
"Kenapa kau tidak mencari kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak Lee, kau benar-benar ceroboh!" seru Nilam Sari menghempaskan tubuh pemuda itu hingga terjatuh ke jurang.
Siapa kau sebenarnya Nyai, kenapa kau tidak musnah setelah terkena sabetan tongkat sakti Raja Iblis,
Lingga terus menatap lekat wajah wanita itu yang menatapnya dingin.
*Greepp!!
Seorang lelaki melesat menangkap tubuhnya dan menyelamatkan nyawanya.
"Om Barra!!"
"Maafkan putriku yang berusaha menyakitimu, percayalah dia tidak sejahat yang kau kira. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai penjaga benda pusaka," ucap Barra menyunggingkan senyumnya dan kemudian menghilang dari hadapan Lingga.
Lingga perlahan membuka matanya, menatap ke langit-langit ruangan itu.
"Apa dia begitu istimewa sehingga membuat mu harus menjaganya siang dan malam. Kau bahkan sampai mengabaikan diriku, bahkan kau juga mengabaikan kesehatan mu sendiri sampai lupa makan." tutur Alvin
"Aku sengaja datang kemari untuk membawakan makan siang mu," imbuh Alvin
Lingga menoleh kearah keduanya dan menatapnya sendu.
"Thanks Al, tapi aku tidak berselera makan," jawab Tari berjalan masuk ke ruang perawatan Lingga.
Akhirnya kalian benar-benar menjadi sepasang kekasih, selamat Tari akhirnya kau mendapatkan lelaki yang benar-benar menyayangimu.
"Setidaknya kau harus makan agar kau bisa merawat Lingga,"
"Jangan bilang kau jelous karena aku lebih perhatian kepada Lee daripada dirimu," tukas Tari
"Tentu saja Tari, lelaki mana yang tidak cemburu melihat kekasihnya mengkhawatirkan lelaki lain yang jelas-jelas bukan keluarganya,"
Rasanya tenggorokan Lingga seperti tercekik dan rahangnya mulai mengeras mendengar perkataan Alvin.
Dasar berandal kecil, apa kau tidak tahu apa makna persahabatan?.
"Bagiku Lingga adalah segalanya, dia adalah keluargaku yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia juga menjadi kakakku saat aku perlu tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah, dia adalah teman terbaikku yang selalu setia yang selalu mendukung setiap langkahku, ia bahkan melebihi keluarga ku karena ia rela memberikan apapun yang ia miliki termasuk nyawanya hanya untuk melindungi ku," ucap Tari begitu emosional membuat Alvin langsung memeluknya.
Lingga berkaca-kaca mendengar perkataan Tari, tak terasa air matanya menggenang karena terharu mendengar ketulusan gadis itu.
"Maafkan aku Tari, bukan maksudku membuatmu sedih. Kau boleh merawat Lingga karena aku tahu kau tidak akan memberikan hatimu untuknya bukan?" ujar Alvin kemudian memeluknya.
Kenapa dadaku sangat sakit melihat keduanya,
Lingga memalingkan wajahnya sembari mengeratkan tangannya.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus kembali lagi ke kantor, kalau ada apa-apa cepat kabari aku. Aku juga selalu siap membantu mu Tari," ucap Alvin kemudian meninggalkan gadis itu
Lingga kembali memejamkan matanya ketika Tari berjalan mendekatinya.
Gadis itu berdiri di sampingnya dan mengusap lembut wajahnya.
"Cepatlah bangun Lee, aku sangat merindukanmu," ucap Tari gusar
Tiba-tiba Lingga menarik lengan gadis itu dan mencium bibirnya.
*Cup!
Tentu saja Tari langsung membelalakkan matanya ketika lelaki itu mengecup bibirnya.
Kenapa jantungku berdegup kencang, ada apa dengan ku.
*Tok, tok, tok!!
Tari segera mendorong tubuh Lingga hingga pemuda itu jatuh dari ranjangnya.
*Bruuugghh!!
"Awww, sial!" gerutu Lingga
Gadis itu terlihat gugup saat sang dokter memasuki ruangan itu.
"Maaf, apa kedatangan ku menganggu kalian?" tanya dokter itu
"Ah tidak, dok," jawab Tari
"Apa kau baik-baik saja?" tanya sang dokter mendekati Lingga
"Aku baik-baik saja, walaupun tulang-tulang ku remuk semua," jawab Lingga
Sang dokter membantu memapahnya dan membaringkan tubuhnya ke atas brangkarnya.
"Syukurlah kau sudah sadar Lingga, setidaknya nona Tari berhasil membuat mu siuman dari koma,"
"Hampir satu Minggu, tapi nona Tari selalu menjagamu siang dan malam. Kau harus berterima kasih padanya karena ia bahkan mengerjakan semua pekerjaan kantornya dari rumah sakit," jawab sang dokter
Ia kemudian memeriksa kondisi Lingga.
"Sepertinya semuanya baik, dan kau bisa pulang sekarang,"
"Terimakasih banyak dok,"
"Sama-sama, jangan lupa kau harus berterima kasih padanya," bisik sang dokter melirik kearah Tari
"Tentu saja,"
"Aku doakan semoga hubungan kalian bisa berubah bukan sebagai bodyguard dan majikan lagi," sang dokter menepuk-nepuk pundak Lingga kemudian meninggalkannya.
Lingga kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Tari.
Gadis itu begitu gugup ketika Lingga mendekat kearahnya.
"Terimakasih sudah menjagaku," ucap Lingga
"Sama-sama, lagipula kau tidak perlu berterima kasih padaku. Karena itu sudah seharusnya aku lakukan mengingat apa yang Sudah kau lakukan padaku,"
"Kalau begitu ayo pulang," Lingga segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
Dalam perjalanan pulang keduanya hanya saling diam, Tari terlihat canggung setelah apa yang terjadi di rumah sakit.
*Ciiit!!!
"Sekarang istirahatlah, pastikan kau kemana-mana hari ini," ujar Lingga mengantar gadis itu sampai ke depan kamarnya.
"Kau mau kemana?" tanya Lingga
"Ada yang harus aku selesaikan, jadi tunggu aku di rumah," Lingga segera masuk kedalam mobilnya dan melesat meninggalkan rumah itu.
"Bisa-bisanya dia pergi meninggalkan aku, padahal ia baru saja sadar dari koma. Apa dia sengaja menghindar dariku setelah apa yang ia lakukan padaku, dasar brengsek!" gerutu Tari
Gadis itu tiba-tiba menyentuh bibirnya dan mengingat kembali saat Lingga menciumnya.
"Ah sial, bagaimana bisa aku terus mengingatnya!" serunya kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya dan menutupi dirinya menggunakan selimut.
********
Lingga menghentikan mobilnya tepat di pelataran rumah Ki Gendon.
Ia segera mengecek lokasi tempat ia bertarung melawan Nyi Nilam Sari.
Ia kemudian memeriksa bekas tanah yang masih berlubang tempat dimana Nilam Sari menghilang.
"Aku yakin dia masih hidup, jika ia mati maka seharusnya ia menjadi kepulan asap putih, tapi kenapa ia hanya menghilang tanpa berubah menjadi kepulan asap," Lingga terus menggali tanah itu berharap menemukan sesuatu di sana.
Ternyata ini alasannya si dukun keparat itu menyuruhmu untuk membunuhku. Jangan kau pikir bisa membunuh ku hanya karena kau mempunyai tongkat sakti itu anak muda,
"Benar sepertinya dia memang masih hidup, aku harus memanggilnya dan menanyakan sesuatu padanya," Lingga kemudian bergegas masuk kedalam mobilnya
Kenapa kau tidak mencari kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak Lee, kau benar-benar ceroboh,
"Benar dua kali dia berkata seperti itu padaku, aku yakin ini adalah teka-teki yang harus aku pecahkan,"
Maafkan putriku yang berusaha menyakitimu, percayalah dia tidak sejahat yang kau kira. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai penjaga benda pusaka,
"Penjaga benda pusaka, jika Nilam Sari adalah penjaga benda pusaka berarti isi kotak harta Karun itu bukan emas atau sejenisnya tapi benda pusaka, dan itulah kenapa setiap orang yang membukanya akan mati saat itu juga karena ia harus menjaga benda pusaka itu agar tidak diambil oleh bukan pemiliknya. Tapi kenapa Tuan Purnomo tidak mati setelah melihat isi kotak itu, dan ia bahkan tidak menggunakan benda pusaka itu meskipun sudah memilikinya dan malah ingin mengembalikan kotak harta Karun itu pada pemiliknya. Pemilik di sini merujuk pada orang yang memberikan peti itu dan dia adalah Ki Gendon. Dan Ki Gendon sengaja memanfaatkan aku dengan memberikan informasi palsu tentang Tari yang akan menjadi tumbal pemilik kotak itu agar ia bisa menguasai benda pusaka yang ada di dalam kotak itu. Ia bahkan sengaja menjadikan dua muridnya untuk mengambil kotak itu, tapu sayangnya mereka gagal dan tuan Purnomo yang berhasil mendapatkannya. Lalu ia menyebarkan isu jika kotak itu meminta tumbal bagi siapapun yang melihat isinya. Itu adalah omong kosong karena jika Tari memang menjadi tumbal pengganti Tuan Purnomo harusnya ia sudah mati setelah ia meninggal kediaman Ki Purboyo, atau ia setidaknya datang untuk menemuinya. Tapi ia tidak pernah menemui sang tumbalnya, kenapa aku begitu bodoh. Tuan Purnomo sengaja menulis surat itu untuk memberitahukan kebenaran tentang kotak itu, tapi tidak ada yang mengetahui maksudnya. Dan Ki Gendon sengaja memanfaatkan aku untuk membunuh Nyai Nilam Sari agar bisa mengambil benda pusaka itu. Dasar brengsek, kenapa aku begitu bodoh," Lingga segera memutar balik mobilnya menuju kediaman Purboyo.
"Semoga aku belum terlambat," Lingga mempercepat laju kendaraannya.
*Ciit!!
Ia segera berlari memasuki Istana Hades.
"Sial, aku terlambat!" pekiknya saat melihat rumah itu sudah berantakan, tak ada seorang pun di rumah mewah itu.
Lingga terperanjat melihat mayat Purnomo yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Ia kemudian mencari keberadaan kotak harta Karun itu namun tidak menemukannya.
"Sial, pasti si brengsek itu sudah mengambilnya,"
Saat ia meninggalkan kamar Purboyo tiba-tiba seorang menarik kakinya.
Wanita itu menyerahkan sebuah cincin akik kepadanya.
"Gunakan cincin itu untuk melawan Ki Gendon," ucapnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.