
*Flash back dua tahun sebelumnya
"Tari!" Zeck tersentak kaget melihat Tari ada di depan rumahnya
"Aku datang hanya untuk mengembalikan ponselmu yang tertinggal di pengadilan," Tari segera memberikan ponsel Zeck dan bergegas meninggalkannya.
Apa dia mendengar semuanya??.
Zeck termangu menatap kepergian Tari.
"Tari tunggu!" serunya kemudian berlari menyusulnya.
Namun usahanya sia-sia karena Tari segera memberhentikan sebuah taksi dan melesat meninggalkan tempat itu.
"Sial!" maki Zeck
Pemuda itu terlihat begitu gelisah setelah kepergian Tari.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, tidak masalah jika Tari mendengar semuanya, toh kalian sudah resmi bercerai jadi apa lagi yang di takutkan," ucap Gareth
"Tapi aku tidak mau berpisah dengannya ayah, sekarang aku sadar jika Tari adalah segalanya untukku. Hidupku mulai hampa semenjak kami tak lagi tinggal bersama, aku rasa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku tidak mau berpisah dengannya ayah, aku akan berusaha mati-matian untuk menggagalkan gugatan cerai Tari," sahut Zeck kemudian bergegas keluar dan menyusul Tari.
"Dasar anak muda, kenapa kau baru menyadarinya sekarang. Semoga kau tidak terlambat seperti ku Zeck."
Zeck menghentikan motornya di depan rumah Tari, ia segera masuk dan mencari wanita itu.
"Tari!!" serunya sembari memeriksa setiap ruangan di rumah itu.
"Dimana dia, apa mungkin Tari ada di kamarnya?" Zeck segera membuka pelan-pelan pintu kamar Tari.
"Apa itu!" pekiknya ketika melihat sesuatu yang bersinar dari bawah tempat tidur Tari. Lelaki itu menunduk dan melihatnya.
"Peti harta Karun, apa itu peti yang diperebutkan ayah dan Om Purboyo??" karena penasaran Zeck menarik peti itu dan membukanya.
Ia segera melempar kotak itu ketika melihat sosok menakutkan keluar dari dalam kotak itu.
"Akhirnya aku bisa keluar juga dari benda itu," tukas seorang lelaki mencoba menggerakkan kepalanya.
*Krek!
"Oh nikmatnya, akhirnya aku bisa merasakan segarnya udara bumi," Lelaki itu kemudian melirik kearah Zeck yang ketakutan melihatnya.
Ia berjalan mendekatinya dengan seringai de wajahnya membuat Zeck beringsut mu Dur menghindarinya.
"Terimakasih manusia bodoh, akhirnya aku menemukan seseorang yang bisa membebaskan diriku." ucapnya sembari mengulurkan tangannya
Zeck ragu-ragu untuk meraih lengan lelaki itu, ia begitu ketakutan melihatnya.
"Kau tidak perlu takut padaku anak muda, kau adalah penolongku jadi aku tidak akan mencelakai mu," jawab lelaki itu meyakinkannya
Zeck kemudian meraih lengannya, dan lelaki itu membantunya bangun.
Gordon begitu tercengang melihat sosok Zeck dan orang-orang di sekitarnya.
Ia tersenyum ketika melihat Tari dan Lingga ada dalam lingkup kehidupan Zeck.
Ternyata kau adalah orang yang dekat dengan pemilik tongkat sakti itu, aku akan menggunakan tubuhmu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku,
Saat lelaki itu berusaha merasuki tubuh Zeck tiba-tiba seorang wanita menariknya.
"Tidak akan ku biarkan kau mengacaukan dunia manusia lagi!" seru wanita itu
"Dasar bodoh, kau pikir bisa mengalahkan aku setelah aku keluar dari benda pusaka itu," jawab lelaki itu menyunggingkan senyum liciknya
Ia segera menepis lengan gadis itu dan melepaskan pukulan kearahnya hingga wanita itu jatuh terjerembab ke lantai.
Untuk sementara Zeck seperti terhipnotis menyaksikan dua mahluk gaib yang berseteru di depannya.
"Kau tidak bisa mengurung ku lagi Nilam, sekarang aku bebas!" seru lelaki itu melepaskan kilatan api kearahnya hingga wanita itu terbakar dan berusaha memadamkan api yang membakar tubuhnya.
"Sial, apa ya harus aku lakukan sekarang?" tukas Nilam Sari kebingungan.
*Flashback off
*Tak, tak, tak!!
Zeck berjalan mendekati Ki Gendon yang terus menjauh darinya.
"Aku sangat benci dengan orang-orang seperti dirimu yang selalu menginginkan sesuatu yang bukan milikmu, hingga membuat aku terpaksa harus keluar dari persembunyian ku," ucap Zeck mencekik leher Ki Gendon hingga lelaki itu kesulitan bernafas
"Kau lelaki tua yang serakah, tapi aku harus berterima kasih padamu, karena setidaknya kau sudah menyingkirkan Nilam Sari sehingga aku bisa bergerak bebas sekarang. Tapi karena kau sudah tahu siapa diriku maka aku harus membunuhmu, agar tidak seorangpun yang tahu jika Gordon sang putra Raja Iblis sudah berhasil keluar dari benda pusaka yang sudah mengurungnya selama ribuan tahun," Zeck semakin mencekiknya hingga Ki Gendon benar-benar tidak bisa bernafas
"Jangan bunuh aku Pangeran, tolong biarkan aku hidup setidaknya aku akan bersedia menjadi abdi setia mu jika kau membiarkan aku hidup," ucap Ki Gendon terbata-bata
"Apa yang bisa kau lakukan untuk ku keparat?" tanyanya dengan sorot mata menakutkan.
"Jika kau benar Gordon sang Pangeran Iblis, maka kemunculan mu di dunia ini untuk mengambil kembali tongkat sakti Raja Iblis yang sekarang menjadi milik seorang manusia. Jika itu benar maka aku bisa membantumu mendapatkan kembali benda pusaka milik ayahmu itu, karena aku tahu siapa pemiliknya," jawab Ki Gendon
"Walaupun aku sudah tahu siapa pemilik tongkat sakti itu, tapi tidak ada salahnya aku memberikan kesempatan kepada mu untuk membantu ku. Karena aku tahu orang seperti dirimu akan melakukan apapun untuk apa yang kau inginkan, bukan begitu?" sahut Zeck kemudian melepaskan cekikannya
"Huft!" Ki Gendon segera mengatur nafasnya
"Sekarang pergilah dan jangan pernah menganggu ku, kecuali kamu akan memberikan laporan padaku tentang pemilik tongkat sakti itu," ucap Zeck
"Baik Pangeran," Jawab Ki Gendon
"Jangan pernah memaanggil aku pangeran di depan orang-orang aku tidak mau lelaki itu mengetahui keberadaan ku,"
"Baik Pangeran," Ki Gendon kemudian berlalu pergi meninggalkan Zeck.
****""*********
"Apa jadwalku selanjutnya?"
"Hari ini anda tidak mempunyai jadwal lain setelah meeting direksi, jadi anda bisa istirahat sejenak atau pulang cepat," jawab Zoya
"Baiklah, terimakasih atas informasinya," jawab Tari kemudian membuka ponselnya.
"Apa tiket ini milik anda?" tanya Zoya
Tari hanya mengangguk pelan sembari membalas pesan di ponselnya.
"Kenapa kau tidak menontonnya saja, lagipula kau sudah senggang, jadi jangan sia-siakan kesempatan itu. Sesekali kau juga boleh menjadi wanita lajang yang bebas menikmati hidupmu," imbuhnya kemudian memberikan tiket itu pada Tari.
"Untuk apa aku hadir, lebih baik aku tidak melihatnya. Dia pasti akan mengira jika aku masih menyimpan rasa untuknya," Tari kemudian mencoba merobek tiket itu namun Lingga langsung merebutnya.
"Bagaimana jika kita pergi untuk menonton balapan ini bersama," ucap Lingga
"Aku tidak mau,"
"Jika kau memang sudah melupakannya maka kau harus datang untuk menontonnya, tunjukan padanya jika kau bisa hidup bahagia tanpa dirinya. Tapi jika kau bersikeras untuk tidak datang menontonnya itu membuktikan kau masih mencintainya, kau takut perasaan itu semakin tumbuh jika terus melihatnya bukan," ucap Lingga
"Kau benar Lee, baiklah kalau begitu kita pergi sekarang," ajak Tari
"Kuy," Lingga segera menggandeng lengan gadis itu dan mengajaknya pergi.
Setibanya di sana menyambutnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aku tahu kau pasti datang Tari," ucapnya kemudian mencium tangan gadis itu
"Aku datang ke sini bukan karena dirimu, tapi aku datang untuk menemani kekasihku yang sangat menyukai dunia balap," jawab Tari menarik lengannya dan kemudian tersenyum kearah Lingga
"Ayo sayang," ucap Tari menggenggam erat jemarinya membuat Zeck kebakaran jenggot.
"Sial,"