
"Kali ini aku pastikan dia tidak akan bisa menang melawan ku," tukas Zeck
"Syukurlah kalau kau mulai sadar putraku, ingat...kau tidak boleh melepaskan wanita itu. Lakukanlah demi ayahmu ini," tukas Gareth
"Aku melakukannya bukan karena ayah, tapi karena aku tidak mau berpisah dengannya, sekarang aku sadar jika aku mulai mencintai Tari,"
"Bagaimana dengan aku...apa kau akan meninggalkan aku setelah apa yang sudah kita lalui selama tujuh tahun?" tukas Nadya menghampiri mereka
"Apa kau terkena sindrom mencintai setelah di tinggal pergi!" imbuh Nadya
"Kau benar Nadya, awalnya aku memang tidak menyukai Tari, tapi ketulusan cinta Tari dan perhatiannya padaku meskipun aku mengabaikannya tiba-tiba meluluhkan hatiku. Aku pikir hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku tak bisa hidup tanpamu, tapu aku salah setelah aku berpisah dengan Tari hidupku menjadi hampa dan rasanya aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku seperti orang gila. Aku pikir dengan kembali bersamamu aku bisa melupakan bayang-bayang Tari, tapi aku tidak bisa, maafkan aku Nadya," tukas Zeck sendu
"Dasar brengsek!" maki gadis itu memukuli Zeck
"Kau boleh melampiaskan kekesalan mu padaku, karena aku pantas menerimanya," jawab Zeck
**********
"Kenapa kau terlihat gugup?" tanya Lingga saat melihat wajah pucat Tari di persidangan.
"Aku...aku takut aku kalah dalam persidangan banding ini," jawabnya lirih
"Kalau kau ingin memenangkan persidangan ini itu soal kecil, serahkan saja padaku. Aku bisa membuat mu memenangkan persidangan ini hanya dengan mengedipkan mata," bisik Lingga
"Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Tari
"Karena aku bukan seorang pengacara maka aku tidak bisa membelamu dengan kata-kata, tapi sebagai seorang dukun santet terganteng sejagat maya tentu saja aku akan menyelesaikan masalah ini dengan santet damai perkara, aku jamin kau akan memenangkan kasus ini," sahut Lingga menyombongkan diri
"Bagaimana jika aku tetap kalah, aku tahu siapa Zeck dia tidak akan pernah membiarkan siapapun mengalahkannya,"
" Wah...Apa dia lebih kejam dari ayahnya?"
"Sepertinya begitu, karena meskipun aku sudah menikah dengannya selama tiga tahun aku belum bisa mengetahui sifat aslinya," sahut Tari
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, aku akan membantumu sebisaku,"
Keduanya langsung terdiam ketika Zeck memasuki ruangan sidang bersama pengacaranya.
Tidak lama kemudian sidang dimulai.
Lingga sengaja duduk di belakang ia memusatkan pikirannya dan memulai ritualnya tanpa seorangpun yang tahu.
"Sial, apa ada seseorang yang berusaha menghalangi ku," Lingga membuka matanya lebar-lebar dan mencari seseorang yang mengusiknya.
Aku yakin ada orang sakti diantara mereka, tapi kenapa aku tidak bisa mendeteksi keberadaannya.
Lingga menatap ke setiap pengunjung pengadilan, namun ia tidak menemui seseorang yang sudah menggangunya.
Ia berjalan mendekati Tari, "Sepertinya kau benar, kita tidak bisa meremehkan pria pucat itu," tukas Lingga menunjuk kearah Zeck
"Pasti kau gagal kan?" tanya Tari lesu
"Gagal itu biasa Tari, yang terpenting itu bagaimana kita tetap bangkit setelah mengalami kegagalan," sahut Lingga
"Semoga saja aku bisa seperti itu,"
Tidak lama kemudian sidangpun dimulai, Tari terlihat tegang namun tidak dengan Zeck. Lelaki itu terlihat begitu tenang seakan bisa membaca hasil persidangan.
Berbagai bukti sudah di berikan oleh Tari namun hasilnya tetap sama saja, pengadilan menolak gugatan cerai Tari.
"Sudah ku duga hasilnya akan seperti ini," ujar Tari lirih
"Entahlah meskipun dulu aku begitu mencintainya tapi cinta itu mulai memudar setelah apa yang ia lakukan padaku selama ini, kalau mungkin dulu cintaku semurni emas dua puluh empat karat, sekarang hanya tinggal karatnya saja cintaku sudah menghilang di telan angin," sahut wanita itu kemudian meninggalkan ruang persidangan.
"Kasian sekali Tari, pasti ia begitu kecewa dan sakit hati terhadap Zeck hingga apapun yang dilakukan lelaki itu sudah tidak berarti lagi di matanya," Lingga menatap Zeck yang tersenyum bahagia sembari menyalami pengacaranya.
Lelaki itu kemudian berjalan menghampirinya.
"Bisakah kita berbincang sejenak," tukas Lingga
"Tentu saja," sahut Zeck kemudian mengajak Lingga menuju ke sebuah tempat yang sepi.
"Katakanlah apa yang ingin kau sampaikan?"
"Apa kau benar-benar mencintai Tari?" pertanyaan Lingga sontak membuat Zeck langsung menyunggingkan senyum kecutnya
"Cih, apa perjuangan ku sampai titik belum menunjukkan rasa cintaku padanya, apa lagi yang harus aku tunjukkan padanya agar dia tahu jika aku benar-benar mencintainya," jawab Lelaki itu menghela nafas
"Mencintai seseorang itu bukan berarti kita bisa mengurung dia agar bisa tetap berada di samping kita. Mencintai seseorang itu berarti membiarkannya bebas melakukan apa yang dia inginkan. Mencintai seseorang itu adalah membuat orang yang kita sayangi bahagia bukan membuatnya bersedih karena keegoisan kita. Seperti kata pepatah mencintai itu tidak harus memiliki, jadi lepaskan Tari dan biarkan dia hidup bahagia," tutur Lingga
"Apa kau mengatakan semua ini karena kau ingin merebutnya dariku?"
"Kalau aku berniat seperti itu sudah aku lakukan sejak lama, aku hanya ingin melihat dia bahagia. Karena dari pertama aku mengenalnya aku selalu melihatnya bersedih hingga ia membenci dirinya sendiri," sahut Lingga
"Baiklah kalau begitu, aku akan melepaskan Tari dengan satu syarat,"
"Katakan apa syaratnya?"
"Kau harus mengalahkan aku di sirkuit balapan motor," jawab Zeck
"Walaupun aku bukan pembalap seperti Dani Pedrosa, tapi aku akan melakukannya demi Tari," jawab Lingga menyalami Zeck tanda setuju.
************
"Balap motor!!" seru Tari membelalakkan matanya
"Iya, Zeck mengajak ku balapan motor, jika aku berhasil mengalahkannya maka ia akan melepaskan mu," sahut Lingga
"Kau ini benar-benar bodoh apa pura-pura tidak tahu?. Zeck itu seorang pembalap sudah pasti dia akan mengalahkan dirimu dengan mudah. Lagipula aku tahu siapa dia, tidak mungkin ia akan melepaskan sesuatu yang ia sayangi secara cuma-cuma. Ia sengaja menantang mu balap motor karena tahu kau tidak akan mungkin mengalahkannya,"
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Tari, kau tidak usah khawatir aku pasti akan berusaha semampuku untuk mengalahkannya," jawab Lingga
"Aku tidak berharap kau menang Aryo, karena aku tidak mau berharap terlalu banyak. Yang penting kau harus jaga dirimu dan jangan sampai terluka, karena hanya kau yang aku punya sekarang. Kalau kau terluka siapa yang akan melindungi aku,"
"Tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu padaku." tukas lelaki itu kemudian mengusap lembut rambutnya
"Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini," imbuhnya
Tari mengangguk dan kemudian masuk ke kamarnya.
************
Pagi harinya di Sirkuit Balap motor.
Lingga terlihat sedang mempersiapkan motornya, dan Zeck berjalan menghampirinya.
"Sebaiknya kau jangan terlalu bersemangat, karena percuma saja kau tidak akan pernah melawanku,"
"Seperti matahari yang selalu bersinar di pagi hari, semangatku selalu terbarukan setiap harinya jadi tidak ada alasan bagiku untuk kalah darimu, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku pastikan padamu aku akan mengalahkan dirimu, karena sama seperti dirimu aku juga belum pernah kalah dalam hidupku," bisik Lingga membuat Zeck meradang.