LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
25. Kau bisa mengandalkan Aku



Dua Tahun Kemudian....


"Selamat Tari akhirnya kau berhasil menjadi the most CEO tahun ini," ucap seorang lelaki sembari menjabat tangannya


"Terimakasih ayah," jawab Tari


"Sekarang kau sudah menjadi seorang yang sukses, kariermu begitu cemerlang dan perusahaan mu semakin bersinar. Semua berjalan lancar sesuai keinginan mu, sekali lagi selamat," imbuhnya


Lelaki itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Tari.


"Ayah tunggu!" Tari berlari mengejar lelaki itu


Purboyo menghentikan langkahnya ketika melihat gadis itu menyusulnya.


"Ku dengar perusahaan ayah sedang collapse, kalau tidak keberatan bolehkah Tari membantu ayah," ucap gadis itu hati-hati


Purboyo menatap lekat putri tirinya itu dan menyunggingkan senyum sinisnya.


"Apa kau pikir aku tidak mampu membangkitkan lagi perusahaan ku yang sedang terpuruk, apa kau mengira aku datang kepada mu untuk mengemis dan minta bantuan mu. Kau benar-benar meremehkan aku Tari," kata Purboyo sinis


"Bukan begitu Ayah, aku hanya...."


"Kau pikir aku orang yang jahat hingga aku berusaha membunuhmu hanya untuk mendapatkan harta warisan mu, lalu setelah aku gagal mendapatkan semu itu, kini aku mendekati mu agar kau mau membantu memulihkan perusahaan ku yang hampir gulung tikar." ujar Purboyo


"Tidak begitu ayah, kau salah sangka,_"


"Aku tahu kau terlalu naif hingg tidak mungkin berpikir seperti itu, tapi asal kau tahu...harta kekayaan ayahmu yang kau miliki sekarang bukanlah miliknya. Harta itu sebenarnya adalah milikku dan juga Gareth, itulah alasannya kenapa kami ingin mengambilnya darimu. Jika kau tidak percaya pada ayahmu ini dan ingin tahu yang sebenarnya datanglah ke tempat ini," imbuh Purboyo memberikan sebuah kartu nama pada Tari.


Ia kemudian bergegas meninggalkan gadis itu.


"Ki Gendon???"


ucap Lingga tertegun melihat kartu nama yang diberikan oleh Tari.


"Iya, dia adalah seseorang yang tahu banyak tentang asal-usul kekayaan ayahku. Jadi aku harus bagaimana?" tanya Tari


"Temui dia, aku yakin kita akan tahu alasan kedua lelaki tua itu berhenti memperebutkan harta karun tuan Purnomo," jawab Lingga


"Tapi Lee...hari ini aku tidak bisa menemuinya, karena harus menemui Alvin,"


"Kalau begitu biar aku yang akan menemuinya, kau harus menemuinya karena ini urusan perusahaan bukan jadi jangan khawatir." sahut Lingga


"Tapi aku tidak bisa pergi sendirian menemuinya," ucap Tari berkaca-kaca


"Setelah dua tahun lebih kau masih belum lepas dariku Tari, apa kau benar-benar mencintai ku dan tidak bisa hidup tanpaku," ledek Lingga membuat Tari langsung memukulnya


"Dasar brengsek, beraninya kau meledekku seperti itu!" makinya seraya terus memukuli dada Lingga


"Iya ampun, ampun!!" tukas Lingga berusaha menghindarinya


"Baiklah aku menyerah. Aku akan mengantarmu menemui Alvin dan Aku pastikan kamu memiliki waktu 2 jam untuk berbicara empat mata dengannya, setelah itu Aku akan menjemputmu pulang. Apa kau puas bos?" ujar Lingga


"Dua jam itu cepat sekali, bagaimana kami bisa bermesraan jika kau hanya memberikan waktu kami 2 jam, ck, ck, ck. Kau tahu kan, jika kami tidak hanya membicarakan masalah perusahaan saja, tetapi kami juga ingin membicarakan masalah pribadi kami. Kau pasti tahu apa yang aku maksudkan bukan?" tanya Tari


"Iya Bos, kalau gitu suruh Alvin mengantarmu pulang," sahut Lingga kesal


"Tidak mau, aku maunya pulang sama kamu,"


"Dih dasar serakah!" cibir Lingga membuat Tari terkekeh mendengarnya


"Sekarang bersiaplah kita akan pulang cepat karena kau harus berkencan sambil bekerja setelah ini," tukas Lingga


"Ok Lee," sahut Tari mengedipkan matanya


**************


Jam dinding menunjukkan tujuh malam, Lingga duduk di beranda rumah menunggu Tari yang masih belum keluar dari kamarnya.


*Krieeet!!


Suara derit pintu membuat Lingga bangun dari duduknya dan terpukau melihat Tari yang terlihat begitu cantik malam itu.


"Alvin pasti bukan hanya seorang rekan bisnis biasa, sehingga membuat kau begitu mempesona malam ini," ucap Lingga


"Bukankah aku sudah bilang padamu jika aku dan Alvin sedang pedekate, apa kau cemburu?" tanya Tari menatap wajah Lingga membuat pemuda itu terlihat gugup.


"Ah iya, maaf aku lupa," jawabnya gugup


Kenapa aku bisa terlihat bodoh seperti ini,


"Kalau begitu ayo cepat kita jalan," ucap Lingga menarik lengan Tari


"Tunggu sebentar," tukas gadis itu memastikan sesuatu


"Ada apa lagi?" tanya Lingga penasaran


"Apa kau mendengar sesuatu," ucap Tari sembari mempertajam pendengarannya.


"Tidak ada suara atau bunyi-bunyian di tempat ini, jangan halu cepat kita pergi atau kau akan malu karena terlambat," tukas Lingga


"Bunyinya semakin kencang dan aku rasa ini berasal dari...." Tari menghentikan ucapannya dan melirik kearah Lingga


Saat gadis itu akan menyentuh dadanya, dengan cepat Lingga langsung menepis lengannya.


"Jangan macam-macam, sekarang bukan saatnya bercanda, kau harus cepat bergegas sebelum Alvin berubah pikiran karena kau terlambat menemuinya," ucap Lingga kemudian masuk kedalam mobilnya.


"Ah kau benar juga, lagipula mana mungkin Lee berdebar-debar hanya karena melihat ku." ucap Tari kemudian menyusulnya.


Lingga kemudian melesatkan mobilnya menuju sebuah kafe tempat Tari akan menemui rekan bisnisnya.


Sepanjang perjalanan Lingga yang biasanya berisik mendadak diam, membuat suasana menjadi hening. Tari yang kelelahan bekerja akhirnya tertidur selama perjalanan.


"Syukurlah dia tidak tahu jika itu adalah suara detak jantungku yang berdebar-debar saat melihat mu. Padahal aku sudah melihatmu setiap hari tapi entah kenapa jantungku selalu berdegup kencang saat melihat mu Tari." Lingga menoleh kearah gadis yang terlelap di samping.


Ia kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe yang tidak terlalu ramai.


"Bahkan kau tetap terlihat cantik meskipun sedang tertidur," ucapnya kemudian mengusap lembut rambutnya.


Ia menatap Alvin dari kejauhan yang sudah menunggu Tari di depan pintu masuk.


"Semoga kali ini kau berhasil mendapatkan seseorang yang bisa mencintai dan menyayangimu,"


"Apa kita sudah sampai?" tanya Tari


"Sudah satu jam yang lalu, tapi aku tidak tega membangunkan dirimu yang begitu kelelahan,' jawab Lingga


"Ah, kau ini... harusnya kau segera membangunkan aku begitu sampai," ucap Tari Kemudian mengambil cermin dan merapikan penampilannya.


"Bagaimana penampilan ku?" tanya Tari


"Kau terlihat sangat cantik, bahkan orang-orang tidak menyangka jika kau baru saja tertidur pulas hingga air liur mu menetes di jok mobilku," jawab Lingga menggelengkan kepalanya


"Benarkah, kenapa kau tidak bilang dari tadi!" seru gadis itu kemudian mengambil bedaknya dan memulas tipis wajahnya.


Tidak lupa ia juga menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.


"Bagaimana sekarang?"


"Kalau kau tidak percaya diri dengan penampilan mu mungkin kau bisa mengandalkan aku. Ingat aku dukun milenial terbaik di Indonesia jadi tidak ada masalah yang tidak bisa aku selesaikan dengan kesaktian supranatural ku. Katakan saja kau butuh pelat apa untuk menaklukkan hati si Alvin agar ia klepek-klepek melihatmu," ucap Lingga


"Dasar sombong, ingat aku tidak pernah percaya dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih percaya dengan kemampuanku sendiri jadi aku tidak butuh bantuan mu Lingga!" tandas Tari mendekatkan wajahnya kepada Lingga.


Lingga hanya menyunggingkan senyumnya saat gadis itu berlalu meninggalkannya.


"Dasar keras kepala, suatu saat kau pasti akan mempercayai hal-hal gaib itu Tari!" serunya membuat Tari melambaikan tangan kearahnya.


Lingga langsung memutar balik mobilnya setelah memastikan Tari masuk kedalam kafe bersama Alvin. Ia mengemudikan mobilnya mencari alamat Ki Gendon.


Satu jam kemudian pemuda itu sudah tiba di sebuah bangunan sederhana yang terlihat begitu asri karena terdapat banyak pepohonan di depan rumahnya.


"Selamat datang di kediaman ku anak muda," ucap seorang lelaki tua menyambutnya


"Kau pasti bukan orang sembarangan sehingga bisa tahu akan ada tamu datang ke rumahmu,"


"Jangan sungkan anak muda, meskipun kau lebih muda dari ku tapi kemampuan supranatural mu lebih mumpuni daripada diriku ini," sahut Ki Gendon


"Kau terlalu merendah Aki,"


"Silakan masuk, aku senang akhirnya ada seseorang yang bisa membantuku mengatasi masalah yang tidak bisa aku selesaikan selama hampir tiga puluh tahun," ucap Ki Gendon membuat Lingga tercengang mendengarnya


"Apa maksudmu Aki??"


"Sepertinya kaulah orang yang ku tunggu selama ini Lingga," jawab Ki Gendon membuat Lingga semakin terperanjat mendengarnya.