LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
42. Menunggu



Ribuan kunang-kunang berdatangan saat Zeck menebaskan tongkatnya kearah Lingga. Mereka seakan menjadi perisai bagi Lingga dan melindunginya dari serangan mematikan Zeck.


"Sial, lagi-lagi kau selalu ikut campur dalam urusan ku pangeran!" keluh Zeck saat melihat Barra melindungi Lingga dari serangannya.


"Apapun akan aku lakukan untuk melindungi putraku,"


Zeck yang kesal kemudian menghilang dari hadapan Barra.


"Om Barra!!" ucap Lingga tersenyum padanya


"Maafkan aku Lee karena tidak bisa merebut tongkat sakti itu dari tangan Gordon," ujar Barra


"Tidak masalah Om," Lingga mencoba bangkit dan Barra membantunya bangun.


Keduanya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


*************


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku pusing," Tari terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya.


"Daripada kau terus bingung memikirkan sesuatu yang tidak bisa kau pecahkan, lebih baik kau merekrut seorang negosiator baru untuk perusahaan kita. Kita perlu ide-ide baru agar kita bisa memenangkan tender lagi." tutur Zoya memasuki ruang kerja Tari


"Lakukan saja yang terbaik untuk kebaikan perusahaan. Aku juga akan berusaha semampuku untuk menyelamatkan perusahaan ini," sahut Tari


"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Zoya


"Entahlah, mungkin aku akan mencoba melobi perusahaan rekanan agar memberikan kelonggaran waktu untuk melunasi denda yang harus kita bayarkan karena kalah tender," jawabnya lirih


"Apa aku perlu menemanimu?" tanya Zoya menawarkan diri


"Tidak perlu kau fokuskan saja untuk menyeleksi negosiator baru itu," Tari kemudian mengambil tas kecilnya kemudian berlalu pergi.


Gadis itu kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Tari kemudian memarkirkan mobilnya di depan sebuah perkantoran elite.


"Ada apa kau ingin menemui ku Tari?" tanya seorang pria menghampirinya


"Aku ingin membicarakan tentang pembayaran denda," ucapnya hati-hati


"Apa kau ingin membayar denda itu, jika tidak maaf aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu," jawabnya acuh


"Tentu saja aku akan membayarnya, tapi tentu saja aku mohon kelonggaran waktu untuk melunasinya. Karena kami sedang mengalami kesulitan keuangan,"


"Maaf aku harus menghadiri rapat direksi, jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan," jawab Lelaki itu


"Jadi kau benar-benar tidak mau memberikan kelonggaran pada kami,"


"Kau sudah tahu jawabannya jadi untuk apa lagi bertanya Tari,"


"Baiklah kalau begitu," Tari segera beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu


Tari menghela nafas panjang dan kembali meluncurkan mobilnya menuju perusahaan berikutnya.


"Semoga kali ini berhasil, semangat!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri


Lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena mendapatkan perlakuan yang sama dengan perusahaan sebelumnya. Akan tetapi gadis itu tidak patah semangat ia terus mendatangi semua perusahaan yang ada dalam daftar listnya.


"Ya Allah kenapa tidak satupun dari perusahaan itu yang mau memberikan kelonggaran padaku, padahal perusahaan ku sudah banyak membantu mereka. Dasar brengsek!!" makinya kemudian melemparkan sepatu yang di pakainya kearah perusahaan terakhir yang terakhir ia datangi.


*Buuggghhh!!


"O...o..o!!" Tari segera mempercepat langkahnya menuju ke mobilnya.


"Sepertinya ada yang kehilangan sepatunya?" sindir seseorang menghampirinya sembari melirik kearah kakinya.


"Apa kau sampai semarah itu Tari hingga, menyamakan seseorang dengan binatang?"


Tari langsung menatap lekat lelaki itu.


"Kenapa kau menatapku?, apa kau tergoda dengan ketampanan ku?" tanya pemuda itu salah tingkah


"Sepertinya wajahmu sangat familiar?" Tari berusaha mengingat seseorang yang ada dalam benaknya


"Apa kau mengenalku?" tanya lelaki itu


Tari hanya mengangkat bahu kemudian merebut sepatu yang ada dalam genggaman tangan lelaki itu.


"Kau memang tidak pernah mengingat nama ku Tari, walaupun selama tiga tahun kita berada di kelas yang sama bahkan kau duduk tepat di depanku," ucap lelaki itu


"Tidak mungkin..apa kau Kenan?" ucapnya sembari memelototi pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki


"Benar kau Kenan," ucapnya kemudian memukul dada lelaki itu


"Ternyata kau masih mengenaliku Tari," ucap laki-laki itu tersenyum padanya.


"Tidak ku sangka kau sekarang berubah menjadi lelaki macho, padahal dulu kau sangat cupu," ujar Tari


"Kau memang selalu bisa membuat ku melambung tinggi ke awan setelah itu pasti kau akan membantingnya bukan?"


"Dih suudzon, btw ada urusan apa kamu datang ke sini?" tanya Tari


"Kebetulan aku ada perlu dengan pemilik perusahaan ini,"


"Kau tampak seperti seorang pengusaha muda sukses, aku benar-benar menyesal karena pernah menolak cintamu," goda Tari


Kenan tertawa kecil mendengar celotehan Tari dan kemudian memberikan sebuah kartu nama padanya.


"Maaf jika aku tadi sedikit menguping pembicaraan mu dengan CEO Perusahaan itu, kalau perusahaan mu sedang mengalami kesulitan keuangan kau bisa meminta bantuan ku." ucap Kenan membuat Tari tercengang


"Ah, aku jadi enak mendengarnya," ucap Tari menggaruk-garuk kepalanya.


"Purnomo Corporindo adalah salah satu rekan bisnis perusahaan kami, sudah sejak lama ayahku dan tuan Purnomo bekerjasama jadi sudah sewajarnya kami akan membantu rekan bisnis kami saat sedang collapse


Apalagi ayahku dan almarhum Tuan Purnomo juga adalah teman baik. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan ku Tari,"


"Thanks Ken, aku sangat senang menerima bantuan dari mu. Tapi tentu saja aku juga harus meminta persetujuan orang kepercayaan ku untuk masalah ini. Baiklah aku pasti akan mempertimbangkan bantuan mu, jadi jangan pernah jauh-jauh dari hp mu. Karena aku akan menghubungi mu, stay tune!" seru Tari tersenyum riang.


***********


"Kenapa kau tidak membunuh Lingga selagi ada kesempatan. Ingat dia adalah seekor macan yang siap menerkam anda kapanpun dia mau," ucap Ki Gendon


"Tentu saja seekor macan yang sudah kehilangan taringnya sudah tidak bisa berburu lagi. Aku hanya ingin memberikan kesempatan kepada macan lemah itu untuk memanfaatkan kuku-kukunya yang tajam untuk menerkam mangsanya," jawab Zeck


"Apa maksudmu Pangeran?" tanya Ki Gendon


"Aku dengar selain memiliki tongkat sakti milik ayahku dia juga memiliki Tongkat sakti milik Ratu Iblis. Aku penasaran kenapa selama ini ia tidak pernah mengeluarkan tongkat milik Ratu Iblis,"


"Apa itu alasan anda membiarkannya hidup?"


"Tentu saja, dengan kedua benda sakti itu di tanganku aku akan menjadi satu-satunya mahluk terkuat di alam semesta ini dan aku bisa menguasainya dengan mudah. Untuk itulah sementara waktu kita jangan mengusiknya lagi. Aku yakin setelah kehilangan tongkat sakti Raja Iblis ia akan menggunakan tongkat sakti Ratu Iblis jika ia sedang terancam,"


"Lalu bagaimana kau bisa membuatnya terancam, jika tidak mengusiknya?" tanya Ki Gendon


"Banyak jalan menuju Roma, aku tidak perlu menggunakan tangan ku untuk membuatnya terancam tapi kita gunakan seseorang yang juga membencinya. Karena ada pepatah yang mengatakan jika musuh dari musuh mu adalah teman mu." jelas Zeck


"Lalu siapa orang itu?" tanya Ki Gendon penasaran


"Musuh terbesar dalam hidup kita adalah orang terdekat kita, jadi aku yakin orang itu ada di dekatnya. Kita hanya tinggal menunggu kapan waktunya ia akan menunjukkan siapa wajah sebenarnya?"