LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
LNMS2 Bahaya mengancam



*Braakkk!!


Semua mata tampak menatap kearah Radit yang tertimpa lampu ruangan. Janie segera berlari menghampirinya.


"Tolong, tolong!!" seru Janie begitu histeris saat melihat kekasihnya bersimbah darah.


Saat beberapa orang datang untuk membantunya tiba-tiba kembali sebuah Lukisan jatuh mengarah ke Radit.


"Janie awas!" seru Deden


Radit yang masih setengah sadar langsung mendorong Janie saat lukisan itu melesat kearahnya.


*Buughhh!!


"Raditt!!" teriak Janie saat melihat


Radit seketika tak sadarkan diri setelah sebuah lukisan menghantam kepalanya.


Janie segera bangun dan menghampirinya.


Ia mengguncang tubuh kekasihnya itu, berusaha membangunkannya.


"Radit, bangun Dit, Radit bangun!!"


Janie semakin panik saat melihat darah segar mengucur dari kepala kekasihnya itu, hingga membuatnya langsung berteriak histeris.


"Tolong!" seru Janie berteriak histeris


Dua orang guru langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi. Janie menunjukkan luka di kepala Radit, sambil terisak.


"Dia jatuh terpeleset dan tiba-tiba kepalanya kejatuhan lampu dan lukisan," jawab Janie terisak


Seorang guru langsung berinisiatif untuk membawa Radit ke rumah sakit terdekat.


"Telpon ambulance sekarang!"


Suasana Gasebo menjadi riuh, semua siswa yang seharusnya sedang menikmati makan siang mereka justru mengerubungi Radit yang masih belum sadarkan diri.


Tak Lama sebuah ambulance tiba dan membawa Radit ke rumah sakit.


Janie mengikuti Radit menuju ke rumah sakit. Sedangkan dari kejauhan Angel menyeringai senang.


Jangan harap kau bisa selamat Radit.


"Kamu gak makan?" tanya Deden menoleh kearah Angel yang masih belum menyentuh nasi boxnya.


"Aku belum lapar, kalau kamu mau makan saja punyaku," jawabnya kemudian menyodorkan nasi box miliknya kepada Deden.


"Makasih ya Ngel, kebetulan aku laper banget," jawab Deden menerimanya dengan senang hati


Tidak lama Melvin datang menghampiri Deden yang tengah asyik menikmati makan siangnya.


Di depannya Angel tampak senang memperhatikan Deden yang begitu lahap menyantap makanannya.


Malvin langsung memukul punggung Deden hingga ia tersedak dan batuk-batuk.


"Sekarang kau puas hah!" serunya melotot


"Kau sudah membuat Radit celaka hari ini, jadi kau juga harus mendapatkan balasan yang sama atas apa yang sudah kamu lakukan padanya!" sahut Malvin kemudian menjambak rambut Deden


"Aku tak melukaiya, ia jatuh Sendiri!" sahut Deden menyeringai kesakitan.


"Tetapi kau yang memulainya!"


Malvin yang geram langsung membuka botol air mineral dan menumpahkannya keatas kepala Deden


Angel langsung melotot kearah Melvin. Perempuan itu kembali mengepalkan tangannya melihat Melvin yang mulai membully Deden.


Melvin yang merasa Angel sedari tadi memelototinya segera menoleh kearah gadis itu.


"Kenapa lo, gak suka!" seru Melvin menyeringai menatap Angel


"Sebaiknya jaga sikapmu dan jangan pernah menyakiti Deden lagi atau aku akan...." ucap Angel seketika menghentikan ucapannya


"Akan apa hah!" jawab Melvin dengan wajah kesalnya


Pak Jamal yang tak sengaja melintas segera menghampiri mereka dan melerainya.


"Ada apa ini, ada apa?"


"Ada cewek songong plus caper pak!" sahut Melvin


"Caper gimana maksudnya?" tanya pak Jamal


"Cari perhatian sama gue lah pak, masa bapak gak tahu. Biasakan kan anak ganteng kaya gue tuh selalu di kejar-kejar cewek,"


"Kan normal kalau gitu. Tinggal kamu tidak usah menanggapi jika memang kamu tak suka dengannya, gitu aja kok repot,"


"Tetap saja aku gak suka ada cewek songong dan sok jagoan cuma untuk mendapatkan perhatian gue aja. Gue hapal kok tipe cewek kaya Lo!" tukas Melvin menunjuk kening Angel


Angel tersenyum mendengar ucapan Melvin.


Sebentar lagi kau akan menyesali semua ucapan yang sudah terlontar dari bibirmu anak muda, kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku.


"Kalau kamu gak suka tinggal pergi saja Mel, memangnya apa susahnya sih," ucap Pak Jamal kemudian mengajak Melvin pergi meninggalkan Angel dan Deden


"Kamu gak papa kan?" tanya Angel


"Gak papa kok aku Udah terbiasa di bully ," jawan Deden lesu. Selesai makan ia Bahkan bekerja paruh waktu di sebuah rokok kelontong untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna membayar uang sekolahnya.


Sementara itu, Radit masih belum bangun juga meskipun luka di kepalanya sudah di perban.


Janie masih tetap setia menunggu Radit meski pemuda itu sangat menyebalkan.


Janie tampak memandangi ponselnya berharap ada seseorang yang menghubunginya.


"Kenapa tak ada satupun yang menghubungi ku hari ini, apa mereka tak khawatir denganku atau setidaknya penasaran dengan keadaan Radit," keluhnya


"Kenapa juga Radit belum sadar juga, apa aku perlu mengabari Tante Ana agar ia tahu keadaan putranya?. Ah tapi bagaimana kalau dia shock nanti. Ah lebih baik tak usah, biar waktu saja yang akan memberitahukan Tante Ana kondisi Radit."


Tidak lama Janie kembali dikejutkan dengan kemunculan pria misterius itu lagi yang memintanya ikut dengannya.


"Kali ini kau harus ikut denganku!" ucap pria itu kemudian menarik Jannie