LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
27. Pemilik Peti Harta Karun



*Krieet!!


Lingga membuka pintu gudang itu dengan pelan, dan ia melihat sekelebat bayangan hijau berlari menghindarinya. Saat ia berusaha memusatkan konsentrasinya untuk mengejarnya tiba-tiba sebuah bayangan hitam berhasil merasukinya.


"Akhirnya aku bisa masuk kedalam tubuh ini juga,"


"Siapa kau!" seru Lingga kemudian melemparkan mahluk itu keluar dari tubuhnya.


Mahluk itu hanya menyeringai kemudian menghilang dari pandangannya.


"Kenapa ada mahluk gaib yang bisa memasuki tubuhku, padahal ada dua tongkat sakti dalam diriku,"


Lingga kemudian melepaskan pelukannya dan menatap lekat Tari.


"Apa aku menyakitimu barusan?"


"Tidak, kau hanya bersikap aneh dan sangat menyeramkan," jawab Tari lirih.


"Maaf sudah membuat mu takut, sekarang lebih baik kau keluar saja biarkan aku yang akan membersihkan gudang ini bersama para pekerja."


"Ok," Tari kemudian keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya.


Gadis itu kemudian membereskan barang-barangnya yang sudah tidak terpakai.


"Apa ini, sepertinya ini bukan milikku," Tari menarik sebuah peti kuno dari lemari pakaiannya.


"Siapa yang menaruhnya di sini?" ucapnya sembari menggaruk-garuk kepalanya


Karena penasaran gadis itu berusaha membukanya namun seketika ia mengurungkan niatnya.


"Apa ini punya ayahku, tunggu...." Tari mengambil sepucuk surat yang terlampir di peti itu.


Jika kau sudah menemukan surat ini berarti ayah sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.


Teruntuk Mentari putriku,


Walaupun kita belum pernah bertemu secara langsung tapi ayah selalu memantau dirimu dari jauh, mulai dari kamu lahir hingga kamu menikah ayah selalu berusaha untuk melihat mu meskipun dari kejauhan. Kau mungkin berpikir ayah sangat jahat padamu karena mengusir ibumu saat sedang mengandung dirimu, tapi percayalah itu yang terbaik untuk kalian.


Aku harap jika kau menemukan peti kayu ini kau bisa mewakili aku mengembalikan benda ini kepada pemiliknya. Ingat pesan ayah jangan sekali-kali kamu membukanya meskipun penasaran karena itu bukan milik kita. Cukup ayah yang harus menanggung semuanya karena keserakahan ayah.


Apapun yang kau miliki sekarang ini adalah murni milik ayah karena ayah tidak pernah memakai harta Karun itu walaupun cuma satu rupiah. Jadi pesan ayah kau jangan sampai membuka kotak itu apalagi mengambil isinya jika tidak ingin seperti ayah.


"Apa ini harta Karun yang di inginkan oleh ayah Purboyo dan Om Gareth,"


"Kenapa ayah menyuruhku mengembalikan kotak ini kepada pemiliknya bukan kepada ayah Pur atau Om Gareth??"


"Apa aku harus memberitahu Lee tentang kotak ini, tapi aku tidak mau membebaninya lagi selama ini dia jarang istirahat karena terus membantu aku menyelesaikan semua pekerjaanku. Lebih baik aku sendirian Yang aku tidak usah memberitahukan dia, aku akan memberikan kotak ini kepada ayah Pur,"


********


Sore harinya Tari menemui Purboyo di rumahnya.


"Ada apa kau menemui ku Tari?" tanya Purboyo


"Aku ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya milik ayah,"


"Apa itu?" tanya lelaki itu penasaran


"Bukankah waktu itu ayah bilang jika kekayaan yang aku miliki adalah milik ayah dan Om Gareth."


"Kenapa kau berkata seperti itu, apa kau ingin memberikan kekayaan mu untuk kami?"


"Ayah salah kekayaan yang aku miliki adalah murni hasil kerja ayah Purnomo, karena ayahku tidak pernah mengambil sedikitpun harta Karun yang ada dalam peti kuno itu," jawab Tari


"Apa maksudmu?"


Tari kemudian memberikan surat dari Purnomo kepada Purboyo.


"Jadi kau ingin mengembalikan kotak harta Karun itu padaku?" tanya Purboyo


"Benar ayah," jawab Tari


"Tapi bagaimana aku bisa percaya jika ayahmu tidak mengambil isi kotak ini?" tanya Purboyo


"Aku bisa menjaminnya ayah, aku bersedia menggantinya jika isi kotak itu berkurang, karena sebagai pemilik sah anda seharusnya tahu berapa isi kotak harta Karun itu,"


"Baiklah, kalau begitu dimana peti harta Karun itu?" tanya Purboyo


"Terimakasih Tari," jawab lelaki itu kemudian membawa kotak harta Karun itu ke dalam rumahnya.


Tari kemudian pergi meninggalkan rumah itu, namun di tengah perjalanan pulang wanita itu mampir sejenak ke minimarket untuk membeli keperluan pribadinya.


Saat ia sedang memilih-milih makanan ringan, tiba-tiba seorang lelaki mengambil barang yang sama yang ingin ia ambil hingga tangan keduanya saling bersentuhan.


"Maaf, aku tidak tahu jika kamu juga menginginkannya, lebih baik kau saja yang ambil sepertinya kau lebih dulu menemukannya," ucap lelaki itu melepaskan tangannya


"Zeck??" ucap tari terperanjat menatap lelaki di sampingnya.


"Tari, ternyata kau bisa mengenali ku meskipun penampilan ku sudah banyak berubah," jawab Zeck tersenyum simpul padanya.


"Tentu saja aku bisa mengenalimu, btw kapan kau kembali ke Jakarta?" tanya Tari


"Aku baru saja tiba dari airport, aku sengaja mampir ke sini untuk membeli kebutuhan pribadiku sebelum pulang ke rumah," jawab Zeck


"Oh begitu rupanya,"


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu Tari, bagaimana kalau kita ngobrol sebentar sambil minum di kafe sebelah," tukas Zeck


"Tapi bukannya kau harus istirahat, kau pasti lelah setelah perjalanan dari Itali ke Jakarta."


"Tidak apa Tari, justru rasa lelahku langsung hilang setelah bertemu denganmu, aku benar-benar merindukan mu Tari," jawab Zeck berusaha mengendalikan emosinya.


"Baiklah,"


"Yes," lelaki itu membalikkan badannya dan meluapkan kegembiraannya.


Tari hanya tersenyum melihat ekspresi bahagia Zeck.


Setelah membayar barang belanjaannya keduanya berjalan menuju ke sebuah kafe untuk berbincang-bincang di sana atau sekedar melepaskan rasa rindu setelah lama berpisah. Namun bukannya obrolan yang tercipta justru keduanya terlihat canggung sehingga hanya saling diam.


*Dreet, dreet, dreet!!!


"Halo Tari, kamu dimana?" tanya Lingga


"Aku habis dari rumah ayah dan sekarang ada di kafe ABC,"


"Kenapa kau tidak mengajakku, kau tahu berapa khawatirnya aku setelah tahu kau tidak ada di rumah!" ujar Lingga


"Maaf Lee, aku tidak bermaksud membuat mu khawatir tapi...aku hanya ingin membicarakan masalah pribadi dengan ayahku sehingga aku butuh privasi,"


"Sejak kapan kau berani bepergian tanpa diriku?"


"Ini darurat jadi aku memberanikan diri pergi tanpamu," jawab Tari


"Syukurlah kau sudah bisa mandiri. Kalau begitu jangan pulang terlalu malam," sahut Lingga


"Ini aku juga mau pulang," jawab Tari


"Yaudah hati-hati,"


"Tentu saja," jawab Tari kemudian menutup ponselnya.


"Terimakasih Tari untuk hari ini, semoga kita ngobrol lagi lain waktu," ucap Zeck segera beranjak dari tempat duduknya


"Sama-sama," jawab Tari kemudian berjalan berdampingan dengannya.


"Sampai jumpa lain waktu Tari," tukas Zeck mengantar gadis itu hingga ia masuk dalam mobilnya.


Zeck kemudian berjalan menuju jalan raya untuk menunggu taksi.


Tari menghentikan mobilnya tepat di depan lelaki itu.


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang," tukas Tari


"Aku tidak mau merepotkan mu Tari, lagipula aku bisa naik taksi saja,"


"Rumah ku searah dengan rumahmu jadi kau tidak merepotkan, kalau kau tidak nyaman karena aku yang menyetir, kau boleh mengemudikan mobil ku." jawab gadis itu kemudian turun dan memberikan kunci mobil padanya.


Sementara dari kejauhan Lingga memperhatikan keduanya dengan tatapan sendu.


"Pantas saja kau membutuhkan privasi, ternyata kau bertemu dengannya," ucap Lingga