
"Aku tidak pernah memprovokasi mu ataupun membohongi mu. Kau akan menyesal karena tidak mempercayai ku," ucap Zoya kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba-tiba perkataan Zoya terngiang-ngiang di benak Zeck.
"Gareth!!!!" serunya dengan penuh amarah
"Aku akan membunuhmu karena sudah berusaha merusak kebahagiaan ku!!" Ia menggendong Tari dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
*Flashback Off
"Ki Gendon!" pekiknya ketika melihat jasad Ki Gendon bersimbah darah.
"Tidak mungkin Zeck pelakunya. Lalau dimana mereka?" Lingga segera merangsek masuk mencari keberadaan Zeck dan Tari.
"Tari!!"
"Tari!!"
Lingga seperti orang gila yang terus meneriakkan nama Tari sembari mengelilingi gedung itu.
"Dimana kamu Tari," ucapnya dengan nafas terengah-engah dan putus asa.
Sementara itu di sebuah kamar nan megah Tari yang mendengar teriakan Lingga mencoba bangun untuk keluar, namun rasa nyeri di dadanya membuat ia tidak bisa bangun apalagi berdiri.
"Lingga, aku di sini." ucapnya sendu
"Lingga!" ia berusaha berteriak sekeras mungkin, tapi ia suaranya tak selantang yang ia inginkan, karena luka di dadanya membuat ia tidak bisa berteriak.
"Aku di sini Lee," ucapnya sembari terisak.
"Padahal kita begitu dekat tapi kenapa aku tidak bisa memanggil mu, hiks."
"Tari, jangan bilang kau juga sudah mati seperti Ki Gendon," ia menatap sebuah kamar di depannya dan menghampirinya.
"Masuklah Lee, dan bawa aku pergi dari sini." tukas Tari dari dalam
Lingga berusaha membuka pintu itu, namun saat ia akan menarik engsel pintu kamar itu tubuhnya seketika terpental dari tempat itu.
*Braaakkkk!!
Lingga berusaha bangun dan berdiri.
"Sepertinya itu ruangan khusus sehingga di pasangi pagar gaib. Aku penasaran ada apa di dalam sana," Lingga kembali berusaha membuka pintu kamar itu.
Dengan Ajian Rogo Sukma Lingga berhasil membuka pagar gaib itu dan segera masuk dalam kamar dan melihat ada apa di dalamnya.
"Lingga," ucap Tari tersenyum bahagia ketika melihat pemuda itu datang menghampirinya.
"Kenapa aku begitu Bahagia hanya dengan melihatnya saja," ucap Tari mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
Lingga berhenti menatap sebuah ranjang besar yang ada di sana.
"Tidak ada apapun di sini, tapi kenapa tiba-tiba jantung ku berdegup kencang seolah tak ingin meninggalkan kamar ini," Lingga kembali menatap lekat ranjang itu dan terus mencari sesuatu yang membuatnya begitu penasaran.
"Sepertinya Tari juga tidak ada disini, meskipun aku sudah menggunakan mata batinku untuk mencarinya namun sepertinya kau tidak ada di sini," ucap Lingga kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Lee, Lingga!!, jangan pergi Lee. Jangan tinggalkan aku di sini, bawa aku bersamamu Lingga!!" seru Tari sembari berusaha beranjak dari ranjang itu.
Namun sekuat apapun dia berusaha mengejar Lingga, ia tidak bisa menyusulnya. Tari justru jatuh tersungkur di lantai dan tak bisa bergerak lagi.
"Lingga!!!" serunya sembari terisak
"Jangan pergi, bukankah kau bilang akan selalu bersamaku dan melindungi ku. Kenapa kau sekarang malah pergi meninggalkan aku, hiks!"
*Deg!
Lingga tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Kenapa hatiku begitu sedih meninggalkan tempat ini, seolah-oleh ada yang menahan ku untuk tidak pergi dari sini," mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu.
Ia kemudian mengusap air matanya yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.
"Lingga, apa kau mendengarkan suaraku??" ucap Tari begitu bahagia ketika melihat Lingga menatap kearahnya.
Gadis itu melambaikan tangannya kearah Lingga berusaha menyapanya.
"Aku di sini Lee!" ucapnya penuh harap
Lingga terus berjalan hingga mendekatinya, membuat wanita itu tersenyum bahagia melihatnya.Namun kebahagiaannya seketika sirna saat Lingga membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Arrgghhh, kenapa dadaku sesak sekali," ucap Lingga memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan nyeri.
"Jika kau benar-benar meninggalkan aku, maka jangan salahkan aku jika aku benar-benar membencimu Lingga," tukas Tari menahan nyeri di dadanya yang serasa akan meledak ketika mendapati kenyataan jika Lingga meninggalkannya.
***********
Sementara itu Zeck merangsek masuk mencari keberadaan Gareth.
*Grepp!!
Ia segera menyeret Gareth yang masih bersemedi dan melayangkan pukulan keras kearahnya hingga leleki itu terhempas menghantam altar persembahan di hadapannya.
*Brakkk!!
"Zeck!!" seru Gareth mencoba bangkit dan berdiri.
"Cih, ternyata kau berusaha membunuh wanita yang sudah membantumu juga. Tidak ku sangka kau begitu keji melebihi seorang Iblis," ucapnya ketika melihat tubuh Tari yang di penuhi dengan darah ayam cemani.
"Sepertinya aku harus berterima kasih padamu karena kau sudah membantuku mendapatkan Tari seutuhnya. Karena dengan begitu Tari tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini, dia akan selamanya menjadi permaisuri ku, hahahaha!" seru Zeck tertawa terbahak-bahak.
"Ki Gendon, sayang sekali aku harus kehilangan seorang sakti sepertinya. Tapi tidak masalah karena aku sudah mendapatkan semuanya sekarang, dan yang harus aku lakukan saat ini adalah mengirim mu Ke Neraka untuk menemui putra kesayanganmu Zeck," imbuhnya
Zeck kemudian mengambil tongkat saktinya dan berjalan menghampiri Gareth.
"Bersiaplah untuk mati Garry!" serunya kemudian menebaskan tongkatnya kearah lelaki itu, beruntung Gareth bisa menahan tongkat itu sehingga tidak mengenainya.
"Kau pikir bisa mengalahkan ku Iblis keparat!" Gareth kemudian melepaskan tendangannya hingga tubuh Zeck terhempas beberapa langkah darinya.
"Ternyata aku tidak boleh meremehkan mu Garry. Ah ... aku lupa kau sudah mencuri cincin sakti ku dari Purboyo. Tapi ... kau tidak boleh Sombong Garry, karena kesombongan hanya boleh dimiliki oleh seorang Iblis seperti ku bukan manusia sampah seperti mu!"
*Buuggghhh!!
Tubuh Zeck melesat dan melepaskan tinjunya kearah Gareth membuat lelaki tua itu sempoyongan. Dalam keadaan belum seimbang Zeck kembali melepaskan tendangan mematikan hingga membuat lelaki itu menyemburkan darah segar dari mulutnya.
*Buuggghhh!!
Tubuh Gareth seketika tersungkur ke lantai dan tak berkutik lagi setelah Zeck menusukkan tongkat saktinya hingga mengenai jantungnya.
"Matilah kau manusia sampah!!" tukas Zeck menggorok leher Gareth menggunakan golok pusakanya.
Ia kemudian berjalan masuk dan Menggendong tubu Tari.
"Sekarang kau akan menjadi permaisuri ku selamanya, kau tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini Tari," ucapnya kemudian melesat meninggalkan tempat itu.
*Braakkkk!!!
Kenan segera mendobrak pintu masuk kediaman Ki Gendon dan memasuki rumah itu.
"Tari!!!" serunya sembari mengecek setiap kamar di ruangan itu.
Ia membulatkan matanya ketika melihat sosok kepala Gareth yang terpisah dari tubuhnya.
"Om Gareth," ucapnya kemudian menyatukan kepala itu dengan tubuhnya.
"Semoga kau tenang di alam sana Om," ucapnya mencoba menutup mata lelaki itu yang terlihat hampir keluar dari tempatnya.
Ia mengalihkan pandangannya kearah cincin yang menyala di jari manis Gareth.
"Ambil cincin itu!" seru Garra
"Kenapa harus aku, kenapa bukan kau saja yang mengambilnya?" Kenan balik bertanya.
"Karena hanya manusia biasa yang bisa memakai cincin itu," jawabnya lirih
"Bukankah kau juga sudah menjadi manusia biasa??"
"Sampai kapanpun manusia setengah Iblis seperti diriku tidak akan bisa menjadi manusia biasa, itu sudah menjadi takdir ku," jawab Garra membuat Kenan tercengang.
"Sepertinya kita sudah terlambat, iblis itu sudah membawa Tari dari sini," imbuhnya
"Apa itu artinya Tari tidak bisa kembali lagi?" tanya Kenan penasaran
"Hanya ada satu cara untuk membawanya kembali?"
"Apa??"
"Tari sendiri yang harus memutuskan untuk kembali."