LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
56. Prahara di awal Bahagia



"Cepat lanjutkan akadnya," ucap Zeck.


"Tapi," Lelaki tua itu ragu-ragu untuk melanjutkan akad nikah Zeck dan Tari.


"Lanjutkan saja Aki, biar aku yang akan menangani cuaca buruk ini," sahut Ki Gendon


"Ini bukan masalah cuaca buruk atau badai Aku. Aku tahu dengan kekuatan kalian bisa menghentikan semua ini tapi, sebagai pemimpin ritual pernikahan gaib aku sudah pernah mengalami ini sebelumnya." tutur sang penghulu.


"Sebelum aku melanjutkan ritual ini aku harus memberitahukan padamu apa yang akan terjadi kedepannya jika kalian memaksakan diri untuk melanjutkan upacara pernikahan ini." imbuhnya.


"Tidak perlu, aku tidak mau mendengar apapun darimu, jadi lanjutkan saja akadnya!" seru Zeck dengan suara lantang.


"Baiklah, sepertinya Anda sudah tahu apa yang akan terjadi nanti jadi aku tidak perlu memberitahukan lagi semua itu." lelaki itu kembali duduk dan bersiap melanjutkan akad nikah yang sempat tertunda.


Ia menatap lekat kearah Tari yang terlihat begitu tenang.


"Baru kali ini aku melihat calon mempelai seperti dirimu," ucapnya sembari menyunggingkan senyumnya.


"Baiklah mari kita lanjutkan saja akad nikahnya," lelaki itu kemudian menjabat tangan Zeck dan memulai Akad Pernikahan keduanya.


*Buuugggghhh!!


"Ah, apa ini kenapa rasanya sangat kenyal, dan hangat?" Lingga perlahan mendongakkan wajahnya untuk memastikan apa yang ia sentuh.


"Astoge!!" Lingga begitu kaget dan ia segera melepaskan apa yang di pegangnya.


"Dasar cabul!!" seru seorang wanita dan menampar wajah Lingga


*Plaakkk!!


"Awww, maaf tidak sengaja," jawab Lingga memegangi pipinya.


"Inikah rasanya di tampar mahluk gaib??"


"Gimana rasanya?" tanya wanita itu


"Sakit?" jawab Lingga sedih


"Oh, gitu." sahutnya kemudian berjalan meninggalkannya


"Eits tunggu, sepertinya wajahmu begitu familiar?" Lingga menyusul wanita itu dan menatapnya tajam.


"Kunti???" tanyanya tidak percaya


"Ah, kenapa kau masih mengenaliku padahal aku sudah operasi plastik," jawab wanita itu lesu


"Tentu saja aku mengenalimu, kita ini kan sehati eeaaa," sahut Lingga sambil terkekeh


"Dih gombal,"


"Btw kenapa kau ada di sini?" tanya Lingga


"Aku mau menghadiri pesta pernikahan putra Tunggal Raja Iblis??"


"Putra tunggal Raja Iblis??"


Jadi Zeck adalah putra Raja Iblis, pantas saja ia begitu ingin merebut tongkat sakti itu.


"Hmmm, kau sendiri mau apa kesini?, jangan bila kau mencari ku karena rindu,"


Lingga terkekeh mendengar ucapan Sri Kunti, "Hahahaha, kau tak pernah berubah Kun. Masih saja alay, hahahaha!"


"Ish," sahut Kunti mencebikkan bibirnya


"Sebenarnya aku datang ke sini sebagai tamu tak diundang dalam pesta pernikahan itu, karena kekasihku yang menjadi pengantin wanita dalam. pesta itu." terang Lingga


"Tamu tak diundang??, kaya judul lagu," sahut Kunti sambil terkekeh


"Heh,"


"Kasian banget kamu Lee, kenapa selalu saja sad ending kisah cintamu. Pertama di tinggal nikah sama aku, kedua di tinggal mati sama Zieya sekarang di rebut Iblis. Oh sungguh tragis nasib mu anak muda," ucap Kunti menepuk-nepuk pundak Lingga


"Hiaaaa, emaaakkk!"


"Cup-cup, tayang-tayang," hibur Kunti


"Btw kenapa kamu datang ke pesta pernikahan sendirian, dimana suamimu?" telisik Lingga


"Aku sudah pisah dengan suamiku," jawab Kunti sedih


"Lagi??" jawab Lingga tidak percaya


"Hmmm, ternyata percuma saja kita memberikan kesempatan kepada seseorang yang sudah mencampakkan kita, karena mereka akan melakukan kesalahan yang sama lagi."


"Sad Ghost, ternyata nasib kita sama Kun," sahut Lingga memeluknya.


"Sama apanya Lee??"


"Sama-sama Jones ( Jomblo nelangsa bin ngenes),"


"Anj*r bener,"


"Btw biar gak jomblo bagaimana kalau kita pergi kondangan bareng?" ajak Lingga


"Ok,"


"Kenapa sepi?" tanya Lingga terkejut melihat tempat itu sepi


"Mungkin acaranya sudah selesai."


"Bisa jadi, tapi aneh aja. Walaupun sudah selesai biasanya tetap ramai meskipun ada satu atau dua pengunjung yang masih mendatangi tempat ini." sahut Lingga


"Entah," ucap Kunti mengangkat bahunya.


*Wuuusshh!!!


Tiba-tiba sebuah hembusan angin kencang menerpa keduanya hingga terhempas keluar dari tempat itu.


"Aarrgghhh!!" Lingga mencoba bangkit dan berdiri.


Lelaki itu kaget ketika melihat Kunti terkapar tak bergerak lagi.


"Kunti, bangun Kunti, jangan mati!!" serunya sembari mengguncang tubuh wanita itu


"Dia sudah tidak bernafas lagi, tapi memang dia sudah mati kan. Tapi kenapa ia tidak bergerak??. Kasian Kunti kau harus mati untuk kedua kalinya." Tiba-tiba tubuh wanita itu berubah menjadi kepulan asap dan menghilang.


"Seperti dugaan ku, ada yang tidak beres dengan pesta pernikahan ini," Lingga kembali memasuki gedung itu dengan hati-hati.


*Tak, tak, tak!!


"Ki Gendon!" pekiknya ketika melihat jasad Ki Gendon bersimbah darah.


"Tidak mungkin Zeck pelakunya. Lalau dimana mereka?" Lingga segera merangsek masuk mencari keberadaan Zeck dan Tari.


*Flashback tiga puluh menit sebelumnya.


"Mempelai pria, silakan ikuti ucapan ku," tukas sang penghulu


"Baik," Zeck menjabat tangan lelaki itu dan mendengarkan ucapannya dengan seksama.


Sementara itu, di kediaman Gareth.


"Kevin, kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini. Kenapa kau sama bodohnya dengan Zeck yang rela mengorbankan nyawanya demi gadis itu," Gareth begitu terpukul mengetahui kematian Kevin.


"Baiklah, sepertinya aku harus menuntaskan rencana ku." Lelaki itu kemudian membaringkan tubuh Kevin dan menutupnya dengan kain.


Ia kemudian memasuki ruang ritual pernikahan Gaib di kediaman Ki Gendon.


"Sepertinya aku harus mengirim mu untuk menemui Kevin dan Zeck agar pengorbanan mereka tidak sia-sia." Gareth tersenyum sinis menatap Tari yang terbaring di altar pemujaan.


Lelaki itu kemudian mengambil sebuah pisau dan menusuk Ki Gendon hingga lelaki itu tewas bersimbah darah.


"Sekarang saatnya menyingkirkan sang pangeran Iblis," Gareth kemudian


Lelaki itu segera memejamkan matanya dan merapalkan mantera.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari binti Purnomo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


*Wusshhh!!!


Seketika angin kencang berhembus menyapu semua orang yang ada di tempat itu, hingga terlempar ke berbagai penjuru.


"Aarrgghhh!!!" Tari merasakan nyeri yang begitu hebat setelah tubuhnya menghantam tiang beton bangunan itu.


"Tari!!" seru Zeck melesat menghampiri gadis itu.


"Apa kau baik-baik saja," tanyanya panik


"Rasanya tubuh ku sudah tidak bisa di gerakkan lagi," ucap Tari kemudian memuntahkan darah segar dari mulutnya.


*Wuuusshh!!!


Kali ini angin berhembus dua kali lebih kencang hingga membuat semua yang ada di sana terbawa dalam pusaranya.


Zeck mengeluarkan semua kekuatannya untuk bertahan dan melindungi Tari.


"Tinggalkan aku di sini bee, pergi dan selamatkan dirimu," ucap Tari mencoba melepaskan diri dari pelukan Zeck.


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu Tari. Mulai sekarang Aku akan selalu menjaga dan melindungi dirimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu!!" seru lelaki itu


"Siapapun yang berusaha merusak pernikahan ku hari ini, aku tidak akan membiarkannya hidup!" seketika mata Zeck berubah menjadi merah membara.


"Akiiiii!!" serunya memanggil Ki Gendon.


Namun berapa keras ia memanggilnya lelaki itu tak muncul jua di hadapannya membuatnya begitu geram.


Ia berjalan mencari lelaki itu, dan menemukan Ki Gendon terkapar di lantai.


"Maafkan aku Pangeran, sepertinya ada seseorang telah membunuhku sehingga aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku untuk melindungi mu," ucapnya lirih.


"Dasar tak berguna!" seru Zeck kemudian melepaskan pukulan kerasnya hingga lelaki itu tewas seketika.


Om Gareth ada di balik semua ini, dia dan tari berusaha untuk membuat hubungan kita merenggang. Kevin anak buah Om Gareth yang menukar fileku dengan berpura-pura menolong ku saat aku di begal. Dan soal presentasi itu, Tari sengaja menjebak ku. Mereka tahu jika aku adalah tangan kananmu, sehingga berusaha mengaku domba kita berdua. Aku tidak bohong Zeck, aku menguping pembicaraan mereka di Kemang kafe." tutur Zoya


"Aku tidak pernah memprovokasi mu ataupun membohongi mu. Kau akan menyesal karena tidak mempercayai ku," ucap Zoya kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.


Tiba-tiba perkataan Zoya terngiang-ngiang di benak Zeck.


"Gareth!!!!" serunya dengan penuh amarah