LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
32. Topeng



"Apa yang terjadi Tari?" tanya Lingga menghampiri gadis itu yang duduk terdiam menatap mayat Alvin yang terbujur kaku di depannya.


Tari langsung memeluk Lingga dan menangis tersedu-sedu.


"Alvin meninggal karena aku Lee, seandainya saja aku tidak mengajaknya berkencan hari ini mungkin dia tidak akan mati, hiks!" ucapnya sembari terisak


"Hidup dan mati seseorang sudah di gariskan oleh Gusti Allah, jadi walaupun dia tidak pergi denganmu hari ini dia akan tetap mati jika memang takdirnya harus mati hari ini. Jadi jangan salahkan dirimu, lagipula polisi sedang menyelediki kasus ini. Sekarang lebih baik kau pulang," Lingga menggandeng tangan Tari dan membawanya pergi dari tempat itu.


*************


"Aku harus mencari cara mengambil benda pusaka itu,"


"Ada apa guru memanggil ku kemari?" tanya Gareth menghampiri Ki Gendon


"Oh kau sudah datang rupanya, kapan Zeck kembali ke Jakarta?" tanya Ki Gendon


"Baru dua hari yang lalu Aki," jawab Zeck kemudian duduk santai di sofa.


"Wah rupanya guru sudah mengambil peti harta Karun itu dari rumah Purboyo. Jangan bilang jika gurulah yang sudah membantai keluarga Purboyo untuk merebut kotak itu darinya,"


"Jangan sembarangan kalau bicara, bukankah aku sudah memberikan kotak itu kepada kalian jadi untuk apa aku harus menjilat ludahku kembali," sahut Ki Gendon


Dasar lelaki tua serakah


Zeck hanya berdecih kesal mendengar ocehan Ki Gendon.


"Maafkan aku guru,"


"Aku menyuruh mu datang ke sini untuk meminta bantuan mu untuk mencarikan aku seorang kolektor barang-barang antik,"


"Untuk apa guru?"


Ki Gendon kemudian membawa peti itu dan membukanya di depan Gareth dan Zeck.


"Wah kau pasti kecewa karena isi peti itu bukannya emas tapi sebuah keris. Tunggu bukankah dulu saat Purnomo membuka peti itu isinya emas kenapa sekarang emas itu sudah di pakai olehnya,"


"Dari awal Ki Gendon sudah tahu jika isi peti itu adalah benda pusaka, itulah sebabnya dia memberikan kotak itu padamu ayah," potong Zeck


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Gareth


"Dia sengaja ingin bertemu dengan kolektor barang-barang antik agar ia bisa tahu bagaimana caranya menggunakan benda pusaka itu, apakah benar begitu Aki?" tanya Zeck kemudian mendekati kotak itu.


Ki Gendon benar-benar terkejut ketika melihat Zeck berhasil mengangkat keris pusaka itu dengan mudah.


"Kau tidak perlu mencari seorang kolektor barang-barang antik jika ingin tahu bagaimana memperlakukan benda pusaka ini. Karena aku yang akan memberitahukannya padamu dengan cuma-cuma," ucap Zeck mencoba menggerakkan keris di tangannya.


Siapa dia, bagaimana ia bisa tahu semuanya tentang diriku dan juga kenapa dia bisa mengambil Wesi Aji itu,


"Seperti manusia benda pusaka juga memiliki perasaan dan ingin di hormati, untuk itulah Aki kau juga harus menghormatinya dan memperlakukan keris ini dengan baik," imbuh Zeck kemudian memberikan benda itu padanya.


"Benda pusaka sakti ini sangat berbahaya jika jatuh ke tangan orang-orang jahat, jadi ku harap kau tidak akan menjadi gelap mata setelah mendapatkan benda ini," lelaki itu memberikan keris itu kepada Ki Gendon.


Lelaki tua itu hampir jatuh ketika menerima benda pusaka itu dari Zeck.


"Berat sekali," pekiknya


"Jika kau merasa itu berat pasti akan terasa berat, tapi jika kau menganggap keris itu ringan maka ia akan menjadi ringan melebihi kapas. Jika kau membutuhkan informasi tentang keris itu kau bisa menghubungi aku Aki, kalau begitu aku pamit dulu ayah, Aku," Zeck kemudian mengambil jacketnya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


"Ada apa dengan anak itu, kenapa ia menjadi seperti itu?" tukas Gareth


Zeck kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Ki Gendon.


************


Suara derap langkah kaki terdengar begitu nyaring membuat Lingga penasaran siapa yang datang ke ruangan itu.


"Zeck, mau apa di datang ke sini?"


"Halo Aryo, lama tak bertemu ternyata kau masih saja menjadi anj*Ng penjaga Tari," ucap lelaki itu sengaja memprovokasinya


"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Lingga


"Aku yang mengundangnya," sahut Tari menghampiri ke duanya


"Sepertinya kau sangat kecewa karena ia masih peduli dengan ku," bisik Zeck sembari berlalu meninggalkan Lingga


"Apa aku telat datang?" tanyanya merasa bersalah


"Tentu saja tidak, kau bahkan datang tiga puluh menit lebih awal dari jadwal perjanjian kita. Kalau begitu sekarang lebih baik kau segera membantuku menyelesaikan sesuatu yang sudah aku beritahukan padamu," ucap Tari menarik baju Zeck


"Baiklah Tari," jawab Zeck mengikuti gadis itu.


"Memang apa yang aku tidak bisa lakukan hingga kau memanggilnya ke sini hanya untuk membantu mu Tari," ucap Lingga kecewa


"Kau bahkan mengabaikan aku," ia kemudian berjalan mengikuti keduanya.


Lingga melihat Tari meminta Zeck memperbaiki laptopnya.


"Sejak kapan kau tergantung kepada orang lain, bukankah kau begitu membencinya, kenapa sekarang kau kembali mendekatinya. Apa kau benar-benar tidak bisa melupakannya?"


Flashback dua tahun lalu.


*Bandara Internasional Soekarno Hatta.


"Apa kau tidak bertemu dengannya?" tanya Lingga


Tari hanya mengangguk pelan sembari menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya.


"Dia sudah pergi, lagipula bukankah bagus bagiku jika tidak bertemu dengannya, karena itu hanya akan membuat aku semakin sulit melupakannya," Tari kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Lingga terus berusaha mencari keberadaan Zeck, namun ia tetap tidak menemukannya.


"Mungkin benar yang dikatakan Tari lebih baik keduanya tidak saling bertemu saat ini," Lingga kemudian berjalan menyusul Tari


Lingga menghentikan langkahnya ketika melihat Zeck sedang memandangi Tari dengan menutupi sebagian wajahnya menggunakan koran.


"Dasar brengsek, kenapa kau tidak menemuinya saja!" seru Lingga kemudian menarik koran itu dan membuangnya


"Tar,_" baru saja Lingga akan memanggil Tari Zeck seketika langsung membungkam mulutnya.


"Jangan panggil dia dan jangan menyuruhnya menemui ku. Setelah perlombaan balap kita tempo hari aku sadar jika aku harus meninggalkan Tari. Aku ingin dia hidup bahagia dan itulah alasanku kenapa aku ingin pergi ke Eropa. Aku ingin benar-benar menjauh darinya, karena aku tahu Tari hanya akan berada dalam bahaya jika berama ku. Untuk itu aku minta tolong padamu untuk menjaga dan melindunginya, jangan biarkan ia mendekati ku lagi, ataupun sebaliknya."


"Tanpa kau memintanya aku memang akan menjaga dan melindunginya karena itu sudah menjadi tugasku sebagai bodyguardnya," jawab Lingga


"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Setidaknya Tari akan tetap aman jika kau selalu berada di sisinya."


"Kenapa kau berkata seperti itu, bukankah kemarin kau sangat ingin kembali bersamanya dan tidak mau berpisah dengannya. Tapi kenapa sekarang kau berkata sebaliknya. Apa kau mengidap bipolar?" tanya Lingga


"Itu...karena sesuatu terjadi padaku. Maaf aku tidak bisa memberitahukan kepada mu detailnya. Tapi satu pesanku padamu, jangan pernah membiarkan aku mendekati Tari lagi, jangan biarkan itu terjadi. Walaupun aku ingin sekali menetap di Eropa dan menjadi warga negara di sana tapi takdir tidak ada yang tahu, aku hanya memperingatkan dirimu karena aku benar-benar sayang pada Tari dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya," ucap Zeck kemudian berlalu meninggalkan Lingga.


*Flashback off


"Sikapnya berubah seratus persen dengan Zeck saat di bandara. Dia kembali menjadi Zeck yang ambisius, sebenarnya apa yang terjadi dengannya??. Aku yakin ada yang disembunyikan olehnya," Lingga terus memperhatikan keduanya dari kejauhan