LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
39. Finally



"Hentikan celotehan mu itu Nadya!" hardik Zeck meradang


"Cepat pergi dari hadapan ku atau aku akan membunuhmu!" ancam Zeck


"Cih, sekarang kau bahkan berani mengancam ku Zeck, apa kau benar-benar sudah menyingkirkan aku dari hidupmu sehingga kau bahkan tak mau mendengarkan aku lagi," sahut Nadya.


"Pergi dan jangan pernah memancing emosiku Nadya!" hardiknya sembari merebut paksa pisau dari tangannya hingga melukai telapak tangan Nadya.


"Aaaaa!!" seru gadis itu kesakitan namun Zeck segera membungkamnya.


"Tari!!" terdengar suara teriakan Lingga.


"Dasar bajing*n itu," gerutu Zeck kemudian menarik Tari yang berusaha kabur.


Zeck segera menyeret kedua wanita itu pergi ketika melihat Lingga berusaha menerobos masuk kedalam restoran.


*************


"Tari!" seru Lingga terbelalak kaget saat melihat Tari terbaring diatas sebuah altar pemujaan.


"Aku sudah memasang susuk seribu Jin dalam tubuhnya, jika ku tak ingin melihatnya mati maka serahkan senjata itu maka aku akan membebaskannya. Tapi jika kau tidak memberikan benda itu maka wanita yang kau cintai akan mati didepan mu Lingga," ujar Zeck


"Dugaan mu benar Nilam, bedebah itu menggunakan cara licik untuk mendapatkan tongkat sakti itu," sahut Garra


"Sekarang terserah padamu Lee, kau harus membuat keputusan yang tepat agar tidak menyesal seumur hidupmu," ucap Nilam


"Baiklah Lingga, aku tidak mau membuang-buang waktu cepat berikan tongkat itu atau aku akan membunuhnya!" seru Zeck


"Aku tidak akan memberikan tongkat ini padamu, seperti amanah ayahku aku harus menjaganya sampai akhir hidupku." sahut Lingga


"Kau membuat keputusan yang tepat Lee," ujar Nilam Sari


"Baiklah kalau begitu aku akan membunuh Tari agar kau menyesali keputusan mu itu," jawab Zeck memprovokasinya


Maafkan aku Tari, bukan maksudku lebih mengutamakan benda pusaka itu daripada dirimu. Tapi semua ini aku lakukan agar Zeck tidak akan pernah menjadikan dirimu sebagai umpan lagi. Aku tidak mau menyeret mu dalam bahaya lagi karena ia tahu kau adalah kelemahan terbesarku.


"Lakukanlah Aki!" seru Zeck penuh semangat.


Ki Gendon segera menuju altar pemujaan dan memulai ritualnya.


Namun secepat kilat Nilam Sari melesatkan selendangnya hingga mencekik leher Ki Gendon dan menariknya keluar dari altar pemujaan.


"Sekarang saatnya kita habisin buronan itu Lee," tukas Garra menyeringai.


Lelaki itu kemudian mendekati Zeck dan menyerangnya.


Sementara itu Lingga segera berlari kearah Tari untuk membebaskannya dari jerat santet seribu jin.


"Bertahanlah Tari, sebentar lagi aku akan membebaskan mu dari jerat santet itu," Lingga segera memeriksa tubuh gadis itu dengan seksama.


"Dimana Ki Gendon memasang santetnya, kenapa susah sekali di deteksi," Lingga kemudian memejamkan matanya untuk membuka mata batinnya.


Tiba-tiba ia sudah berada diantara ribuan Jin yang berdiri mengelilinginya.


"Tolong aku Lee!" seru Tari ketakutan saat beberapa mahluk gaib bersiap menebaskan pedang kearahnya.


"Sial, ternyata ini bukan santet tapi mereka sengaja menjebak ku ke alam gaib agar aku tidak bisa menggunakan tongkat sakti ini. Persetan dengan semua itu, aku tidak akan gentar atau takut menghadapi para lelembut itu," Lingga kemudian melesat menyerang para demit itu dengan sekuat tenaga.


"Aku pernah menyelamatkan Garra ke negeri Iblis yang tidak bisa di jamah oleh manusia. Jadi aku yakin aku bisa mengalahkan mereka semua dan menyelamatkan Tari," Lingga menguatkan dirinya untuk tetap bersemangat melawan para lelembut itu


"Buuggghhh!!"


Lingga jatuh tersungkur setelah terkena sebuah tendangan keras dari sesosok lelembut. Saat ia sudah tak berdaya dan kehabisan tenaga sosok mahluk gaib yang lain mendekatinya.


Ia bersiap mengayunkan pedang kearahnya.


Sementara itu di kediaman Ki Gendon Nilam Sari yang menyadari jika Lingga sudah tidak berada dalam tubuhnya segera mencecar Ki Gendon untuk memberitahukan keberadaan Lingga.


"Katakan dimana Lingga!" cecaranya sembari mengalungkan keris di leher lelaki tua itu.


Ki Gendon seakan tahu kegelisahan hati Nyai Nilam Sari, ia tersenyum sinis menatap wanita ayu itu yang bersiap menghabisi nyawanya.


"Katakan saja dimana dia, dan banyak omong jika kau masih ingin hidup Aku," ancam Nilam Sari menggores leher lelaki itu dengan keris pusakanya.


Ki Gendon seketika pucat pasi saat darah segar menetes dari lehernya.


"Dia ... di...dia ada di negeri para Jin untuk menyelamatkan Tari," jawabnya gagap


Nilam Sari segera mendorong lelaki itu dan menghilang menyusul Lingga.


"Oh, hampir saja aku kehilangan nyawaku," ucap Ki Gendon memegangi lehernya yang terluka.


"Kenapa kau begitu bodoh Nyai, hingga meninggalkan mereka berdua, kau tidak tahu jika aku akan menghabisi ke duanya dengan tanganku ketika ada kesempatan. Karena kesempatan tidak datang dua kali," Ki Gendon mengambil sebuah belati dari altar pemujaan dan bersiap menusukkannya kearah Lingga.


"Aku akan menghabisi mu duluan Lee agar aku bisa mengambil tongkat sakti itu dari tubuhmu,"


"Selamat Tinggal Lingga!" serunya sembari menusukkan belati ke tubuh pemuda itu.


*Grep!!!


Kedua bola mata lelaki tua itu membulat ketika tangan kekar Lingga menahannya.


"Kau, bagaimana kau bisa kembali dari Neraka itu!" pekiknya


"Jangan pernah meremehkan aku Aki," sahut Lingga kemudian melesatkan pukulannya ke wajah Ki Gendon.


Ia segera bangkit dan menarik lelaki tua itu dan kembali memukulinya tanpa ampun.


"Sekali lagi kau berani menyentuhnya, aku tidak akan membiarkan mu hidup," ancamnya kemudian mendorongnya hingga ia terjerembab ke tanah.


Lingga segera mengusap wajah Tari, "Bangunlah Tari," ucapnya lirih


Tari perlahan membuka matanya dan segera memeluknya erat.


"Jangan pernah meninggalkan aku lagi Lee, aku takut," ucapnya sendu


"Jangan takut Tari, aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi," sahut Lingga mengusap lembut rambutnya.


*Bruuugghh!!!


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh membuat Lingga tersentak kaget dan segera melepaskan pelukannya. Ia segera berdiri dan melihat apa yang terjadi.


"Aarrgghhh!!" Garra mengeram kesakitan ketika Zeck menebaskan pedang ke punggungnya.


"Tetaplah disini, aku harus menolongnya," tukas Lingga


Tari mengangguk pelan dan segera menyingkir darinya. Lingga segera berlari dan menyerang Zeck dengan tongkat saktinya.


"Kau pikir bisa mengalahkan aku bocah!" seru Zeck mengejeknya


*Wuuusshh!!!


Sebuah selendang melesat dan mengikat tangan dan kaki Zeck, membuat lelaki itu semakin berang.


"Nilam Sari!!!" serunya geram


"Cepat bunuh dia dengan tongkat sakti itu Lee!!" teriak Nilam Sari


Lingga mengangguk dan segera melompat menebaskan tongkatnya kearah Zeck hingga darah segar mengucur dari kepalanya.


*Bruuugghh!!!


Seketika tubuh Zeck jatuh lunglai ke tanah.


Lingga tersenyum lebar menatap Nilam Sari dan Garra.


"Terimakasih teman-teman,"


"