
Kenapa firasat ku tidak enak,
Lingga segera keluar dari ruangan lelang untuk menenangkan dirinya.
Ia duduk di sebuah ruangan sepi dan memejamkan matanya.
Ada apa denganku, kenapa aku merasa harus pergi dari tempat ini.
Seekor kunang-kunang menghampiri pemuda itu dan hinggap di telapak tangannya.
"Kenapa ada kunang-kunang hinggap di tanganmu dad?" tanya Lingga
"Kunang-kunang ini bukanlah sembarang kunang-kunang, dia adalah pembawa pesan dari teman Daddy, Om Barra. Biasanya jika ia mengirimkan kunang-kunang seperti ini pasti dia ingin aku melakukan sesuatu untuknya," jawab Rangga menerbangkan kunang-kunang itu dan mengikutinya.
"Benar, pasti Om Barra mengirimkan kunang-kunang ini agar aku melakukan sesuatu untuknya. Tapi.... bagaimana dengan tendernya?" Lingga menghela nafas panjang kemudian mengambil ponselnya.
"Ada apa Lee?" sahut Kenan di ujung telepon
"Lakukan yang terbaik hari ini, karena aku tidak bisa membantumu. Aku harus melakukan sesuatu yang sangat urgent,"
"Tentu saja Lee, pergilah dan jangan khawatirkan aku." jawab Kenan
"Jangan sampai ada yang tahu aku meninggalkan tempat ini."
"Tentu saja,"
Lingga diam-diam meninggalkan tempat itu mengikuti kemana kunang-kunang itu terbang.
"Bukankah ini kediaman Ki Gendon!!" Lingga terperanjat ketika kunang-kunang itu membawanya ke rumah Ki Gendon.
Ia semakin tercengang ketika melihat Jingga menggeliat di tanah setelah lelaki itu melemparkan daun kelor kearahnya.
"Sekarang saatnya aku akan mengurung mu dan menjadikan mu sebagai benda pusaka sama seperti saudaramu Nyai!" seru Ki Gendon menyeringai
*Buuugggghhhhh!!!
Lingga segera menebaskan tongkatnya kearah dukun itu hingga ia tersungkur. Ia segera menggendong Nilam Sari dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
"Akhirnya kau terkena perangkap juga Lingga," tukas Ki Gendon menyeringai
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Zeck.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Zeck
"Seperti dugaan mu, tongkat itu ada padanya. Dia memakainya untuk melawanku dan menyelamatkan siluman ular itu," jawab Ki Gendon
"Hmmm, ternyata Lingga tidak sekuat yang ku bayangkan."
"Benar, dia tidak memiliki kekuatan supranatural yang tinggi seperti ayahnya sehingga ia mengandalkan benda pusaka itu untuk melawan musuh-musuhnya," tutur Ki Gendon
"Berarti tanpa benda Tongkat sakti di tangannya dia lebih mudah kita singkirkan," Jawab Zeck
"Bagaimana dengan Garra, bukankah dia akan selalu membantunya?"
"Garra sudah menjadi manusia biasa jadi dia bukan seseorang yang perlu kita takutkan lagi,"
"Tapi, meskipun begitu Garra tetap memiliki kekuatan iblis yang tidak bisa diremehkan. Aku masih ingat bagaimana ia mengalahkan temanku dan juga peliharaannya," sahut Ki Gendon
"Kau benar Aki, bahkan dia masih bisa melwan Raja Kegelapan meskipun ia sudah menjadi manusia biasa,"
"Kau tenang saja Aki, aku sudah menyiapkan rencana bagus untuk menyingkirkan mereka bertiga dan mengambil benda pusaka itu a darinya," ujar Zeck menyeringai
************
"Bagaimana hasilnya?" tanya Lingga menghampiri Kenan dan Tari
"Alhamdulillah kita menang lagi Lee," tukas Tari sumringah
"Syukurlah kalau begitu, thanks Kenan."
"Tidak perlu sungkan, lagipula kemenangan ini juga milikmu," sahut Kenan
"Kalau begitu bagaimana jika kita rayakan dengan minum kopi?" tukas Zoya
"Setuju!!" seru mereka bersamaan
Mereka kemudian berjalan menuju kedai kopi yang tak jauh dari tempat itu.
"Terimakasih atas bantuannya Ken, Lee dan Zoya. Karena berkat kalian perusahaan ku bisa kembali up," tukas Tari
"Tapi bagaimana kau bisa memenangkan tender itu, padahal ada Mr.Gareth yang ikut tender itu?" tanya Lingga
"Aku juga tidak tahu kenapa hari ini Mr. G tidak bersemangat seperti biasanya."
"Mungkin dia lelah," potong Tari
"That's right baby," sahut Kenan membuat semuanya tertawa.
*************
"Ada apa denganmu ayah, kenapa kau bisa kalah dalam tender itu?" Zeck menghampiri Gareth yang sedang meneguk minumannya.
"Aku sudah tua, lebih baik kau segera mencari pengganti diriku. Karena aku merasa sudah tidak bisa sehebat dulu lagi." jawab Gareth
"Kenapa ayah bicara seperti itu, setahuku tidak ada seorangpun negosiator yang bisa menandingi kemampuan mu dalam bernegosiasi. Jangan menyerah hanya dengan kekalahan seperti ini. Menurut mereka yang sudah mengalahkan mu hanya sedang hoky saja, jadi cepatlah bangkit lagi," sahut Zeck
"Aku tidak tahu kenapa sekarang kau begitu tertarik dengan pekerjaanku Zeck, bukankah kau tidak pernah suka bekerja di perusahaan?" tanya Gareth sinis
"Adakalanya manusia harus berubah untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sekarang aku menyadari bahwa semua yang ayah ucapkan padaku adalah benar adanya. Seorang atlet tidak akan selamanya berada dalam kompetisi, suatu saat ia harus pensiun karena faktor usia. Tapi menjadi penguasa tidak mengenal usia, itulah alasannya kenapa aku mulai tertarik dengan dunia bisnis dan meninggalkan arena balap," jawab Zeck
Kau begitu licik dan pandai bersilat lidah, dasar iblis!!.
Gareth tertawa kecil mendengar celotehan Zeck.
"Andai saja kau bersikap seperti sekarang ini, aku mungkin tidak akan terpuruk seperti ini." Gareth menarik kerah baju Zeck dan menatapnya nyalang.
"Aku sudah menua, aku harap kau bisa belajar mulai sekarang dan menggantikan posisi ku sebagai seorang negosiator di perusahaan kita," imbuhnya
"Baiklah ayah, aku akan mengikuti semua yang kau sarankan. Sekarang beristirahatlah kau sudah terlalu mabuk malam ini," Zeck melepaskan tangan Gareth dan memapahnya menuju kamar tidurnya.
"Tidurlah Gareth dan beristirahatlah dengan nyaman. Kau harus tetap sehat agar bisa membantuku," ucap Zeck kemudian meninggalkan kamar itu.
Gareth hanya mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan Zeck.
*Flash back
"Akhirnya aku bisa mengambil peti ini dari Purboyo," Gareth meletakan kotak harta Karun itu diatas mejanya.
"Ayah, kenapa kau?" Zeck menatap lekat ayahnya yang penuh luka dan darah.
"Kau sudah kembali rupanya, kenapa kau mendadak pulang tanpa mengabariku?" tanya Gareth mengalihkan perhatian Zeck
"Aku hanya merindukan ayah, itulah alasanku pulang?"
"Hahaha, aku baru tahu jika putraku yang begitu dingin bisa merindukan ayahnya, kau manis sekali Zeck!" seru Gareth kemudian memeluk putranya
"Entahlah, aku merasa aku tidak akan bertemu ayah lagi, untuk itu aku ingin sekali melihat ayah untuk terakhir kalinya,"
"Jangan bicara seperti itu, kau lihat kan ayahmu masih segar bugar jadi jangan berpikir aku akan mati,"
"Peti itu!" tunjuk Zeck
"Kenapa dengan peti itu?"
"Aku bermimpi keluar iblis dari kotak itu dan kemudian membunuh ayah, lebih baik ayah buang saja peti itu karena peti itu bisa membawa bencana bagi keluarga kita," jawab Zeck
"Tidak mungkin aku membuang peti harta Karun yang sudah aku dapatkan dengan susah payah. Bahkan nyawaku menjadi taruhannya. Mimpi itu hanya bunga tidur, jadi lupakan saja,"
"Jangan bilang kau menghabisi keluarga om Purboyo untuk merebut peti harta Karun itu?" tanya Zeck
"Jika kita tidak bisa merebut sesuatu dengan halus maka kita harus memakai kekerasan untuk mendapatkannya. Lebih baik kau istirahat dan jangan dekat-dekat dengan peti ini jika kau tidak mau mati," ujar Gareth mengajak Zeck pergi dari kamarnya.
Malam harinya tanpa sepengetahuan Gareth, Zeck mengambil peti itu. Ia membawanya ke belakang rumah dan menyiramnya dengan bensin.
"Aku harus membakarnya," saat ia menyalakan korek api tiba-tiba sebuah bayangan hitam keluar dari peti itu.
"Akhirnya yang ku tunggu-tunggu selama ini datang juga," tukas Gordon menyeringai
mahluk itu mendekati Zeck yang terjerembab ke tanah dan berusaha menjauh darinya.
"Kau begitu sempurna untukku, aku tidak bisa menjadikan mu sebagai tumbal ku tapi aku harus membunuhmu agar tubuhmu bisa ku pakai untuk membalas dendam," Gordon kemudian menyentuh ubun-ubun Zeck hingga pemuda itu kemudian tak sadarkan diri.
"Zeck!" seru Gareth menutup mulutnya saat melihat Gordon mengambil Sukma Zeck dan masuk kedalam tubuhnya.
*Flashback off
Mulai sekarang aku tidak akan membantumu lagi Iblis keparat, kau telah membunuh putraku.