LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
51. Ritual



"Untuk bisa menjadi mitos kau harus melawan takdir Tari," ucap Gareth memulai ritualnya


"Hanya seorang bahu Laweyan yang bisa memikat hati para Iblis, untuk itu aku akan membuat tanda itu di tubuhmu,"


Gareth kemudian menyuruh Tari untuk mandi kembang di sebuah telaga.


"Sekarang mandilah, jika sudah selesai kita akan melanjutkan ritualnya,"


Dengan rasa takut Tari melangkahkan kakinya ke sendang itu. Sekujur tubuhnya mulai merasa kedinginan ketika ia mulai mencelupkan kakinya ke sendang itu.


Ia terus berjalan menuju tengah sendang meskipun dengan perasaan takut yang terus berkecamuk.


Aku tidak boleh takut, semuanya akan aku lakukan demi mu Lee,


Tari memantapkan hatinya, untuk mengusir rasa takutnya.


Saat ia mulai menggosok tubuhnya, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya.


Ia merasakan bulu kuduknya merinding dan segera melemparkan bunga tujuh rupa yang di bawahnya.


Seketika ia bisa melihat sosok tak kasat mata yang berebut mengambil bunga yang ia lemparkan. Tari buru-buru menyelesaikan mandinya dan segera keluar dari sendang itu.


"Aku sudah selesai mandi," ucapnya menghampiri Gareth.


Sekarang pakai baju yang sudah aku persiapkan dan bersoleklah secantik mungkin," sahut Gareth.


Tari mengangguk dan segera mengambil pakaian yang diberikan oleh Gareth.


Tiga puluh menit kemudian gadis itu keluar dari kamarnya, ia kemudian duduk di depan Gareth.


"Baiklah sekarang kita mulai, ingat Tari kau harus menahan sakit selama ritual ini. Kau harus bertahan dan tidak boleh mati, lawan semua rasa sakit itu dengan agar kau bisa kembali lagi hidup-hidup. Apa kau paham?" tukas Gareth.


"Hmmm," jawab Tari mengangguk pelan.


"Sekarang berbaringlah!"


Tari kemudian berbaring di sebuah tikar pandan. Kevin segera menutupi tubuh gadis itu dengan kain kafan, tidak lupa ia menaruh tiga piring kecil berisi bunga tujuh rupa di atas tubuh gadis itu.


"Semuanya sudah siap Tuan," ucap Kevin


Gareth kemudian memulai ritualnya dengan memotong ayam cemani dan menampung darahnya di sebuah mangkuk.


Ia kemudian memejamkan matanya sembari merapalkan mantera.


************


Ditempat berbeda Lingga bisa merasakan jika Tari sedang berada dalam bahaya.


Ia melihat gadis itu sedang di kejar-kejar oleh puluhan harimau.


Lingga berusaha menolongnya namun Harimau lain langsung menghadangnya.


"Terus lari Tari, jangan menoleh kebelakang!!" seru Lingga


*Wuuusshh!!


Tiba-tiba saat seekor harimau hendak menerkamnya seorang wanita segera menarik tubuh Lingga.


"Kau tidak boleh ada di sana Lee!" seru wanita itu


"Huft!!!" Lingga tersadar dan membuka matanya.


Dadanya terus bergemuruh seakan ia benar-benar mengalami kejadian itu bukan cuma mimpi.


"Tari, apa dia dalam bahaya?" ucapnya sembari mengatur nafasnya


Ia kemudian melihat catatan di dinding kamarnya.


"Ini baru hari ke tujuh, kenapa waktu terasa begitu lama jika kau tak ada di samping ku Tari," ucap pemuda itu lirih.


"Jaga dirimu dan tunggu aku Tari, aku pasti akan kembali untuk melindungi mu,"


*************


Tari terus berlari menghindari kejaran harimau yang ingin memangsanya.


"Awww," ia menghentikan langkahnya ketika kakinya menginjak sebuah duri.


Gadis itu segera mencabut duri itu dan kembali berlari tanpa menghiraukan rasa sakit yang menderanya.


Aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat.


*Wuuusshh!!


Tiba-tiba dari arah berlawanan seekor serigala menerkamnya dan dan berusaha mengigit lehernya.


Tari berusaha melawan serigala itu dengan segenap kemampuannya.


"Aaaarrrrggghhh!!!" gadis itu menjerit keras ketika harimau mengigit bahunya.


Ia mulai merasakan pandangannya gelap, rasa sakit di tubuhnya sudah hilang, hanya rasa dingin menusuk tubuhnya.


*Apa ini rasanya sakaratul maut.


Apa aku akan mati di sini???.


Jika itu benar, maka sambutlah aku Lee, aku ingin pergi ke alam baka bersamamu*.


Tiba-tiba Tari melihat seorang lelaki mengulurkan tangannya.


Ia tidak begitu jelas melihat wajah lelaki itu.


"Syukurlah kau sudah sadar, Tari?" ucap Kevin tersenyum padanya.


Tari perlahan bangun dan Kevin membantu gadis itu duduk.


"Awww, sakit sekali!" seru Tari memegangi punggungnya.


"Maaf boleh aku memeriksanya?" tanya Kevin


Tari mengangguk pelan dan Kevin kemudian memeriksa punggung gadis itu.


"Kau berhasil mendapatkan tanda itu," ucap Kevin


"Leher ku juga sakit," rengek Tari lagi


"Maaf boleh aku memeriksanya lagi?" tanya Kevin


"Lihatlah," jawab Tari


Kevin kemudian menyibak rambut Tari dan melihat bekas gigitan serigala.


"Luka bekas gigitan Serigala, kau sudah berhasil melakukan ritualnya Tari. Sekarang bersihkan tubuhmu," ucap lelaki itu


"Baiklah," jawab Tari kemudian beranjak dari ranjangnya.


"Kalau boleh tahu berapa lama aku terbaring di sana?" tanya gadis itu


"Tujuh hari tujuh malam, sama seperti jumlah bunga yang kau persembahkan," jawab Kevin kemudian pergi meninggalkan gadis itu.


Tidak lama kemudian Tari keluar dari kamarnya dan terkejut melihat Zeck ada di sana.


"Syukurlah kau sudah siuman sayang," ucap lelaki itu kemudian memeluknya.


"Kau tahu darimana aku sudah siuman?" tanya Tari membuat Zeck melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul padanya.


*Flashback tiga hari sebelumnya


"Tari sedang sakit, sudah tiga hari ia tidak bangun dari tidurnya, sepertinya ada yang sengaja menguna-guna gadis itu," ucap Gareth saat sarapan pagi


"Kenapa kau mengatakan ini padaku?" tanya Zeck


"Bukankah kau masih menyukainya, jadi tidak salah jika aku memberitahumu. Menurut ayah ini adalah kesempatan mu untuk merebut kembali hatinya. Apalagi Lingga sudah tidak kelihatan batang hidungnya, jadi kesempatan mu lebih banyak untuk memenangkan hatinya lagi," jawab Gareth


"Dimana dia sekarang?" tanya Zeck


"Di rumah sakit, harapan Bunda,"


Zeck kemudian mengakhiri sarapannya dan segera pergi meninggalkan rumahnya.


"Akhirnya aku berhasil juga membujuknya," ucap Gareth tersenyum penuh kemenangan.


Tidak lama kemudian Zeck kembali sembari menggendong Tari.


"Kenapa kau membawanya pulang?" tanya Gareth


"Ada orang jahat yang sengaja menjadikannya sebagai santapan para Iblis, aku harus menghentikannya." sahut Zeck kemudian membaringkan Tari di kamarnya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Gareth


"Ki Gendon yang memberitahu ku,"


Dasar Iblis, sekarang kebohongan mu sudah mulai terkuak.


"Kalau begitu biarkan ayah yang akan menolongnya, aku tahu kau tidak akan bisa menolongnya," ucap Gareth


"Tidak perlu, aku akan meminta bantuan Ki Gendon untuk menolongnya," sahut Zeck kemudian menutup pintu kamarnya.


"Aku akan menolong mu Tari, tunggulah sebentar," ucap Zeck mengusap lembut wajah gadis itu.


*Flashback off


"Aku harus berterima kasih kepada Om Garry karena sudah memberitahukan dirimu," ucap Tari


"Sarapan sudah siap Tuan muda," ucap Kevin menghampiri keduanya


"Sekarang lebih baik kita sarapan dulu, aku yakin kau pasti kelaparan setelah tujuh hari berpuasa," ucap Zeck menggandeng lengan Tari


Lelaki itu kemudian menarik sebuah kursi untuknya dan mempersilakannya duduk.


"Thanks,"


Zeck kemudian menuangkan makanan kedalam piring dan memberikannya kepada Tari.


"Makanlah yang banyak," ucapnya ramah


"Terimakasih," jawab Tari kemudian menyantap makanannya.


Zeck hanya tersenyum melihat Tari yang makan begitu lahap hingga menghabiskan tiga piring nasi.


Gadis itu hanya tersipu ketika Zeck terus menatapnya.


"Apa aku begitu rakus?" tanyanya malu-malu


Zeck hanya menggelengkan kepalanya.


"Tentu tidak, wajar saja kau makan begitu banyak karena aku tahu cacing-cacing diperut mu pasti sangat lapar setelah tujuh hari tidak makan. Makan yang banyak biar cepat pulih sayang," ucapnya sembari mengelus kepalanya.


Kenapa aku jadi teringat Lingga, biasanya Lee selalu bersikap romantis seperti ini padaku. Dimana kamu Lee, aku sangat merindukanmu.