LOVE OR DEAD

LOVE OR DEAD
BAB 55 : PERKATAAN KANON



Tubuhku yang masih sangat lemah dengan luka yang meradang di sekujur tubuh terpapar sinar mentari yang telah masuk memenuhi kamar, namun aku mulai kehilangan kesadaran. Seakan tubuhku dilanda demam, aku hanya bisa meringkuk di kamar menyelimuti tubuhku.


Kanon masuk mendapati diriku tak berdaya terbaring di tempat tidur dengan selimut.


“Apakah kamu baik – baik saja?” tanya Kanon memastikan.


Aku tak bisa menjawab, lidahku kelu mataku berkunang – kunang. Kanon mengamati sekitar, dia mendapat baju kakaknya yang berada di lantai dan ikat pinggangnya. Di singkapnya selimut yang membalut tubuhku, “SREEEETTTTTT!”.


Kanon terkejut menatap luka di sekujur tubuhku, luka merah yang meradang ke biruan. Lalu dia menyelimutiku kembali, memegang keningku. Melihat wajahku yang pucat dan tubuh yang berkeringat, seketika meminta salah satu penjaga di pintu depan untuk membelikan obat demam dan luka gores.


“Apa yang telah kamu lakukan hingga kakakku semarah ini?” tanyanya kepadaku.


Aku tak menjawab hanya terus memejamkan mataku menahan rasa sakit.


Tak butuh waktu lama untuk penjaga itu membawakan obat dari apotek, Kanon membuka bingkisan yang berisikan obat itu di meja sebelah ranjang. Tiba – tiba Kawaki masuk ke dalam kamar.


“Sedang apa kamu disini?” tanyanya memandang Kanon tak suka.


“Aku ingin membantu mengobati dirinya, kalau terus begini dia akan mati” kata Kanon.


“Pergilah, jangan ikut campur dan dia adalah urusanku. Hidup dan matinya tidak penting” kata Kawaki tegas.


Kanon menatap Kawaki dalam diam, dari aroma tubuh kakaknya dia tahu kakaknya pulang dari begadang di night club atau bar. Bau rokok dan alcohol yang begitu pekat, dengan wajah dingin Kawaki menatap ke arah Kanon.


“Jangan pedulikan dia, urusi saja dirimu. Fokus saja pada rencana pertunanganmu. Jangan ganggu mainanku, ingatlah batasanmu. Luka bakar itu seharusnya mengajarimu untuk tahu diri” kata Kawaki menegur adiknya.


Kanon lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkanku bersama Kawaki di kamar. Di balik pintu dia mengepalkan tangannya, dia sadar dia tak bisa melakukan apapun.


Dia memutuskan untuk pergi ke kolam renang, awalnya dia ingin meredakan rasa kesalnya terhadap Kawaki namun bertemu dengan Hiroshi di lobby hotel.


Kedua saling menatap lalu bertegur sapa.


“Kamu bernama Hiroshi bukan?” sapa Kanon agak canggung.


“Benar, kita bertemu tadi malam” sahut Hiroshi dengan ramah.


Keduanya duduk di pinggir kolam renang, mencoba mengakrabkan diri satu sama lain.


“Apa hubunganmu dengan Chiyo?” tanya Kanon langsung menuju intinya.


“Apakah kamu tidak mendapat cerita apapun dari kakakmu?” Hiroshi balik bertanya.


“Kami tidak seakrab itu untuk saling bertukar cerita” jujur Kanon.


“Begitu ya, sebenarnya aku adalah calon tunangan Chiyo dua tahun lalu namun digagalkan oleh kakakmu” Hiroshi menjelaskan dengan tenang.


“Maaf kan aku, harus menyingkap cerita tak mengenakkan itu” Kanon merasa tak enak hati mendengarnya.


“Tak apa, kamu memang perlu tahu agar ke depannya kita lebih terbuka” kata Hiroshi.


“Sepertinya kamu orang baik, padahal aku adalah adik pria yang mencuri calon tunanganmu tapi kamu masih bisa bersikap seramah ini” aku Kanon.


“Apakah kamu terpaksa bertunangan denganku untuk melepaskan Chiyo?” tanya Kanon.


“Benar, maaf kan aku mengatakan yang sesungguhnya” jawab Hiroshi.


“Dia tak mungkin terselamatkan kecuali mati, aku mengatakan ini kepadamu bukan karena maksud mengecilkan semangatmu untuk melepaskannya. Tapi aku hanya ingin menyadarkan bahwa yang kamu lakukan sangatlah sulit, karena Kawaki sudah terobsesi dengan Chiyo. Dia akan melakukan segala cara untuk mempertahankan Chiyo disisinya” Kanon memberikan penjelasan yang menohok.


Hiroshi hanya bisa memberikan tatapan nanar atas perkataan Kanon.


“Semakin kamu mencoba melepaskannya, semakin dia akan di siksa dengan kegilaan yang di rasakan oleh Kawaki. Kamu harus tahu langkahmu berdampak pada keselamatan Chiyo” ucap Kanon menyudahi pembicaraan itu.


Lalu dia memutuskan pergi meninggalkan Hiroshi yang yang tertegun mendengar semua penjelasannya. Hiroshi terduduk membeku di depan kolam renang sembari merenungi langkah yang akan di pilih, seakan semua perkataan Kanon menunjukkan betapa mengerikannya Kawaki yang saat ini dia hadapi. Langkah yang salah akan membuat Chiyo semakin menderita.


……………..


Kawaki yang menatapku kesakitan hanya tersenyum, dia melepaskan pakaiannya dan beranjak mandi ke kamar mandi. Setelah tersegarkan, dengan hanya mengenakan bathrobe dia malah berbaring di sampingku. Memeluk tubuhku lalu berbisik, “Tidurlah, aku sangat mengantuk”. Lalu dia tertidur di punggungku dengan tangan kirinya melingkar ke pinggangku.


Malam pun tiba Kawaki menyadari suhu tubuhku semakin panas, dia bergegas membuka selimut yang membalut tubuhku. Di lucutinya pakaianku, dengan sangat sabar dia mengoleskan saleb untuk luka di sekujur tubuhku. Aku yang telanj@ng tak berdaya hanya bisa terkapar tanpa meresponnya.


Lalu aku di bantu meminum beberapa pil untuk meredakan demam dan nyeri serta menyembuhkan dari dalam. Setelah itu dia menyelimutiku kembali, membelai rambutku dengan lembut. Dengan kesadaran yang tak sepenuhnya, aku dapat melihat Kawaki menatapku penuh kasih sayang.


Sebuah tatapan yang terpernah aku dapatkan darinya, membuatku malah semakin ngeri kepadanya. Sikapnya yang terus berubah dan tak terkendali menimbulkan rasa takut yang mulai tumbuh ke dalam diriku.


Kondisiku yang berangsur – angsur membaik berkat Kawaki yang merawatku hari demi hari. Kanon pun tak di perbolehkan masuk untuk menjengukku, hanya Kawaki yang setiap hari menyempatkan waktu datang merawatku. Entah itu perasaan bersalahnya atau sebatas rasa simpati atau hanya sebuah sisi lain yang ingin dia tunjukkan kepadaku.


Setelah tiga hari berlalu…


Kawaki pulang dalam kondisi bau alcohol yang sangat menyengat, memasuki kamar tanpa berkata sepatah katapun. Melepaskan jaket serta t-shirt yang di kenakannya, di keningnya nampak sebuah luka hores dan bagian perut sebelah kiri ada sebuah perban menempel.


“Kenapa kamu memandingiku seperti itu, ini bukan kali pertama kamu melihatku terluka” ujarnya yang menghempaskan t-shirtnya ke lantai.


Aku tak menanggapinya, aku hanya diam terduduk di tempat tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhku.


“Sekarang giliranmu untuk melayaniku, berhari – hari aku merawat tubuh itu. Setidaknya lukamu sudah membaik, kini aku butuh imbalannya” katanya sambil tersenyum sinis kepadaku.


Di lepaskannya celana denim yang dikenakannya, hingga aku bisa melihat tubuhnya hanya mengenakan celana d@lam.


DHEG!


“Apa yang akan dia lakukan kali ini kepadaku?” gumamku dalam hati.


Lalu dia menarik selimutku “SREETTTTTTTT”.


Membuangnya ke lantai, kemudian menarik kedua kakiku hingga mengapit pinggangnya. Melepaskan semua pakaian yang aku kenakan dengan paksa.


“Jangan….Kawaki, bukankah tubuhku tak menarik bagimu. Lantas apa yang coba kamu lakukan kepadaku!!!” teriakku sembari meronta dan melepaskan diri.


Dalam diam Kawaki hanya tersenyum dan terus merobek dan melucuti semua pakaianku.


XXXXXXXXXXXXXX