LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
26. Kau lebih berharga dari apapun



"Silakan masuk, aku senang akhirnya ada seseorang yang bisa membantuku mengatasi masalah yang tidak bisa aku selesaikan selama hampir tiga puluh tahun," ucap Ki Gendon membuat Lingga tercengang mendengarnya


"Apa maksudmu Aki??"


"Sepertinya kaulah orang yang ku tunggu selama ini Lingga," jawab Ki Gendon membuat Lingga semakin terperanjat mendengarnya


"Sudah lama aku menunggumu Lingga, akhirnya kau datang juga untuk menemui ku. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Kau datang untuk melindungi gadis itu dengan sukarela tanpa aku harus memaksamu,"


"Aku tidak mengerti apa maksudmu Aki?" tanya Lingga semakin penasaran


"Bukankah kau ingin tahu tentang kekayaan Purnomo, kau ingin tahu kenapa kedua muridku Purboyo dan Gareth ingin merebut harta tersebut dari putrinya. Dan kau penasaran kenapa mereka sekarang berhenti mengejar harta Karun yang sebenarnya memang untuk keduanya?"


Lingga mendengarkan dengan seksama penuturan Ki Gendon.


"Purnomo terlalu serakah menguasai harta Karun itu hingga ia harus menanggung resiko atas apa yang ia lakukan. Dia tergiur dengan isi peti itu hingga melepaskan benda berharga yang seharusnya bisa melindunginya dari kutukan sang pemilik harta Karun itu. Kau harus tahu alasannya kenapa Purboyo merawat Tari yang merupakan anak dari orang yang sangat ia benci. Purnomo bukan hanya merebut harta Karun darinya tapi juga wanita yang sangat ia cintai. Purboyo merawat Tari karena permintaan istri Purnomo yang berhasil melarikan diri dari rumah suaminya." tutur Ki Gendon


"Kenapa ia melarikan diri dari suaminya?" tanya Lingga


"Karena dia tahu putrinya harus menjadi tumbal untuk ditukar dengan harta kekayaan yang Purnomo ambil,"


"Kalau dia tumbal, kenapa sampai sekarang dia masih hidup?" tanya Lingga lagi


"Kau benar-benar pintar Lingga, tidak salah kau di juluki sebagai Sang dukun milenial," sahut Ki Gendon tertawa kecil


"Kenapa dia bisa hidup karena cincin sakti yang ada di tangan Purboyo, Purnomo mengetahui hal itu dan ia sengaja membuat istrinya meninggalkan dirinya dan menikah dengan Purboyo."


"Aku sudah melihat cincin itu dan aku tahu alasan Tuan Purnomo memberikan cincin itu pada Tuan Purboyo. Cincin sakti itu terlalu kuat dan haus akan darah, sehingga membuat pemiliknya harus menjadi monster yang haus darah," ujar Lingga


"Rupanya kau sudah tahu semuanya anak muda,"


"Apa karena mereka tahu harta Karun itu menginginkan tumbal membuat Tuan Purboyo dan Mr. G berhenti memburunya?" tanya Lingga


Ki Gendon menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menyeruput kopi hitam di depannya.


Lelaki itu menatap lekat kearah Lingga dan tersenyum padanya.


"Apa yang kau katakan tidak salah anak muda, untuk itulah aku meminta tolong padamu untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa aku selesaikan selama puluhan tahun." tukas Ki Gendon


"Kenapa harus aku?"


"Karena hanya kau yang bisa melakukan semuanya, kau memiliki dua tongkat sakti Raja dan Ratu Iblis jadi aku yakin kau mampu mengalahkan mahluk itu." jawab Ki Gendon


"Bkankah kau ingin melindungi gadis itu, jadi jika kau ingin menyelamatkan dia agar tidak menjadi tumbal sang pemilik harta Karun kau harus menghabisi mahluk itu," imbuhnya


"Siapa dia??"


Ki Gendon tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Lingga.


"Datanglah ke tempat ini lagi pada malam Purnama jika kau ingin menemuinya. Pastikan kau membunuh dia agar wanita yang kau cintai bisa selamat," bisik Ki Gendon


*******


Lingga berjalan pelan keluar dari kediaman Ki Gendon, pemuda itu terlihat gusar setelah mendengar semua penuturan lelaki itu.


Ia kemudian mengemudikan mobilnya untuk menjemput Tari.


Setibanya di kafe ia segera masuk ke dalam kafe untuk mencari keberadaan Tari.


"Dimana dia, apa dia sudah pulang?" ucapnya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.


"Apa dia sudah pulang," Lingga segera keluar dari kafe itu menuju ke mobilnya.


Tiba-tiba dari kejauhan Tari melambaikan tangan kearahnya.


Ia segera berlari menghampirinya.


"Darimana saja kau?" tanya Lingga


"Alvin mengajakku ke butik depan dia membelikan aku ini," jawan Tari menunjukkan sebuah tas branded padanya


"Apa kau senang?" tanya Lingga


"Sangat senang," jawab Tari tersenyum lebar padanya


"Syukurlah kalau kau senang, sekarang ayo kita pulang," Lingga berjalan meninggalkan Tari menuju ke parkiran mobil


"Dasar lelet," ia menyambangi gadis itu dan menarik lengannya


"Kau duluan saja, lagipula kenapa harus buru-buru sih," tolak Tari melepaskan tangan Lingga


Pemuda itu kemudian melihat Tari berjalan tertatih seperti sedang menahan sesuatu.


"Kalau kau tidak nyaman menggunakan sepatu high heels kenapa tidak melepaskannya," ujar Lingga menghentikan gadis itu.


Ia kemudian melepaskan sepatu Tari dan melihat kaki gadis itu yang lecet dan berdarah.


Lingga kemudian membalut luka di kaki Tari dengan sapu tangannya dan memakaikan kembali sepatu Tari.


"Bukankah itu sapu tangan mahal yang kau beli saat jalan-jalan ke Bandung, tapi kenapa kau memakai barang berharga milikmu hanya untuk membalut luka ku?" tanya Tari


"Tidak ada sesuatu yang lebih berharga bagiku selain dirimu. Karena kau lebih berharga dari apapun," jawab Lingga membuat Tari tersenyum bahagia.


Tidak ku sangka kau begitu romantis Lee, berbahagialah wanita yang akan menjadi istrimu kelak.


"Terimakasih Lee," ucap Tari kemudian berjalan menyusulnya


"Kembali kasih,"


*******


Setibanya di rumah, Tari segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu segera membaringkan tubuhnya keatas ranjangnya.


"Lingga, kenapa jantungku berdegup kencang saat kau memakaikan sepatu itu," ucap gadis itu menatap langit-langit kamarnya.


"Ah, tidak mungkin aku menyukainya, sudah ada Alvin yang akan mengisi kekosongan hatiku kini," ucap gadis itu kemudian memejamkan matanya


******


"Kenapa berisik sekali, memangnya ada apa ini?" tanya Lingga ketika mendapati banyak orang memasuki rumahnya.


"Hari ini aku ingin mengeluarkan barang-barang yang ada di gudang, karena aku akan tempat itu sebagai perpustakaan mini," jawab Tari


"Hati-hati, gudang tua yang tidak pernah di buka selama dua tahun bisa jadi sarang para hantu," bisik Lingga menakutinya


"Kalau begitu kau harus mengusirnya," jawab gadis itu


"Wani Piro," sahut Lingga menantangnya


"Berapapun yang kau minta aku pasti membayarnya," jawab Tari dengan sombongnya


"Baiklah Bos," Lingga Kemudian membuka pintu gudang itu.


Ia menatap sekeliling tempat itu dan memperhatikan satu persatu benda-benda yang ada di sana.


Tiba-tiba pemuda itu jatuh tak sadarkan diri membuat Tari segera berlari mendekatinya.


"Lee, kami kenapa Lee, bangun Lee...bangun!!" seru gadis itu menepuk-nepuk pipinya


"Akhirnya aku bertemu denganmu juga gadis kecilku, sudah lama aku mencari mu...dan sekarang saatnya kau harus membayar semuanya, bersiaplah menjadi pengantinku Tari...." ucap Lingga menyeringai membuat gadis itu ketakutan


"Siapa kau?" tanya Tari menjauhinya


"Aku...." Tidak lama kemudian Lingga berhasil menguasai dirinya.


"Sial," tukas Lingga memegangi kepalanya yang terasa berat


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lingga mendekati Tari yang ketakutan


"Siapa kau?" tanya Tari berusaha menjauh dari Lingga


"Aku Lee, Lingga. Kau tidak perlu takut lagi karena aku sudah mengusir mahluk yang ada di ruangan ini," jawab lelaki itu meyakinkannya


Tari segera berlari memeluknya erat, "Syukurlah kau kembali, aku takut sekali jika kau pergi meninggalkan aku," ucapnya gusar


"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, karena kau adalah segalanya bagiku,"