
Di depannya Angel tampak senang memperhatikan Deden yang begitu lahap menyantap makanannya.
Malvin langsung memukul punggung Deden hingga ia tersedak dan batuk-batuk.
Angel langsung melotot kearah Melvin.
"Kenapa lo, gak suka!" seru Melvin menyeringai menatap Angel
"Sebaiknya jaga sikapmu dan jangan pernah menyakiti Deden lagi atau aku akan...." ucap Angel seketika menghentikan ucapannya
"Akan apa hah!" jawab Melvin dengan wajah kesalnya
Pak Jamal yang tak sengaja melintas segera menghampiri mereka dan melerainya.
"Ada apa ini, ada apa?"
"Ada cewek songong plus caper pak!" sahut Melvin
"Caper gimana maksudnya?" tanya pak Jamal
"Cari perhatian sama gue lah pak, masa bapak gak tahu. Biasakan kan anak ganteng kaya gue tuh selalu di kejar-kejar cewek,"
"Kan normal kalau gitu. Tinggal kamu tidak usah menanggapi jika memang kamu tak suka dengannya, gitu aja kok repot,"
"Tetap saja aku gak suka ada cewek songong dan sok jagoan cuma untuk mendapatkan perhatian gue aja. Gue hapal kok tipe cewek kaya Lo!" tukas Melvin menunjuk kening Angel
Angel tersenyum mendengar ucapan Melvin.
Sebentar lagi kau akan menyesali semua ucapan yang sudah terlontar dari bibirmu anak muda, kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku.
"Kalau kamu gak suka tinggal pergi saja Mel, memangnya apa susahnya sih," ucap Pak Jamal kemudian mengajak Melvin pergi meninggalkan Angel dan Deden
"Kamu gak papa kan?" tanya Angel
"Gak papa kok aku Udah terbiasa di bully ," jawan Deden lesu. Selesai makan ia Bahkan bekerja paruh waktu di sebuah rokok kelontong untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna membayar uang sekolahnya.
Janie masih tetap setia menunggu Radit meski pemuda itu sangat menyebalkan.
Janie tampak memandangi ponselnya berharap ada seseorang yang menghubunginya.
"Kenapa tak ada satupun yang menghubungi ku hari ini, apa mereka tak khawatir denganku atau setidaknya penasaran dengan keadaan Radit," keluhnya
"Kenapa juga Radit belum sadar juga, apa aku perlu mengabari Tante Ana agar ia tahu keadaan putranya?. Ah tapi bagaimana kalau dia shock nanti. Ah lebih baik tak usah, biar waktu saja yang akan memberitahukan Tante Ana kondisi Radit."
Tidak lama Janie kembali dikejutkan dengan kemunculan pria misterius itu lagi yang memintanya ikut dengannya.
"Kali ini kau harus ikut denganku!" ucap pria itu kemudian menarik Jannie
Janie seketika menghilang bersama pria misterius itu.
Ia terkejut saat menyadari dirinya berada di sebuah kafe. Lelaki misterius itu mengajaknya masuk, Janie terkejut saat melihat sekelompok anak muda yang sedang melakukan balapan meminum minuman keras.
Suara hingar bingar para anak muda yang saling menyemangati saat salah seorang dari mereka sedang menghabiskan beberapa orang botol minuman keras.
Seorang pria yang begitu familiar di mata Janie tampak bahagia saat berhasil mengalahkan beberapa orang peserta lainnya.
"Malvin," Janie membelalak saat tahu pria itu adalah Malvin, sahabat Radit
"Selamat bro, akhirnya lo kembali jadi juara. Emang lo benar-benar keren, gak ada tandingannya kalau soal minuman keras," ucap salah seorang peserta memberi selamat kepada Malvin
Malvin kemudian duduk di sudut kafe bersama dengan beberapa orang temannya.
Ia merayakan kemenangannya bersama teman-temannya. Saat meneguk sebuah gelas berisi alkohol Melvin berteriak histeris saat melihat seekor ular berbisa yang melilit tangannya.
Ia menjerit histeris saat ular itu mematuknya hingga ia tak sadarkan diri.
Tak jauh dari tempat itu Angel tersenyum senang melihat Melvin sekarat.