
Seusai membully Deden Radit kembali menghampiri Janie. Kali ini ia mendapatkan misi dari teman-temannya untuk membuat gadis itu bertekuk lutut padanya.
"Sayang, kemana aja sih, dari tadi ngilang mulu!" celetuk Radit
"Lo kali yang ngilang mulu," jawab Jani tampak kesal
"Kok manggilnya lo sih panggil sayang dong, kan kita sudah resmi pacaran,"
"Terus kenapa masalah gitu," sahut Janie
"Iya dong sayang, kan kesannya jadi gak romantis,"
"Kan lo tahu gue emang bukan cewek romantis," sahut Janie kemudian pergi
Ah sial, kalau bukan karena taruhan gue juga ogah pacaran ama cewek bar-bar kaya lo. Untung cantik, kalau gak udah aku kirim ke pluto lo!
Radit kemudian mengejar Janie yang meninggalkannya. Karena mengira jika Janie marah dengan ucapannya ia pun berusaha membujuknya dan meminta maaf.
"Ok aku yang salah sayang, kalau gitu aku minta maaf ya," ucap Radit menggenggam jemari Janie
"Ok, aku maafin,"
"Terimakasih sayang, kamu emang cewek aku yang paling ngegemesin," ucap Radit kemudian mencubit gemas pipi Janie
"Ish apaan sih, sakit tahu!" sahut Janie
"Abis kamu bikin gemes," ucap Radit kemudian mengacak-acak rambut gadis itu
Melihat bunga mawar yang baru mekar Radit pun memetiknya dan memberikannya kepada Janie.
"Bunga yang cantik untuk gadis yang cantik,"
"Terimakasih," jawab Janie
Tiba-tiba Janie terdiam saat hembusan angin semilir menerpa wajahnya. Ia seolah mendengar sesuatu yang berbisik memanggil namanya.
"Apa lo dengar sesuatu?" tanya Janie
"Apaan sih sayang?"
"Sepertinya ada yang memanggil gue," jawab Janie kemudian menoleh ke kanan dan kiri
"Mana ada sih sayang, orang di sini cuma kita berdua. Masa iya ada hantu yang manggil kamu?" sahut Radit
Kembali Janie mendengar desis suara seolah memanggilnya.
"Tuh beneran, aku yakin ada seseorang yang memanggil ku," ucap Janie lagi
Radit tersenyum nakal mendengar ucapan kekasihnya.
"Dasar nakal, bilang aja kalau mau itu," Radit kemudian mendekatkan wajahnya pada Janie
Ia mengusap lembut wajah cantik kekasihnya sambil menatap kearah bibir tipis Janie yang begitu menggodanya. Ia mencondongkan wajahnya bersiap untuk mencium bibir kekasihnya itu namun siapa sangka Janie justru menolaknya.
"Sorry, aku belum siap memberikan ciuman pertama ku untuk mu," ucapnya sambil menahan Radit
"Why??" tanya Radit penasaran
"Gak tahu, hanya belum siap saja," jawab Janie
"Bilang saja kalau kau mau lebih," ucap Radit kemudian mendorong Janie dan berusaha menciumnya paksa.
Janie yang tidak suka dengan kelakuan Radit berusaha mendorong pria itu. Namun sepertinya Radit sudah kesetanan hingga tak mau melepaskannya meskipun ia sudah berusaha meronta.
"Lepasin gue, Radit!" seru Janie berusaha meronta saat Radit berusaha menciumi lehernya
Karena geram dengan Radit yang terus melecehkannya, membuat Janie akhirnya mendengkul alat kelam*n Radit hingga pria itu mengerang kesakitan.
"Sorry, gue terpaksa melakukannya karena lo yang memancingnya," ucap Janie kemudian berlari meninggalkan Radit.
"Sial, dasar cewek bar-bar!" pekik Radit sambil memegangi kemal*annya.
Janie terus berlari mengikuti desis suara yang memanggilnya.
"Rinjani...."
Sementara itu di tempat berbeda, seorang siswa perempuan yang mendengar teriakan Deden langsung bergegas mencarinya.
Ia terkejut saat melihat Deden tergeletak pingsan di dalam lubang.
Ia pun mengeluarkan sebuah tali dan melemparnya hingga mengenai kepala Deden.
Deden seketika terbangun dan mendongakkan wajahnya keatas.
"Apa kau baik-baik saja!" tanya gadis itu
Deden menggelengkan kepalanya dan memperlihatkan bekas gigitan ular di lengannya.
Deden mengangguk dan segera mengambil kamera SLRnya. Ia kemudian memanjat keatas menggunakan tali itu.
Gadis itu mengulurkan tangannya saat melihat Deden hampir tiba di atas.
"Terimakasih," ucap Deden mengusap peluhnya
Gadis itu kemudian memberikan botol air mineral kepadanya.
"Terimakasih,"
Hidung gadis itu tiba-tiba bergerak-gerak saat mengendus bau tak sedap dari tubuh Deden.
"Ini bau pesing dari bajuku," ucap Deden kemudian membuka bajunya dan membuangnya.
"Apa kau tidak punya pakaian ganti?"
"Ada di bus,"
"Kalau begitu pakai dulu kaos milikku," Gadis itu memberikan pakaian olahraganya kepada Deden
Melihat bekas gigitan ular gadis itu langsung menarik lengan Deden dan mengeluarkan bisanya dengan menyedotnya.
Ia kemudian mengikat luka itu dengan menggunakan dasi miliknya.
"Aku harap racunnya belum menyebar," ucap Gadis itu
"Terimakasih banyak sudah menolongku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tak datang menolongku," tukas Deden
"Sama-sama," jawab gadis itu kemudian membantu Deden berdiri
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya Deden
"Angel," jawabnya singkat
"Deden!" seru Janie menghampirinya
"Janie??" Deden langsung menyembunyikan tangannya yang terluka saat melihat Janie menghampirinya
"Apa yang terjadi denganmu, kenapa wajahmu sangat kotor, dan bau ini!" Janie mengendus kepala Deden yang bahu pesing
"Apa mereka membully mu lagi?" tanya Janie dengan nada marah
Deden hanya menunduk tanpa berani menjawab.
"Sial, jadi mereka belum kapok juga," Janie mengepalkan tangannya membuat Deden langsung menarik lengannya saat gadis itu hendak pergi
"Jangan Jan, kalau lo membalas mereka justru mereka akan kembali membully ku. Aku baik-baik saja jadi kau tak perlu membalas perbuatan mereka. Aku tak mau kau terluka karena aku," pungkas Deden
Melihat tangan Deden yang diikat Janie pun bertanya padanya tentang luka itu.
"Aku di gigit ular saat jatuh di lubang , jadi ini bukan luka karena mereka,"
Mendengar sahabatnya di gigit ular, Janie berusaha untuk membuka lukanya namun Angel langsung melarangnya.
"Gak usah dibuka nanti infeksi, aku sudah mengeluarkan bisanya jadi jangan khawatir, sebaiknya kau urus saja pacar kamu yang suka bully orang itu," seru Angel
Mendengar celotehan Angel seketika membuat Janie sedikit kesal dengan gadis itu.
"Siapa sih dia, kayaknya gue gak pernah lihat dia?" tanyanya kepada Deden
"Namanya Angel, dia anak IPA. Aku juga baru kenal sama dia dan dia yang udah menolong gue," jawab Deden
"Lo anak baru pasti, karena aku kenal semua anak IPA dan belum pernah lihat lo," ucap Janie
"Emang bener, gue baru pindah di sekolah kalian seminggu yang lalu,"
"Anak baru tapi kok lagaknya sok tahu!" cibir Janie
"Sudahlah Jan, bagaimanapun juga dia udah nolongin gue jadi please jangan apa-apain dia," jawab Deden kemudian meninggalkan Janie bersama Angel
"Kenapa aku merasakan ada yang aneh dengan Angel, jika dia anak baru pindahan seminggu yang lalu masa iya dia tahu kalau Radit pacar gue??"
"Janie...." kembali Janie menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Oi, siapapun lo jangan suka manggil-manggil gue kalau lo terus sembunyi. Cepat tunjukkan batang hidung lo atau gue akan menghajar lo!" seru Janie dengan suara lantang.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat gadis itu hampir terhempas olehnya.
*Wusshh!!
*Grepp!!
Tiba-tiba seorang pria tampan muncul di depannya menangkap tubuh yang hampir terjatuh.