
"Apa itu peti harta Karun yang ayah cari selama ini," Putra berjalan mengendap-endap mendekati peti harta Karun yang di letakan di meja kerja Purboyo.
"Kaka, apa yang kau lakukan, bukankah ayah sudah melarang kita untuk mendekati peti itu," ujar Eva mengagetkan Putra
"Jangan berisik, aku hanya penasaran saja dengan peti ini, jadi kau tenang saja aku tidak akan mengambil isinya," jawab Putra menarik peti itu dan berusaha membukanya.
"Tapi kak, kata ayah kita tidak boleh mendekatinya apalagi membukanya," ucap Eva menarik lengan Putra agar tidak membuka peti itu.
"Asalkan kau tidak mengadu kepada ayah, semuanya akan baik-baik saja,"
"Tapi kata ayah kita tidak boleh mendekati peti itu apalagi membukanya karena berbahaya," imbuh Eva
"Jangan percaya tahayul," jawab Putra kemudian membuka engsel peti itu.
Ia terbelalak melihat isi kotak itu.
"Emas!" serunya mencoba meraih emas batangan di depannya.
Saat tangan lelaki itu akan menyentuh benda berkilau di depannya seekor ular berkepala manusia muncul dan langsung melilit dan melahapnya.
Eva yang ketakutan berusaha lari meninggalkan tempat itu, akan tetapi mahluk itu langsung mengibaskan ekornya hingga membuat wanita itu jatuh terhempas ke lantai.
"Tolong jangan bunuh aku !!" seru Eva menelungkupkan tangannya memohon ampun
"Aku tidak pernah bermaksud untuk membuka ataupun mengambil isi kotak itu," imbuhnya sembari berusaha menjauh darinya.
"Semua yang melihat harta Karun milikku harus mati," jawab mahluk itu kemudian menjulurkan lidahnya kearah Eva.
*Jraaassashhhh!!
Sebuah kilatan cahaya merah mengenai mahluk itu membuat mahluk itu langsung melepaskan Eva dari lilitannya.
*Bruuugghh!!
"Kau harus membayar apa yang sudah putrimu lakukan Ki sanak," ucap mahluk itu geram
"Langkahi dulu mayat ku jika kau ingin menyakiti keluarga ku," sahut Purboyo
"Karma tidak bisa kau tolak Ki sanak, itu sudah menjadi ketentuan bagi sipapun yang melihat isi peti harta Karun itu harus mati, atau dia harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya untuk menggantikan nyawanya," jawab mahluk itu
"Dasar mahluk laknat matilah kau!!" seru Purboyo menyerang mahluk itu dengan cincin saktinya, namun dengan cepat mahluk itu menggerakkan ekornya hingga lelaki itu terhempas menghantam perabot rumahnya.
*Braakkk!!!
"Kau pikir kau akan bisa mengalahkan aku dengan cincin itu," mahluk itu berjalan mendekati Purboyo dan melilitnya, kemudian melemparkannya hingga menghantam furniture rumahnya.
Eva yang ketakutan segera berlari meninggalkan rumahnya.
Wanita itu segera melesatkan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya.
*Ciiitt!!!
Eva menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Tari.
Ia segera berlari menemui Mentari.
"Kau harus menolong ku Tari, tolong selamatkan aku Tari," ucap Eva menggenggam erat jemari Tari
"Iya aku pasti akan menolong mu, tapi katakan dulu ada apa?" tanya Tari mencoba menenangkan Eva yang terus mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Minumlah dulu agar kau tenang," ujar Lingga memberikan segelas air putih padanya.
"Thanks Aryo," ucap Eva kemudian melepaskan Tari dan duduk di sofa.
"Katakan apa yang terjadi dengan mu?" tanya Tari
Wanita itu kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya, Putra dan juga ayahnya.
"Jadi begitu ceritanya Tari," ucap wanita itu gusar
"Peti harta Karun??, kau tidak pernah menceritakannya padaku Tari?" tanya Lingga
"Maafkan aku Lee, waktu itu aku hanya ingin melaksanakan amanat ayahku tanpa harus melibatkan dirimu. Karena aku hanya perlu mengembalikan peti itu pada pemiliknya jadi aku rasa aku bisa melakukannya sendiri,"
"Kalau menilik dari apa yang di ceritakan oleh Eva, tuan Purboyo bukan pemilik Peti itu, meskipun ada seseorang yang sudah menyerahkan benda itu padanya,"
"Apa Om Gareth pemiliknya?" tanya Tari
"Aku tidak tahu pasti Tari, kalau begitu aku akan melihat keadaan Tuan Purboyo. Kalian tetap di sini dan jangan ceritakan kejadian ini pada siapapun," ucap Lingga
"Baik," jawab keduanya kompak
Lingga kemudian bergegas menuju ke Istana Hades.
Setibanya di tempat itu ia segera berlari mencari keberadaan Purboyo.
"Apa kau baik-baik saja Tuan?" tanya Lingga menghampiri Purboyo
"Apa putriku baik-baik saja?" tanya lelaki itu
"Dia baik-baik saja, dimana mahluk itu?" jawab Lingga
"Dia sudah pergi," jawab Purboyo kemudian mencoba berdiri, Lingga segera membantu lelaki itu.
"Dimana peti harta Karun itu?" tanya Lingga lagi
Purboyo langsung menunjuk kearah peti yang tergeletak di meja kerjanya.
Lingga perlahan mendekati peti itu.
Ia mengamati secara detail peti itu.
"Jika ini adalah milik penguasa alam gaib pasti ada tanda atau sesuatu yang merupakan ciri khas yang menunjukkan siapa pemilik benda ini,"
"Sebenarnya siapa yang pertama kali menemukan benda ini?" tanya Lingga lagi
"Guru kami, Ki Gendon. Dia yang menemukannya dan langsung memberitahukan kepada aku dan Gareth untuk mengambilnya. Dia bahkan memberikan benda ini kepada kami dengan sukarela meskipun ia tahu isinya adalah emas," jawab Purboyo
"Kalau begitu biarkan aku yang menyimpan peti ini, aku akan mencari petunjuk siapa pemilik Peti ini sebenarnya."
"Silakan bawa saja, aku sudah tidak tertarik dengan isinya," sahut Purboyo
"Tidak bisa, peti ini adalah milikku dan Purboyo. Tapi jika kamu tidak mau memiliki benda ini berarti peti ini menjadi milikku bukan," ujar Gareth tiba-tiba menghampiri keduanya dan mengambil peti itu.
"Kau tidak bisa membawanya Garry, itu berbahaya, kau dan Zeck bisa mati." ucap Purboyo
"Tidak mungkin, kau tahu kan siapa aku. Tidak ada yang bisa menyentuh ku ataupun putraku di dunia ini, meski itu mahluk gaib sekalipun," jawab Gareth
"Kau salah Garry, kau harus memberikan tumbal jika menginginkan benda ini,"
"Itu hanya mitos saja Pur, aku sudah mendengar dari Purnomo jika ia sengaja mengusir istrinya karena yang sedang hamil karena putrinya akan menjadi tumbal pemilik Peti Harta Karun itu. Tapi sampai sekarang Tari masih bernafas, jadi maaf aku tidak percaya dengan ceritamu itu Pur," ucap Gareth
"Kau salah Garry, Tari selamat karena cincin sakti ini," sahut Purboyo
"Omong kosong," jawab Gareth kemudian membawa peti itu namun Purnomo langsung mengejarnya dan berusaha mengambil kembali peti itu darinya.
"Biarkan saja Tuan, biarkan dia membawa benda itu. Dia tidak tahu jika membawa peti itu berarti ia sedang menggali kuburannya sendiri." ujar Lingga menarik lengan Purboyo.
*************
Malam harinya Lingga bergegas mendatangi kediaman Ki Gendon. Seperti permintaan lelaki itu Lingga mendatanginya tepat saat malam bulan purnama.
"Ternyata kau benar-benar datang menepati janjimu Lingga," ucap lelaki itu menyambutnya
"Katakan padaku kenapa kau memberikan peti itu kepada murid mu, kenapa bukan kau tidak mau memiliki harta Karun itu?" tanya Lingga membuat lelaki itu menyeringai.
"Apa kau bermaksud menginterogasi ku?" tanyanya menyunggingkan senyum liciknya
"Apa kau sengaja memberikan peti itu kepada mereka untuk menjadikan keduanya sebagai tumbal?" tanya Lingga membuat Ki Gendon tertawa mendengarnya.
"Ternyata kau sangat pintar Lingga, karena kau sudah tahu semuanya maka kau harus menutup mulutmu rapat-rapat jika ingin wanita itu selamat," ujar Ki Gendon menyeringai
"Tari!!"