
"Bunga Mawar," Zeck bejalan cepat menghampiri seorang asisten rumah tangga Nadya.
Gadis itu terkejut dan mencoba melepaskan diri saat Zeck langsung mencekiknya.
"Sebentar lagi kekuatanku akan kembali, tunggulah pembalasanku Lingga," ia segera mengigit leher wanita itu bak seorang vampir.
Nadya menganga melihat apa yang terjadi di depannya.
Dia bukan Zeck, dia itu Iblis Nadya!!!
Kata-kata Tari terus terngiang-ngiang di telinganya membuat gadis itu tak bisa mengelak kebenaran yang ada di depan matanya.
"Dia bukan Zeck, dia benar-benar Iblis!!" Nadya segera mengambil sebuah botol dan memukulkannya kepada Zeck.
Lelaki itu menyeringai dan menatap tajam kearahnya membuat Nadya ketakutan dan berjalan mundur menjauh darinya.
"Kau sudah bosan hidup hah!!" hardiknya kemudian mencengkeram lehernya.
"Aku Nadya Bee, sadarlah!!" ucap Nadya
"Kau pikir aku akan melepaskan dirimu hanya karena kau menolong ku, kau salah gadis manis. Aku bukan Zeck, kekasih mu itu sudah mati jadi jangan pernah memanggil ku dengan panggilan memuakan itu, karena aku sama sekali tidak menyukaimu!" hardik lelaki itu kemudian melemparkan Nadya hingga menghantam furniture rumahnya.
*Uhuukkk!! gadis itu mencoba bangun untuk melarikan diri namun Zeck kembali menyeretnya.
"Walaupun kau tidak memiliki darah suci untuk mengembalikan kekuatanku, setidaknya jantung mu masih bisa aku makan," tukas Zeck membuat Nadya seketika pucat pasi.
"Kau sudah mengganggu makan malam ku jadi sebagai gantinya aku akan memakan jantung mu," Ia kemudian meninggalkan Nadya dan berjalan ke dapur untuk mengambil, sebuah pisau.
Nadya memanfaatkan peluang itu untuk melarikan diri.
"Kenapa lari ku sangat lambat, padahal aku seorang atlet lari," keluh Nadya saat merasakan tubuhnya tak bergerak meskipun ia sudah berusaha berlari cepat.
"Hahahaha!!" suara Zeck terdengar menggema menertawakan Nadya
"Kau pikir bisa melarikan diri dari ku Nadya??" ucapnya menghampiri gadis itu.
"Sekarang aku akan mengirim mu ke alam baka agar bisa bertemu dengan lebah yang kau rindukan selama ini," Zeck mengayunkan pisau di tangannya dan mengarahkannya ke jantung Nadya.
*Greeppp!!
"Aku tidak akan membiarkan iblis seperti dirimu menang kali ini," tukas Lingga
"Ternyata kau masih belum puas memburuku Lingga. Jika kau terus-menerus menyerang ku maka kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku. Karena dengan begitu aku akan tahu kelemahan mu sehingga mudah bagiku untuk mengalahkan mu," ucap Zeck menyeringai
Lelaki itu kemudian mendorong Lingga dan menarik Nadya ke arahnya.
"Jika aku tidak bisa memakan jantung mu, setidaknya aku harus membunuhmu karena kau sudah menjebak ku!" Zeck langsung menyayat leher gadis itu hingga tersungkur ke lantai.
*Sepuluh menit sebelumnya....
Nadya begitu terkejut bercampur takut ketika melihat Zeck hendak menghisap darah asisten rumah tangganya.
Dia bukan Zeck, dia itu Iblis Nadya!!!
"Tari benar dia bukan Zeck, dia adalah Iblis yang merasuki tubuh Zeck," wanita itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi Lingga.
"Halo,"
"Aku Nadya. Jika kau sedang mencari Zeck, saat ini dia ada di rumahku. Cepatlah datang sebelum terlambat," ucap Nadya
Sementara itu dari kejauhan Zeck menatap nyalang kearah Nadya.
"Ku pikir kau adalah satu-satunya wanita yang akan selalu mendukung ku, ternyata tidak ku sangka kau juga ingin menyingkirkan aku," ucapnya menyeringai
*Flashback off
"Sial!" pekik Lingga kecewa
"Kau lihat sekarang, bahkan menyelamatkan gadis didepan matamu saja kau tidak bisa apalagi membunuhku, kau tidak akan bisa Lee!" ejeknya
Garra yang baru saja tiba di tempat itu segera menyerang Zeck.
Tidak seperti dalam pertarungan sebelumnya, kali ini Zeck lebih sigap dan bisa menangkis semua serangan Garra.
"Bahkan seekor kerbau yang bodoh tidak akan terjatuh ke dalam lubang yang sama. Ck, ck, ck!!" Zeck menertawakan Garra yang terlihat kelelahan setelah semua serangannya meleset.
Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Zeck segera melepaskan tendangannya kearah Garra hingga terhempas keluar rumah.
Seakan bisa membaca gerakan lawannya, Zeck berhasil menangkap selendang Nilam Sari dan menarik kearahnya.
*Buuggghhh!!!
Sebuah pukulan keras tepat mengenai ulu hati Nilam Sari.
Wanita itu seketika tersungkur ke tanah.
Kini lelaki itu berjalan menghampiri Lingga yang masih terdiam mematung melihatnya.
"Kau lihat sekarang Lee, aku bahkan bisa melumpuhkan kedua sahabat mu dengan mudah. Sekarang giliran mu untuk menyerang ku, majulah!!" tantangannya dengan suara lantang.
Apapun yang terjadi aku tidak boleh gentar, dia hanya menggertak ku agar aku ketakutan menghadapinya. Aku harus waspada mulai sekarang karena ia sudah membaca dan menghafal semua serangan dan jurus-jurus yang digunakan oleh musuhnya. Itu berarti dia juga sudah tahu jurus apa yang akan aku pakai untuk melawannya. Sekarang aku tidak akan menggunakan Tongkat sakti itu lagi.
Lingga berdiri tegap penuh percaya diri bersiap menghadapi Zeck.
"Ternyata kau tidak mau menyerang ku lebih dulu Lingga. Kalau begitu aku yang akan menyerang mu lebih dulu," Zeck segera melepaskan tinjunya kearah Lingga.
Kenapa serangannya begitu cepat, bukankah dia masih lemah setelah pertempuran kemarin. Tapi kenapa kekuatannya bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya. Apa karena dia sudah meminum darah perawan??. Tidak mungkin dia belum sempat meminum darahnya karena Nadya menggagalkan rencanakan. Apa mungkin itu karena....
Lingga menatap bulan purnama yang bersinar terang malam itu.
Setiap malam purnama kekuatan iblis akan bertambah tiga kali lipat. Namun kita bisa menghalangi pancaran cahaya bulan untuk mengurangi kekuatannya.
"Itu dia, terimakasih Daddy...kau selalu membantuku disaat genting seperti sekarang," Lingga segera berlari untuk memancing Zeck berpindah dari tempatnya.
Aku harus terus memancingnya ketempat yang tidak bisa terkena cahaya rembulan.
"Kenapa kau terus menghindar Lingga, apa kau sudah mulai gentar menghadapi ku,"
Tiba-tiba Zeck menghentikan langkahnya ketika ia merasakan badannya mulai terasa lemah.
"Sial, ternyata dia sengaja terus berlari menghindari ku untuk membawaku ke tempat gelap ink. Ternyata dia sangat cerdik, dia tahu aku akan menjadi lemah tanpa cahaya bulan purnama."
"Seperti memancing diatas air keruh, dia juga mempertaruhkan nyawanya untuk membawamu menjauh dari teman-temannya. Baiklah Lingga mari kita lihat siapa yang akan beruntung malam ini. Aku atau dirimu," Zeck segera melepaskan belati yang ada di tangannya hingga mengenai punggung Lingga.
"Aarrgghhh!!" Lingga menghentikan langkahnya dan segera mencabut belati yang menancap di punggungnya.
*Tak, tak, tak!!
Zeck berjalan mendekati Lingga, ia menatap kearah langit dan tersenyum.
Ia kembali menyerang Lingga dengan Jap beruntun membuat Lingga kewalahan menghadapinya.
Aku harus terus menyerangnya. Aku harus membuatnya merasa terpojok hingga ia mengeluarkan tongkat sakti itu....
*Buuggghhh!!!
Lingga terjerembab ke tanah setelah tendangan keras Zack melesat kearahnya.
Ia menyeringai dan mengeluarkan pedang pusakanya, " Sekarang matilah kau Lingga!!" serunya kemudian menebaskan pedangnya kearah lelaki itu.
*Pranng!!!!
Seperti dugaan Zeck, Lingga yang terpojok segera mengeluarkan tongkat saktinya untuk menahan pedangnya.
Zeck yang berada diatas angin menyeringai.
"Sekarang saatnya kau kembali kepada Tuan mu tongkat sakti,"
Seketika angin berhembus kencang, membuat pohon-pohon tumbang hingga cahaya rembulan dapat menembus tempat itu.
Dibawah cahaya rembulan, Zeck terlihat menggerakkan tangannya memulai sebuah ritual untuk memanggil sesuatu.
Lingga merasakan ada kekuatan besar yang menarik tongkat itu darinya, meskipun ia berusaha menggenggamnya erat tetap saja, ia tidak mampu melawan kekuatan alam yang begitu dahsyat itu.
Zeck tertawa lepas setelah berhasil mengambil tongkat itu darinya. Ia kemudian menatap nyalak kearah Lingga matanya yang memerah seperti sebuah isyarat jika ia ingin menghabisi pemuda itu.
"Selama ini Aku tidak akan pernah membiarkan musuhku hidup, jadi bersiaplah untuk menyusul ayahmu ke alam Baka Lingga!!" Kali ini Zeck menggerakkan tongkatnya kearah Lingga yang sudah tak berdaya.
Tiba-tiba ribuan kunang-kunang seakan menjadi perisai bagi Lingga yang melindunginya dari serangan mematikan Zeck.
"Om Barra!!!"