
"Apa kau mahluk berdarah campuran yang Lee ceritakan itu?" tanya Garra menjenguk Nilam Sari
"Benar, ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya gadis itu.
"Senang rasanya akhirnya aku bisa bertemu dengan mahluk yang sama seperti diriku. Kenalkan aku Garra sahabat Lee," ujar Garra mengulurkan tangannya
"Apa kau Garra sang Algojo Raja Kegelapan yang terkenal itu?" tanya Nilam Sari
"Itu dulu, sekarang aku hanyalah seorang manusia biasa saja karena kekuatan ku sudah melemah," sahut Garra
"Namaku Nilam Sari, maaf jika aku tidak menyambut mu dengan layak tuan Garra,"
"Tak perlu sungkan, lagipula kita sama-sama berdarah campuran. Mari kita berteman dan kita satukan kekuatan kita untuk mengembalikan Gordon ke alamnya," tukas Garra
"Deal," sahut Nilam menyangkut uluran tangan Garra.
"Berhenti mengejar ku dan pergi jauh-jauh dariku. Bahkan bila perlu bunuh dirimu agar aku tidak bisa melihat mu lagi," sahut Tari
"Baiklah jika itu mau menginginkannya, maka aku akan melakukannya dengan senang hati. Lihatlah baik-baik Tari, aku akan membunuh diriku di depanmu. Kau harus ingat Tari...aku melakukan semuanya karena aku ingin membuktikan jika aku benar-benar mencintai mu Tari," ucap Zeck kemudian mengambil sebuah belati dan mengarahkannya ke lehernya.
"Berhenti Bee, apa kau sudah gila!" seru seorang wanita menarik pisau dari tangan Zeck
"Aku tahu kau tergila-gila dengan mantan istrimu itu hingga mencampakkan aku kekasihmu yang telah bersamamu selama delapan tahun, tapi aku tidak mengira kau akan melakukan hal gila seperti ini. Ingat Bee...wanita bukan hanya dia saja, kau bisa mendapatkan yang lebih darinya. Jadi jangan lakukan hal-hal yang akan merugikan dirimu sendiri. Ingat masa depanmu masih panjang," celoteh Nadya
"Hentikan celotehan mu itu Nadya!" hardik Zeck meradang
"Cepat pergi dari hadapan ku atau aku akan membunuhmu!" ancam Zeck
"Cih, sekarang kau bahkan berani mengancam ku Zeck, apa kau benar-benar sudah menyingkirkan aku dari hidupmu sehingga kau bahkan tak mau mendengarkan aku lagi," sahut Nadya.
********
Lingga segera menghentikan mobilnya di depan Manalagi Restoran.
Ia segera berlari memasuki restoran itu, namun dua orang security langsung menghentikannya.
"Maaf Tuan, anda dilarang masuk," ucap salah seorang dari mereka
"Kenapa aku tidak boleh masuk, apa Zeck yang melarangnya?" tanya Lingga
"Tempat ini sudah di booking oleh seseorang dan siapapun dilarang masuk sampai acaranya selesai,"
"Dasar brengsek, awas saja jika sampai Tari terluka. Aku tidak akan membiarkan mu hidup," ujar Lingga
Kedua satpam itu kemudian mengusirnya.
"Aaaaa!!" Lingga menghentikan langkahnya ketika mendengar suara jeritan dari dalam restoran.
"Tari, aku harus menyelamatkannya," Lingga membalikkan badannya dan kembali berlari memasuki restoran.
Kali ini ia terpaksa melawan security yang terus menjegalnya.
"Maafkan aku, terpaksa melukai kalian," ujar Lingga kemudian meninggalkan kedua satpam itu yang dibuatnya tak sadarkan diri.
Ia segera berlari memasuki restoran.
"Tari!!" serunya sambil mencari-cari keberadaan Tari.
"Dimana dia," Lingga terus mengelilingi restoran itu tapi ia tidak menemukan Tari di sana.
Ia kemudian menemukan sebuah bercak darah di lantai.
"Darah ini masih segar berarti dia belum jauh dari tempat ini," Lingga segera berlari menuju keluar dari restoran.
"Sial!" makinya ketika melihat mobil Zeck sudah melesat meninggalkan parkiran hotel.
Lingga langsung melesat mengejar Zeck.
"Sial, kenapa cepat sekali!" Lingga sangat geram ketika kehilangan jejak Zeck.
Ia membanting stir mobilnya dan mendesah panjang.
Tiba-tiba Garra muncul dan membuka pintu mobilnya.
"Sudahlah, jangan panik. Aku yakin dia tidak akan mencelakai Tari."
"Tapi aku menemukan bercak darah di restoran itu aku takut terjadi sesuatu dengan Tari,"
"Bukankah kau bilang dia jatuh cinta dengan Tari, jika itu memang benar." tukas Garra
"Bagaimana kau bisa tahu semuanya tentang Gordon?" tanya Garra
"Aku tumbuh bersamanya di istana Raja Iblis karena aku adalah anak angkat penasihat agung kakak kandung dari Raja Iblis." sahut Nilam Sari
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Lingga
"Kita harus menemukannya, aku takut dia akan menjadikan Tari sebagai sandera untuk mendapatkan tongkat Raja Iblis darimu," jawab Nilam
"Kau benar Nilam, baiklah sekarang saatnya kita bergerak," sahut Garra
Ia dan Nilam kemudian segera masuk kedalam mobil.
"Aku akan melacak keberadaan Gordon, jadi tunggu sebentar," Nilam Sari memejamkan matanya dan memusatkan konsentrasinya.
Ia menggunakan mata batinnya untuk melacak keberadaan Gordon.
"Dimana dia?" tanya Lingga saat melihat Nilam Sari mulai membuka matanya.
"Dia ada di kediaman Ki Gendon," jawab Nilam Sari
"Baiklah kalau begitu kita harus segera menyusul mereka ke sana," Lingga segera melesatkan mobilnya menuju kediaman Ki Gendon.
Satu jam kemudian mereka sudah tiba di kediaman Ki Gendon.
Ketiganya saling bertatapan ketika merasakan sesuatu yang ganjil di rumah itu.
"Sepertinya ada yang tidak beres disini, suasananya begitu sepi dan udara malam ini terasa sangat dingin padahal sekarang musim panas," ucap Lingga
"Mereka sudah menduga kita akan datang untuk menyelamatkan Tari, sehingga mereka membuat sambutan yang tidak akan bisa kita lupakan seumur hidup," sahut Garra tersenyum kecut melihat sekelilingnya.
"Tetap waspada dan jangan lengah," sahut Nilam
Ketiganya kemudian turun dari mobil dengan hati-hati.
*Tak, tak, tak!!
"Bahkan suara derap langkah kakiku sendiri membuat ku merinding," ucap Lingga mengusap lehernya.
"Menyingkirlah dari hadapanku atau kalian akan aku hancurkan hingga menjadi debu!!" hardik Garra ketika merasakan ada sesuatu yang mulai keluar dari dalam tanah.
*Krek, krek, krek!!!
Tiba-tiba tanah yang mulai membelah seketika menutup kembali saat mendengar suara lantang Garra.
"Rupanya kau masih di takuti Garra, lihatlah para lelembut itu seketika menghilang setelah mendengar suaramu," puji Nilam Sari
"Aku tidak yakin Nilam, justru aku merasakan sesuatu yang ganjil di sini. Bagaimana bisa para lelembut itu menghilang pergi, padahal mereka tahu jika Garra sekarang adalah manusia biasa,"
"Kau benar Garra, aku yakin ini tipuan." imbuh Lingga
"Benar sekali setiap peperangan dalam dunia Kegelapan adalah tipuan, jadi tetaplah waspada," sahut Garra
"Tari!" seru Lingga saat melihat gadis itu berjalan keluar dari kediaman Ki Gendon
Ia segera bergegas menyusulnya.
Garra mempertajam pendengarannya.
"Dasar brengsek, kenapa kau begitu ceroboh Lingga," Garra segera mengambil berlari menyusul Lingga dan menghempaskan tendangan kearah mahluk gaib yang bermunculan dan menyerang Lingga.
Nilam Sari pun tidak tinggal diam ia segera melemparkan selendangnya dan melilit para demit itu.
"Bukankah sudah aku bilang waspada kenapa kau begitu ceroboh!" maki Garra
"Maafkan aku Garra, aku khilaf," sahut Lingga
"Dasar bedebah, sekarang gunakan tongkat sakti itu untuk melumpuhkan mereka!" tukas Garra
"Siap Bos," Lingga segera mengeluarkan tongkat sakti itu dan memukulkannya ketanah hingga semua lelembut seketika musnah terkena hempasan energi benda pusaka itu.
*Plok, plok, plok!!
"Sepertinya kekuatan benda pusaka itu tidak bisa di ragukan lagi, itulah alasannya kenapa aku harus merebutnya darimu Lingga. Aku bisa menjadi Raja Iblis berikutnya dan menguasai alam semesta jika aku memiliki tongkat sakti itu. Sekarang aku ingin kau menyerahkan benda itu baik-baik jika kau ingin kekasihmu selamat," ucap Zeck menyeringai
"Tari!" seru Lingga saat melihat Tari terbaring diatas sebuah altar pemujaan.
"Aku sudah memasang susuk seribu Jin dalam tubuhnya, jika ku tak ingin melihatnya mati maka serahkan senjata itu maka aku akan membebaskannya. Tapi jika kau tidak memberikan benda itu maka wanita yang kau cintai akan mati didepan mu Lingga,"