
Lingga terus menatap cincin itu, "Apa benar cincin ini bisa membantuku mengalahkan Ki Gendon?"
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Lee?" tanya Tari duduk disampingnya
"Sepertinya aku harus mengambil kembali peti harta Karun itu dari Ki Gendon, karena berbahaya jika sebuah benda pusaka di miliki oleh orang jahat seperti dia," jawab Lingga
"Tapi aku tidak mau kau celaka," ujar gadis itu khawatir
"Tentu saja aku itu tidak akan pernah terjadi,"
*************
"Akhirnya aku berhasil mendapatkan benda pusaka ini juga," Ki Gendon begitu bahagia melihat benda sebuah benda pusaka di hadapannya.
Ia kemudian mencoba meraih keris itu namun sayangnya saat ia akan menyentuhnya ia terpental seolah ada kekuatan gaib yang menghalanginya.
"Sial, bagaimana mungkin aku tidak bisa menyentuhnya!" Ki Gendon berusaha meraih benda itu lagi menggunakan kekuatannya namun tetap saja ia tidak berhasil mengangkat benda pusaka itu.
"Hah!!" pekiknya sembari melemparkan apa saja yang ada dihadapannya untuk melupakan kekesalannya.
"Aku harus mencari cara agar bisa menggunakan benda tersebut,"
*********
Sementara itu di kediaman Tari.
"Bukankah hari ini hari libur, kenapa kau berpakaian rapi seperti itu?" tanya Lingga
"Hmmm, aku mau pergi kencan hari ini. Kebetulan setelah aku jadian dengan Al kami belum sempat jalan berdua karena aku harus menjagamu di rumah sakit," jawab Tari
"Jadi kalian sudah jadian tanpa sepengetahuan ku,"
"Itu karena ...."
"Syukurlah, aku lega mendengarnya setidaknya sekarang kau sudah menemukan seseorang yang menyayangimu, pergilah pasti Al sudah menunggu mu,"
"Terimakasih Lee, aku kira kau akan marah karena aku tidak memberitahukan mu tentang masalah ini."
"Tentu saja aku tidak akan marah padamu, hanya kesal saja bagaimana bisa kau jadian saat aku sedang sekarat di rumah sakit, benar-benar tidak berperasaan, ck, ck, ck!"
"Bukankah kau tadi bersyukur dan lega karena aku sudah menemukan lelaki yang menyayangiku, kenapa sekarang kau jadi kesal seperti ini, kalau tahu begini menyesal aku memberitahukannya padamu," sahut Tari mencebikkan bibirnya
"Dasar baperan, tentu saja gue bercanda Tari," tukas Lingga mengacak-acak rambut gadis itu.
"Dih gitu, bercandanya gak lucu, garing tahu!" cibir Tari
"Kalau lucu kan kasian tuh para komedian tar mereka merasa tersaingi lagi dengan kehadiran ku. Sudahlah jangan cemberut tambah jelek nanti. Sekarang senyum ya," Lingga menarik ujung bibir Tari menggunakan telunjuknya.
"Nah, kalau senyum gini kan lumayan manis, sekarang pergilah dan selamat bersenang-senang," tukas Lingga
"Bagaimana penampilan ku hari ini?" tanya Tari
"Kau selalu terlihat cantik dimataku apapun keadaannya, bagiku kau adalah wanita tercantik yang ada di dunia ini," jawab Lingga menatap lekat kearahnya membuat gadis itu seketika merasa canggung dan salah tingkah.
"Gombal," sahut Tari kemudian berlalu meninggalkannya
"Seandainya saja aku berani menggombali dirimu, pasti sudah ku lakukan setiap hari. Entah kenapa lidahku seketika kelu hingga aku tidak bisa berkata apapun saat menatap wajah Ayumu, bahkan aku tidak berani mengungkapkan perasaan ku padamu Tari," ujar Lingga sendu
Maafkan aku Lee, bukannya aku tidak peka terhadap perasaan mu. Aku punya prinsip yang tidak bisa aku langgar,
Tari menghela nafas berat kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan rumahnya.
"Hari ini kau nampak begitu cantik Tari, kau benar-benar mengalihkan duniaku, sampai aku tidak bisa berkedip dan ingin terus menatap mu," puji Alvin
"Dih gombal," cibir Tari
"Aku tidak bohong Tari, aku benar-benar seperti tersihir melihat kecantikan mu hari ini," jawab Alvin
"Terimakasih Al, kau juga sangat tampan hari ini,"
"Kau benar-benar pandai membuat hatiku berbunga-bunga Tari. Rasanya aku ingin secepatnya menikahi mu, aku takut kau akan berpaling dari ku dan meninggalkan aku,"
"Ish, jangan ngomong sembarangan,"
Tari segera masuk kedalam mobil, dan diikuti oleh Alvin.
"Kau tahu Tari, aku begitu bahagia saat kau menerima cintaku dan bersedia menjadi kekasihku. Aku pikir saat itu aku benar-benar menjadi lelaki paling bahagia di dunia ini karena bisa mendapatkan wanita cantik dan pintar seperti dirimu. Meskipun aku sempat ragu dengan perasaan mu padaku, aku berusaha menepisnya. Aku selalu meyakinkan diriku jika kau juga memiliki perasaan yang sama seperti perasaan ku padamu. Bukankah begitu Tari?"
"Kenapa kau harus bertanya seperti itu Al?" tanya Tari
"Maafkan aku Tar, aku hanya merasa sepertinya kau tidak mencintai ku, aku bisa melihat itu dari matamu Tari. Katakan jika itu tidak benar Tari?" jawab Alvin
"Jika aku tidak mencintaimu kenapa aku mau menjadi kekasihmu, kenapa aku harus menerima cinta lelaki yang tidak aku cintai jika itu hanya akan membuat aku tersiksa menjalani hubungan ini. Setidaknya aku sudah berusaha untuk menerima mu, dan juga membuka hatiku untukmu. Jadi aku mohon bantu aku agar benih-benih cinta di hatiku bisa tumbuh subur dan bermekaran seperti harapanmu Al. Jadi please jangan bahas itu lagi," ujar Tari menggenggam jemari Alvin
"Maafkan aku Tari, aku terlalu posesif hingga tidak bisa berpikir jernih tadi. Baiklah aku janji tidak akan membahas hal itu lagi, sekarang saatnya kita menikmati saat-saat menyenangkan sebagai sepasang kekasih bukan?" Alvin menghentikan mobilnya dan kemudian membukakan pintu untuk Tari.
Ia mengajak gadis itu ke sebuah tempat pariwisata untuk menikmati pemandangan alam.
"Wah indah sekali, bagaimana kalau kita berswafoto dulu sebelum menikmati wahana permainan di tempat ini?" tanya Alvin
"Setuju," Tari langsung memasang wajah ceria saat Alvin mulai memotretnya.
"Kita foto berdua sekarang," Alvin segera menghampiri gadis itu dan berfoto bersama.
Dia adalah milikku, tidak boleh ada yang seorangpun yang boleh memilikinya selain diriku,
Seorang lelaki terus memperhatikan keduanya dari kejauhan.
"Kau pasti haus kan, tunggu disini aku akan membawakan minuman dingin untuk mu," tukas Alvin mengusap lembut rambut Tari
"Makasih ya Al, kamu benar-benar pengertian banget,"
"Panggil aku sayang dong biar kedengaran mesra," bisik Alvin
"Ok sayang," jawab Tari mengedipkan matanya
Alvin tampak berseri-seri mendengar Tari memanggilnya sayang.
"Tunggu sebentar jangan kemana-mana sayang, aku akan kembali lima menit lagi," Alvin kemudian berlari meninggalkan Tari
Ia segera membeli dua buah minuman dingin dan membayarnya.
"Jangan berharap kau bisa memiliki Tari, karena dia adalah milikku," ucap seorang lelaki menghadangnya
"Jangan bercanda memangnya kau siapa, hingga mengancamku seperti itu," sahut Alvin
Lelaki itu kemudian membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Kau!!" seru Alvin tercengang melihat sosok di hadapannya.
"Aku tidak bisa membiarkan siapapun mendekatinya, jadi kau harus aku singkirkan untuk Selama-lamanya agar tidak menjadi benalu bagi hubungan ku dengan Tari," Lelaki itu kemudian menghunuskan pisaunya kepada Alvin hingga ia jatuh terkulai bersimbah darah di tanah..