LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
45. Ragu-ragu



"Selamat datang Zoya," ucap Zeck menyambutnya. Ia kemudian menarikan kursi untuknya.


"Silakan duduk,"


"Terimakasih," wanita itu segera duduk di kursi yang di sediakan oleh Zeck


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku Zeck?" tanya Zoya


"Aku ingin bekerjasama denganmu, seperti yang ku dengar dari ayahku kita sepertinya memiliki tujuan yang sama," jawab Zeck


"Maksudnya?" tanya Zoya


"Kau menginginkan harta warisan Purboyo jatuh ke tangan mu bukan, kalau begitu aku bisa membantumu dengan syarat kau juga membantu ku," jawab Zeck


"Apa yang harus aku lakukan?"


Zeck kemudian membisikkan sesuatu kepada Zoya.


************


"Alhamdulillah akhirnya, kita bisa lepas dari jerat hutang, walaupun belum terbayar semuanya," tukas Tari


"Tenang saja dengan bergabungnya Kenan, aku yakin dia bisa membantu perusahaan mu up lagi," imbuh Lingga


"Benar, selanjutnya ada proyek pembangunan jembatan layang, apa kau ingin mengikuti tender lagi?" tanya Zoya


"Tentu saja," jawab Tari bersemangat


"Boleh aku lihat proposalnya?" tanya Kenan


Zoya segera memberikan proposal kepada Kenan.


"Selama ini aku jarang ikut tender pembangunan jembatan layang, jadi aku sedikit harus memiliki pengetahuan tentang projek ini,"


"Kalau kau ragu lebih baik kita tidak usah mengambil projek ini," tukas Lingga


"Tapi peluang kita untuk memenangkan tender ini sangat besar, karena hanya sedikit perusahaan kompetitor kita," tukas Zoya meyakinkan


"Hmmm, aku harus mempelajarinya lebih dulu,"


"Kalau begitu jangan terburu-buru mengambil keputusan Tari, kita tunggu saja keputusan Kenan,"


"Baik Lee,"


Zoya menatap lekat kearah Lingga.


"Pertama-tama aku harus menyingkirkan mu," gumamnya


Zoya diam-diam mengikuti kemanapun Lingga pergi.


Ia kemudian turun dari mobilnya dan mengikuti Lingga menuju ke sebuah kedai penjual perlengkapan kematian.


Apa yang dia lakukan.


Wanita itu segera menanyai sang pemilik kedai setelah Lingga pergi dari tempat itu.


"Apa saja yang dibeli lelaki itu?" tanyanya hati-hati


"Dia hanya membeli keperluan sesaji," jawab pemilik kedai


"Kira-kira kalau boleh tahu sesaji apa?"


"Entahlah aku tidak tahu, aku tidak tahu karena bukan seorang dukun,"


"Kalau begitu bisa tolong sebutkan apa saja yang ia jadikan sebagai sesaji?" tanya Zoya lagi.


Lelaki itu kemudian menyebutkan secara rinci apa saja yang dibeli Lingga.


Aku harus melaporkan semua ini kepada Zeck.


Zoya kemudian menghubungi lelaki itu dan melaporkan semuanya kepada Zeck.


Sepertinya dugaanku benar, Lingga memiliki Tongkat sakti Ratu Iblis, sesaji itu pasti untuk benda pusaka itu.


Zeck menyunggingkan senyumnya menatap ponselnya.


Untuk membuat harimau keluar dari sarangnya aku harus memancingnya keluar atau melawannya secara terang-terangan.


Zeck kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya.


"Ada apa anda datang menemui ku?" tanya Ki Gendon


"Aku ingin kau menyiapkan tumbal untuk ku!"


"Apa Tumbal??"


"Tentu saja, sebagai abdi setiaku kau harus memberikan persembahan untukku. Kau tahu jika sekarang aku melemah setelah melawan Lingga dan kawan-kawan tempo hari. Aku membutuhkan darah perawan untuk mengembalikan kekuatan ku,"


"Tapi Anda sudah mendapatkan tongkat sakti itu, jadi aku rasa anda tidak memerlukan tumbal lagi. Karena dengan tongkat sakti itu di tangan anda akan sulit bagi mereka mengalahkan anda,"


"Dasar bodoh!!" seru Zeck kemudian melepaskan pukulannya kearah Ki Gendon hingga lelaki itu terhempas beberapa langkah darinya.


"Kau tahu siapa yang bisa membunuh Iblis dan keturunannya?" ucap Zeck menghampiri lelaki itu


Ki Gendon hanya menggelengkan kepalanya.


"Mahluk berdarah campuran. Mahluk hidup yang lahir dari hasil hubungan manusia dan mahluk gaib, mereka adalah mahluk yang sulit aku taklukkan. Bahkan mereka lebih mudah membunuh ku dengan kemampuan mereka. Itulah alasannya kenapa aku menginginkan tumbal sekarang. Setelah kekuatan ku kembali pulih aku akan menghabisi Lingga dan kedua temannya yang merupakan manusia setengah Iblis itu." ucap Zeck


"Tapi ada kabar yang menyatakan jika Lee memiliki tongkat sakti Ratu Iblis, jika itu benar kau tidak akan bisa mengalahkannya meskipun memiliki Tongkat sakti Raja Iblis," sahut Ki Gendon


"Itu adalah tugasmu untuk mencari tahu keberadaan benda pusaka itu, karena aku harus mengurus Garra dan Nilam Sari. Aku yakin jika kedua mahluk campuran itu lenyap dari muka bumi ini, aku bisa dengan mudah mengalahkan Lingga,"


"Serahkan mereka padaku,"


"Apa!!"


"Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka berdua Pangeran. Kau tahu betul hanya manusia setengah Iblis yang bisa membunuh Iblis dan keturunannya jadi lebih baik biarkan aku yang akan menyingkirkan mereka berdua. Hanya seorang dukun yang bisa menyingkirkan manusia setengah Iblis seperti mereka."


"Baiklah kalau begitu, biarkan aku yang akan mencari tahu dimana tongkat Ratu Iblis di sembunyikan," sahut Zeck


***********


Pagi harinya di kantor Purnomo Corporindo.


"Bagaimana Ken, apa kita ikut tender atau tidak?" tanya Tari


"Aku sudah memeriksa proposal ini dengan teliti, dan aku rasa kita bisa mencobanya,"


"Syukurlah kalau kau akan ikut, aku sangat berharap kita bisa memenangkan tender ini," sahut Zoya


"Jangan berharap untuk memenangkan sesuatu yang belum pasti, anggap saja kita sedang mencari pengalaman bagaimana memenangkan tender ini. Karena aku masih meraba-raba proyek ini. Aku ragu tapi sangat penasaran kenapa proyek besar seperti ini kurang di minati oleh para para perusahaan kontraktor elite," tutur Kenan


"Mungkin mereka tidak mau menanggung resiko dengan pihak asing. Karena lebih banyak para kontraktor asing yang ikut dalam tender ini,"


"Kau benar Zoya, semoga saja kita berhasil," ucap Kenan


Mereka kemudian meluncur menuju tempat lelang tender.


"Wah, sepertinya dugaan mu benar Zoya," tukas Kenan ketika melihat banyak wajah-wajah bule di tempat itu.


******


Sementara itu Ki Gendon tengah mempersiapkan sesaji di sebuah altar pemujaan.


"Malam ini, aku akan mengembalikan kalian menjadi manusia biasa," ucap lelaki itu kemudian memasukkan dupa kedalam bara api.


Ketika asap putih mulai mengepul ia mulai merapal mantranya.


Tidak lama kemudian seekor ular berkepala manusia muncul di hadapannya.


"Ada apa kau memanggilku Aki," tanya Nilam Sari


"Aku ingin mengembalikan dirimu menjadi manusia biasa seperti ibumu." tukas Ki Gendon


"Lakukanlah jika kau bisa melakukannya Aku," tantang Nilam Sari


"Kau lahir karena kesalahan orang tuamu, ingatlah sang penjaga benda pusaka, selama ini kau hidup karena seorang dukun yang merawat mu dengan memberimu makan sesaji setiap harinya. Untuk itulah aku akan memberimu makanan itu, dan jadilah abdi setiaku," tukas lelaki itu


"Kau pikir aku akan bergeming hanya karena sesaji tak berguna itu!" seru Nilam Sari mengobrak-abrik sesaji itu menggunakan selendangnya.


Ki Gendon menyeringai melihat kemarahan wanita itu.


Ia kemudian mengambil segenggam daun kelor dan melemparnya kearah Nilam Sari.


Seketika wanita itu merasa kepanasan dan langsung menggeliat di Tanah.


"Sekarang saatnya aku akan mengurungku dan menjadikan mu benda pusaka Nyai!" seru Ki Gendon menyeringai