
"Jika memang Lingga harus kalah dan mati demi aku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama untuk menyusulnya. Aku tidak bisa hidup bersama dengan lelaki yang sudah membunuh kekasihku, karena bukannya aku membawa kebahagiaan untuk mu melainkan aku akan terus menyakiti hati mu. Kau tidak mau bukan hidup dalam Neraka seperti itu, meskipun kau bilang bahagia hidup bersamaku meskipun aku tidak mencintaimu. Tapi aku tahu sebenarnya kau sangat terluka dan aku tidak mau membuat mu terluka untuk kedua kalinya. Jadi biarkan aku memilih jalanku sendiri karena cinta tidak bisa di paksakan Gordon," ucap Tari sendu
Entah kenapa rasanya dadaku terasa begitu sakit mendengar ucapan itu, bukan karena aku tidak menerima jika Tari tak mencintai ku. Tapi aku tidak tega melihatnya begitu sedih melihat Lingga yang sekarat. Aku memang tidak akan pernah bisa memiliki hatinya, tapi aku juga tidak bisa melihatnya bersedih karena keegoisan ku.
Zeck melihat Lingga yang mulai membuka matanya dan berusaha bangkit.
Ia menyunggingkan senyumnya ketika menatap rivalnya itu mencoba untuk bangun dan berdiri.
Jika aku memang harus pergi dari hidupmu selamanya, maka aku akan pergi setelah melihat senyuman mu. Aku ingin membuatmu bahagia meskipun hanya sekali saja.
Lelaki itu langsung bangun dan pedang pusakanya.
"Baiklah jika itu mau mu, tapi jangan salahkan aku jika aku harus membunuh kalian berdua. Karena aku tidak bisa melihat kau hidup bahagia bersamanya." ucap Gordon sembari matanya tak berkedip melihat pergerakan Lingga yang mulai mengambil tongkat saktinya.
"Hyaaaat!!" Lingga melompat dan menyerangnya dengan tongkat sakti Raja Iblis.
Inilah saatnya,
Zeck sengaja tak bergerak dari tempatnya agar Lingga bisa menancapkan tongkatnya tepat di punggungnya.
"Arrrrrghhh!!" Seketika tubuh Zeck limbung ke tanah setelah tongkat sakti Ratu Iblis menancap tepat di punggungnya. Disaat bersamaan pedang dalam genggamannya pun jatuh dari tangannya.
*Bruuugghh!!
*Prannggg!!!
Darah hitam keluar dari mulutnya dan tiba-tiba tubuhnya sedikit demi sedikit menghilang menjadi kepulan asap hitam.
"Sekarang kau bahagia Tari. Apa kau bahagia karena Iblis yang menghalangi hubungan mu dengan kekasih mu telah mati," ucap Zeck getir
"Jika kau benar-benar bahagia maka tersenyumlah, setidaknya hanya itu yang bisa membuat kematian ku tidak sia-sia Tari. Tersenyumlah untukku dan katakan jika kau bahagia sekarang," imbuhnya lagi.
Namun bukan senyuman Tari yang Zeck dapatkan, wanita itu justru menangis tersedu-sedu melihat kepergiannya.
"Jangan menangis Tari, kau tahu aku tidak bisa melihat mu bersedih!" ucap Gordon menatapnya lekat
"Tersenyumlah Tari, setidaknya itu yang bisa kau lakukan agar ia tenang di alamnya." ucap Lingga
Gadis itu kemudian tersenyum simpul menatap kepergian Zeck.
"Terimakasih sudah menolong ku Zeck, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu." ucap Tari sembari terisak.
"Aku harap, saat aku membuka mataku untuk kali kedua aku berharap dilahirkan sebagai seorang manusia agar aku bisa hidup bersama wanita yang aku cinta. Aku tidak mau menjadi Iblis yang hidup abadi namun kesepian karena hidup dalam kesendirian." ujar Zeck tersenyum melihat Tari terisak di pelukan Lingga.
"Kau harus menjaganya dengan baik dan jangan pernah menyakitinya Lee, karena jika aku mendengar dia bersedih karena mu, maka aku akan merebutnya darimu bagaimanapun Caranya," imbuhnya sebelum menghilang dari pandangan Tari dan Lingga.
**************
Satu bulan kemudian....
"Akhirnya aku jadi nikah juga, yeay!!!" seru Lingga
"Bye-bye Jomblo, sekarang gue punya gandengan," imbuhnya memeluk erat Tari
"Biasa aja keles!" seru Garra menghampiri keduanya
"Hubungan kami luar biasa Garra, jadi harus di rayakan dengan selebrasi yang meriah. Bukan begitu sayang?" sahut Lingga
"Diih lebay, btw selamat ya!" ucap Garra menyalaminya
"Thanks Garra, Tiwi, dan Kenan sudah datang ke pesta pernikahan aku, lope-lope all!" ucapnya sumringah.
"Btw silakan nikmati hidangannya, aku tinggal sebentar ya," imbuhnya lirih
"Dih gak sopan banget, masa temennya datang malah di tinggal!" cibir Tiwi
"Mohon pengertiannya guys, aku sudah gak tahan mau menikmati malam pertama kami, lagi pula sapa suruh datang kondangan malam-malam," jawab Lingga ketus
"Astoge Lingga, Lo gak sabaran amat bro. Sans aja masih banyak waktu kali buat menikmati malam pernikahan kalian," sahut Kenan
"Sudahlah, biarkan saja dia. Palingan baru masuk kamar kita ganggu dia untuk pamitan pulang," sela Garra
"Diih jahara, dasar gak pada peka!" ucap Lingga kesal, membuat semuanya tertawa mendengarnya.
"Baiklah, kalau gitu." imbuh Kenan
"Seriusan?" tanya Lingga berbinar-binar
"Yeh, puas Lo!" seru Tiwi
"Yoi, Tapi boong!!" ucapnya tertawa terbahak-bahak
"Maksud Lo?" tanya Kenan
"Mana mungkin gue ninggalin kalian hanya demi enak-enakan dengan Tari, tentu saja itu bukan sifat ku. Bagiku kedatangan kalian adalah kebahagiaan terbesar untukku," jawab Lingga
"Kenapa lo, sawan?" tanya Tiwi mengusap kening Lingga
"Sepertinya dia kerasukan, Kuy ambilkan segelas air putih!" tambah Tiwi
"Lo mau ngapain Wi?" tanya Lingga mengernyitkan keningnya
"Mau nyebur lo, biar demit yang merasuki Lo segera keluar dari tubuhmu." jawab Tiwi meneguk air pemberian Gara dan segera berkumur-kumur membuat Lingga menjauh darinya.
"Awas aja sampai Lo nyembur gue, atau ku kutuk bisulan tujuh hari tujuh malam mau!!" seru Lingga terus menjauh darinya
Namun Kenan dan Garra segera menangkapnya dan memegangnya hingga ia tidak dapat berkutik.
"Tari, tolong gue honey!!" seru Lingga ketakutan saat Tiwi semakin dekat kearahnya.
*Braakkk!!
*Gleekkk!!
"Kenapa Wi?" tanya Lingga ketika melihat wajah Tiwi merah padam.
"Airnya ketelen," ucapnya kecewa
"Sokor!!" seru Lingga terkekeh
"Btw, siapa yang menabrak mu Wi?" tanya Lingga
"Tuh!" Tiwi menunjuk seorang lelaki yang berjalan meninggalkan tempat itu.
*Grep!!
Lingga menarik pundak lelaki itu dan betapa terkejutnya ia ketika tahu siapa yang datang ke pesta pernikahannya.
"Daddy," ucapnya berkaca-kaca
"Selamat Lee, akhirnya kau menemukan belahan jiwamu." ucap Rangga tersenyum melihatnya
"Daddy, aku rindu," ucap Lingga berusaha memeluknya namun selalu saja gagal.
"Jangan rindu Le berat, biar dilan aja yang menanggungnya," jawab Rangga membuat Lingga terkekeh mendengarnya
"Sa ae Daddy, udah jadi demit masih aja sempat ngelawak," jawabnya lirih
"Btw kenapa Daddy datang menemui ku, pasti ada pesan penting untuk ku bukan??"
"Kok tahu,"
"Itukan biasa Dad, setiap orang yang sudah mati mendatangi anggota keluarganya pasti ada pesan yang mau disampaikan untuknya. Jadi katakan saja apa keinginan mu Dad," tanya Lingga
"Satu pesanku padamu Le, Ingat program pemerintah dua anak cukup jadi jangan banyak-banyak." ucap Rangga
"Sue!" sahut Lingga membuat Rangga tertawa
"Seorang ayah tidak tentu harus hadir di hari bahagia putranya, itulah alasanku datang kemari Lingga, semoga kau selalu bahagia putraku." Ucap Rangga kemudian menghilang dari pandangannya.
"Daddy..." ucap Lingga berkaca-kaca
********************TAMAT*******************