LOVE AND MYTH

LOVE AND MYTH
24. Jangan Bersedih



"Sekali lagi terimakasih Aryo," tukas Mentari tersenyum simpul padanya


"Sama-sama Tari,"


"Btw hari ini hari pertama kamu bekerja sebagai CEO PURNOMO CORPORINDO, aku yakin kau bisa bekerja lebih baik daripada aku. Kau pasti bisa membuat perusahaan itu semakin maju, semangat!" tukas Lingga memotivasinya


"Terimakasih Aryo, Bagaimana jika kau menjadi sekertaris pribadi ku, aku ingin kau selalu ada di sisiku dan membantu ku?"


"Bukankah tanpa menjadi sekretaris pribadi mu aku akan selalu ada di sisimu dan membantumu, jadi lebih baik kau cari saja orang yang berkompeten untuk melakukan tugas itu. Kau tahu kan aku ini cuma seorang dukun dan aku hanya kompeten dalam bidang itu. Jadi carilah seseorang yang berkompeten dalam bidang itu agar ia bisa membantumu memajukan Purnomo Corporindo," sahut Lingga


"Tapi...."


"Jangan khawatir, seperti janjiku padamu aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku akan selalu ada di sampingmu, menjaga dan melindungi mu karena aku bodyguard mu," ucap Lingga


"Makasih Aryo,"


"Kembali kasih,"


*Dreet, dret, dret!!


Tari segera membuka ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Gadis itu hanya menghela nafas panjang kemudian mematikan ponselnya.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Lingga


"Tidak perlu, tidak penting juga." jawab Tari


Lingga segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi wanita itu.


"Harusnya kau angkat telponnya mungkin ada hal penting yang ingin ia sampaikan padamu. Walaupun sekarang kalian sudah resmi bercerai dan kau sangat membencinya tidak seharusnya kau mengacungkannya. Ingat kau pernah mencintainya dan kau juga pernah jadi suami kamu jadi hormati dia seperti saat pertama kau mengenalnya. Lupakan semua yang ia lakukan padamu dan maafkan dia," ucap Lingga


"Baiklah, aku minta maaf." jawab Tari


"Jangan minta maaf padaku, tapi minta maaflah pada Zeck, aku yakin sekarang dia sudah berubah,"


*Dreet, dreet, dreet!!


"Halo,"


"Bisa kita bertemu sebentar,"


"Dimana?" tanya Tari


"Aku sudah ada di depan rumahmu," jawab Zeck


Tari segera menutup ponselnya dan keluar menemui Zeck.


"Silakan masuk," sapanya


"Tidak perlu, aku hanya ingin berpamitan saja padamu. Aku ingin melihat mu untuk terakhir kalinya," jawab Zeck menatapnya lekat


"Memangnya kau akan pergi kemana?"


"Seperti keinginan mu, kau sangat ingin melihat aku menjadi pembalap internasional dan masuk F1 bukan, kebetulan aku mendapatkan kesempatan itu. Aku harus pergi ke Eropa dan berkarier di sana. Aku ingin mewujudkan keinginan mu agar kau bisa bangga padaku. Lagipula...di sini aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi karena kita sudah berpisah. Entah kenapa aku begitu putus asa saat kau menceraikan diriku, mungkin benar jika ada yang bilang kau baru bisa menyadari betapa berartinya seseorang jika sudah kehilangan orang tersebut. Alih-alih melupakan dirimu aku ingin menjadi pembalap F1 agar kau tidak membenciku. Aku harap kau mau memaafkan semua kesalahanku padamu, walaupun ini sesuatu yang mustahil tapi aku selalu berdoa semoga suatu saat kau akan membuka lagi hatimu untukku," ucap Zeck berkaca-kaca


"Aku sudah memaafkan mu sebelum kau meminta maaf padaku. Aku doakan semoga karier mu bagus di sana dan kau bisa menjadi pembalap terkenal seperti impianmu. Jangan pernah berharap sesuatu yang tidak mungkin karena itu hanya akan menyakiti dirimu. Jadilah dirimu sendiri, aku yakin seiring berjalannya


waktu kau akan menemukan wanita yang baik untuk menggantikan aku, hati-hati dan semoga berhasil," tukas Tari


Seketika Zeck menarik gadis itu dan memeluknya erat.


"Maafkan aku Tari, sekali lagi maafkan aku. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maafmu tapi setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu. Aku baru sadar jika aku menyia-nyiakan berlian hanya demi sebuah perak yang tak berharga," ucapnya lirih


"Jadikan semua itu sebagai pelajaran yang berharga agar kau tidak salah langkah lagi di kemudian hari bee," sahut Tari melepaskan pelukannya


"Coba panggil aku dengan sebutan itu selalu lagi," punya Zeck


"Semangat bee," ucap Tari menyunggingkan senyumnya


Zeck langsung mencium bibir wanita di depannya sambil menitikkan air mata.


"Ah, kenapa rasanya aku tidak suka melihat Zeck memperlakukan Tari seperti itu." Lingga menatap keduanya dari kejauhan


************


Pagi harinya Tari bersiap pergi ke kantor barunya.


"Kenapa kau tidak mengantarnya ke bandara, bukankah ini kesempatan terakhir mu untuk melihat dia?" tanya Lingga


"Hari ini adalah hari pertama ku bekerja, dan aku harus melakukan pekerjaan penting pagi ini untuk masa depan perusahaan. Jadi untuk apa aku mengantar kepergiannya ke bandara, lagipula aku sangat membencinya jadi untuk apa aku masih memperdulikannya lagi," jawab Tari kemudian berjalan masuk menuju ke ruang rapat


"Kalau begitu aku menunggu di luar saja, aku tidak bisa mendengarkan orang berceramah lama-lama karena bagiku isi ceramahnya akan menjadi lagu Nina Bobo yang akan membuat ku terlelap sehingga aku tidak bisa melindungi mu lagi," Jawab Lingga


"Kau tetap harus ikut masuk Aryo, aku takut bila sendirian,"


"Tentu saja aku aja. selalu ada di sisimu, sekarang masuklah!' Lingga Kemudian mengikuti Tari memasuki ruang kerjanya.


Tidak lama rapatpun di mulai Tari membuka rapat itu dan kemudian mendengarkan presentasi dari para direksi.


Lingga menatap Tari yang terlihat tidak berkonsentrasi dan terus melirik kearah jam tangannya.


Lingga kemudian berjalan mendekati seorang direksi yang sedang melakukan presentasi.


"Maaf untuk sementara rapat di hentikan dan akan di lanjutkan besok pagi. Sekarang kalian boleh kembali ke ruang kerja masing-masing," tukas Lingga


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tari


"Sebaiknya kau ikut denganku," jawab Lingga menarik lengan gadis itu dan membawanya keluar dari tempat itu.


"Cepat naik!" serunya membukakan pintu mobil untuknya.


Lingga kemudian melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke Bandara.


"Sebenarnya kita mau kemana, kenapa kau begitu terburu-buru, lagipula ini terlalu cepat," celoteh Tari


"Sebaiknya kau diam dan duduk manis saja," sahut Lingga


"Cih, sejak kapan kau mulai jadi menyebalkan seperti ini," tukas Tari


*Ciiitt!!!


Hampir saja Lingga menabrak pengendara sepeda motor saat ia sedang melaju kencang.


"Hati-hati Aryo, kau tidak perlu mengemudikan mobilmu seperti seorang pembalap," ucap Tari memejamkan matanya saat Lingga kembali menambah kecepatan mobilnya.


"Aku bisa jantungan kalau kau terus mengemudikan mobilmu seperti ini Aryo,"


*Ciiiiit!!


Tidak lama kemudian Lingga menghentikan mobilnya di depan Bandara internasional Soekarno-Hatta.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Tari


"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya, sehingga kau tidak bisa berkonsentrasi saat rapat. Jadi sebaiknya kau temui dia agar kau tidak menyesal nanti,"


Lingga membukakan pintu mobilnya dan Tari berjalan keluar meninggalkan Pemuda itu.


Ia segera berlari dan mencari keberadaan Zeck.


Kamu dimana bee, apa kau sudah terbang,


Gadis itu terlihat gusar saat tidak menemukan Zeck di sana.


"Apa kita telat?" tanya Lingga


"Sepertinya begitu," jawab Tari lesu


Aku tahu kau pasti sangat sedih karena tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya, dan ini membuat hatiku semakin sakit manakala melihat mu bersedih Tari. Entah perasaan apa ini....