mewah dan elegan di setiap interiornya.
Kawaki yang ditemani oleh Asahi keluar dari lift dan berpapasan dengan Hiroshi yang nampak sehat berjalan di lorong hotel. Langkah Kawaki terhenti lalu menoleh ke arah Hiroshi.
“Hei… ternyata kamu masih hidup, bagaimana kabarmu?” sapa Kawaki sengaja mendekati Hiroshi yang nampak memendam kebencian kepada pria yang ditemuinya itu.
Keduanya berdiri berhadapan dengan saling menghujani tatapan penuh kebencian.
“Menyingkirlah aku tak ingin berbicara denganmu” ketus Hiroshi.
“Apakah kamu takut, aku menikammu lagi atau kamu menghindariku karena malu tak bisa mempertahankan gadis yang kamu cintai itu?” sindir Kawaki.
“Jaga mulutmu, Chiyo akan tetap menjadi tunanganku” Hiroshi mulai terpancing.
“Hei sadarlah, dia bukan tunanganmu. Bahkan terakhir kali aku bertemu dengannya di Tokyo, kami menikmati malam panas dan mungkin tak pernah kamu lakukan” Kawaki mulai menyerang secara verbal.
“Apa maksudmu? Benarkah Chiyo berada di Tokyo?” tanya Hiroshi.
Hiroshi langsung menarik kerah baju Kawaki, “Jadi Ryota tahu keberadaan Chiyo sekarang? Katakan dimana dia? Apa yang kamu lakukan kepadanya?!”.
“Dia memilih meninggalkanmu dan tinggal bersamaku di Tokyo, berkat kakakmu tersayang. Aku datang kemari untuk berterimakasih kepadanya. Gadis itu kini semakin menarik, dia sangat jago berciuman. Dia menjadi jal@ng milikku, dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang menggoda” kata Kawaki tersenyum puas.
Kemarahan Hiroshi makin tak terkendali, dia meremas kerah Kawaki lalu mencoba melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Kawaki. Sepersekian detik, Kawaki menepis tangan Hiroshi dengan satu tangannya.
“Belajarlah untuk menjadi seorang pria, aku bukanlah tandinganmu. Pria lemah sepertimu tak akan sanggup merebut mainanku. Sadarlah dimana posisimu, sangat menyedihkan” remeh Kawaki sembari meninju perut Hiroshi.
Hiroshi berlutut memegangi perutnya dan Kawaki pun berjalan meninggalkannya.
Kawakiku memasuki ruangan, sudah ada Ryota yang duduk menunggunya.
“Selamat datang Kawaki…silahkan duduk” sambut Ryota dengan ramah.
Mereka duduk berhadapan, Kawaki mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya dan menghisapnya.
“Semenjak kejadian itu, sudah cukup lama kamu tak berkunjung”.
“Kamu merindukanku?”.
“Tentu saja, bukanlah masih banyak project yang bisa kita bahas bersama”.
“HAHAHAHAA…merindukan seseorang yang telah menikam adiknya, sangat ironis. Aku tak suka berbasa – basi. Kamu tahu itu kan?”.
“Tentu saja, lantas apa yang membuatmu kesini?”.
“Dimana Chiyo?”.
“Kenapa kamu menanyakan itu kepadaku”.
“Bukankah kamu yang membantunya melarikan diri ke Tokyo dengan memalsukan identitasnya sebagai Yoshiko Kobayashi”.
“Tuduhan macam apa yang ku dapatkan kali ini?”.
“Aku punya hadiah untukmu”.
Asahi berjalan ke arah Ryota dan menunjukkan rekaman penganiayaan Naoko yang di putar melalui ponsel milik Asahi.
Sontak Ryota tercengang melihatnya, namun dia menutupi dengan sikap tenangnya.
“Kamu mendapat salam dari mantan pacarmu itu”.
“Aku sudah lupa dengannya, sudah sangat lama kami tak bertemu”.
“Kamu memang tidak bertemu, tapi tahun lalu memberikan hadiah sejumlah uang yang cukup besar kepada mantanmu itu”.
Ryota tak bisa mengelak lagi, dia mulai angkat bicara.
“Sejujurnya aku terpaksa melakukannya, karena ayahku memintanya. Keluarga Sanjo sudah seperti kerabat kami, hubungan pertemanan ayahku dan ayah Chiyo sangat erat. Aku pun membantu Chiyo melarikan diri saat itu. Tapi aku tak tahu keberadaannya sekarang” aku Ryota.
“Kamu tahu sudah berapa banyak jasa klan kami untuk melancarkan bisnis raksasa keluargamu? Pembebasan lahan dan menghilangkan kecoa – kecoa kecil yang merayapi bisnis kalian dari waktu ke waktu. Semua rahasia kotor kalian ada pada kami, jangan mencoba mengkhianatiku hanya untuk seekor kelinci kecil yang lari dari kendang” ancam Kawaki dengan mata tajam dan wajah yang dingin.
“Percayalah aku tak akan mengkhianatimu, aku bersedia membantu menemukan kelinci itu bila kamu mau” jawab Ryota dengan tegas.
Dia sadar posisinya saat ini terpojok, disisi lain dia tak bisa membangkang dari ayahnya namun disisi lain dia tak bisa meremehkan ancaman Kawaki. Baginya bisnis yang dibangun ayahnya sangat berarti dari apapun juga.
...XXXXXXXXXXX...