LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
29. Cepatlah Bangun



"Tari, apa yang kau lakukan dengannya!" seru Lingga


"Aku hanya mengirimnya ke tempat yang seharusnya," jawab lelaki itu


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Lingga


"Ku dengar kau memiliki tongkat sakti Raja dan Ratu Iblis, jadi kau bisa menukar nyawa gadis itu dengan kedua tongkat sakti itu,"


"Bagaimana bisa aku memberikan benda berharga itu kepada orang jahat seperti dirimu,"


"Aku tidak akan memaksamu memberikannya padaku, tapi jangan salahkan aku jika kau akan kehilangan wanita yang sangat kau cintai Lingga," bisik Ki Gendon


"Lalu kenapa kau menyuruhku melawan mahluk yang menganggu Tari?"


"Kalau kau ingin menyelamatkan gadis itu maka kau harus membunuhnya, tapi kalau kau tidak mau melawannya bersiaplah jika gadis pujaan mu itu akan tewas sebagai tumbal peti harta Karun itu,"


"Tuan Purnomo tidak pernah menyentuh ataupun menggunakan harta itu, jadi tidak mungkin ia harus memberikan tumbal pada sang pemilik Peti Harta Karun itu," jawab Lingga


"Tapi dia sudah melihat isinya, kau tahu kan apa yang akan terjadi pada seseorang yang melihat isi kotak itu?"


"Orang itu harus mati saat itu juga," sahut Lingga


"Tapi kenapa dia mati waktu itu?" tanya Lingga


"Itu karena cincin sakti yang ada di tangan Purboyo, begitupun dengan Tari yang seharusnya menjadi tumbal pengganti Purnomo. Untuk itulah kau harus membunuh mahluk itu jika Tari hidup, karena sekaranglah saatnya untuk membunuh mahluk itu sebelum ia membunuh Tari," jawab Ki Gendon


"Bagaimana aku bisa menemukannya?" tanya Lingga


"Aku yang akan mengundangnya, jadi persiapkan dirimu Lingga," jawab lelaki itu mengembangkan senyumnya


Lelaki itu kemudian menyiapkan sesaji dan duduk sila di depan halaman rumahnya.


Saat ia mulai membakar dupa dan memusatkan konsentrasinya, tiba-tiba suasana hening mulai menyelimuti tempat itu.


Angin semilir mengibaskan rambut Lingga membuat Lelaki itu mulai menyadari kehadiran mahluk tak kasat mata yang berdiri tak jauh darinya.


Sesosok ular besar berkepala manusia berdiri di depannya.


"Siluman ular??" ucap Lingga menatapnya


"Bunuh dia Lingga!" seru Ki Gendon


"Dasar dukun laknat beraninya kau meminta bantuan orang lain untuk membunuhku!" ujar mahluk itu kemudian mengibaskan ekornya kearah Ki Gendon.


*Braakkk!!


Lelaki itu terhempas dan menghantam dinding rumahnya.


"Aku tidak punya urusan denganmu anak muda jadi menyingkirlah," ucap mahluk itu


"Tapi aku punya urusan denganmu Nyai, aku harus membunuhmu agar kau tidak menjadikan Tari sebagai tumbal mu,"


"Dasar dukun bodoh, kenapa kau tidak menggunakan otakmu sebelum bertindak. Kau sudah membuatku kesal anak muda!" seru mahluk itu kemudian mengibaskan ekornya kearah Lingga, beruntung Pemuda itu dengan sigap langsung menghindarinya.


Lingga segera mengeluarkan tongkat saktinya.


"Ternyata ini alasannya si dukun keparat itu menyuruhmu untuk membunuhku. Jangan kau pikir bisa membunuh ku hanya karena kau mempunyai tongkat sakti itu anak muda," ujar mahluk itu kemudian merubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik.


"Aku Nyi Nilam Sari tidak akan pernah gentar menghadapi tongkat sakti Raja Iblis!" serunya


Ia kemudian melesat menyerang Lingga.


"Sekarang tamatlah riwayat mu Nilam Sari, kau tidak akan bisa menghalangi ku lagi," ujar Ki Gendon mencoba bangkit sembari memegangi dadanya yang terasa nyeri.


*Bruuugghh!!


Lingga tersungkur ke tanah dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Bagaimana bisa mahluk itu tidak binasa setelah terkena sabetan tongkat ini," Lingga mencoba bangkit dan menatap nanar mahluk itu.


"Andai saja kau lebih pintar sedikit aku pasti tidak perlu melukaimu anak muda," ujar wanita itu kemudian berjalan pergi meninggalkannya.


"Bunuh dia Lingga, jangan biarkan dia pergi atau Ia akan memakan Tari!" seru Ki Gendon


"Cih, dasar tua Bangka keparat, harusnya aku sudah membunuhnya dari dulu," Nilam Sari menoleh kearah Ki Gendon dan menyabetkan selendang kearahnya.


"Apa yang kau Lakukan bocah tengik!" seru Nilam Sari geram ketika Lingga menarik selendangnya.


"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran anak muda!" imbuhnya


"Aku tidak akan pernah kabur dan membiarkan iblis seperti dirimu memakan banyak korban lagi!" seru Lingga


Ia menarik selendang itu hingga membuat Nilam Sari tertarik kearahnya.


"Beraninya kau!" seru wanita itu geram


Lingga segera menggerakkan tongkatnya dan menebaskannya ke tubuh wanita itu hingga ia jatuh lunglai ke tanah.


"Kenapa kau melakukan ini padaku bocah tengik, bukankah aku sudah bilang cepat pergi dari tempat ini sebelum aku berubah pikiran. Tapi kau seperti orang dungu yang tak bisa mencerna setiap ucapan ku. Baiklah...semoga kau tidak menyesali apa yang kau lakukan padaku Lingga...." Wanita itu menggerakkan tangannya dan meniupkan sesuatu kearah Lingga hingga pemuda itu jatuh terkulai di tanah.


*Bruuugghh!!!


"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia...." Ki Gendon berlari menghampiri Lingga.


Ia menepuk-nepuk pipi pemuda itu.


Dalam keadaan setengah sadar lingga melihat Nilam Sari menatap sendu kearahnya sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangannya.


********


"Nona Tari, anda di minta menemui dokter Harry sekarang?" ucap seorang perawat membangunkan Tari.


Gadis itu segera bangun dan beranjak dari tempat duduknya.


"Baik sus," sahutnya lirih.


Wanita itu menatap lekat kearah Lingga yang masih terbaring di ranjang pasien.


"Bangun Lee, sudah seminggu kau tertidur. Apa kau tidak mau melihatku," ucapnya sendu


Tari kemudian bergegas menemui dokter yang merawat Lingga.


"Ada apa Dok?" tanya Tari


"Duduklah," jawab sang dokter mempersilakannya duduk


"Bagaimana keadaan Lingga dok?" tanya Tari


"Untuk sekarang kondisi tuan Lingga sudah membaik, sudah saya cek semuanya dan hasilnya tidak ada masalah,"


"Tapi kenapa ia belum sadar juga dok?" tanya Tari lagi


"Aku yakin sebentar lagi ia akan sadar, ia hanya butuh waktu sebentar untuk memulihkan kondisinya agar ia bisa kembali dengan selamat," jawan sang dokter


"Apa maksudmu dok?"


"Lingga hanya perlu mempersiapkan dirinya agar bisa sadar kembali, kau bisa membantunya Tari. Karena aku lihat sepertinya hubungan kalian lebih dekat daripada seorang bodyguard dengan majikannya," jawab sang dokter


"Tentu saja, bagiku Lee bukan hanya seorang bodyguard biasa bagiku dia adalah seseorang yang sangat berharga. Bahkan seminggu tanpa dirinya aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Baiklah kalau begitu aku akan membantunya agar ia cepat sadar,"


Tari kemudian berjalan keluar dari ruangan itu menuju ke bangsal perawatan Lingga.


"Tari!!" seru seorang lelaki menyambanginya


"Alvin,"


"Boleh aku menjenguk Lingga?"


"Silakan, masuklah," sahut Tari Kemudian merebahkan tubuhnya di sofa


"Bagaimana keadaan bodyguard mu?" tanya Alvin


"Kau lihat kan dia masih belum sadarkan diri,"


"Apa karena itu, sehingga membuat mu tidak masuk ke kantor dan bekerja dari rumah?"


"Ya begitulah,"


"Apa dia begitu istimewa sehingga membuat mu harus menjaganya siang dan malam. Kau bahkan sampai mengabaikan diriku, bahkan kau juga mengabaikan kesehatan mu sendiri sampai lupa makan." tutur Alvin


"Aku sengaja datang kemari untuk membawakan makan siang mu," imbuh Alvin


"Thanks Al, tapi aku tidak berselera makan," jawab Tari berjalan masuk ke ruang perawatan Lingga.


"Setidaknya kau harus makan agar kau bisa merawat Lingga,"


"Jangan bilang kau jelous karena aku lebih perhatian kepada Lee daripada dirimu," tukas Tari


"Tentu saja Tari, lelaki mana yang tidak cemburu melihat kekasihnya mengkhawatirkan lelaki lain yang jelas-jelas bukan keluarganya,"


"Bagiku Lingga adalah segalanya bagiku, dia adalah keluargaku yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia juga menjadi kakakku saat aku perlu tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah, dia adalah teman terbaikku yang selalu setia yang selalu mendukung setiap langkahku, ia bahkan melebihi keluarga ku karena ia rela memberikan apapun yang ia miliki termasuk nyawanya hanya untuk melindungi ku," ucap Tari begitu emosional membuat Alvin langsung memeluknya.


"Maafkan aku Tari, bukan maksudku membuatmu sedih. Kau boleh merawat Lingga karena aku tahu kau tidak akan memberikan hatimu untuknya bukan?" ujar Alvin


"Baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus kembali lagi ke kantor, kalau ada apa-apa cepat kabari aku. Aku juga selalu siap membantu mu Tari," ucap Alvin kemudian meninggalkan gadis itu


Tari kemudian berjalan mendekati Lingga dan mengusap lembut wajahnya.


"Cepatlah bangun Lee, aku sangat merindukanmu," ucap Tari gusar


Tiba-tiba Lingga menarik lengan gadis itu dan mencium bibirnya.