LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 32 : KAKEK JATUH SAKIT



Bibi Sanchi sibuk membantu nenek dan kakek menyiapkan bento sedangkan aku melayani customers yang sudah mengantri mengambil bento. Hari yang cukup panjang dengan banyak pesanan. Terlepas dari rasa lelah, kami duduk di depan kedai menatap senja di pinggir jalan.


Nenek dan kakek menikmati jus apel berdampingan duduk berderet denganku dan bibi di bangku depan kedai.


“Kalian sangat romantic, aku iri menatapnya” sindirku memandangi nenek dan kakek.


“Kami telah melewati suka duka nak, sudah tak ada emosi yang tersisa dalam hubungan ini. Hanya menikmati indahnya usia senja seperti orange di langit, menunggu bintang yang akan hadir menggesernya” kata kakek sambil tersenyum.


“Yoshiko… harusnya kamu segera menemukan pria untuk menghiasi hari – harimu dengan indah. Seperti mereka berdua, bagaimana pun hidupmu percayalah pasti ada pria baik yang hadir dalam hidupmu” tambah bibi Sanchi.


“Hmmm… aku sudah sangat bahagia bersama kalian, menikmati senja seperti ini bersama sudah sangat aku syukuri. Setidaknya kalian sudah menemaniku selama beberapa bulan ini menggantikan keluargaku” kataku sembari memeluk bibi Sanchi yang ada di sebelahku.


“Seharusnya Jiro bisa merasakannya yang sama, anak bodoh itu membuat hidupnya tak berguna” keluh bibi Sanchi.


“Sudahlah, biarkan dia hidup dengan pilihannya. Dia tetap putramu dan dia tetap adalah cucuku” sahut kakek.


Aku tahu keluarga ini sebenarnya merindukan si ikan buntal itu, namun mereka tak bisa nemerima Jiro masuk kedalam organisasi Yakuza. Entah apa yang membuat Jiro bisa meninggalkan keluarganya demi menjadi anggota kelompok Yakuza.


Beberapa hari semenjak Jiro berkunjung…


Kami menjalani hari seperti biasa, penuh suka cita menjual bento di kedai. Di tengah jam makan siang, kakek masuk ke dalam toilet di sudut belakang kedai. Tiba – tiba kakek saat membuka pintu tergelincir dan jatuh ke lantai. Nenek yang melihatnya panik, “SANCHI!!!” teriak nenek.


Bibi Sanchi bergegas ke belakang, mendapati nenek memeluk kakek yang terkapar tak sadarkan diri di pinggir pintu toilet. Aku yang ada di depan sedang menutup kedai untuk jam istirahat, langsung bergegas untuk menyusul bibi.


“Ayah sadarlah” kata bibi panik. Kami pun menelpon 119 memanggil ambulans. Terpaksa aku berjaga sendiri menunggu Azura datang membantu. Bibi dan nenek ikut ke rumah sakit mengantar kakek. Peraasaanku cemas campur aduk, semoga tak terjadi hal yang tak diinginkan.


Akhirnya selang beberapa jam Azura datang masuk ke kedai.


“Hoi…Yoshiko, bagaimana bisa terjadi. Apakah kakek sakit akhir – akhir ini?”.


“Kakek baik – baik saja seperti biasa, tadi kakek terjatuh saat keluar toilet. Kami pun panik mendapati kakek sudah terkapar di lantai”.


“Semoga kakek tidak mengalami luka yang serius, baiklah mari kita bekerjasama hari ini untuk menjual bento yang banyak”.


“Memangnya kamu bisa membuat menu isian bento?”.


“Jangan remehkan kemampuan pria tampan ini, aku sudah berkecimpung di dunia masak – memasak begitu lama”.


“Awas saja kalau pelanggan tetap kami kabur karena rasa masakanmu yang tidak enak”.


“Percayalah…ayo sekarang kita kerjakan biar sisa pesanan yang sudah menunggu”.


Aku menatap tingkah Azura yang penuh semangat di dapur, dilihat dari cara dia membuat menu bento. Aku tahu dia memang ahli dalam memasak, dan super gesit. Tak ketinggalan dia bersenandung sesekali membuatku terus tertawa dengan suara falsnya.


Tepat pukul 17.00 sore, aku dan Azura menutup kedai dan berjalan pulang bersama.


“Azura…sudah berapa lama kamu mengenal keluarga bibi Sanchi”.


“Hmmm…semenjak aku membeli bangunan yang ku sewakan sekarang, sekitar 10 tahun. Dulu aku adalah pelanggan tetap kedai mereka”.


“Apakah kamu tahu mengenai Jiro?”.


“Ya tapi tak banyak, dia adalah anak dari bibi Sanchi”.


“Sejak kapan dia meninggalkan keluarganya?”.


“Sejak dia lulus SMA, aku ingat saat itu dia pergi dengan tangis keluarganya. Anak muda itu pergi melunasi hutang ayahnya, ternyata dia bergabung dengan organisasi sebuah klan Yakuza yang menguasai Kanto”.


“Jadi dia menjadi anggota Yakuza karena melunasi hutang keluarganya?”.


“Lebih tepatnya hutang ayah kandungnya, ayah yang meninggalkannya sejak kecil hanya untuk wanita lain. Lantas ayahnya datang menggadaikan sertifikat kedai dan rumah milik keluarganya demi judi. Begitulah”.


Aku baru tahu kalau hidup Jiro si ikan buntal cukup kelam, sebuah pundak anak semata wayang terbebani dengan hutang ayahnya.


“Lantas dimana ayahnya sekarang?”.


“Entahlah, dia tak pernah datang lagi semenjak itu”.


Malamnya, kami memutuskan menjenguk kakek di rumah sakit. Azura mengeluarkan skuter miliknya dan memboncengku ke rumah sakit.


“Kenapa kamu lelet sekali mengendarai skuter?” keluhku.


“Diamlah, skuter ini baru ku beli setahun yang lalu setelah mengumpulkan uang dari penyewa selama setahun. Harus digunakan sebaik mungkin, seperti inilah aku memperlakukannya” ujarnya.


“Huft…dasar pelit, setidaknya putar stangnya dan gas yang benar. Ini kecepatan di bawah rata – rata, lihatnya kita semakin tertinggal dengan pengendara lain. Ini akan memperlama sampai tujuan” protesku yang kesal sedari tadi membonceng di belakang.


“Baiklah, dasar wanita bawel. Suaramu membuat telingaku iritasi” sahutnya langsung tancap gas melaju menyusuri jalanan malam.


Tibalah kami di sebuah ruangan bernomor 104 terdapat 2 pasien dengan korden sebagai skat memisahkan keduanya.


Nampak nenek duduk di kursi sebelah ranjang sambil menggenggam tangan kakek.


“Nek, yang tabah ya…semoga kakek lekas sembuh” kataku sambil meletakkan sebucket buah di meja sebelah ranjang.


“Terimakasih nak, kalian telah datang menjenguk kakek. Maafkan kami merepotkan kalian dengan meninggalkan kedai begitu saja” kata nenek.


“Aku akan membantu di kedai, sampai kakek pulih. Tenang saja, aku dan Yoshiko bisa handle kedai” sahut Azura.


“Dia sedang mengurus administrasi dan memesan taxi untuk kami pulang malam ini” jawab nenek.


“Bagaimana kondisi kakek, nek?” tanyaku.


“Masih belum siuman hingga saat ini” jawab nenek sedih.


“Apa kata dokter mengenai kakek?” tanya Azura.


Nenek hanya menggelengkan kepala.


Saat kami memutuskan untuk pulang, kami bertemu dengan bibi Sanchi terduduk di salah satu kursi tunggu di koridor.


“Bibi…sedang apa bibi disini?” tanyaku.


“Yoshiko…” bibi langsung memelukku.


“Ada apa bi?” tanyaku.


Kami memilih duduk di sebuah café di dekat lobby rumah sakit untuk berbicara dengan santai.


Bibi menangis, “Apa yang harus aku lakukan?”.


“Memangnya ada apa bi?” tanya Azura.


“Ayah terserang dimensia dan diperparah dengan benturan di kepalanya saat terjatuh. Fungsi sel saraf otaknya menjadi terganggu, ayah akan di operasi besok. Namun kecil kemungkinan dia akan terselamatkan” jelas bibi dengan mengusap air matanya.


Seketika aku merangkulnya dan memberikan mengusap – usap lengannya untuk menenangkannya.


“Tenanglah bi, semua akan baik – baik saja” kata Azura.


Hari operasi kakek…


Kakek dengan baju operasi nampak di giring menuju ruang operasi oleh para perawat dan dokter dengan ranjang dorong. Nenek, bibi Sachi, Azura dan aku membuntuti di belakangnya, kami pun terduduk di depan ruang operasi dengan penuh kecemasan.


Tiba – tiba nenek menghampiriku yang duduk di seberangnya, “Nak antarkan aku ke toilet”.


Aku mengantarkan nenek ke toilet, setibanya di depan pintu toilet khusus wanita nenek berhenti.


“Nak sebenarnya nenek mau minta tolong” katanya kepadaku dengan suara pelan.


“Apa yang bisa aku bantu nek?” tanyaku.


Nenek menyodorkan secarik kertas kumal kepadaku, “Tolong hubungi cucuku Jiro, saat tadi malam aku mendapati kakak sesekali mengigau memanggilnya. Aku tahu dia ingin bertemu cucunya, aku mohon telepon nomor ini dan mintalah dia datang. Aku tahu perangai Sanchi sangatlah keras, maka aku menutupi ini darinya. Di kertas ini ada nomor telepon cucuku, Sanchi membuangnya di tempat sampah kemarin dan aku memungutnya”.


“Baiklah nek” aku pun menyanggupi.


Kami pun kembali ke depan ruang operasi, aku meminta Azura untuk keluar meninggalkan nenek dan bibi Sanchi sebentar. Di lobby rumah sakit, aku meminjam telepon Azura untuk menelpon nomor yang tertera di kertas yang ku genggam.


“TUT….TUT….TUT….” tak ada response dari panggilanku.


Aku pun menelpon sekali lagi dan terdengar ada suara laki – laki yang mengangkatnya “Hallo siapa ini?”.


“Ini aku Yoshiko, apakah ini Jiro?” tanyaku.


“Kenapa kamu menelpon, sangat berbahaya bagimu menelponku” katanya.


“Kakekmu masuk rumah sakit, dia sedang dioperasi sekarang. Bisakah kamu datang sekarang?” tanyaku.


“Apa! Benarkah? Tapi saat ini aku sedang di Akita untuk pertemuan antar klan. Aku akan kesana setelah semua selesai naik shinkansen” katanya dengan suara pelan.


“Kami menunggumu, kalau bisa cepatlah karena kecil kemungkinan untuk keberhasilan operasi ini” tambahku.


“Baik, aku usahakan segera kesana. Hmmm…dan terimakasih telah mengabariku” katanya.


Aku pun menutup teleponnya, langsung dihujani pertanyaan oleh Azura.


“Kenapa harus menggunakan teleponku, kenapa tidak menelpon dengan ponselmu?” tanyanya sambil mengambil ponselnya dari tanganku.


“Huft dasar pelit, ponselku jaringannya sedang bermasalah” kataku bohong.


“Darimana kamu mendapatkan nomor telepon anak itu?” tanyanya kembali.


“Aku diberikan kertas ini dari nenek, tadi nenek memintaku untuk mengabari cucunya supaya segera datang” jelasku.


“Owh… “ responsenya membuatku kesal.


Semoga Jiro bisa segera datang dan operasi kakek berjalan dengan lancar. Kecemasan menghantuiku saat ini, aku tahu bibi dan nenek merasakan hal yang sama.


...XXXXXXXXXXXX...