
"Janie...." kembali Gadis bermata coklat itu menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Oi, siapapun lo jangan suka manggil-manggil gue kalau lo terus sembunyi. Cepat tunjukkan batang hidung lo atau gue akan menghajar lo!" seru Janie dengan suara lantang.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat gadis itu hampir terhempas olehnya.
*Wusshh!!
*Grepp!!
Tiba-tiba seorang pria tampan muncul di depannya menangkap tubuh yang hampir terjatuh.
Janie langsung bangun dan menjauhi pria itu.
"Siapa lo?" tanyanya menatap sinis pria di depannya
"Tidak penting siapa aku, yang jelas aku hanya ingin memperingatkan kamu kalau teman kamu dalam bahaya," tiba-tiba pria itu langsung berubah menjadi pasir saat seorang teman Janie menghampirinya.
"Gimana dah ketemu si Deden?" tanya Mila
"Udah," jawab Janie
"Dimana dia?" tanya Mila lagi
Janie kemudian menoleh ke belakang, namun sialnya Deden tak ada di tempat.
Ia hanya tersenyum kecut saat melihat sahabatnya itu pergi tanpa berpamitan kepadanya.
"Sepertinya jal*ng itu sudah membawa dampak buruk bagi Deden sehingga ia tak menghargai ku lagi, dasar anj*ng!" gerutu Janie
"Sudahlah, sebaiknya sekarang ayo kumpul, Bu Vita nyariin kamu di suruh makan siang," Mila segera menarik Janie dan membawanya pergi ke Gasebo.
Semua siswa tampak berkumpul di Gasebo sambil menikmati makan siangnya. Janie mengamati satu persatu teman-temannya, namun ia tak melihat sosok yang dicarinya, Deden.
"Kemana dia??" Ia mengernyitkan alisnya mencari keberadaannya
Kenama lagi tuh si Deden, jangan bilang kalau dia lagi berduaan lagi sana si Angel,
Janie tampak kesal saat mengingat Angel yang kini lengket dengan Jejen.
"Kamu nyari aku ya sayang?" tanya Radit menghampirinya
"Sorry, gue nyari Deden," jawab Janie kemudian melewati Radit
Radit kemudian membuntuti Janie yang mengacuhkannya.
"Kamu kenapa sih sayang kok jutek gitu sama gue?"
"Harusnya lo tahu dong Dit, kenapa gue kaya gini sama Lo," sahut Angel menatapnya tajam
"Jangan bilang ini semua karena di cupu Deden?"
"Deden itu sahabat aku Dit, dan aku tak suka kalau kau terus membullynya," sahut Janie kemudian memutar badannya dan meninggalkan pria di depannya
Radit semakin kesal saat mengetahui Janie lebih memperdulikan Deden daripada dirinya. Ia bahkan rela meninggalkan makan siangnya demi mencari sahabatnya itu.
Sial, masa gue kalah sama si cupu Deden
Dengan wajah kesal Radit terpaksa menyusul Janie dan menemaninya untuk mencari Deden.
Janie menghentikan langkahnya saat melihat Deden memasuki gazebo bersama dengan Angel.
"Wah siapa cewek yang bersama si cupu, tumben Ia punya teman cantik?" ucap Radit kemudian menghampiri keduanya
"Dari mana aja lo Den, kasihan tuh Jani dari tadi nyariin lo sampai dia belum makan siang," ucap Radit
Pemuda itu tampak memperhatikan Angel dengan seksama. Sementara itu Deden yang khawatir dengan Janie segera menghampiri gadis itu.
"Apa itu bener Jan?" tanyanya dengan wajah cemas
"Tidak apa-apa kok Den, santai saja. Lagian gak makan siang sehari gak bakal mati," jawab Janie
"Tapi tetap saja kau harus makan Jan, nanti kalau mag kamu kambuh gimana?" ucapnya lagi
"Santai aja, banyak obat mag,"
"Yaudah kalau gitu ayo makan," ajak Deden
Janie kemudian mengajak Deden masuk.
Ia bahkan mengambilkan satu nasi kotak untuknya.
"Thanks Jan," ucap Deden
Keduanya kemudian berjalan menuju ke meja yang kosong. Deden tak lupa mengajak Angel menyusul Janie.
Aku tak bisa membiarkan si cupu mendapatkan perhatian Janie.
Radit yang tak suka Janie lebih memperhatikan Deden dengan sengaja memasang kakinya.
Hingga membuat Deden jatuh tersungkur dan nasinya tumpah ke lantai.
*Buughhh!!
Deden melirik kearah Radit yang tersenyum melihat kemalangannya. Meskipun begitu Deden tidak marah. Ia segera bangkit dan berdiri kembali. Sementara itu Janie buru-buru mengambil nasi box baru dab memberikannya kepada Deden.
Melihat Radit menyakiti Deden membuat Angel kembali naik darah. Ia bahkan mengepalkan tangannya saat melihat Radit menertawakan Deden.
Gadis itu menatap nyalang kearah Radit hingga pria itu jatuh terkapar. Tak puas membuat Radit jatuh, Angel berusaha untuk menjatuhkan sebuah benda berat kepada Pemuda nakal tersebut.
"Radit awas!" seru Janie berusaha memperingatkannya
Namun terlambat, sebuah lampu gantung melesat dengan cepat mengenai kepala Radit.
*Buugghh!!!