
"Kau benar Lee, baiklah kalau begitu kita pergi sekarang," ajak Tari
"Kuy," Lingga segera menggandeng lengan gadis itu dan mengajaknya pergi.
"Boleh aku minta tolong padamu Tari?"
"Katakan saja, aku selalu siap membantumu Lee,"
"Bisakah kau katakan pada Zeck jika aku adalah kekasih mu?"
"A...itu..a..maksudku kenapa harus seperti itu," jawab Tari gagap
Lingga langsung memegang jemari Tari dan menatapnya lekat, "Aku hanya ingin memastikan sesuatu, jadi tolong bantu aku sekali ini saja."
"Apa kau ingin membuat Zeck jelous dan marah?" tanya Tari khawatir
"Kalau itu alasannya aku tidak mau. Aku tidak ingin kau dan Zeck bermusuhan hanya karena diriku,"
"Tentu saja bukan itu alasannya Tari, bukankah aku sudah bilang tadi, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Maaf aku tidak bisa memberitahukan dirimu, karena ini sedikit menggangu ku," terang Lingga
"Baiklah kalau begitu,"
Keduanya kemudian segera turun dari mobilnya dan beranjak masuk ke dalam sirkuit.
Sementara itu melihat kedatangan Tari Zeck segera menyambanginya dan menyambut gadis itu dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aku tahu kau pasti datang Tari," ucapnya kemudian mencium tangan gadis itu
"Aku datang ke sini bukan karena dirimu, tapi aku datang untuk menemani kekasihku yang sangat menyukai dunia balap," jawab Tari menarik lengannya dan kemudian tersenyum kearah Lingga
"Kekasih?" ucap Zeck tidak percaya
"Sepertinya aku harus memberitahukan dirimu jika sekarang aku dan Lingga resmi berpacaran," ucap Lingga
"Jangan berbohong Lingga?" tampik Zeck
"Dia tidak berbohong Zeck, aku sengaja merahasiakannya dari publik demi kenyamanan hubungan kami, ayo sayang," ucap Tari menggenggam erat jemari Lingga dan berlalu pergi meninggalkan Zeck, tentu saja hal itu membuat Zeck kebakaran jenggot.
"Sial," Zeck tersenyum sinis menatap kepergian keduanya
Sekarang aku yakin untuk mendekati Tari, karena aku tahu dia adalah kunci untuk mendapatkan kembali tongkat sakti ayahku yang ada di tangan Lingga.
Zeck segera berjalan menuju sirkuit dan menaiki sepeda motornya.
*Brum, Brum, bruum!!
Semua pembalap sudah berada di tempatnya masing, dan bersiap meluncur ke arena balap.
Lingga terus memperhatikan Zeck dari atas tribun penonton, sedangkan Tari sibuk bermain game di gadgetnya.
"Apa kau benar-benar menyukai balapan motor?" tanya Tari
"Tidak juga," jawab Lingga singkat
"Lalu kalau kau tidak suka kenapa ingin sekali datang menonton balapan hari ini?" telisik Tari
"Bukankah aku sudah bilang padamu jika aku harus membuktikan sesuatu," Lingga kemudian beranjak dari duduknya
"Tunggu sebentar disini aku akan ke toilet dulu,"
Tari menatap kearah Zeck yang berhasil finish di urutan pertama.
"Terimakasih Tari, berkat kedatangan mu aku bisa menjadi juara hari ini," tukas Zeck menghampirinya.
"Hadiah ini ku persembahkan untuk mu," imbuhnya kemudian memberikan piala itu padanya.
"Tidak perlu Zeck, lagipula sudah aku katakan jika aku datang ke sini bukan untuk menyemangati mu, jadi kemenangan mu adalah karena usahamu sendiri bukan dariku," sahut Tari menampik piala itu.
"Tapi aku merasa kau adalah semangat ku Tari, persetan kau datang demi kekasihmu itu tapi bagiku kehadiran mu memberikan kekuatan padaku untuk memenangkan pertandingan ini,"
Tari hanya tersenyum sinis dan kemudian berlalu pergi.
"Aku tidak percaya sekarang dia benar-benar mengacuhkan aku," tukas Zeck sinis
"Bagaimana rasanya diacuhkan Zeck," ucap Lingga berdiri di depannya
"Apa maksudmu?"
"Dulu kau melakukan hal yang sama pada Tari, kau selalu mengacuhkannya bahkan cenderung menyakitinya meskipun wanita itu sangat tulus mencintaimu. Sekarang semuanya sudah berbalik Zeck, dia sudah melupakan dirimu jadi jangan pernah berharap lagi dia akan kembali lagi padamu apalagi menerimamu lagi. Itu tidak mungkin terjadi, selama aku berada di sisinya." sahut Lingga kemudian menguncang tubuh Zeck dan berlalu meninggalkannya
"Dasar brengsek, kau pikir siapa dirimu berani menggertak ku," Zeck langsung mengejar Lingga dan menarik pundaknya.
*Buuggghhh!!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Lingga membuat pemuda itu tersenyum kecut menatap Zeck.
"Sepertinya dugaan ku benar, kau bukanlah Zeck mantan suami Tari. Kau adalah makhluk lain yang menguasai tubuhnya. Aku bisa merasakan itu dari pukulan mu dan sorot tajam matamu yang begitu membenci ku. Apa aku salah?" ucap Lingga membuat Zeck semakin geram
"Bagaimana kau bisa tahu, jika aku adalah mahluk gaib yang menguasai tubuhnya?" jawab Zeck
"Pukulan itu mengingatkan aku saat kita bertanding balapan motor, aku tahu orang biasa seperti Zeck tidak bisa membawa ku ke negeri para lelembut. Dan lagi tidak ada manusia biasa memiliki pukulan yang membuat senjata pusaka ku sampai bergerak hendak keluar dari tubuhku. Jadi siapa sebenarnya Ki sanak?" tanya Lingga
Zeck tertawa kecil mendengar ucapan pemuda itu.
"Jangan banyak bicara brengsek!" seru lelaki itu kemudian mencekiknya dan mendorong Lingga hingga keduanya berteleportasi ke alam gaib.
"Kau ingin tahu siapa aku bukan?" ujar Zeck terus mencekik Lingga dan mendorong pemuda itu hingga Lingga benar-benar berada di ujung jurang terjal.
"Apa kau tahu jika kau terjatuh dari tebing ini maka kau tidak akan bisa kembali lagi ke duniamu," ucap Zeck tertawa jahat
Lingga berusaha melawan lelaki itu namun kekuatan tidak sebanding dengannya.
"Katakan siapa kau mahluk brengsek!" seru Lingga
"Baiklah aku akan memberitahu mu siapa diriku agar kau tidak mati penasaran anak muda,"
"Aku adalah Gordon putra sang Raja Iblis, aku kembali ke dunia ini karena ingin mengambil benda Pusaka ayahku yang ada padamu, apa itu sudah jelas anak muda?" tutur Zeck
"Aku tidak akan memberikan tongkat itu padamu, karena berbahaya jika benda pusaka itu jatuh kepada mahluk jahat seperti dirimu,"
"Tanpa kau memberikannya padaku, benda itu akan tetap menjadi milikku," Zeck kemudian meletakkan telapak tangan keatas kepala Lingga hingga pemuda itu merasakan ada sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya.
"Arrgghh!!" pekiknya kesakitan
"Apa sekarang kau merasa kesakitan?" tanya Zeck
"Bahkan benda mati pun tahu siapa tuannya, dan ia berusaha keluar untuk kembali kepada pemiliknya, jadi lebih baik kau keluarkan saja benda itu daripada kau terus tersiksa kesakitan karenanya,"
"Sampai kapanpun aku tak akan memberikannya padamu, lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan benda ini padamu,"
"Kau benar-benar keras kepala Lingga, baiklah jika itu mau jangan salahkan aku jika terpaksa menyingkirkan dirimu, dan asal kau tahu bukan hanya tongkat sakti itu yang ingin aku ambil dari dirimu, tapi juga Tari kekasihmu. Harus ku akui jika awalnya aku hanya ingin menjadikan dia sebagai umpan untuk mengambil benda pusaka itu darimu, karena aku tahu dia adalah kelemahan terbesarmu. Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai menyukainya dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri ku. Jadi lebih baik kau mati saja agar tidak menghalangi ku," tutur Zeck kemudian mendorong Lingga hingga jatuh ke jurang.