LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
50. Love n Myth



"Tari?" sapa Kenan ketika melihat gadis itu memasuki ruang kerjanya.


"Darimana saja kau selama ini, aku mencari mu, dan rumahmu juga sepi?" imbuhnya menghampiri gadis itu.


"Aku baru pulang dari rumah sakit, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku," jawabnya santai


"Apa kau tahu kabar Lingga?" tanya Kenan lagi


Pertanyaan dari Kenan, membuat jantung Tari berdetak kencang. Selama seminggu ini ia begitu merindukan lelaki itu, namun Tari tidak tahu kabar beritanya.


"Entahlah, aku belum mendengar kabar darinya. Aku harap dia baik-baik saja dan segera menemui ku," jawabnya berkaca-kaca.


"Ku harap juga begitu. Jika kau baru saja pulang dari rumah sakit, kenapa kau sudah mulai bekerja. Lebih baik istirahat saja, biarkan aku yang menghandle semuanya dengan Zoya."


"Thanks Ken, tapi sekarang aku akan menangani semua urusan kantor sendiri. Aku ingin menghabiskan waktuku agar tidak terus mengingat Lingga," jawabnya sedih


Haruskah aku mengatakan padanya jika Lee baik-baik saja. Aku kasian melihatnya seperti itu, tapi Lee melarang ku memberitahukan keberadaannya kepada Tari.


"Kenapa Lo diam Ken?" tanya Tari menatap Kenan yang melamun di depannya


"Ah tidak, aku hanya memikirkan Lingga. Sama seperti dirimu aku juga mengkhawatirkannya,"


"Lebih baik kau melupakan dia mulai sekarang."


"Memangnya kenapa?"


"Jangan terlalu banyak berharap pada sesuatu yang tak pasti, karena itu hanya akan membuat mu terluka," jawab Tari


"Apa kau mengira Lingga sudah mati?"


"Sulit untuk mengakui hal itu, bahkan aku ingin meyakinkan diriku bahwa dia masih hidup dan sedang menunggu ku di suatu tempat. Tapi semakin lama keyakinan itu seperti racun yang menggerogoti tubuhku dan membuatku mati perlahan saat tahu dia tidak pernah kembali lagi." sahut Tari


"Jangan sedih Tari, meskipun Lee tidak bisa menjagamu lagi, ada aku yang menggantikan dia untuk menjaga dan melindungi mu,"


"Thanks Kenan,"


Tari kemudian mengangkat ponselnya yang terus bergetar.


"Halo," Tari kemudian meninggalkan Kenan agar bisa berbicara dengan leluasa


"Baik Om, aku akan segera ke sana," Tari segera menutup ponselnya dan mengambil tas kerjanya.


"Kamu mau kemana Tar?" tanya Kenan


"Aku harus menemui seseorang untuk membicarakan tender," jawab Tari bergegas keluar ruangannya.


"Aku ikut," tukas Kenan


"Tidak perlu, aku harus menemuinya sendiri,"


"Tapi Lee berpesan agar aku selalu ada di sisimu untuk melindunginya mu."


"Tidak perlu, aku pastikan semuanya baik-baik saja." Tari kemudian bergegas meninggalkan kantornya.


Diam-diam Kenan mengikuti kemana Tari pergi.


"Aku tidak akan membiarkannya pergi sendirian," ia melesatkan mobilnya mengejar mobil Tari.


*Ciiit!!


Tari menghentikan mobilnya di sebuah hotel berbintang. Seorang lelaki paruh baya segera menyambutnya, dan membawanya masuk ke dalam hotel.


"Gareth, kenapa Tari menemui laki-laki jahat itu." Kenan segera menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas parkir dan menyusul Tari untuk menjawab semua kecemasannya.


********


Sementara itu Bunda Musni membawa Lingga ke sebuah padepokan yang sudah tak terpakai.


"Dulu ini adalah padepokan milik ayahku saat ia masih hidup. Tapi karena tidak ada yang mau mewarisi ilmunya padepokan ini jadi terbengkalai." kenang Bunda Musni


"Kenapa Bunda tidak mau menjadi dukun seperti ayah bunda?" tanya Lingga


"Karena aku tidak mau bernasib sama seperti ayahku,"


"Memangnya dia kenapa?"


"Ada pepatah mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin meniupnya. Begitupun dengan seorang dukun, semakin sakti ilmunya maka semakin banyak musuhnya. Dia mati diracun oleh sahabatnya sendiri karena iri dengan kekuatan yang dimiliki ayahku." jawab Bunda Musni


"Itulah alasanku menyembunyikan kemampuan supranatural ku yang ku pelajari diam-diam dari ayahku."


"Oh begitu rupanya,"


"Tentu saja aku akan membantu mu menguasai ilmu Kanuragan milik ayahmu juga," imbuhnya menepuk pundak Lingga


"Terimakasih bunda,"


"Untuk menguasai ilmu Kanuragan dan ajian Sirep kau harus melakukan puasa Pati Geni selama selama empat puluh hari. Agar semuanya berjalan lancar, aku akan meninggalkanmu di sini dan aku akan kembali di hari ke 41. Pilihlah tempat yang membuat mu nyaman untuk melakukan Pati Geni. Semoga berhasil." Musni kemudian meninggalkan Lingga di bangunan tua itu.


***********


Sementara itu Kenan terus memeriksa setiap kamar hotel untuk mencari dimana keberadaan Tari.


Namun ia merasa kecewa karena kehilangan jejak Tari di hotel itu. Meskipun berkali-kali ia sudah mengelilingi semua kamar hotel dan meminta bantuan para pegawai hotel ia tetap tidak bisa menemukan Tari.


"Dimana kamu Tar," ucapnya sembari menatap sebuah ruangan VIP di depannya.


"Hanya ruangan ini yang belum aku periksa," Kenan berjalan mendekati ruangan itu.


"Maaf Tuan, anda dilarang masuk ruangan ini," ucap seseorang menahannya


"Kenapa??"


"Ruangan ini adalah ruangan khusus untuk pemilik hotel, dan tidak seorangpun boleh masuk ke dalamnya," jawab lelaki itu


"Aku hanya ingin memastikan apakah temanku ada di dalam atau tidak, jadi tolong izinkan saya masuk untuk memeriksanya," pinta Kenan.


Sementara itu di dalam kamar VIP.


"Kenapa Om memanggil ku ke sini?"


"Kita akan memulainya di sini Tari," jawab Gareth


"Maksud Om?"


Gareth menghentikan ucapannya ketika mendengar kegaduhan di depan ruangannya. Ia kemudian menelpon Kevin untuk memastikan apa yang terjadi di depan kamarnya.


"Lebih baik kau sembunyi dulu," ucap Gareth menyuruh Tari bersembunyi di dalam lemari pakaian.


"Memangnya ada apa Om?" tanya Tari penasaran


"Sepertinya kekasihmu meminta seseorang untuk mengikuti mu,"


"Apa ada lingga di depan," ucap Tari melepaskan tangan Gareth


"Bukan Lee, tapi Kenan Negosiator ulung di kantor mu,"


Tari langsung menunduk lesu ketika menyadari bukan Lee yang mencarinya.


"Lupakan Lingga, sepertinya dia sudah mati di tangan Iblis itu." ucap Gareth kemudian menutup pintu lemari itu.


Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin.


"Biarkan dia masuk," ucap Gareth


Tidak lama kemudian petugas itu mengijinkan Kenan memeriksa kamar itu.


Pemuda itu segera menyisir ruangan itu dan mencari keberadaan Tari, namun ia tidak menemui seorang pun di ruangan itu.


"Ruangan ini memang selalu sepi, Tuan Anderson hanya memakainya saat akhir pekan saja," ucap petugas itu.


Kenapa Tari tidak ada, aku yakin ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya.


Kenan kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan.


"Keluarlah," seru Gareth membuat Tari segera keluar dari almari pakaian.


Gadis itu kemudian duduk di depan Gareth.


"Kita harus melakukan ritual agar iblis itu semakin tergila-gila padamu," ucap Gareth


"Itu tidak mungkin, bagaimana bisa manusia biasa bisa meluluhkan hati Iblis," jawab Tari


"Cinta adalah magnet yang paling ampuh untuk membuat semua mahluk di bumi ini rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tidak terkecuali dengan Iblis, mereka bahkan jauh lebih setia daripada manusia jika menyangkut soal Cinta. Karena seorang Iblis hanya jatuh cinta sekali seumur hidupnya. Untuk itulah kita akan meruntuhkan tembok Myth dengan kekuatan cinta," terang Gareth


"Aku masih belum mengerti maksud ucapan mu Om,"


"Aku akan melakukan ritual yang bisa membuat Zeck tergila-gila padamu. Kau bisa melakukan apapun setelah bisa meluluhkan hatinya termasuk membalaskan dendam kematian Lingga." jawab Gareth


"Bagaimana jika aku gagal membuatnya jatuh cinta padaku?" ujar Tari


"Percayakan semuanya padaku, aku tidak pernah gagal seumur hidupku dalam melakukan sesuatu. Aku bahkan siap memberikan nyawaku agar ritual ini berhasil," ucap Gareth berapi-api